Yang (tak Mudah) Tumbuh dari Membaca

 Yang (tak Mudah) Tumbuh dari Membaca

Sumber gambar:De la escritura a la lectura (ilustración de Anna Speshilova) @bibliotectors via tumblr.com

Bacaan yang menantang memberi ruang bagi kebijaksanaan untuk tumbuh.

Oleh Benny Arnas

Ada masa ketika membaca hanyalah upaya mengenalkan diri pada dunia, seperti seseorang yang pertama kali belajar berenang dan memilih tepian kolam.

Kita memulai dengan hal-hal yang ringan, pop, mudah dicerna: cerita-cerita yang menenangkan sebelum tidur, novel yang bisa habis dalam dua perjalanan bus, atau artikel pendek yang memberi sensasi “tahu sesuatu” tanpa benar-benar menggoyahkan cara berpikir kita.

Bacaan seperti itu baik; ia adalah pintu pertama bagi kecintaan pada membaca. Tanpa pintu itu, banyak dari kita mungkin tidak pernah mau menyentuh buku lagi.

Namun ada titik ketika kita tidak bisa terus berada di sana. Kita tidak bisa selamanya memilih pantai dangkal ketika lautan yang luas menunggu di depan. Imajinasi yang ingin tumbuh tidak bisa hidup hanya dari permukaan.

Aku teringat seorang kenalan lama—sebut saja Joe—yang sejak remaja hanya membaca kisah-kisah romansa ringan yang dijual di kios kecil dekat rumahnya di Palembang.

Ia membaca cepat, barangkali dua atau tiga buku seminggu, tetapi semua buku itu hanyalah variasi dari pola yang sama: pertemuan yang kebetulan, konflik kecil yang segera selesai, dan akhir bahagia yang tidak pernah absen.

Ketika kami berbincang soal novel Season of Migration to the North karya Tayeb Salih, ia langsung menutup topik itu dengan komentar singkat: “Sepertinya terlalu rumit. Aku membaca untuk hiburan, bukan untuk sakit kepala.”

Tidak ada yang salah dengan membaca untuk hiburan. Tetapi setelah bertahun-tahun, aku menyadari bahwa Joe, dalam banyak hal, tidak berubah sama sekali.

Cara ia memahami dunia tetap sama datarnya dengan alur cerita favoritnya. Ia mudah panik ketika realitas tidak mengikut pola yang ia kenal. Ia mudah marah ketika hidup tidak memberi “akhir bahagia” yang ia anggap wajar.

Dalam dirinya, tidak ada otot mental yang terbentuk untuk menghadapi yang rumit, yang ambigu, yang tidak bisa ditebak. Ia hidup seperti pembaca yang selalu berhenti di halaman pertama dari sebuah dunia yang jauh lebih luas.

Di sisi lain, ada seseorang seperti Farah, salah satu murid kelas menulisku, yang tumbuh di Beirut. Mulanya gadis 28 tahun itu membaca hal-hal ringan: cerita remaja, novel populer terjemahan, komik-komik yang membuatnya tertawa sendiri.

Tetapi perlahan, mungkin karena rasa ingin tahunya terlalu besar atau karena saya sering menyebut judul-judul buku rekomendasi dalam kelas daring kami yang berlangsung dua bulan selama pandemi, ia mulai mencari bacaan lain, sesuatu yang membawanya ke wilayah yang tidak nyaman.

Ia membaca Mahmoud Darwish sebelum benar-benar memahami puisi modern; ia membaca The Stranger karya Albert Camus dengan kamus kecil di sampingnya; ia membaca Women at Point Zero karya Nawal El Saadawi dan menangis bukan karena ceritanya sedih, tetapi karena ia baru tahu bahwa teks bisa menjadi pedang.

Farah akhirnya menemukan alasan. Ia membaca karya-karya itu bukan agar terlihat cerdas. “Aku melakukannya karena hidup menuntut demikian,” tulisnya di surel dua tahun lalu.

Ah, Farah tumbuh di kota yang pernah dihantam perang dan tahu betul bahwa dunia tidak selalu bisa dipahami lewat kalimat-kalimat sederhana.

Membaca yang sulit mengasah ketabahannya; ia terbiasa menghadapi ketidakpastian. Ketika ia beranjak dewasa dan menjadi arsitek, ia dikenal sebagai seseorang yang tenang di tengah kekacauan.

Suatu hari ia berkata, “Aku kira itu karena puisi Darwish mengajariku melihat celah makna bahkan di reruntuhan.”

Sebagian dari ketangguhan memang lahir dari kebiasaan membaca tanda-tanda—baik tanda dalam teks maupun tanda dalam kehidupan. Bacaan yang sederhana mengajarkan kita mencintai membaca. Namun bacaan yang menantang mengajarkan kita bagaimana membaca dunia.

Membaca yang lebih dalam bukan semata demi estetika, bukan demi terlihat hebat. Kita melakukannya agar terbiasa memeriksa lapisan-lapisan yang tidak tampak.

Karena kenyataannya, kehidupan tidak pernah menyajikan maknanya seperti poster. Ada simbol, ada metafora, ada tanda-tanda yang bersembunyi di balik permukaan, sebagaimana dalam puisi-puisi Adonis yang memaksa pembacanya menggali, menafsir, dan bersabar.

Di dunia nyata, kemampuan itu membantu kita untuk tidak reaktif, baik dalam bertindak atau mengambil kesimpulan dan keputusan, saat menghadapi sesuatu yang menggetarkan.

Ketika membaca The Prophet karya Kahlil Gibran, misalnya, seseorang mungkin merasa sedang membaca kebijaksanaan yang ringan. Tetapi jika ia membacanya kembali dengan lebih perlahan, ia menemukan lapisan-lapisan yang lain: kegelisahan eksistensial, pertanyaan tentang kebebasan, hubungan antara manusia dan waktu.

Bacaan yang sama, pembacanya yang berbeda. Karena orang yang perlahan menaikkan tingkat kesulitannya dalam membaca akan menemukan lebih banyak, bahkan dari teks yang ia kira sudah ia pahami.

Begitu pula ketika memasuki dunia Barat. Banyak penulis besar tumbuh berkat bacaan-bacaan sulit yang menuntut disiplin: James Baldwin membaca filsafat dan sejarah sebelum menulis esai-esai yang membentuk pemikiran Amerika modern; Virginia Woolf membaca puisi metafisik dan teks-teks klasik sebelum berani menantang struktur novel konvensional.

Tidak satu pun dari mereka menjadi besar dari bacaan ringan saja. Bacaan ringan memulai perjalanan, tetapi yang menempanya adalah bacaan-bacaan yang membutuhkan energi mental.

Namun kita juga tidak harus meloncat langsung ke yang paling sulit. Membaca, seperti aktivitas berlari, juga membutuhkan adaptasi.

Kita memulai dari lintasan yang ringan, jarak yang pendek, ritme yang pelan, sebelum akhirnya mampu berlari lebih jauh dan lebih cepat. Tetapi pijakan pertama tidak boleh menjadi tempat kita berkemah selamanya.

Ketika seseorang perlahan meningkatkan tingkat kesulitan bacaannya dengan memasuki teks-teks yang memerlukan interpretasi, memerlukan ketekunan membaca metafora, memerlukan keberanian menghadapi ketidakpahamania, sejatinya ia sedang membangun cara baru untuk melihat dunia.

Sebab kenyataan itu sendiri terdiri atas simbol-simbol yang tidak langsung. Reaksi orang terhadap musibah, sikap seseorang yang tampak keras padahal menyimpan ketakutan, kegagalan yang tiba-tiba mengubah arah hidup. Semua itu membutuhkan kemampuan membaca yang melampaui permukaan.

Dan kemampuan itu justru diasah oleh teks.

Mengapa teks, bukan yang lain?

Karena teks memaksa pembacanya membangun dunia tanpa bantuan gambar, musik, atau gestur. Di dalam teks, tidak ada ekspresi wajah yang bisa ditangkap otomatis, tidak ada nada suara yang memberi petunjuk instan, tidak ada warna atau cahaya yang mengarahkan emosi.

Pembaca harus menciptakan semuanya sendiri: dengan imajinasi, dengan kesabaran, dengan kemampuan melihat pola dan makna yang tersembunyi di antara kalimat-kalimat.

Karena itu, siapa yang terbiasa membaca teks akan terbiasa pula membaca manusia, peristiwa, dan kenyataan. Karena itu pula, tingkat kesulitan yang dihadirkan teks berpengaruh pada kemampuan memahami hidup.

Bacaan yang menantang membuat kita terbiasa tidak langsung panik ketika sesuatu tampak sulit. Ia menyiapkan kita menghadapi dunia nyata yang juga penuh tanda-tanda yang tidak selalu jelas.

Ia membuat kita tidak mudah termakan opini dangkal. Ia memberi ruang bagi kebijaksanaan untuk tumbuh, bukan sebagai aturan yang dihafal, tetapi sebagai refleksi yang dipraktikkan.

Di akhir hidupnya, Taha Hussein pernah mengatakan bahwa membaca adalah “perjalanan tanpa akhir menuju kedewasaan.”

Dan mungkin benar: kedewasaan tidak datang dari berapa banyak buku yang kita baca, tetapi dari seberapa jauh bacaan itu mengubah cara kita membaca dunia.

Bacaan yang ringan membuat kita mencintai buku. Bacaan yang menantang membuat kita memahami hidup.

Dan keduanya penting. Tetapi, hanya salah satunya yang memungkinkan kita bergerak jauh … melampaui diri kita yang kemarin.(*)

Kairo, 25 November 2025

_______

Daftar Pustaka

Adonis (1988) The Blood of Adonis: Selected Poems. Translated by S. Antoon. New York: BOA Editions.

Baldwin, J. (1998) The Price of the Ticket: Collected Nonfiction, 1948–1985. New York: St. Martin’s Press.

Camus, A. (1946) The Stranger. Translated by S. Gilbert. New York: Alfred A. Knopf.

Darwish, M. (2003) Unfortunately, It Was Paradise: Selected Poems. Edited by Sinan Antoon and Amira El-Zein. Berkeley: University of California Press.

Gibran, K. (1923) The Prophet. New York: Alfred A. Knopf.

Hussein, T. (1932) An Egyptian Childhood (Volume 1 dari The Days). Translated by E. H. Paxton. Cairo: The American University in Cairo Press.

Hussein, T. (1943) The Stream of Days (Volume 2 dari The Days). Translated by Hilary Wayment. Cairo: The American University in Cairo Press.

Hussein, T. (1976) A Passage to France (Volume 3 dari The Days). Translated by Kenneth Cragg. Cairo / New York: The American University in Cairo Press.

Kanafani, G. (1999) Men in the Sun and Other Palestinian Stories. Boulder: Lynne Rienner Publishers.

Mahfouz, N. (1981) Children of Gebelawi. Translated by Philip Stewart. (Edisi terjemahan pertama bahasa Inggris)

Saadawi, N. E. (1983) Woman at Point Zero. London: Zed Books.

Salih, T. (2009) Season of Migration to the North. Translated by Denys Johnson-Davies. New York: New York Review Books.

Woolf, V. (2000) Mrs Dalloway. London: Penguin Books.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • jadi lebih sadar kalo memilih bacaan dan menyadari bahwa membaca bisa jadi sarana transformasi batin, bukan cuma hiburan.. 🤩

Leave a Reply to dias Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *