Dua Sajak tentang Rindu
Sampai kapan kau akan berdiri di atas jemawa yang, di hadapan cinta yang merah, sungguh tak ada
Memiliki Umur Panjang dan Pertanyaan Itu
Sebentar, sebentar, memangnya hidup lebih lama itu untuk apa.
Apa yang Saya Pikirkan ketika Saya (akan) Bicara di Hadapan
“People don’t remember everything — they remember structure.”
Produktivitas, Kairo, dan Bahasa Indonesia
Kairo dan Bahasa Indonesia adalah katalis produktivitas saya
Ilusi Tahu di Era Digital
Nafsu, dalam segala kebudayaan, selalu menjadi lidah yang menjilat pisau: awalnya memuaskan, akhirnya mematikan!
Sembur Cahaya
Karena wajah dan tingkahku tertangkap kamera, Negara tak punya pilihan selain menumbalkanku.
Sapi Dua Rakaat
Oleh Benny Arnas Republika, 17 Juli 2022 SETELAH memantaskan dirinya di cermin ruang tengah beberapa kali, Suklikulisu keluar. Di pekarangan, istri dan ketiga putranya yang masih SD sudah menunggu. “Papa sudah mesan tempat duduk tepat di belakang imam, Ma,” katanya ketika istrinya mempertanyakan alasan mereka harus berangkat ke masjid yang
read moreBenny Arnas, Selayang Pandang
Benny Arnas mengarang sejak 2008, dua tahun setelah mendapatkan gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Andalas (2006). Itu adalah tahun ketika ia mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Lubuklinggau, di usia dua puluh lima. Secara akademik, Benny cukup unik, dia memutuskan mendalami budaya lewat beasiswa dua kuliah nongelar: Auckland University of Technology
read moreWarung Copet-copet
Ini adalah satu-satunya cerpen Benny Arnas yang terbit di Annida cetak. Edisi cetak terakhir pula!
read moreCerpen
Sembur Cahaya
Karena wajah dan tingkahku tertangkap kamera, Negara tak punya pilihan
read moreEsai
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4






