Pengetahuan hanya Proksi, bukan Tujuan

 Pengetahuan hanya Proksi, bukan Tujuan

Sumber: serupa.id

Manusia tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada pengetahuan. Yang manusia cintai adalah apa yang pengetahuan izinkan untuk mereka bayangkan.

Oleh Benny Arnas

Ada satu kesalahpahaman besar dalam sejarah manusia modern: anggapan bahwa tujuan belajar adalah pengetahuan itu sendiri. Seakan-akan manusia membaca untuk mengumpulkan data, menghafal teori, atau menjejalkan kepala dengan fakta-fakta yang cepat menguap. Padahal, betapa pun pentingnya pengetahuan, ia hanya proksi. Ia hanya jembatan. Yang ada di seberangnya adalah sesuatu yang lebih halus, lebih liar, lebih manusiawi: 
i m a j i n a s i.

Albert Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.” 

Kutipan itu sering dipahami secara sentimental, tetapi dalam konteks biologis dan kognitif, ia sangat konkret. Ketika manusia menemukan pengetahuan yang membuatnya gembira, tubuh memproduksi dopamin dan serotonin, dua hormon yang membuka kapasitas otak untuk berasosiasi bebas, untuk membangun gambaran baru, untuk mencipta dunia yang belum pernah ada. Pengetahuan bekerja seperti batu pijakan di tengah sungai; fungsi sejatinya bukan untuk dikumpulkan, tetapi untuk dilangkahi.

Di banyak peradaban, fenomena itu terlihat jelas justru di tempat-tempat yang kesulitan mengakses pendidikan formal. Di Gaza, misalnya, ada komunitas kecil bernama We Love Reading. Di tengah blokade, reruntuhan sekolah, dan suara ledakan yang menjadi latar hidup sehari-hari, anak-anak duduk bersila mendengarkan relawan membacakan cerita. Salah satu relawannya pernah berkata dalam sebuah wawancara: “Books are our playground when the playgrounds are gone.”

Di sana, membaca bukan aktivitas akademik, melainkan bentuk bertahan hidup. Mereka tidak sedang mengumpulkan pengetahuan; mereka sedang menjaga agar dunia mereka tidak runtuh seluruhnya. Imajinasi adalah tempat aman terakhir, dan buku adalah pintu untuk memasukinya.

Peristiwa lain datang dari benua lain dan abad berbeda. Pada abad ke-9, Al-Jahiz menulis Kitāb al-Hayawān, sebuah ensiklopedia tujuh jilid tentang hewan dalam bahasa Arab. Bagi banyak orang, karya itu dianggap sebagai proto-zoologi. Namun jika membaca dengan lebih jeli, Al-Jahiz tidak berhenti pada fakta biologis.

Al-Jahiz memakai pengetahuan sebagai pijakan untuk bergerak ke wilayah yang lebih luas: etika, humor, politik, dan renungan tentang manusia. Dalam salah satu bagiannya, ia menulis bukan hanya tentang perilaku hewan, tetapi tentang bagaimana manusia seharusnya belajar dari mereka. Pengetahuan baginya bukan tujuan, melainkan cermin yang memantulkan gambaran lain yang lebih besar.

Tradisi itu juga terlihat dalam sejarah penyelamatan manuskrip di Timbuktu. Pada 2012, ketika kelompok ekstremis menguasai kota itu dan membakar perpustakaan, pustakawan bernama Abdel Kader Haidara memimpin operasi rahasia untuk menyelamatkan lebih dari 350.000 manuskrip. Ia memindahkannya dengan perahu kecil di Sungai Niger, menyembunyikannya dalam peti-peti kayu.

Haidara tidak melakukan itu demi “data sejarah.” Ia melakukannya demi menjaga imajinasi kolektif Afrika Barat: gambaran tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan dunia macam apa yang pernah mereka cita-citakan. Ia sering berkata: “Without knowledge, there is no soul, no civilization.” Tetapi yang ia jaga sebenarnya bukan pengetahuan murni, melainkan jembatan menuju kesadaran dan imajinasi manusia.

Contoh-contoh itu memperlihatkan bahwa ruang lahirnya imajinasi tidak selalu terletak di tempat yang aman atau nyaman. Justru dalam keterbatasan, manusia lebih cenderung menjadikan pengetahuan sebagai proksi bagi sesuatu yang lebih luas.

Ketika seorang anak Gaza membaca cerita tentang lautan, padahal ia belum pernah melihat laut, yang ia peroleh bukan “pengetahuan geografi,” melainkan kemungkinan baru untuk hidup.

Ketika Al-Jahiz menulis tentang seekor jerapah dalam bahasa Arab abad ke-9, ia tidak hanya mencatat sifat fisiknya, tetapi membuka ruang bagi pembacanya untuk membayangkan dunia yang lebih besar daripada kota Basra.

Ketika Haidara menyelamatkan manuskrip yang ditulis ratusan tahun sebelumnya, ia sedang melindungi masa depan imajinasi generasi mendatang.

Begitu pula dalam ruang-ruang pendidikan kecil yang tersebar di banyak pelosok.

Di pulau Karimata, misalnya, anak-anak duduk membaca buku-buku lusuh di ruang belajar sederhana yang dibangun oleh para guru dan relawan. Buku-buku itu bukan materi kurikulum resmi. Mereka membaca cerita petualangan, legenda, dan kisah perjalanan yang membawa mereka terbang jauh melampaui batas geografis pulau itu. Bacaan sederhana membuka jalan bagi anak-anak yang setiap hari hidup dengan laut, angin, dan perahu kayu untuk membayangkan diri mereka berada di kota lain, negara lain, atau masa depan lain. Sekali lagi, pengetahuan bekerja sebagai pintu; imajinasi adalah ruang di baliknya.

Inilah alasan mengapa bercerita selalu menjadi metode paling efektif dalam pendidikan sejak zaman kuno. Ketika sebuah cerita dibacakan, pengetahuan hadir secara halus, tidak memaksa, tidak menggurui. Cerita memberikan konteks emosional yang menyalakan dopamin dan serotonin, yang membuat otak bekerja pada dua level sekaligus: memahami dan membayangkan. Itulah mengapa banyak nabi, filsuf, dan guru besar selalu mengajar melalui cerita. Pengetahuan dalam cerita tidak pernah menjadi tujuan akhir; ia hadir sebagai kendaraan yang mengantar pembaca atau pendengar ke negeri lain:

negeri yang dibangun oleh imajinasi mereka sendiri.

Manusia tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada pengetahuan. Yang manusia cintai adalah apa yang pengetahuan izinkan untuk mereka bayangkan. Seorang anak yang suka matematika bukan karena angka-angka itu sendiri, tetapi karena angka-angka itu memberinya pintu menuju kecantikan pola. Seseorang yang menyukai sejarah tidak sedang memuja data, tetapi sedang membuka kemungkinan untuk melihat dirinya dalam alur waktu yang lebih besar. Bahkan dalam agama, konsep surga dan neraka bekerja berdasarkan prinsip imajinasi sebab pengetahuan teologis hanyalah proksi. Doktrin-doktrin keagamaan memberi gambaran, tetapi yang menggerakkan manusia adalah kemampuan mereka membayangkan, bukan sekadar menghafal.

Karena itu, dalam dunia yang semakin cepat dan praktis, membaca tetap menjadi aktivitas radikal. Ia membuat manusia berhenti, membuka ruang, dan memberikan kesempatan bagi imajinasi untuk bekerja. Setiap buku yang dibaca, setiap paragraf yang dinikmati, setiap kalimat yang membuat dada terasa cerah, semua itu bukan tentang “menambah wawasan.” Ia adalah latihan pembebasan: membebaskan pikiran dari batas yang sudah dipasang oleh rutinitas, oleh ketakutan, oleh ketidakpastian.

Pada titik tertentu, manusia menyadari bahwa pengetahuan adalah jembatan, bukan rumah. Tidak ada yang ingin tinggal selamanya di jembatan; semua ingin melangkah menuju tanah seberang. Di sanalah imajinasi bekerja: 

membangun dunia,

membuka kemungkinan,

menghidupkan harapan,

bahkan menyembuhkan luka.

Dan di sanalah, akhirnya, manusia merdeka.(*)

Lubuklinggau, 14 November 2025

_____

Daftar Pustaka

Al-Jahiz. (2009). The Book of Animals. Terj. Michael Cooperson & Geert Jan van Gelder. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Einstein, A. (1929). What Life Means to Einstein: An Interview by George Sylvester Viereck. The Saturday Evening Post, 26 October.

Haidara, A. K., in Hammer, J. (2014). The Bad-Ass Librarians of Timbuktu: And Their Race to Save the World’s Most Precious Manuscripts. New York: Simon & Schuster.

Hammer, J. (2013). The Race to Save Mali’s Priceless Treasures. Smithsonian Magazine, March.

We Love Reading. (n.d.). About Us. Diakses dari: https://welovereading.org/

UN Women. (2020). Women in Gaza: Life Under Blockade. United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women.

Anera. (2022). Reading Under Rubble: Gaza’s Children and Their Love for Books. Anera Reports.

Said, E. W. (1978). Orientalism. New York: Pantheon Books.

Sacks, O. (2019). Everything in Its Place: First Loves and Last Tales. New York: Knopf.

Ruth, N. (2015). Why Stories Work: The Science Behind Narrative. Scientific American, 14 September.

Gong, G. (2021). Membaca Catatan Perjalanan Benny Arnas Membuatku Ingin Bertualang Kembali. Gola Gong Kreatif, 29 Oktober.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

6 Comments

  • Tulisan-tulisanmu, Ben, saya bacai terus karena terhubung dengan Bapak -Emak. Mereka kepala sekolah. Beruntung saya punya mereka. Literasi keluarga kami sehat. Ada Perpustakaan di rui. Soal imajinasi ini, mereka sering membicarakannya di meja makan. Dimulai dengan Bung Karno, yang mengatakan orang Indonesia ini kurang berimajinasi. Emak mengiyakan. Padahal nenek moyang kita mewariskan imajinasi yang luar biasa. Siapa yang bisa membayangkan Sangkuriang menendang perahu bisa jadi gunung? Malin Kundang jadi batu? Timun emas yang bisa mengalahkan raksasa dengan 3 benda? Dalam Qur’an juga; tongkat Musa jadi ular, nabi Muhammad naik bouraq?

    • Masya Allah. Makasih banyak atas apresiasinya, Kang. Senang sekali tulisan2 saya menjadi proksi atas kenangan masa kecil yang hangat itu, Kang. Dukung terus saya menulis terus, terus menulis, dengan cara paling sederhana namun jelas mencinta: membacanya.

  • Hebat bang. Ketika buku dibaca, dunia baru terbuka.

    • Betul!
      Terima kasih sudah mampir ya.

  • keren bgt Bang Ben.. bisa jadi pengingat bahwa pengetahuan sejati bukanlah sebuah destinasi.. melainkan jalan yang terus kita lalui

Leave a Reply to dias Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *