Museum Cinta Pertama
Ilustrasi: Jawa Pos
OLEH BENNY ARNAS
“Proteslah pada Negara. Mereka bukan hanya lihai membuat aturan, tapi juga pandai menciptakan fiksi paling berbahaya.”
Ibu
Jawa Pos, 17 Oktober 2026
Langit Muara Rupit berwarna kelabu saat aku menemukan surat itu di laci almari tua milik Oma. Dua bulan sejak ia wafat, baru hari itu aku sanggup membuka kamar yang selalu ia kunci rapat. Aroma kamper dan melati kering masih menggantung seperti doa yang tak sempat selesai. Di antara tumpukan foto, kain tenun, dan bingkai ayat Alkitab yang mulai pudar, terselip amplop kuning bertuliskan tangan Oma: Untuk ayahmu, Kristi. Sampaikan ini kepadanya.
Ibu berdiri di belakangku. “Itu amanah,” katanya. “Dari dulu omamu ingin kakekmu tahu: ia sudah memaafkan.”
Aku terdiam. Pertanyaan yang lama membusuk di kepala akhirnya keluar. “Apakah benar kakek menghilang karena dituduh kiri, Bu?”
Hening.
“Kom ….”
“Proteslah pada Negara.” Ibunya memotong. “Mereka bukan hanya lihai membuat aturan, tapi juga pandai menciptakan fiksi paling berbahaya.”
Kakek-yang-menghilang itu bukan pria yang mengisi album keluarga kami. Ia adalah lelaki yang tak sempat kupanggil dengan nama apa pun. Seorang wartawan yang dituduh bersengkongkol dengan para pemberontak di Pulau Kemaro. Teman-temannya diburu, menghilang, lalu menjelma kabar-kabar buruk tanpa ujung. Pada suatu malam yang basah, ia kabur.
Kata Ibu, Oma hanya pernah menyebut satu nama kota: Praha. Dan satu alasan yang selalu terdengar ganjil: “Karena mencintai, ia mengkhianati.”
Sejak itu, aku tak lagi bertanya.
Lima tahun sebelumnya, aku memenangkan lomba esai nasional. Aku nyaris menjadi juara satu, sampai juri utama—seorang penulis best seller—mengaku bahwa tulisanku tentang “kakek yang menghilang” terlalu berbahaya untuk dimenangkan. Namun, ia menawarkan sesuatu yang lain: pekerjaan sebagai ghost writer.
Aku menerimanya.
Dibandingkan piala dan hadiah lomba, pekerjaan itu jauh lebih menggiurkan. Aku menulis untuk nama orang lain, menyembunyikan suaraku di balik keberhasilan mereka. Lima tahun kemudian, tabunganku cukup untuk biaya hidup dua pekan di Eropa dan tiket perjalanan Jakarta–Zagreb, lalu Zagreb–Praha.
Aku tidak pergi untuk berlibur.
Aku pergi membawa sebuah pengampunan yang tertunda puluhan tahun.
Zagreb
Zagreb menyambutku dengan udara dingin dan trotoar yang lebar. Kafe-kafe berderet rapi, sementara aku berjalan dengan jaket tipis yang kubeli di Blok M beberapa hari sebelum berangkat. Menurut petunjuk samar dalam surat Oma, kakek pernah tinggal di sebuah kota tepi Adriatik. Ia menyamar sebagai guru matematika demi mendekati seorang perempuan lokal.
Aku tak tahu namanya. Hanya ada petunjuk bahwa perempuan itu pernah diajar oleh seorang lelaki Indonesia yang selalu berbicara tentang hujan dan tanah kelahirannya.
Di dalam bus menuju Split, aku membaca surat Oma.
Salah satu bagiannya berbunyi:
“Aku tidak tahu di mana kau tinggal sekarang. Tapi jika kau membaca ini, ketahuilah: aku tidak lagi menagih pulangmu. Aku hanya ingin kau tahu: aku mengerti.”
Kata-kata itu terasa aneh. Bagaimana seseorang bisa berhenti menagih kepulangan orang yang dicintainya? Dan bagaimana seseorang bisa mengerti pengkhianatan yang bahkan tak pernah dijelaskan?
Saat bus tiba di Split, pertanyaan-pertanyaan itu masih tinggal di kepalaku.
