Oleh Benny Arnas Saya menyukai pasar karena pasar adalah satu-satunya tempat di mana manusia akan “telanjang”. Keculasan, hipokrisi, dan pencitraan bertabrakan kacau-balau di tengah riuh transaksi. Di media sosial, orang bisa menjadi siapa saja. Di kantor, orang memainkan peran. Bahkan di rumah, tidak sedikit yang hidup di balik topeng kesabaran atau kewibawaan. Namun di pasar semuanya lebih sederhana. Tak terkecuali […]Read More
Tags : Esai Literasi
Hanya ketika intuisi yang terbentuk oleh bacaan dan diuji oleh keberanian dapat berjalan bersamalah, kita dapat membuat keputusan yang tidak hanya populer, tetapi juga benar.Read More
Kegelapan fisik sering kali membuka terang batin. Tanpa distraksi, pikiran menemukan ritmenya sendiri. Read More
Sebentar, sebentar, memangnya hidup lebih lama itu untuk apa. Read More
“People don’t remember everything — they remember structure.”Read More
Kairo dan Bahasa Indonesia adalah katalis produktivitas saya Read More
Nafsu, dalam segala kebudayaan, selalu menjadi lidah yang menjilat pisau: awalnya memuaskan, akhirnya mematikan!Read More
Sastra adalah counter-attack paling elegan terhadap candu instan.Read More
Ketika angka menjadi tujuan, membaca menjadi beban. Read More
Keteraturan dalam hidup memberi ruang bagi pikiran untuk menyelam lebih dalam. Read More