Mengapa Kita Tak Mau Terlihat Bodoh, di Hadapan Diri Sendiri Sekalipun?

 Mengapa Kita Tak Mau Terlihat Bodoh, di Hadapan Diri Sendiri Sekalipun?

Sumber ilustrasi: pngtree.com

Betapa menyedihkan belajar namun tak bersedia terlihat bodoh. Waktu terbuang, materi melayang, tetapi jatah salah, yang seharusnya habis dipakai dalam proses belajar, justru tidak pernah berkurang.

Oleh Benny Arnas

Selama bertahun-tahun mengampu kelas menulis, saya sesekali berjumpa dengan para peserta yang karya-karyanya sudah dimuat media nasional. Itu bukan perkara besar. Namun beberapa bulan lalu, saya “bertemu” seorang peserta yang akan selalu saya ingat. Bukan, bukan karena kualitas karyanya, melainkan karena cara ia “menghindari” belajar.

Ia tidak pernah mengutarakan pendapat, tidak pernah menjawab pertanyaan, dan hampir tidak pernah mengumpulkan tugas tepat waktu. Bukan karena malas. Bukan pula karena tak mampu. Justru sebaliknya: ia terlalu takut terlihat bodoh.

Setiap sesi diskusi, ia akan menunduk, mencatat hal-hal remeh hanya agar tampak sibuk; setiap giliran koreksi naskah, ia menunjukkan kegelisahan seperti seseorang yang merasa seluruh ruang kelas sedang menunggu celah kelemahannya. Saya bisa merasakan ketakutannya: ketika teman-temannya menerima masukan tajam, ia membeku, seolah kritik adalah sejenis penghinaan yang merobek harga diri. 

Sungguh ironis: ikut kelas menulis tetapi tak mau belajar; hadir setiap pekan tetapi tak mau mengambil jatah “salah” yang justru menjadi bahan bakar kemajuan.

Betapa menyedihkan belajar namun tak bersedia terlihat bodoh. Waktu terbuang, materi melayang, tetapi jatah salah, yang seharusnya habis dipakai dalam proses belajar, justru tidak pernah berkurang.

Fenomena ini lebih luas daripada ruang kelas. Sesungguhnya, hambatan terbesar dalam belajar bukan kemalasan atau kurangnya akses pengetahuan. Hambatan itu adalah ketakutan kita sendiri untuk terlihat bodoh. Ketakutan itu begitu kuat, hingga ia tak hanya terjadi di hadapan orang lain; ia bahkan bekerja saat kita berhadapan dengan diri sendiri.

***

Belajar, pada hakikatnya, adalah proses “menelanjangi” diri. Saat belajar, kita harus mengakui bahwa kita tidak tahu, bahwa wawasan kita dangkal, bahwa imajinasi kita tumpul, bahwa analisis kita goyah. Semua itu adalah ketelanjangan epistemik: keterbukaan yang membuat manusia rentan. Kerentanan inilah yang ingin kita hindari. Di ruang kelas, kerentanan itu terasa mengancam harga diri: cukup satu pertanyaan yang tak bisa kita jawab, satu kesalahan kecil di papan tulis, atau satu komentar guru, dan seketika kita membayangkan reputasi kita runtuh di mata pembelajar lain.

Padahal, itu hanya perasaan kita. Orang lain sibuk dengan pikirannya sendiri. Mereka jarang mengingat kesalahan orang lain. Namun ego manusia menciptakan fantasi bahwa semua sedang memperhatikan kita, menimbang kita, menertawakan ketidaktahuan kita. Ego itulah yang membuat kita enggan mengangkat tangan, enggan bertanya, enggan terlalu ingin tahu. Kita takut ditertawakan, diremehkan, atau terlihat kurang cerdas. Alhasil, kita memilih untuk diam, dan kehilangan kesempatan memahami hal-hal yang sebenarnya ingin kita kuasai.

Ini bukan persoalan modern saja. Sejak ribuan tahun lalu manusia sudah terjebak dalam ketakutan yang sama. Ibn Rushd, filsuf besar Andalusia, pernah mengingatkan, “Ignorance leads to fear; fear leads to hatred.” Dalam konteks belajar, ketidaktahuan sering melahirkan rasa takut, dan rasa takut itu membuat kita memusuhi proses yang seharusnya menyelamatkan kita: bertanya, mendengar, menerima kritik. Kesombongan di sini bukan soal meninggikan diri, melainkan keengganan membuka ruang ketidaktahuan. Bahkan pada masa ketika majelis ilmu dijunjung tinggi, manusia tetap bergumul dengan rasa malu mengakui bahwa mereka belum tahu.

Perintah pertama dalam Islam—“Iqra!” (Bacalah!)—adalah instruksi yang sangat intim. Tidak ada audiens publik. Tidak ada pengamat. Hanya kamu, teks, dan pantulan dirimu sendiri. Membaca adalah bentuk belajar yang paling privat, paling senyap. Tidak ada satu pun manusia lain yang mengetahui seberapa bodohnya kita saat membaca halaman pertama sebuah buku. Kita bebas salah, bebas tidak paham, bebas menandai bagian yang membuat kita bingung. Namun anehnya, bahkan di ruang seprivat itu pun banyak orang tetap malas, enggan, atau merasa tidak siap menghadapi kebodohannya sendiri.

Ironisnya, kita menangkal sesuatu yang tidak akan pernah diketahui orang lain. Itu bukan lagi ketakutan dilihat sebagai bodoh oleh orang lain, tetapi ketakutan mengakui kebodohan di hadapan diri sendiri. Yang tersisa adalah kesombongan. Kesombongan yang sunyi. Kesombongan yang tidak menuntut penonton. Kesombongan yang membuat kita menjauh dari pengetahuan yang seharusnya memerdekakan.

Sejarah memberikan banyak contoh betapa bahaya sikap tidak mau terlihat bodoh ini. Salah satu yang paling dramatis adalah bagaimana Kekaisaran Cina pada abad ke-19 menolak teknologi Barat karena dianggap inferior. Para pejabat kerajaan merasa mengadopsi pengetahuan asing akan membuat mereka terlihat lemah. Rasa gengsi itu membuat mereka menutup mata terhadap inovasi, dan akibatnya fatal: kekalahan dalam Perang Candu, keruntuhan industri, dan melemahnya otoritas kekaisaran.

Contoh lain datang dari dunia sains. Ketika Ignaz Semmelweis pada abad ke-19 menemukan bahwa mencuci tangan dengan cairan antiseptik bisa menyelamatkan nyawa ibu melahirkan, banyak dokter menolak gagasan itu karena merasa diinsinuasi sebagai “penyebab kematian”. Ego profesional mereka tersinggung. Mereka lebih memilih mempertahankan harga diri daripada menyelamatkan pasien. Kesombongan itu menelan ribuan nyawa yang sebenarnya bisa dihindari.

Dalam skala lebih kecil, kita melihat pola yang sama pada kehidupan sehari-hari: orang yang menolak membaca manual perangkat karena “sudah merasa bisa”; mahasiswa yang enggan bertanya karena takut dianggap tidak paham; penulis yang malu menerima kritik padahal kritik itu bisa memperkuat tulisannya; guru yang tidak mau mengakui kekeliruan karena takut otoritasnya dianggap lemah. Semuanya adalah variasi dari satu mekanisme psikologis: mempertahankan citra diri dengan mengorbankan pertumbuhan diri.

Pada akhirnya, kita sering lupa bahwa dalam belajar, termasuk dalam membaca, prinsipnya adalah mereduksi sebanyak mungkin kesalahan di ruang yang aman, demi menghindari kesalahan yang lebih fatal di ruang yang tidak aman. Menjadi salah di kelas adalah hak. Menjadi bingung saat membaca adalah wajar. Menjadi bodoh sementara adalah syarat menjadi berpengetahuan nanti.

Belajar adalah proses di mana kita menukar rasa malu kecil hari ini demi martabat yang lebih tinggi esok hari. Ia bukan penghinaan, melainkan investasi. Seperti kata Socrates, “The only true wisdom is in knowing you know nothing.” Kebijaksanaan sejati dimulai dari keberanian mengakui ketidaktahuan. Tanpa itu, kita hanya berganti ruang tanpa pernah berganti cara pandang.

Mereka yang menolak terlihat bodoh akan tetap berjalan dengan kepala tegak, tetapi dengan pikiran yang kosong. Sedangkan mereka yang berani mengakui kebodohannya akan pulang dengan kepala menunduk, tetapi membawa pengetahuan baru yang kelak menjadi kemuliaan.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti takut terlihat bodoh, bahkan kepada buku yang menunggu, bahkan kepada diri sendiri sekalipun. Karena di balik pintu rasa malu itu, karena di balik teks-teks yang mengandung ilmu itu, ada ruang luas tempat manusia akhirnya bisa tumbuh tanpa batas. Tanpa batas.(*)

Bengkulu, 17 November 2025

______

Aroua, A. (t.t.). Addressing Extremism and Violence: The Importance of Terminology. CPI-Geneva. Makalah dalam “Conflict Transformation Perspective”.

European Youth Information and Counselling Agency (ERYICA). (t.t.). Toolkit for Preventing Violent Extremism. ERYICA.

Shidarta. (t.t.). Kebijaksanaan Socrates dan Etika Berlalu Lintas. Business Law Binus. Diakses dari https://business-law.binus.ac.id

Wikipedia. (t.t.). Socratic paradox. Wikipedia bahasa Inggris. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Socratic_paradox

Wikipedia. (t.t.). I know that I know nothing. Wikipedia bahasa Inggris. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/I_know_that_I_know_nothing

Goodreads. (t.t.). Ignorance leads to fear, fear leads to hatred, and hatred leads to violence. This is the equation. Diakses dari https://www.goodreads.com

AzQuotes. (t.t.). Kutipan Averroes. Diakses dari https://www.azquotes.com

A Pondering Mind. (2021). Ignorance leads to fear … This is the equation. ~Averroes. Diakses dari https://aponderingmind.org

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Tulisan yang menyejukkan sekaligus menampar.. 🥹 mengingat kebodohan diri sendiri memang tidak nyaman, tapi padahal di situlah pintu belajar terbuka..

    • hee. makasih, Dias, selalu mampir.

Leave a Reply to Benny Arnas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *