Menyiram d(ar)i Akar

 Menyiram d(ar)i Akar

Ilustrasi: pngtree.com

Membaca adalah kebebasan yang menuntut tanggung jawab.

Oleh Benny Arnas

Malam itu, di jalanan Darosah yang mustahil lengang, di mana teriakan manusia seperti memiliki shift kerja dan pekik para sopir mikrobus seolah disponsori oleh seluruh kesemrawutan kota, saya duduk di dalam sebuah tremco yang dipenuhi campuran bau bensin, keringat, debu jalanan, dan asap knalpot yang entah bagaimana bisa masuk dari jendela yang macet tak bisa ditutup. 

Tremco melaju cepat, tidak pernah benar-benar berhenti kecuali menurunkan penumpang, dan karena itu pula saya tahu mustahil sopirnya menghormati lampu merah. Kami melesat melewati tikungan sempit di Darosah, masuk ke jalur yang lebih besar, dan naik ke jembatan layang. Lampu-lampu toko berkelebat di kaca jendela, dan suara hiruk-pikuk kota mengikuti kami dari bawah seperti gema yang menolak padam.

Di samping saya, seorang gadis muda membuka mushaf kecilnya. Bukan mushaf baru; ujung-ujung halamannya sedikit melengkung, sampulnya seperti pernah basah. Namun cara ia membacanya, ah, alangkah rapat dan tenang, seolah berusaha menjaga halaman-halaman itu dari guncangan tremco.

ia seperti hendak memberi teladan tentang bagaimana semestinya seseorang menentukan prioritas. Tak terkecuali pada membaca. Ya, sejak tremco berangkat dari Darosah hingga kami memasuki jalur layang yang mengarah ke Attaba, ia tidak mengangkat kepala sekali pun. Tidak menengok pada kebisingan luar. Tidak tergoda oleh ponsel seperti kebiasaan banyak orang.

Ia hanya membaca.

Bibirnya bergerak pelan, matanya menelusuri baris demi baris ayat, seakan ia sedang mengejar sesuatu yang lebih penting daripada waktu, lebih mendesak daripada hiburan, lebih pribadi daripada dunia.

Di tengah segala kebisingan malam Kairo, ia seperti membangun ruang spiritualnya. Dan saya, duduk hanya sejengkal dari bahunya, merasa sedang menyaksikan seseorang yang sedang menyelesaikan sesuatu yang wajib sebelum ia mengizinkan dirinya melakukan sesuatu yang lain.

Ketika tremco sampai di Attaba, ia menutup mushaf itu, menyelipkan selembar nota kecil sebagai penanda, lalu turun begitu saja. Tidak ada drama. Tidak ada ritual panjang. Hanya tindakan sederhana yang entah mengapa lebih menggetarkan saya daripada ceramah mana pun.

Rasanya seperti seseorang berkata langsung ke telinga saya, “Boleh membaca apa saja, tapi selesaikan dulu yang menguatkan imanmu, identitasmu, dan dirimu sebagai manusia.”

Malam itu, di tremco paling bising yang pernah saya tumpangi, sindiran saya seperti menguak luka basah saya sebagai pembaca: telahkah saya adil kepada buku-buku yang berserakan?

Namun sebenarnya, pelajaran itu mulai tumbuh sebelum malam di Darosah itu. Tepatnya sepekan sebelumnya, pada hari-hari awal kedatangan saya di Mesir.

Waktu itu saya tinggal di sebuah Airbnb di kawasan Hay Sadis. Host saya, Khalid, seorang insinyur sipil berusia 44 tahun, berwajah teduh, berkacamata tipis, dengan logat Mesir yang pelan, mengajak saya duduk di ruang tamunya. Tidak ada teh. Tidak ada kopi. Hanya lampu kuning redup, udara malam yang masuk dari jendela kecil, dan percakapan yang tidak saya duga akan mengganggu cara saya memandang literasi.

Kami berbicara tentang banyak hal, tetapi entah bagaimana pembicaraan itu berbelok ke arah membaca.

Khalid menghela napas pendek. “Di Mesir saat ini, orang tidak sedang punya kemewahan untuk membaca sastra,” katanya. “Bukan karena mereka tidak suka, tetapi karena hidup sedang menelan perhatian mereka.”

Ia menatap saya seolah ingin memastikan saya mendengar bukan hanya kata-katanya, tetapi lapisan di bawahnya.

“Kami membaca harga roti. Membaca naik-turunnya pound. Membaca peluang kerja. Membaca bagaimana caranya agar keluarga kami bisa makan sampai akhir bulan.”

Ia tidak sedang merendahkan sastra. Tidak sedang menolak fiksi. Ia sedang memetakan kenyataan.

“Kau yang datang dari negara yang lebih stabil, yang hidupnya lebih lapang,” lanjutnya, “harus mengerti bahwa membaca itu memiliki skala prioritas. Ada bacaan yang menyenangkan, ada bacaan yang membangun. Dan ketika hidup kita sempit, kita harus membuka saluran agar udara bisa masuk. Dan itu tentu saja bukan bacaan-bacaan imajinatif.”

Kata-katanya menampar saya, tidak keras, tetapi tepat. Ternyata membaca bukan sekadar cermin kebebasan. Ia adalah kebebasan yang menuntut tanggung jawab. Ya, mereka yang hidup di antrean roti tidak membaca puisi terlebih dahulu. Mereka membaca cara bertahan hidup.

Malam setelahnya, saya mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah saya baca sebagai sebuah pesan.

Saya memperhatikan bagaimana banyak taksi di Kairo memutar murotal, bukan musik. Bahkan sopir-sopir bus dan didi yang pintunya macet pun cenderung memilih lantunan Al-Quran daripada lagu-lagu pop. Di bus kota, saya mendengar surah Yasin diputar pelan di sudut dekat pengemudi. Di beberapa kafe murah, speaker kecil di atas kulkas minuman mengalunkan ayat-ayat pendek atau doa-doa harian.

Bukan karena mereka anti-musik. Bukan karena kota ini religius secara formal. Tapi karena sehari-hari mereka mencari pegangan. Dalam keletihan ekonomi, dalam inflasi yang menghimpit, dalam politik yang muram, mereka memilih suara yang menguatkan iman, bukan sekadar menghibur.

Murotal itu bukan sekadar suara.

Ia adalah tanda bahwa prioritas bacaan mereka jelas.

Bahwa membaca, dengan mata atau telinga, berfungsi untuk menguatkan yang paling dasar dalam diri mereka.

Dan saya mulai memahami apa yang ingin disampaikan Khalid:

Dalam hidup yang mencekik, manusia belajar membaca apa yang bisa menyambung nyawa.

Ketika ingatan akan Khalid bertemu dengan pemandangan gadis di tremco itu, keduanya melebur menjadi satu pemahaman besar: bahwa bacaan tidak memiliki kedudukan yang sama. Ada yang wajib, ada yang penting, ada yang berguna, dan ada yang semata hiburan.

Artinya, membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menata apa yang kita anggap utama dalam hidup.

Bagi seorang Muslim, membaca Al-Quran bukan sekadar ibadah; ia adalah struktur. Ia adalah pondasi.

Bagi seorang mahasiswa, membaca diktat adalah prioritas, bukan gangguan. Sebab itulah jalan hidup yang sedang ia bangun.

Bagi seorang storyteller, membaca teknik-teknik public speaking, teori narasi, dan seni bercerita adalah bagian dari identitas profesionalnya.

Semuanya memiliki tempat masing-masing. Dan semuanya harus dibereskan sebelum seseorang bebas menari ke bacaan lain yang lain.

Seperti pepatah Afrika Timur:

“A river that forgets its source will dry.” Sungai yang lupa sumbernya akan kering.

Begitu pula pembaca yang lupa pada bacaan fondasinya.

Malam di Darosah itu, dan percakapan dengan Khalid seminggu sebelumnya, menjadi dua kutub yang menata ulang ruang dalam kepala saya: bahwa membaca adalah aktivitas terbuka, tetapi pilihan bacaan harus terarah.

Kita boleh menyukai novel.

Kita boleh menikmati puisi.

Kita boleh mengikuti esai-esai ringan.

Tapi semua itu adalah bonus setelah kita menunaikan bacaan-bacaan yang membangun iman, identitas, profesi, dan keutuhan diri kita.

Karena membaca apa saja sebelum membereskan yang utama hanya akan membuat kita kaya informasi tetapi miskin arah.

Dan pada malam paling bising di Kairo, ketika tremco membawa saya melintasi jembatan layang menuju Attaba, seorang gadis yang membaca mushaf di samping saya mengajarkan pelajaran yang tidak bisa saya lupakan:

Di Kairo, prioritas membaca hadir begitu saja. Murotal di taksi dan bus, suara tilawah dari kafe-kafe Darosah, sampai gadis di tremco yang turun di Attaba. Semuanya seperti berkata bahwa sebelum manusia mengejar pengetahuan lain, ada satu bacaan yang harus mereka hormati lebih dulu. Kota boleh bising, hidup boleh berat, tetapi pijakan utama itu tetap dijaga.

Ya, membaca bukan lagi soal banyaknya buku yang kita lahap, melainkan keberanian memilih mana yang harus didahulukan. Ada bacaan yang memperkuat diri, ada yang memperluas dunia. Dan, karena lanskap pengetahuan tak bertepi sementara waktu alangkah terbatasnya, keduanya sungguh tidak boleh,

tidak bisa,

dan jangan sampai,

tertukar.(*)

Darosah, 27 November 2025

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

5 Comments

  • Tulisan yang menyejukkan Bang Ben.. 🥹 ngingetin kalo membaca perlu dirawat, bukan dikejar..

  • “membaca adalah aktivitas terbuka, tetapi pilihan bacaan harus terarah”. Kita memang harus memilih bacaan yang membangun iman, identitas, profesi, dan keutuhan diri kita sebelum mengejar bacaan lain yang lain.

  • “membaca adalah aktivitas terbuka, tetapi pilihan bacaan harus terarah”. Kita memang harus memilih bacaan yang membangun iman, identitas, profesi, dan keutuhan diri kita sebelum mengejar bacaan lain yang lain.

Leave a Reply to Benny Arnas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *