Dari Balkon Lantai 10 Ibrahimiyyah

 Dari Balkon Lantai 10 Ibrahimiyyah

Kesadaran ekologis adalah syarat minimum untuk tetap layak disebut manusia yang sedang belajar.

Oleh Benny Arnas

______

Balkon lantai 10 apartemen sewaan kami di Kawasan Ibrahimiyyah tidak menawarkan panorama laut Mediterania. Yang terlihat hanyalah hamparan bangunan yang berhimpitan, lampu toko yang bersaingan, suara klakson yang tidak mengenal batas waktu, dan percakapan para penghuni yang baru mereda menjelang subuh. Namun justru dari tempat yang berisik itulah refleksi tentang alam dan krisis ekologis sering muncul tanpa diminta. Ketika sebuah kota tidak pernah tidur, kesunyian menjadi sesuatu yang dibaca, bukan ditemukan.

Pada malam itu, aku duduk di balkon dengan sebuah buku lingkungan di pangkuan. Statusku sedang menjalani program writer in residence yang dibiayai negara, sebuah kesempatan yang seharusnya dipakai untuk memperdalam perenungan dan memperluas perspektif. Namun di sisi lain, kabar dari rumah menggantung di kepala. Sumatra, pulau tempat aku tumbuh, sedang dilanda bencana alam yang parah. Tidak ada seorang pun yang ingin menulis sambil mengetahui bahwa tanah kelahiran sendiri sedang porak-poranda. Tetapi justru di situ paradoksnya: kesempatan menulis ini menuntut tanggung jawab yang lebih besar, bukan sekadar menghasilkan teks yang rapi, tetapi memikirkan bagaimana pengetahuan dan kepekaan bisa kembali ke masyarakat yang membiayai proses kreatif ini.

Malam itu aku membaca The Overstory karya Richard Powers. Novel itu mempertemukan banyak tokoh lewat hubungan mereka dengan pohon, hutan, dan tanah yang memberi kehidupan. Membacanya di tengah hiruk pikuk Alexandria terasa seperti menempatkan dua dunia dalam satu bingkai. Dunia yang kubaca tenang, penuh akar, penuh napas panjang. Dunia yang kulihat dari balkon serba cepat, lantang, dan kadang seperti lupa bernapas. Perjumpaan dua dunia itu menghadirkan kesadaran bahwa literasi lingkungan tidak menunggu seseorang tinggal dekat hutan. Ia hadir di mana pun manusia membuka halaman dan memperhatikan dunia.

Refleksi semacam itu menguat ketika mengikuti perkembangan krisis ekologis global. Dari kebakaran Australia yang melalap miliaran hewan, hingga pencairan lapisan es Greenland yang melampaui prediksi awal. Peristiwa-peristiwa itu menghapus anggapan lama bahwa bencana lingkungan hanya masalah daerah tertentu. Para ilmuwan IPCC terus mengingatkan bahwa tidak ada garis batas administratif yang mampu membatasi dampak kerusakan ekologis. Ketika atmosfer memanas atau laut naik beberapa sentimeter, seluruh planet ikut merasakan.

Di Mesir sendiri, para peneliti Alexandria telah memetakan ancaman tenggelamnya kawasan Delta Nil akibat kombinasi antara kenaikan permukaan laut dan amblesnya tanah. Jika proyeksi itu tepat, jutaan penduduk pesisir akan terdampak. Fakta seperti ini membuat membaca literatur lingkungan bukan sekadar kegiatan intelektual, tetapi bagian dari upaya memahami risiko bersama. Pendidikan global pun mulai menyesuaikan. UNESCO dalam laporannya tahun 2020 menyatakan bahwa keberlanjutan harus menjadi inti dari pendidikan abad ke-21. Setiap pembelajar, tanpa kecuali, dituntut memahami relasi antara manusia dan bumi.

Rachel Carson dalam Silent Spring pernah menulis bahwa manusia adalah bagian dari alam, dan perang melawan alam pada akhirnya adalah perang melawan dirinya sendiri. Kalimat itu bukan retorika moral. Ia adalah ringkasan dari berabad-abad bukti ilmiah tentang respons ekosistem terhadap tindakan manusia. Carson tidak menuntut setiap orang menjadi aktivis lapangan. Ia hanya meminta satu hal yang paling dasar, yaitu kepekaan. Tanpa kepekaan itu, ilmu yang kita bangun kehilangan fondasinya.

Kepekaan yang sama muncul ketika aku kembali pada halaman-halaman yang kubaca. Membaca dari balkon bukan sekadar menikmati cerita, tetapi melihat bagaimana konsep-konsep ekologis itu bergerak di kehidupan nyata. Suara motor yang meraung, sampah yang menumpuk, polusi yang diam-diam mengendap di paru-paru penghuni kota, semua adalah bagian dari sistem ekologis yang sama. Ilmu yang tidak berlandaskan kesadaran ini berisiko menjadi teknologi yang mempercepat kerusakan, bukan memperbaiki kehidupan.

Penelitian di Norwegia tahun 2023 menunjukkan bahwa pembaca fiksi lingkungan mengalami peningkatan empati ekologis hingga 30 persen setelah membaca novel bertema krisis alam. Temuan itu menguatkan gagasan bahwa membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi aktivitas moral. Ketika seseorang membaca kisah tentang pohon yang ditebang atau sungai yang tercemar, ia tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga merasakan konsekuensi yang lebih besar terhadap kehidupan yang saling terhubung.

Kesadaran ekologis tidak tumbuh dari rasa prihatin sesaat setiap kali terjadi bencana. Ia tumbuh dari upaya terus-menerus memperhatikan pola di sekitar kita. Ketika sebuah kota semakin panas setiap tahun, ketika polusi udara meningkat, atau ketika berita kehilangan habitat muncul semakin sering, semua itu adalah teks panjang yang harus dibaca bersamaan. Pembaca yang peka tidak akan berhenti pada kalimat pertama. Ia akan mencari konteks, sebab-akibat, dan implikasinya, seperti membaca buku yang menuntut ketelitian.

Begitu pula ketika mendengar berita banjir di Sumatra. Itu bukan highlight dalam esai ini, tetapi tetap merupakan bagian dari teks ekologis yang harus dibaca serius. Banjir bukan semata-mata soal air yang tumpah, tetapi juga soal rusaknya daya serap tanah, perubahan pola curah hujan, dan intervensi manusia terhadap lanskap. Semua itu memerlukan pembaca yang tidak hanya melihat permukaan, tetapi membaca lapisan-lapisan lebih dalam. Membaca yang demikian bukan monopoli ahli lingkungan. Itu tanggung jawab setiap pencari ilmu. Terlebih bagi seseorang yang sedang diberi ruang, waktu, dan biaya negara untuk menulis, tanggung jawab itu terasa lebih berat. Menulis dari jarak jauh bukan alasan untuk memalingkan perhatian dari tanah kelahiran yang sedang terluka.

Ketika aku kembali menutup buku di pangkuan, ada dorongan untuk meninjau ulang cara memahami dunia. Setiap teks lingkungan mengajarkan bahwa ilmu apa pun, entah sains, humaniora, agama, teknologi, atau seni, tidak pernah berdiri di luar rumah besar bernama bumi. Masing-masing meminjam tempat, meminjam udara, meminjam kehidupan untuk dapat tumbuh. Maka menuntut ilmu tanpa memikirkan lingkungan ibarat membangun perpustakaan besar di tanah yang pelan-pelan ambles.

Setiap kali sebuah buku ditutup, kita tidak seharusnya kembali menjadi orang yang sama. Pengetahuan yang masuk tidak boleh berhenti sebagai wacana yang nyaman di kepala. Ia harus berubah menjadi cara baru melihat dunia dan posisi manusia di dalamnya.

Hari ini, bumi menyediakan fakta yang terlalu keras untuk dinegosiasikan. Ketika hutan runtuh, laut menghangat, atau kota-kota pesisir terancam tenggelam, itu bukan sekadar isu lingkungan. Itu adalah ujian terhadap integritas mereka yang mengaku belajar, membaca, meneliti, dan mengembangkan ilmu.

Sebab pencari ilmu yang mengabaikan krisis ekologis pada dasarnya sedang membiarkan pengetahuannya berjalan tanpa arah moral. Dan ilmu yang kehilangan arah moral, seperti yang dikatakan Schweitzer, akan selalu berakhir sebagai keberadaban yang tampak maju tetapi beroperasi sebagai perusakan yang dibenarkan. Kesadaran ekologis, maka, bukan sikap tambahan yang boleh dipilih atau tidak. Ia adalah syarat minimum untuk tetap layak disebut manusia yang sedang belajar.(*)

Ibrahimiyyah, 3 Desember 2025

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Ada bbrp kalimat yg ku-highlight di tulisan ini
    * Membaca bukan hanya sekedar aktivitas intelektual, tapi juga aktivitas moral
    * Setelah menutup buku, seseorang seharusnya tidak menjadi pribadi yang tetap sama spt sebelumnya

  • Makasih Mbak Sinta, sudah mampir. 🙏

Leave a Reply to Sinta Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *