Jangan Khawatir, Membaca Buku Tidak Sampai Tamat Itu Bukan Dosa Besar

 Jangan Khawatir, Membaca Buku Tidak Sampai Tamat Itu Bukan Dosa Besar

Sumber ilustrasi: pixabay.com

Ada hal yang lebih menyedihkan daripada tidak menamatkan buku: menamatkan tanpa mengingat apa pun!

Oleh Benny Arnas

Pernah, Infinite Jest karya David Foster Wallace berada di puncak tumpukan buku di meja kerja saya. Bookmark yang menyembul di antara halaman buku setebal lebih dari seribu halaman itu seperti hendak menghibur bahwa saya pernah sampai di halaman 187. Di bawahnya, buku filsafat yang penuh coretan sampai bab dua, lalu berhenti di kalimat yang entah kenapa terasa cukup: “To read is to live twice.” Setiap kali melihat tumpukan itu, ada rasa bersalah yang muncul pelan-pelan. Sejenis noktah yang tak perlu ada, tapi sulit dihindari. Seolah buku-buku itu menatap balik, menagih janji yang tak pernah saya tepati: “Kapan kamu akan menamatkanku?”

Entah sejak kapan kita menganggap menutup buku di tengah jalan sebagai dosa kecil. Mungkin sejak membaca dijadikan ukuran kedewasaan intelektual. Mungkin sejak kita percaya bahwa pembaca sejati adalah mereka yang selalu menyelesaikan apa yang mereka mulai. Padahal, kalau membaca adalah perjalanan, bukankah ada transit atau bahkan membatalkan perjalanan karena sesuatu yang penting dan mendesak?

Saya sering bertemu orang-orang yang mengaku sedang “mengejar target baca”: lima buku sebulan, lima puluh buku setahun. Di media sosial, mereka menulis daftar dengan bangga. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi saya selalu heran, kenapa kita begitu ingin menamatkan sesuatu yang seharusnya bisa dinikmati pelan-pelan?

Ada perbedaan besar antara membaca untuk menyelesaikan, dan membaca untuk berubah. Yang pertama mengejar garis akhir. Yang kedua menikmati perjalanan karena mereka percaya bahwa cara terbaik menualangi ilmu pengetahuan adalah dengan membiarkan dirimu tersesat.

Kita hidup di zaman yang mengubah membaca menjadi kompetisi. Orang membaca untuk menambah wawasan, menambah value, menambah kesan diri. Kita terbiasa menanyakan: “Buku apa yang kamu dapat manfaatnya?” Seolah buku yang tak bisa dijadikan bahan diskusi atau konten adalah waktu yang sia-sia. Padahal, membaca tanpa hasil kadang justru paling jujur … karena ia tak melayani siapa pun kecuali diri kita sendiri.

Penelitian dari University of Liverpool (2020) menunjukkan bahwa membaca untuk kesenangan, tanpa tekanan akademik, meningkatkan empati dan menurunkan kadar stres secara signifikan. Aktivitas membaca pelan, tanpa ambisi menyelesaikan, bahkan mengaktifkan area otak yang sama dengan meditasi ringan. Bisa jadi, buku yang tidak selesai justru sedang menenangkan kita dari luar halaman.

Italo Calvino menulis bahwa buku klasik adalah buku yang “belum selesai mengajarkan sesuatu, bahkan ketika sudah lama kita tinggalkan.” Kalimat itu melegakan: bahwa meninggalkan buku di tengah jalan bukan berarti berhenti belajar darinya. Kadang, justru di situ buku itu mulai bekerja dalam diri kita.

Umberto Eco punya istilah yang lebih jenaka: anti-library alias rak buku yang penuh dengan buku yang belum dibaca. Katanya, buku-buku yang belum atau tidak dibaca itu berguna untuk mengingatkan kita akan luasnya hal-hal yang belum kita tahu.

Dan mungkin benar. Kadang buku yang tak selesai justru memberi ruang bagi hidup untuk masuk. Kita berhenti bukan karena bosan, tapi karena menemukan sesuatu yang mendorong kita untuk segera beraksi.

Beberapa tahun lalu, saya membeli Les Misérables dengan niat luhur: menamatkannya sebelum akhir tahun. Saya berhenti di halaman 423, sepertiga dari total lebih dari 1.200 halaman. Di sana Jean Valjean berjalan di tengah badai salju sambil menggendong Cosette. Saya tak pernah melanjutkan membaca setelah itu. Bukan karena tidak suka, tapi karena saya merasa sudah cukup. Adegan itu, dengan keheningan dan keteguhan di dalamnya, bukan hanya sudah melekat di kepala, tapi mengajarkan saya bagaimana seseorang bisa menebus masa lalunya bukan lewat penyesalan, tapi melalui tindakan nyata.

Psikolog kognitif Maryanne Wolf dalam Proust and the Squid (2007) menulis, otak manusia tidak menyerap makna berdasarkan panjang bacaan, tapi dari kedalaman keterlibatan. Kadang satu paragraf cukup untuk mengubah arah berpikir seseorang. Begitulah buku bekerja: tidak menuntut selesai, hanya menuntun sebentar agar kita berubah.

Sejatinya, ada dua hal yang lebih menyedihkan daripada tidak menamatkan buku. Pertama, menamatkan tanpa mengingat apa pun. Kedua, menamatkan tapi tidak kita tak kunjung berubah.

Buku bukan ujian yang harus diselesaikan dengan skor penuh; ia lebih mirip percakapan yang kadang terputus oleh waktu atau perubahan diri kita sendiri. Dan seperti halnya percakapan, tidak semua harus tuntas untuk bisa berharga. Saya suka membayangkan bahwa setiap buku yang belum selesai adalah teman lama yang belum sempat kita temui lagi. Ia tidak marah. Ia hanya menunggu waktu ketika kita siap untuk kembali.

Suatu sore di rumah seorang kawan di Bengkulu, saya melihat rak bukunya penuh penanda warna-warni. Ia tertawa ketika saya bertanya, “Kamu baca semua ini?” “Sebagian,” katanya, “dan sebagian lagi hanya saya intip. Tapi mereka semua saya cintai.”

Jawaban itu membuat saya berpikir lama. Membaca bukan soal menuntaskan, tapi tentang memberi ruang bagi sesuatu untuk hadir dalam waktu kita. Sebentar pun tak apa. Ada cinta yang selesai, ada yang tidak. Keduanya tetap berarti.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan kebiasaan membaca, tapi cara kita memandangnya. Membaca bukan tugas moral, melainkan cara sederhana untuk berdialog: dengan pikiran orang lain, dengan waktu, dengan diri sendiri. Dan dalam dialog, kita berhak berhenti kapan saja, tanpa harus merasa bersalah.

Kita tak perlu menuntut setiap buku memberi kita sesuatu. Kadang satu halaman cukup untuk menyalakan pertanyaan baru, pemikiran baru, atau mengggerakkan kita untuk lahir sebagai “orang baru”. Buku-buku yang belum selesai bukan dosa, melainkan tanda bahwa pikiran masih bergerak. Mereka mengingatkan kita bahwa pengetahuan tak harus dimiliki seluruhnya.

Karena waktu yang sedikit, hidup yang singkat, dan jadwal serta impian yang tak terbatas, sejatinya kita tidak dituntut untuk menjadi serbatahu. Selain mustahil, jangan-jangan keinginan itu justru cerminan diri kita sendiri: tergesa-gesa dan serakah. Ach.

Jadi, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Mungkin sebuah buku tak harus diselesaikan, tapi untuk dilanjutkan dengan … versi dirimu yang lain.(*)

Lubuklinggau, 9 November 2025

Daftar Pustaka

  • David Foster Wallace. Infinite Jest. Boston: Little, Brown and Company, 1996.
  • Victor Hugo. Les Misérables. London: Penguin Classics, 1980.
  • Maryanne Wolf. Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain. New York: HarperCollins, 2007.
  • Italo Calvino. Why Read the Classics? New York: Pantheon Books, 1986.
  • Umberto Eco. The Infinity of Lists. Milan: Rizzoli, 2009.
  • Nassim Nicholas Taleb. The Black Swan. New York: Random House, 2007.
  • University of Liverpool & The Reading Agency. The Benefits of Reading for Pleasure. Liverpool: University of Liverpool Press, 2020. Retrieved from https://readingagency.org.uk/resources/5231/
  • Benny Arnas

    https://bennyarnas.com

    Penulis & Pegiat Literasi

    4 Comments

    • Saya mulai membaca setelah tangan kiri saya diamputasi (1974, kelas 4 SD). Persisnya di kelas 5. Proses membaca saya selesai saat kuliah di Sastra UNPAD (1982). Sehari 1 buku , baca buku apa saja. Happy – happy selalu. Saat bekerja (1988) koleksi buku saya sudah 3000 buku. Saya selalu tidur di ruangan yang penuh buku (home library). Hingga sekarang saya masih suka membeli dan membaca (walau hanya beberapa bab yang dianggap penting) buku. Ada yang dibagikan, ada yang dikoleksi. Saya membeli buku selain ingin memakmurkan penerbit dan penulis juga. Jika pulang traveling, saya akan rest and relax di perpustakaan pribadi. Tiduran sambil memandangi buku-buku yang bertebaran di rak buku. Saya membayangkan si penulis ya sedang riset lapangan dan pustaka, begadang menuliskannya, berjuang mencari penerbit, dll. Saya bahagia melakukan itu. Apa yang Benny tulis, betul adanya. Bapak pernah bult, “Lebih baik kamu tekuni satu ilmu dan tahu sedikit ilmu yang lainnya.” Ya. Kita tidak perlu merasa berdosa jika buku-buku di rumah masih banyak yang belum dibaca. Pada saatnya nanti, pelan-pelan, Ajan tiba juga pada buku yang belum kita baca… Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan kepadamu, Ben….

      • Wuuihhh. Makasih, Duta Bacaku, atas sharing dan inspirasinya.

    • abis baca ini jadi ada rasa kelegaan dan kebebasan untuk membaca dengan cara kita sendiri.. santai, selektif, dan penuh makna.. tentunya tanpa beban target yang memaksa..

    Leave a Reply to dias Cancel reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *