Surat dari Rabat: Kelas Membaca adalah Kelas Menulis

 Surat dari Rabat: Kelas Membaca adalah Kelas Menulis

Gambar: Pinterest

Penulis yang baik adalah pembaca yang rendah hati.


Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Benny Arnas

Assalamualaikum, Guru Menulisku yang saya hormati,
Semoga surat ini menemui Guru dalam keadaan sehat dan selalu berada dalam keberkahan ilmu.
Sudah lama saya ingin menulis pesan panjang ini, pesan yang sebenarnya berawal dari kelas menulis daring Guru yang ditaja Ustaz Ahmed Yunus pada Desember 2021, ketika kami sekeluarga masih tinggal di New Cairo.

Karena peserta kelas berbahasa Inggris itu hanya sembilan, seharusnya Guru ingat saya. Namun, mengingat banyaknya murid Guru hingga surat ini saya kirim via surel setahun setelahnya, melupakan saya tentu takkan dihitung sebagai kesalahan.

Guru yang baik,

Waktu itu saya hanya ingin memperbaiki cara saya menulis cerita, ingin tulisan saya lebih hidup, lebih mengalir. Tetapi siapa sangka, kelas itu justru mengubah cara pandang saya terhadap sesuatu yang jauh lebih mendasar: membaca.

Saya masih ingat jelas salah satu kalimat Guru pada pertemuan awal: “Penulis yang baik adalah pembaca yang rendah hati.” Saat itu, di balik kamera Zoom yang sengaja saya tutup, saya mengangguk saja, menganggapnya petuah motivasi, seperti kutipan-kutipan biasa yang sering lewat di media sosial.

Tapi kalimat itu ternyata menempel di kepala saya jauh lebih lama dari yang saya kira. Mungkin karena saat itu pula, tanpa saya sadari, saya sedang berada pada fase hidup yang mengagumi pengetahuan secara berlebihan.

Saya membaca cepat untuk terlihat tahu, bukan untuk memahami. Saya suka berdiskusi, tetapi sering kali lebih ingin didengar daripada mendengar. Dan saya merasa semua itu baik-baik saja, sampai rangkaian kecil peristiwa beberapa tahun setelah kelas Guru membuat saya berhenti dan menoleh.

Salah satu peristiwa itu terjadi pada suatu sore yang tenang di stasiun bus Ramses. Saya sedang menunggu bus ketika dua orang di dekat saya memperbincangkan isu politik yang sedang ramai. Cara mereka berbicara begitu yakin, seperti para analis yang telah membaca puluhan laporan dan dokumen. Tapi, dari potongan kalimat mereka, saya tahu bahwa sumber informasi mereka hanya satu: judul berita. Bahkan nama tokoh yang mereka sebut salah, dan peristiwa yang mereka paparkan terpotong-potong. Tetapi nada mereka tinggi, penuh kepastian. Saya kemudian tersadar, betapa sering saya pun melakukan hal yang sama. Mengutip, berpendapat, menilai, padahal saya belum benar-benar membaca.

Sore itu, untuk pertama kalinya, saya merasa malu. Bukan pada orang lain, tetapi pada diri sendiri.

Beberapa hari kemudian, saya pergi ke sebuah perpustakaan kecil di pusat kebudayaan Arab dekat rumah saya. Ini murni dorongan spontan, mungkin sisa rasa malu itu mendorong saya mencari sesuatu yang lebih sunyi daripada keramaian opini. Di sana, saya bertemu seorang pustakawan tua yang sedang merapikan rak buku. Saya bertanya apakah ia punya rekomendasi bacaan untuk memahami sejarah kontemporer Timur Tengah. Ia tersenyum kecil sambil berkata, “Jawaban cepat hanya membuat orang merasa tahu. Kalau kamu ingin mengerti, baca yang tidak dibicarakan orang.” Lalu ia menuntun saya ke rak paling belakang, rak berdebu yang mungkin jarang dijamah.

Tatapan matanya waktu itu—tenang, tidak menilai—mengembalikan saya pada kalimat Guru di kelas itu: pembaca yang rendah hati. Dan di tengah ruang perpustakaan yang sepi itu, kata-kata lama yang sering saya dengar kembali terngiang, tetapi kali ini menyentuh dengan cara yang lebih dalam:

العلم نور — Ilmu adalah cahaya.

Saya pulang membawa dua buku, salah satunya catatan perjalanan Ibnu Battuta. Saya membuka halaman pertamanya malam itu, dan tiba-tiba merasa kecil. Betapa panjang perjalanan seorang manusia yang benar-benar ingin memahami dunia. Betapa sabarnya mereka menempuh jalan ilmu. Betapa jauhnya diri saya dari kesabaran seperti itu. Saya teringat pepatah Arab yang Guru kutip dalam kelas:

اطلب العلم من المهد إلى اللحد — Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang kubur.

Tetapi baru malam itu saya benar-benar merasakannya, bukan sekadar mengetahuinya.

Momen ketiga terjadi ketika saya mengikuti sebuah diskusi kecil tentang geopolitik modern. Salah satu peserta berbicara dengan nada tegas, penuh argumen. Saya hampir kagum, sampai seseorang bertanya tentang sumber-sumber bacaannya. Ia terdiam lama sebelum mengaku bahwa ia hanya mengikuti ringkasan dan pendapat populer. Ruangan itu hening. Bukan hening yang memalukan, tetapi hening yang penuh pengakuan diam-diam: bahwa kita, generasi hari ini, sering kali lebih cepat berpendapat daripada belajar.

Setelah acara berakhir, seorang pemuda Mesir mendekati saya. Ia membawa sebuah buku tua dan berkata pelan, “Kalau kamu ingin mengerti, baca pelan-pelan. Membaca itu bukan untuk membuatmu terlihat tahu, tapi supaya kamu tahu bahwa kamu banyak yang belum tahu.” Ia kemudian mengutip hadits yang saya hafal sejak kecil, tetapi baru malam itu terasa sangat relevan:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Sejak hari itu, setiap perjumpaan kecil seperti menjadi penanda di perjalanan batin saya. Saya melihat pola yang sama: manusia cepat bicara, tetapi lambat membaca. Kita ingin menang argumen, tetapi jarang menangkap makna. Kita mengejar ketepatan opini, tetapi kehilangan ketepatan hati. Kita ingin dipandang pintar, tetapi lupa bahwa membaca seharusnya membuat kita semakin rendah hati.

Dan di tengah semua itu, saya kembali teringat kelas Guru itu. Barangkali saat itu saya belum cukup dewasa untuk memahami maksudnya. Tetapi benih yang Guru tanamkan baru tumbuh beberapa tahun kemudian: dengan caranya sendiri, melalui momentum-momentum yang Tuhan atur dengan halus.

Kini, setiap kali saya membuka buku, saya merasa seperti membuka pintu kecil menuju cahaya. Membaca tidak lagi menjadi alat untuk tampil pandai. Membaca telah berubah menjadi cara saya merawat batin. Membaca mengajarkan saya menunda penilaian, memperlambat napas, mendengarkan dunia dan diri sendiri dengan lebih lembut. Saya mulai memahami makna dari kata sederhana yang sering kita abaikan:

Iqra’ — Bacalah.

Bukan “berdebatlah”.

Bukan “jawablah”.

Bukan “menangkanlah”.

Tetapi bacalah. Karena di antara halaman-halaman yang sunyi itu, hati kita ditempa untuk mengenal dunia tanpa sombong, tanpa tergesa.

Maafkan, Guru, jika materi surat ini terasa sudah khatam dalam kepala Guru. Tapi saya sengaja melakukannya agar Guru tahu bahwa saya adalah murid yang sungguh-sungguh.

Guru, jika hari itu saya tidak mengikuti kelas menulis daring Guru, mungkin saya tidak akan sampai pada titik ini. Kelas itu bukan hanya mengajarkan teknik menulis; ia membuka cara pandang saya tentang membaca, tentang ilmu, tentang kerendahan hati. Maka izinkan saya mengucapkan terima kasih. Bukan untuk pelajaran itu, tetapi untuk pintu kecil yang Guru buka dalam kepala saya.

Semoga suatu hari nanti saya bisa bertemu Guru langsung dan mengucapkan terima kasih tanpa perantara jarak dan waktu.

Wassalamualaikum,

Rabat, 27 November 2023

Ummu Fadil

_____

Catatan:
a) Unggahan ini untuk merayakan dua tahun salah satu surat paling menggetarkan yang pernah saya terima sebagai mentor;
b) Ummu Fadil mengizinkan surat ini saya tayangkan ke publik sejak tahun lalu, namun saya memang berniat mengunggahnya ketika saya menutup kelas menulis daring saya per medio 2024;
c) Bahasa surat ini sudah saya selaraskan dengan gaya esai-esai saya tentang membaca yang saya unggah sejak medio Oktober 2025

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

4 Comments

  • Begitu membekas sehingga Ummu Fadil menulis surat sedemikian apik ini. Semoga Ummu Fadil jadi penulis besar nanti. Amiin

    • Amin. Ya Allah. Makasih, Yan.

  • Begitu membekas ilmu yang diberikan jika seorang guru ikhlas. Semoga Sang guru selalu menebarkan ilmu kebaikan.

Leave a Reply to omnduut Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *