Menulis di Bawah Bayang-bayang Legenda
Cupilkan Straight to Hell (Netflix, 2026)
Serial ini (juga) tentang keberanian seorang penulis kecil yang belajar menjaga jarak dari mitos besar.
Oleh Benny Arnas
______
Mengangkat kehidupan penuh liku Hosoki Kazuk–peramal kontroversial Jepang yang hidup melintasi era Showa hingga Heisei–Straight to Hell (Netflix, 2026) sukses memadukan kompleksitas dunia ramalan, skandal hiburan, dan kekuasaan selebritas. Namun, di balik semua itu, serial besutan Norichika Ôba dan Tomoyuki Takimoto ini diam-diam memperlihatkan sesuatu yang lebih menarik: bagaimana seorang penulis biografi sebenarnya bekerja.
Tokoh itu bernama Minori Uozumi (Sairi Ito). Ia bukan penulis mapan, bukan pula sosok intelektual glamor yang hidup di antara rak buku dan diskusi sastra. Minori adalah ibu beranak satu yang bekerja di pabrik, baru bercerai, dan sedang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Di Jepang dalam serial ini, seseorang bahkan belum benar-benar dianggap “penulis” sebelum berhasil menerbitkan sedikitnya dua buku. Minori baru memiliki satu. Itu berarti statusnya masih menggantung.
Dalam keadaan hidup yang berantakan itulah penerbitnya datang membawa tawaran: menulis biografi Hosoki Kazuko (Erika Toda).
Nama itu tentu bukan nama sembarangan. Kazuko, yang saat itu berusia 66 tahun, adalah ikon televisi Jepang. Acara ramalannya meledak di mana-mana. Buku-bukuny–ebih dari seratus judu–terjual masif, terutama seri Astrologi Enam Bintang yang bahkan dikenal hingga luar Jepang. Namun popularitasnya selalu berjalan beriringan dengan kontroversi. Rumor kedekatannya dengan Yakuza, tuduhan manipulasi, hingga jejaring gelap dunia hiburan membuat Kazuko terasa seperti gabungan antara selebritas, pengusaha, sekaligus legenda urban.
Bagi Minori, mendapatkan akses langsung ke sosok seperti itu bukan sekadar kesempatan emas. Itu intimidasi.
Serial ini menarik karena tidak menggambarkan proses penulisan biografi sebagai pekerjaan romantik. Tidak ada adegan penulis termenung indah sambil mengetik di kafe estetik. Yang ada justru kerja monoton: mendengar, mencatat, merekam, dan menahan diri agar tidak tenggelam dalam pesona narasumbernya sendiri.
Minori mengikuti Kazuko ke mana-mana. Wawancara bisa berlangsung di rumah, kantor, restoran mahal, bahkan di dalam limusin yang terus bergerak menembus malam Tokyo. Sebagian besar waktu, Minori hanya mendengarkan sambil menyalakan alat perekam. Ia membiarkan Kazuko bercerita panjang tentang masa kecil yang keras, karier yang dibangun dari nol, hingga rentetan skandal yang terus mengejarnya selama puluhan tahun.
Dan Kazuko adalah pencerita ulung.
Ia tahu bagaimana membuat tragedi terdengar megah. Ia tahu kapan harus tertawa, kapan harus marah, kapan harus melontarkan kalimat yang menusuk. Dua ungkapannya paling sering muncul: “Kamu akan mati!” dan “Kamu akan ke neraka!” Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja ketika ia membicarakan ramalan terhadap orang lain, musuh-musuhnya, bahkan dirinya sendiri.
Namun yang paling menarik justru bukan cerita Kazuko, melainkan perubahan cara kerja Minori.
Awalnya ia hanya datang sebagai penulis bayaran yang ingin menyelesaikan naskah kedua agar diakui dunia penerbitan. Tetapi perlahan ia mulai memahami bahwa biografi bukan sekadar memindahkan cerita seseorang ke atas kertas. Seorang penulis biografi tidak cukup hanya percaya kepada narasumber utamanya–betapa pun besar dan terkenalnya sosok itu.
Karena itu, menjelang akhir serial, ketika penerbit mulai cemas pada keterlambatan naskahnya, Minori malah semakin sibuk meninggalkan meja kerja. Ia menghubungi orang-orang yang pernah hidup di sekitar Kazuko: keluarga, mantan rekan kerja, orang-orang yang terluka, bahkan mereka yang selama ini memilih diam.
Di titik inilah Straight to Hell menjadi sangat menarik.
Minori menyadari bahwa setiap manusia selalu menulis autobiografinya sendiri ketika bercerita. Setiap kenangan sudah mengalami penyuntingan. Setiap luka memiliki versi. Setiap tokoh besar selalu ingin terlihat sebagai pusat dari kisahnya sendiri.
Maka pekerjaan penulis biografi sesungguhnya bukan hanya mendengar, tetapi juga meragukan.
Sedikit demi sedikit, cerita-cerita Kazuko mulai retak. Fakta baru muncul dari sudut pandang orang lain. Ada detail yang dihilangkan. Ada luka yang ternyata diwariskan kepada orang-orang terdekatnya. Ada kebesaran yang dibangun di atas ketakutan banyak orang. Semua itu datang seperti air bah yang menghantam bendungan rapuh.
Dan Minori harus menentukan sikap: apakah ia akan menulis buku yang diinginkan Kazuko, atau buku yang mendekati kebenaran?
Melalui konflik itu, Straight to Hell memperlihatkan satu hal penting: penulis biografi bekerja di wilayah yang sangat rawan. Mereka berdiri di antara fakta dan kekuasaan, antara dokumen dan pesona personal, antara kebutuhan pasar dan tanggung jawab moral. Semakin besar tokoh yang ditulis, semakin besar pula tekanan untuk tunduk pada versi cerita yang sudah dibangun tokoh tersebut.
Karena itu, serial ini pada akhirnya bukan hanya tentang Hosoki Kazuko. Ia juga tentang keberanian seorang penulis kecil yang belajar menjaga jarak dari mitos besar.
Dan mungkin, di situlah pekerjaan seorang penulis biografi benar-benar dimulai.(*)