Pesta Pengetahuan ala Masisir
Bahwa orang-orang yang benar-benar mencintai buku adalah mereka yang tidak takut pada suara lain.
Oleh Benny Arnas
_______
Di Kairo, kota yang tak pernah benar-benar diam, pesta buku bisa berlangsung tanpa gedung, tanpa papan nama, bahkan tanpa alamat tetap. Ia hadir seperti kebiasaan baik yang terus berpindah tempat, menyesuaikan langkah para pembacanya. Cairo Book Party, yang berdiri pada Juni 2024, adalah perayaan semacam itu. Sebuah inisiatif anak muda, terutama mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir), yang memilih membaca bukan sebagai kewajiban akademik, melainkan sebagai perayaan bersama.
Sejak awal, Cairo Book Party tidak pernah membayangkan dirinya sebagai lembaga. Tidak ada sekretariat, tidak ada ruangan khusus, tidak ada rak-rak buku permanen. Yang mereka miliki hanyalah kesepakatan tak tertulis bahwa setiap pekan, buku harus dirayakan. Maka taman-taman kota menjadi ruang diskusi, pelataran masjid berubah menjadi forum kecil, dan ruang publik apa pun dapat seketika menjelma menjadi tempat berbagi bacaan. Di kota seperti Kairo, yang sejak berabad-abad lalu telah akrab dengan majelis ilmu terbuka, pilihan ini terasa seperti pulang ke tradisi lama dengan bahasa generasi baru.
Saya pertama kali merasakan denyut itu pada Cairo Book Party edisi Bulan Madu Matahari, 10 Desember 2025. Awalnya, pertemuan direncanakan berlangsung di Lotus Park. Karpet rumput, udara sore, dan bayangan pohon sudah dibayangkan sebagai latar diskusi. Namun hujan turun, dan rencana berubah. Seperti air yang mencari celahnya sendiri, pertemuan itu berpindah ke sebuah kafe terdekat. Tidak ada kegaduhan, tidak ada keluhan. Buku, rupanya, memang tidak pernah menuntut tempat yang sempurna.
Lebih empat puluh anak muda hadir sore itu. Sebagian besar mahasiswa Indonesia, para masisir yang hidup di antara kitab-kitab turats dan tuntutan zaman. Namun menariknya, di antaranya juga hadir mahasiswa Mesir yang belajar Bahasa Indonesia di Pusat Kebudayaan Indonesia (Puskin). Bahasa, tema, dan judul buku pun berbaur. Pengetahuan menjadi jembatan yang membuat perbedaan terasa akrab.
Meski edisi itu membawa nama novel saya, Bulan Madu Matahari, tidak semua orang datang untuk membicarakan buku tersebut. Bahkan, tidak semua yang berbicara menyinggungnya. Ada yang mengulas novel penulis lain, ada yang bercerita tentang buku filsafat yang baru ia tamatkan, ada yang membahas buku elektronik tentang daya baca generasi digital yang baru dijual di Amazon, ada pula yang dengan jujur mempromosikan buku yang sedang ia tulis sendiri. Tidak ada yang merasa harus meminta izin. Tidak ada yang ditegur karena keluar dari tema.
Irfan Amrullah, ketua Cairo Book Party, justru mempersilakan semua itu berlangsung. Bagi mahasiswa Ushuluddin tingkat empat Universitas Al-Azhar itu, dan bagi komunitas ini, buku bukan altar yang harus dijaga kesuciannya dengan aturan kaku. Buku adalah percakapan. Siapa pun boleh masuk, siapa pun boleh bicara, selama niatnya berbagi pengetahuan. Sikap ini mengingatkan saya pada Al-Jahiz, penulis besar Arab abad ke-9, yang pernah menulis bahwa buku adalah sahabat yang tidak menyembunyikan apa pun dari pembacanya. Jika buku saja terbuka, mengapa pembacanya harus menutup diri.
Di sinilah egalitarianisme ilmu benar-benar terasa. Tidak ada hierarki pembaca senior dan pembaca pemula. Tidak ada otoritas tunggal yang menentukan buku mana yang layak dibahas. Semua orang berdiri sejajar, disatukan oleh rasa ingin tahu. Dalam dunia akademik yang sering kali terjebak pada gelar dan legitimasi, suasana ini terasa segar. Ilmu pengetahuan dikembalikan pada fitrahnya sebagai milik bersama.
Tradisi semacam ini sebenarnya bukan hal baru di dunia Timur. Di banyak kota Arab, majelis-majelis kecil pembaca telah lama hidup di sudut-sudut masjid, di warung kopi, atau di rumah-rumah pribadi. Di Baghdad pada masa Abbasiyah, orang-orang berkumpul di pasar buku untuk saling membacakan karya. Di Kairo sendiri, sebelum universitas modern berdiri, diskusi kitab berlangsung di serambi Al-Azhar, terbuka bagi siapa saja yang ingin mendengar. Cairo Book Party, dengan segala kesederhanaannya, adalah kelanjutan dari denyut sejarah itu.
Yang membedakannya mungkin hanya semangat generasinya. Anak-anak muda ini hidup jauh dari tanah air, menghadapi keterasingan, bahasa asing, dan tekanan hidup perantauan. Namun alih-alih mengurung diri, mereka memilih membaca bersama. Mereka memilih merayakan buku sebagai cara menjaga kewarasan. Naguib Mahfouz pernah menulis bahwa kehidupan tanpa bacaan adalah kehidupan yang sempit. Di tangan komunitas ini, bacaan justru membuka ruang yang luas, ruang untuk berjumpa dan saling memahami.
Egalitarianisme yang mereka praktikkan bukan sekadar sikap sopan dalam diskusi. Ia adalah pandangan hidup. Cinta pada ilmu pengetahuan, pada akhirnya, adalah cinta pada perbedaan. Membaca mengajarkan bahwa dunia tidak tunggal, bahwa setiap teks membawa sudut pandang, dan setiap pembaca berhak atas tafsirnya. Karena itu, memaksakan satu buku atau satu tema justru bertentangan dengan semangat membaca itu sendiri.
Saya melihat sendiri bagaimana perbedaan latar belakang, selera, dan bahkan bahasa tidak menjadi penghalang. Seorang mahasiswa Mesir berbicara tentang pengalamannya membaca sastra Indonesia. Seorang masisir menanggapi dengan buku perjalanan naratif di Asia Selatan. Percakapan mengalir tanpa perlu diseragamkan. Dalam suasana seperti ini, ilmu tidak diperlombakan, melainkan dibagikan.
Cairo Book Party merayakan buku tanpa panggung, tanpa mikrofon besar, tanpa sponsor mencolok. Mereka berpesta dengan cara paling sederhana, duduk melingkar, membuka halaman, dan mendengarkan. Mungkin inilah makna pesta yang sesungguhnya. Bukan kemeriahan yang bising, melainkan kegembiraan yang tenang karena menemukan sesama pencinta pengetahuan.
Di kota yang telah menyaksikan ribuan tahun sejarah intelektual, anak-anak muda ini menorehkan jejak kecil namun berarti. Mereka menunjukkan bahwa membaca tidak harus eksklusif, tidak harus terikat institusi, dan tidak harus tunduk pada selera mayoritas. Selama ada kejujuran, keterbukaan, dan rasa hormat pada perbedaan, buku akan selalu menemukan pembacanya.
Membaca, dalam suasana seperti itu, pelan-pelan membentuk watak. Ia mengikis dorongan untuk merasa paling tahu, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk mengakui keterbatasan. Setiap buku membuka kemungkinan bahwa pemahaman kita bisa keliru, bisa ditambah, atau bahkan perlu dirombak. Dari sini lahir sikap egaliter, karena pembaca yang jujur tahu bahwa pengetahuan tidak pernah final dan tidak pernah dimonopoli. Seperti kata Ibn Rushd, kebenaran tidak bertentangan dengan kebenaran, ia hanya saling menerangi. Maka diskusi pun menjadi ruang saling belajar, bukan arena saling menundukkan.
Dalam perkumpulan ini, semangat ingin tahu itu hadir tanpa niat menzalimi siapa pun. Tidak ada upaya menghakimi selera bacaan, tidak ada dorongan untuk memaksakan tafsir, dan tidak ada kecemasan untuk berbeda pendapat. Ilmu pengetahuan diperlakukan sebagai jalan mendekatkan manusia, bukan alat untuk meninggikan diri. Di lingkaran kecil itu, keterbukaan bukan slogan, melainkan kebiasaan. Setiap orang datang membawa bacaan, pulang membawa perspektif baru, dan di antaranya tumbuh keyakinan bersama bahwa pengetahuan yang dirawat dengan kerendahan hati justru akan memperluas rasa kemanusiaan.
Cairo Book Party, dengan segala keterbatasannya, mengajarkan satu hal penting. Bahwa mencintai ilmu pengetahuan berarti siap menerima keberagaman. Bahwa orang-orang yang benar-benar mencintai buku adalah mereka yang tidak takut pada suara lain. Dan di tengah perantauan, di taman kota atau kafe kecil yang dipilih karena hujan, pesta buku itu terus berlangsung, sunyi namun penuh makna.(*)
Kairo, 18 Desember 2025
2 Comments
Yang aku suka ketika rutin gabung ke Kelana Book Party dan Palembang Book Party karena semangat literasi dan egalitarianisme itu. Sama kayak di Cairo Book Party, semua orang bebas membicarakan buku yang mereka sudah/sedang baca.
Iyo, Yan. Seru dan menggembirakan nian!