Membaca untuk Mengusir Ketakutan

 Membaca untuk Mengusir Ketakutan

Di hadapan membaca, ketakutan mungkin tidak lenyap, namun kehilangan kuasanya untuk menentukan arah hidup.

Oleh Benny Arnas

________

Pada musim dingin 1933, ketika Depresi Besar masih mencengkeram Amerika Serikat, sebuah perpustakaan umum di Detroit tetap dipenuhi pengunjung. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada tahun-tahun paling sulit itu, tingkat peminjaman buku justru meningkat. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan, rumah, dan rasa aman duduk berjam-jam di antara rak, membaca apa saja yang bisa memberi pegangan. Mereka tidak membaca untuk menjadi kaya, tetapi untuk bertahan. Peristiwa ini mengingatkan bahwa membaca bukan hanya kegiatan intelektual, melainkan strategi batin menghadapi ketakutan.

Salah satu ketakutan paling purba yang menggerakkan manusia adalah ketakutan akan kekurangan. Ia tidak selalu hadir sebagai lapar atau ketiadaan uang, melainkan sebagai kecemasan terus-menerus tentang masa depan. Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, menjelaskan bahwa manusia cenderung mengalami loss aversion, rasa takut kehilangan yang jauh lebih kuat daripada rasa senang memperoleh sesuatu. Ketakutan ini sering kali tidak rasional, tetapi cukup kuat untuk mengarahkan pilihan hidup. Dalam konteks inilah membaca bekerja secara halus, memperluas horizon kesadaran, dan mengingatkan bahwa hidup selalu lebih luas daripada situasi yang sedang dihadapi.

Riset neuroscience yang dilakukan University of Sussex pada 2009 menunjukkan bahwa membaca selama beberapa menit dapat menurunkan tingkat stres secara signifikan. Penurunan ini bukan sekadar efek relaksasi, melainkan perubahan cara pikiran memproses ancaman. Ketika seseorang tenggelam dalam bacaan, perhatian berpindah dari kecemasan internal menuju makna yang lebih besar. Dalam keadaan ini, rasa takut kehilangan mulai kehilangan dominasinya.

Membaca juga menghubungkan manusia dengan pengalaman kolektif lintas zaman. Kisah petani Irlandia yang bertahan dari Great Famine abad ke-19, atau catatan harian Etty Hillesum yang ditulis di bawah bayang-bayang Holocaust, menunjukkan bahwa ketakutan bukan pengalaman personal semata. Yuval Noah Harari menulis bahwa kemampuan manusia berbagi cerita adalah fondasi peradaban. Melalui cerita, penderitaan tidak dipikul sendirian, dan rasa takut tidak lagi terasa absolut.

Pola yang sama muncul dalam krisis kontemporer. Pada tahun pertama pandemi Covid-19, ketika dunia dibayangi ketidakpastian dan kematian, penjualan buku di berbagai negara justru meningkat. Data industri penerbitan mencatat lonjakan minat terhadap sastra, nonfiksi reflektif, dan teks spiritual. Fenomena ini tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh waktu luang akibat bekerja dari rumah atau pembatasan sosial. Membaca berfungsi sebagai meaning-focused coping, cara adaptif manusia merespons krisis dengan mencari makna dan rasa kontinuitas, bukan sekadar pelarian dari realitas.

Di Jepang pasca tsunami 2011, laporan UNESCO mencatat bahwa komunitas dengan akses pada perpustakaan dan ruang baca pulih lebih cepat secara psikologis. Buku-buku spiritual, sastra, dan filsafat dipinjam hampir sama banyaknya dengan buku panduan praktis. Temuan ini sejalan dengan pemikiran Viktor Frankl, yang menegaskan bahwa manusia mampu bertahan dalam kondisi paling ekstrem jika menemukan makna yang melampaui rasa takut.

Dalam tradisi keagamaan, membaca memiliki posisi yang tidak kalah penting. Wahyu pertama dalam Islam dimulai dengan perintah membaca, bukan menimbun atau menguasai. Membaca, dalam pengertian luas, adalah upaya mengenali diri, dunia, dan Tuhan. Kesadaran ini menggeser pusat kendali dari kecemasan manusia menuju kepercayaan yang lebih dalam.

Zygmunt Bauman menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat cair, di mana pekerjaan, status, dan identitas mudah berubah. Dalam kondisi seperti ini, ketakutan akan kemiskinan menjadi semakin abstrak namun terus menghantui. Membaca menawarkan jangkar batin. Ia tidak menjanjikan kepastian ekonomi, tetapi menumbuhkan rasa cukup dan rasa aman yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan eksternal.

Pengalaman negara-negara Skandinavia memberi ilustrasi menarik. Finlandia dan Norwegia secara konsisten menempati peringkat atas dalam indeks kebahagiaan dunia, dan keduanya memiliki budaya literasi yang kuat. Laporan World Happiness Report menunjukkan bahwa kepercayaan sosial dan rasa aman subjektif lebih menentukan kesejahteraan daripada pendapatan semata. Membaca berkontribusi pada keduanya dengan memperluas empati dan memperdalam refleksi diri.

Ketika seseorang membaca teks spiritual, filsafat, atau sastra yang jujur pada penderitaan manusia, ia belajar membedakan antara kebutuhan nyata dan ketakutan imajiner. Ia menyadari bahwa banyak kecemasan bersumber dari lupa pada relasi yang lebih besar, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan. Dalam kesadaran ini, kekayaan tidak lagi diukur semata dari akumulasi, melainkan dari kemampuan merasa cukup dan aman.

Membaca juga melatih jarak kritis terhadap narasi sosial tentang sukses dan gagal. Buku menjadi ruang sunyi untuk menata ulang nilai, tempat manusia belajar bahwa kejayaan dan kejatuhan selalu datang silih berganti. Pengetahuan ini tidak membuat pasrah, tetapi justru memberi keberanian untuk melangkah tanpa dikuasai rasa takut.

Di ruang baca yang tenang, manusia belajar bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya, namun juga tidak sepenuhnya liar. Ada usaha yang harus dilakukan, ada pula kepercayaan yang perlu dipelihara. Membaca tidak menghapus ketidakpastian hidup, tetapi memberi manusia bahasa untuk menenanginya; ketakutan mungkin tidak lenyap, namun kehilangan kuasanya untuk menentukan arah hidup.(*)

Lubuklinggau, 2 Januari 2026

______

Daftar Pustaka

Bauman, Z. (2000). Liquid Modernity. Cambridge: Polity Press.

Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.

(Edisi pertama diterbitkan 1946)

Harari, Y. N. (2014). Sapiens: A Brief History of Humankind. London: Harvill Secker.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Mindlab International. (2009). The Relaxation and Stress Reduction Benefits of Reading. Brighton: University of Sussex.

(Dikutip luas dalam publikasi kesehatan dan literasi)

UNESCO. (2013). Libraries in Times of Crisis: Post-Disaster Recovery and Resilience. Paris: UNESCO Publishing.

University of Oxford, Gallup World Poll, & United Nations Sustainable Development Solutions Network. (2023). World Happiness Report 2023. New York: Sustainable Development Solutions Network.

Wolf, M. (2007). Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain. New York: HarperCollins.

Billington, J. (2011). Reading for Life: The Role of Reading in Public Health and Wellbeing. Liverpool: The Reading Agency.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Sekali lagi, tulisan yg bernas dari bang Benny Arnas. Tabik.

Leave a Reply to Diar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *