Saya Ingin Jadi Muridmu, Bimbinglah Saya ….

 Saya Ingin Jadi Muridmu, Bimbinglah Saya ….

Dia pulang dengan kecewa. Paling tidak begitu pengakuannya. “Abang selalu meragukan kesungguh-sungguhanku belajar kepadamu,” katanya di telepon beberapa hari kemudian. Sejak itu, dia memang hilang.

Oleh Benny Arnas


“Saya ingin jadi muridmu, bimbinglah saya.”

Mulanya saya tersanjung dengan kalimat permohonan yang kali pertama dia ucapkan sekitar 14 tahun yang lalu ketika saya masih bujangan, ketika kita punya banyak waktu untuk membincangkan apa saja: engkau pengagum Kahlil Gibran, Rumi, dan Shakespeare, sementara saya engkau labeli sebagai pendengar dan teman diskusi yang baik. “Bangsatnya, malah kamu yang jadi!” katanya, tentu dengan nada berseloroh, setiap kali mendapat kabar tulisan saya dimuat media ini dan itu.

Ketika sama-sama sudah menikah, intensitas pertemuan kami agak berkurang. Namun, jadwal ngopi–begitu kami menyebut agenda ngobrol sastra dan filsafat– dua kali sebulan selalu berhasil menghangatkan malam hingga hari bernama baru. “Ikutlah, gratis kok,” kata saya ketika Linggau Writing Class dibuka pada 2013.

“Tapi jadwalnya bentrok dengan jam ngantorku, Bang,” katanya.

Lalu ia pun menulis banyak. Menurut saya, itu adalah kompensasi yang seimbang atas bacaannya yang juga kaya. “Ini novelku. Topiknya time-travel. Novel filsafat tapi ada dramanya,” lapornya sepuluh tahun yang lalu. “Mungkin bisa menemani penat Abang selama kuliah di Auckland,” katanya suatu malam dua hari sebelum saya terbang ke Selandia Baru pengujung 2016.

Sampai sebelum pandemi, percakapan-percakapan kami tentang banyak topik selalu menyala dan terbakar. “Aku ingin jadi muridmu dengan cara begini saja, Bang,” katanya ketika lagi-lagi saya memberitahunya tentang beberapa acara bincang buku, diskusi esai, dan sejenisnya, yang diselenggarakan teman-teman dari komunitas literasi dan budaya. “Langsung dengan mentornya, privat juga!” imbuhnya percaya diri.

“Kalau begitu, jangan pernah meminta saya bicara hal-hal teknis tentang kepenulisan. Capek saya harus mengulang apa yang sudah saya berikan di kelas,” ultimatum saya, serius, meski saya kemudian tersenyum lebar.

Dia tertawa dan mengangguk. Namun saya tahu kalau itu bukan tanda bahwa dia setuju. Sebab, setiap kali kami bertemu atau bahkan sekadar whatsAppan, dia selalu mengulang permohonan yang sama. ‘Saya ingin jadi muridmu, bimbinglah saya.”

“Saya hanya akan mengajar di kelas. Di luar itu, kita akan membicarakan bacaan dan hal-hal yang menyenangkan sebagai sama-sama pencinta ilmu pengetahuan,” kata saya saklek.

Lalu pandemi menciptakan jarak antarmanusia. Tak terkecuali kami berdua. Mulanya ada yang hilang dan terasa kurang. Lama-lama saya terbiasa.

Saya ingat, sepulang saya dari Karimata pengujung 2021, dia datang pada suatu malam. Ketika saya membicarakan buku-buku baru saya, dia mengalihkannya ke percakapan tentang bacaannya, tulisannya, dan kekesalannya yang selalu gagal menjadikan menulis sebagai aktivitas yang menghidupi secara finansial.

“Jangan maruk,” kata saya akhirnya. “Kau dan istrimu sama-sama ASN. Kamu nggak liat betapa nggak ada kerjaannya saya?”

Lalu, sebagaimana biasa, sesekali, tawa kami memecah tengah malam yang hening.

Dia pulang dengan kecewa. Paling tidak begitu pengakuannya. “Abang selalu meragukan kesungguh-sungguhanku belajar kepadamu,” katanya di telepon beberapa hari kemudian.

Sejak itu, dia memang hilang.

Esai dan cerpen yang saya siarkan ke whatsApp-nya tak pernah dia respons. Tiba-tiba saya baru sadar, ketika saya menggulir ke atas, ke percakapan-percakapan kami di bulan atau tahun-tahun sebelumnya. Dia memang tak pernah menanggapi tulisan-tulisan yang saya kirim. Dia hanya memberikan emotikon suka atau reaksi jempol atau, atau paling banter adalah komentarnya terhadap gambar depan tautan yang saya bagikan–yang bisa dengan mudah dia lihat tanpa harus membuka tautan.

Malam Idul Adha tahun ini, dia menelepon lagi dan bilang. “Bang, aku benar-benar ingin jadi penulis. Aku akan maen ke rumah Abang lebaran ini. Rindu,” katanya sebelum menutup percakapan.

Dia tidak datang. Dan saya lupa kalau dia pernah bilang mau bertandang sebelum akhirnya menulis esai ini.

Sepekan sebelum bincang Psikologi Perjalanan di Benny Institute awal Oktober, dia kembali menghubungi. Kali ini, saya mengundangnya ke acara tersebut. “Bacalah bukunya dulu, biar kamu ngeh pas hadir nanti,” kata saya antusias.

Dia tak lagi datang.

Dan saya lupa, dan heran mengapa saya bisa sebegini alpa. Dia memang tak pernah membeli buku saya dan menghadiri acara-acara buku saya dan dia … juga tak pernah membaca kiriman tautan tulisan seseorang yang selalu dia tahbiskan sebagai gurunya.

Dia menelepon lagi minggu lalu dan bilang bahwa dia akan datang. “Tapi agak malam ya, Bang,” katanya. “Siapkan kopi yang kental. Aku bawa martabak!” serunya.

Dan dengan gembira raya saya bilang. “Waduh, maaf bertabrakan dengan agenda saya yang lain.”

“Jadi, kapan Abang kosongnya?” Suaranya terdengar gugup. Ya, tampaknya baru kali ini kedatangannya saya “tolak.”

“Hmm. Nanti.”

“Nanti?”

Saya tahu dia terenyak.

“Nanti kapan, Bang?” Suaranya, agak tercekat.

“Ketika kamu sudah memantaskan diri!”

Dia diam.

Lalu saya mengucap salam. Setelah sekian lama tak mendengar jawaban, saya memutus sambungan.(*)

Benny Institute, 16 Oktober 2026

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *