Yang Salah Mitos, bukan Bukunya!
Gambar: imural.id
Coba satu halaman dulu. Kalau keberatan, kamu boleh berhenti. Buku tidak akan tersinggung.”
Oleh Benny Arnas
Belakangan, 9 dari 10 orang yang saya ajak membaca, saya hafal reaksinya. Selalu sama: wajah meringis, bahu sedikit naik, lalu keluar kalimat legendaris itu: "Aduh … membaca itu berat.”
Nadanya seperti saya baru saja meminta mereka mengangkat kulkas dua pintu sambil jongkok. Padahal yang saya sodorkan cuma buku tipis dengan sampul lucu, bahkan belum saya buka halamannya. Ini baru menunjukkan bahwa orang-orang tidak takut pada isi buku. Mereka takut pada bayangan tentang buku.
Yang lucu, orang yang merasa membaca itu berat tidak pernah mengeluh ketika menonton video 45 menit tentang kucing tersesat di sawah lalu ditemukan kembali oleh pemiliknya setelah melewati lima jembatan, tiga parit, dan satu pertigaan misterius. Layar ponsel digulir tanpa rasa bersalah. Tapi begitu melihat paragraf sedikit lebih panjang dari caption Instagram, tiba-tiba dunia menjadi gelap. Mata berat, napas berat, hidup berat.
Saya jadi curiga: yang berat itu bukan membaca. Yang berat adalah mitos tentang membaca.
Mitos paling awal muncul dari sekolah. Kita semua pernah dipaksa berteman dengan buku pelajaran yang suasananya seperti pejabat kelurahan—resmi, kaku, dan selalu menuntut tanda tangan. Sampulnya pucat, paragrafnya padat, tampilannya tegas seperti mau memarahi kita karena belum menghafal halaman 37. Buku pelajaran jarang memberi alasan kenapa ia patut dibaca; ia cuma duduk di meja dengan wibawa yang sedikit mengintimidasi, seolah berkata: “Kamu harus memahami aku meskipun aku tidak berusaha membuatmu nyaman.”
Dari situ lahir trauma literasi: kalau tulisan panjang, pasti serius; kalau serius, pasti melelahkan; kalau melelahkan, lebih baik pura-pura tidur saat guru mengajar.
Padahal, dunia buku justru penuh hal kocak, liar, absurd, indah, dan sering tidak serius sama sekali. Buku bisa seceria meme. Tapi ya, namanya juga mitos: ia kadang lebih dipercaya daripada pengalaman.
Mitos berikutnya lebih aneh lagi:
“Untuk membaca, kamu harus pintar dulu.”
Ini seperti berkata: “Untuk bisa berenang, kamu harus basah dulu.” Logikanya terbalik. Membaca adalah cara termudah untuk menjadi pintar, atau minimal terlihat sedikit lebih berpendidikan di depan orang yang ingin kamu impres. Buku tidak meminta bukti nilai ujian, tidak peduli ranking, dan tidak menagih IPK terakhir. Buku hanya berkata: buka aku dulu, sisanya biar aku yang urus.
Bahkan sebelum tahu huruf-huruf Latin itu siapa, kita sudah bisa menikmati cerita lewat gambar. Artinya buku tidak menuntut kecerdasan tinggi, hanya rasa ingin tahu. Itu pun kalau rasa ingin tahunya tidak sedang diculik oleh notifikasi HP.
Mitos lainnya berbunyi:
“Buku tebal pasti berat dibaca.”
Ini juga lucu. Yang berat itu koper jemaah haji, bukan novel 600 halaman. Banyak buku tebal justru mengalir seperti obrolan tengah malam: tiba-tiba selesai. Sebaliknya, buku tipis bisa terasa seperti beban moral kalau isinya tentang hidup, kematian, eksistensi manusia, dan kenapa galon air selalu habis di saat yang tidak tepat. Ketebalan buku tidak punya hubungan apa-apa dengan tingkat kerepotan membaca.
Lagipula, kita tidak pernah takut pada hal-hal tebal lain di hidup ini: bantal tebal, dompet tebal (meski jarang), sandwich tebal, eyeliner tebal. Tapi entah kenapa, begitu sebuah buku sedikit tambun, langsung dianggap ancaman nasional.
Ada lagi mitos sakral: membaca harus dilakukan dengan khidmat.
Duduk tegak, meja rapi, lampu putih, minum teh panas, suasana hening. Tidak boleh sambil ngemil, tidak boleh sambil tiduran, apalagi sambil rebahan miring seperti Cleopatra yang sedang libur panjang. Pokoknya membaca harus terlihat seperti kegiatan yang pantas masuk dokumentasi.
Padahal saya kenal pembaca hebat yang membaca sambil melakukan hal-hal dramatis: sambil mengaduk bawang goreng, sambil menunggu pop mie matang, sambil menunggu ojek online datang, bahkan sambil menahan kantuk di perjalanan pulang. Buku tidak butuh ritual apapun. Ia hanya butuh dibuka dan diberi kesempatan.
Ada juga yang percaya bahwa membaca itu mahal.
Ini benar … kalau buku yang dipilih adalah buku impor hardcover yang harganya bisa bikin dompet ingin menulis surat protes. Tapi ada banyak sekali buku murah, buku gratis, perpustakaan yang sunyi dan damai, aplikasi baca, bahkan teman yang koleksi bukunya tidak pernah tersentuh sejak 2021.
Lagipula, kita sering membeli hal-hal impulsif: snack random di kasir, parfum yang baunya mirip sabun hotel, tote bag yang katanya limited edition … tanpa perhitungan. Tapi tiba-jadi ekonom super rasional saat melihat harga buku. Lucu, ‘kan?
Lalu, pertanyaan penting:
Kalau begitu, apa sebenarnya yang berat dari membaca?
Mungkin ini jawabannya: berdamai dengan kecepatan kita sendiri.
Membaca memaksa kita melambat. Satu halaman, satu paragraf, satu kalimat. Kita tidak bisa scroll tanpa pikir. Tidak bisa swipe kiri kalau bosan. Tidak ada musik latar dramatis yang membantu kita menelan emosi. Tidak ada notifikasi yang memberi kejutan, kecuali suara kertas terlipat.
Membaca mengingatkan bahwa ada ritme yang lebih pelan dari hidup. Dan karena dunia kita sedang dikuasai budaya cepat (cepat kerja, cepat paham, cepat jawab), maka duduk tenang membaca satu halaman terasa seperti angkat barbel mental.
Tapi di situlah letak ringannya.
Buku tidak pernah menuntut kita cepat.
Tidak ada “last seen”. Tidak ada “typing…”. Tidak ada “pesan ini telah dihapus”.
Buku adalah teman paling sabar. Kalau kamu tinggal tiga bulan, ia tidak marah. Kalau kamu kembali, ia tidak menagih penjelasan.
Maka kalau ada orang berkata membaca itu berat, saya ingin menjawab:
“Coba satu halaman dulu. Kalau keberatan, kamu boleh berhenti. Buku tidak akan tersinggung.”
Yang lebih lucu, sebagian mereka (atau lebih [?]) akhirnya membaca sampai satu bab. Kadang dua bab. Kadang tanpa sadar menyelesaikan buku itu dalam satu malam, lalu berkata dengan polos:
“Eh … kok malah seru, ya?”
Seharusnya, sedikit banyak, dari situ, satu demi satu mitos runtuh. Pelan, tapi pasti.
Seperti lemari tua yang ternyata ringan setelah pintunya dibuka dan isinya dikeluarkan.
Pada akhirnya, membaca tidak pernah benar-benar berat.
Yang berat hanyalah prasangka kita sendiri—yang kebetulan, lucunya, bisa dibereskan hanya dengan membuka halaman pertama.(*)
Aleksandria, 2 Desember 2025
2 Comments
Yang sedih, ada teman yang cerita dia tumbuh di lingkungan yang bahkan membaca (selain buku pelajaran) itu sia-sia. Kalau gak mengenal langsung orangnya, aku gak akan percaya dengan cerita bahwa ada yang koleksi komik/novel/majalahnya dibakar oleh bapak/ibunya karena dianggap gak berguna. Ini yang sedih 🙁 Aku pribadi, gak lahir di keluarga yang seneng baca buku (mereka baca koran/tabloid/majalah). Tapi beruntungnya dulu orang tua memfasilitasi dan gak ada ceritanya koleksiku kemudian dibuang atau dibakar.
Waduh, Yan. Kasihan sekali. Malang sekali temanmu itu. Semoga dia nggak trauma dengan membaca (buku).