Split
Aku mencari dua tempat: sebuah bekas sekolah dasar dan taman kota tempat Vrisca Zarabenca—nama yang kutemukan di pinggir surat Oma—pernah tinggal bersama orang tuanya.
Di sekolah itu, tak ada catatan tentang seorang guru dari Asia. Aku memperlihatkan foto lama kakek: lelaki berambut rapi dengan senyum tipis yang terasa asing bagiku. Kepala sekolah memandangnya beberapa saat, lalu menggeleng.
“Maaf,” katanya. “Kami punya banyak guru tamu. Nama ini tidak tercatat.”
Aku pergi dengan napas berat.
Di taman, aku duduk di bangku menghadap air mancur. Seorang perempuan paruh baya sedang memberi makan merpati. Ketika kutunjukkan foto kakek, ia tidak mengenal wajah itu. Namun, ia mengingat sebuah cerita.
Dahulu, katanya, putri seorang anggota parlemen sering duduk di taman itu, membaca buku dan belajar matematika dari seorang pria asing.
“Dia seperti penyair,” katanya dalam bahasa Inggris terbata. “Selalu bicara tentang hujan dan Indonesia.”
Hanya itu.
Tak ada alamat. Tak ada nama lengkap. Hanya keping kisah yang berputar-putar tanpa memberi arah.
Empat malam di Split, mimpi yang sama datang kepadaku. Seorang lelaki berdiri di tepi pantai mengenakan jas cokelat tua. Ia memandang cakrawala. Aku tidak pernah melihat wajahnya, tetapi entah bagaimana aku tahu: ia sedang menunggu sesuatu yang tak pernah kembali.
Aku meninggalkan Split dengan langkah lebih berat daripada saat datang.
Surat Oma tetap seperti kompas di dadaku.
Aku tidak menagih pulangmu. Aku hanya ingin kau tahu: aku mengerti.
Kata mengerti terasa seperti ladang sunyi yang harus kupijak sendirian. Mungkin cinta yang tidak selesai memang tidak selalu harus dipaksa selesai. Kadang, ia hanya diteruskan oleh orang-orang yang datang kemudian.
Seperti aku.
Kereta malam membawaku ke Praha.
Praha
Aku memulai pencarian dari komunitas Indonesia. Banyak orang tidak mengenal nama kakekku, tetapi beberapa orang tua mencoba membantu. Mereka memperlihatkan foto reuni, koran lama, dan peta tempat-tempat yang mungkin pernah menjadi rumah para eksil.
Seorang pensiunan dosen bernama Arwan berkata, “Banyak eksil datang ke sini seperti daun gugur. Mereka tinggal karena tak tahu harus kembali ke mana. Bukan karena ingin.”
Aku mengangguk.
Mungkin itulah alasan kakek tidak pernah pulang. Bukan karena ia tidak ingin, tetapi karena setelah sekian lama, pulang mungkin menjadi sesuatu yang tak lagi ia mengerti.
Di sebuah perpustakaan tua, aku membaca arsip kebudayaan Asia Tenggara selama berjam-jam. Tak ada nama kakek. Namun, aku menemukan sebuah artikel berjudul “Guru dari Selatan”.
Artikel itu hanya menyebut inisial M. Seorang guru matematika dari Indonesia yang dikenal karena membuat lukisan hitam-putih tentang rumahnya di Sumatera.
Aku menangis pelan.
Bukan karena akhirnya menemukan kakek, melainkan karena akhirnya tahu bahwa ia pernah berusaha bertahan. Ia melukis rumah karena mungkin hanya itu yang bisa dibawanya dari kampung: ingatan.
Tetapi setelah seminggu di Praha, semua pencarianku kembali berakhir dengan wajah bingung dan senyum maaf.
Aku duduk di tepi Jembatan Charles dan memandang Sungai Vltava mengalir. Dari saku jaket, kukeluarkan surat Oma.
Paragraf terakhirnya berbunyi:
“Aku sudah memaafkanmu, karena aku tahu kamu tidak memilih dengan mudah. Tapi aku ingin kamu tahu: cinta tidak pernah berhenti hanya karena tubuh berhenti pulang.”
Saat itulah seseorang menepuk pundakku.
Seorang backpacker muda dari Indonesia berdiri di belakangku. Ia memperkenalkan diri dan berkata bahwa ia mendapatkan kontakku dari Arwan.
“Ada seorang penyair tua di Dubrovnik yang mungkin bisa membantu,” katanya. “Dia bisa bicara bahasa Indonesia. Suaminya juga menghilang dan tidak pernah kembali.”
Aku tak bisa berkata-kata.
Keesokan harinya, aku berangkat.
Dubrovnik
Dubrovnik berdiri seperti lukisan yang terlalu indah untuk disentuh. Kota tua itu terasa menyimpan lebih banyak kenangan daripada manusia yang tinggal di dalamnya.
Di seberang sebuah rumah berwarna merah marun, seorang nenek sedang menyiram bunga. Tiba-tiba ia menyeberangi jalan dan menatapku lama.
“Perawakanmu mirip sekali,” katanya.
“Mirip siapa?”
“Mantan suamiku,” jawabnya. “Kau juga mirip Ivan, anak kami.”
“Di mana mereka?”
“Suamiku sudah lama pergi. Ivan malah merawat kenangannya.”
Perasaanku mendadak tak enak.
Seolah sudah terlalu lama menunggu seseorang untuk mendengar ceritanya, perempuan itu mulai berbicara. Suaminya, katanya, pernah hidup dengan wajah yang ia ciptakan sendiri. Hingga suatu hari, lelaki itu memilih jujur. Selama hidup bersamanya, ternyata ia selalu membayangkan perempuan yang ditinggalkan di Indonesia.
“Kenapa Anda tidak menahannya?” tanyaku.
“Karena yang lebih buruk dari pengkhianatan adalah kejujuran yang datang terlambat.”
Aku terdiam.
“Kalau bertemu lagi, apa yang ingin Anda katakan?”
“Tidak ada,” jawabnya. “Saya yakin Tuhan telah menghukumnya.”
Aku menggenggam surat Oma di dalam saku.
“Bagaimana Anda tahu?”
Ia tersenyum samar dan menyebut sebuah tempat yang dikelola putranya.
“Museum?” tanyaku. “Di mana?”
Ia menyebut sebuah kota: Grožnjan.
Grožnjan
Perjalanan ke Grožnjan terasa seperti ziarah yang bahkan doa pun takut membersamai.
Aku menemukan bangunan batu kecil berjendela hijau lumut. Di atas pintu tertulis:
Muzej Prve Ljubavi.
Museum Cinta Pertama.
Seorang pria setengah baya membuka pintu.
“Aku Ivan,” katanya setelah aku memperkenalkan diri.
Di dalam, ruangan itu penuh benda-benda dari Indonesia: batik, keris kecil, surat-surat tua, dan gambar rumah panggung. Di salah satu sudut, terpajang gambar hitam-putih seorang perempuan muda. Oma.
“Dia mencintai Indonesia,” kata Ivan lirih, “tapi merasa tidak layak kembali.”
“Kenapa membuka tempat ini dan menamakannya Museum Cinta Pertama?”
“Papaku ingin sesuatu dari dirinya bertahan,” jawabnya. “Bukan namanya.”
“Meski kau tahu itu berarti mengkhianati ibumu?”
Ivan menggeleng.
“Mereka tidak punya anak. Aku hanya tukang kebun yang mereka anggap anak. Aku mencintai mereka berdua: Ibu dengan ketulusan seluas langit, dan Papa yang akhirnya memilih jujur.”
Aku berdiri lama di depan sebuah gambar rumah kayu tua. Di bawahnya tertulis:
Untukmu yang tak bisa kupeluk, tapi selalu kuingat tiap malam jatuh.
“Kau bisa berbahasa Indonesia?” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Aku tahu kamu orang Indonesia,” katanya dalam bahasa Indonesia berdialek Kroasia.
Aku mengeluarkan surat Oma dan menyerahkannya kepadanya.
Ivan membacanya perlahan. Lama sekali. Setelah itu, ia menatapku.
“Sekarang aku tahu kenapa Papa selalu menulis ulang nama yang sama di setiap lukisannya.”
Tanpa upacara, ia memasukkan surat itu ke salah satu pigura di dinding.
Kini aku tahu, romansa yang tidak selesai bukan berarti cinta yang gagal.
Kadang, ia hanya berubah menjadi museum kecil yang tidak dikunjungi siapa-siapa, tetapi diam-diam merawat bunga yang tak semua orang bisa lihat.
Dan mungkin, itu cukup.(*)
Balige–Medan, Agustus 2026