Membaca (se)dari Rumah

 Membaca (se)dari Rumah

Sumber ilustrasi: pngegg.com

Anak yang hidup dalam kasih sayang akan mudah tenggelam dalam cerita.

Oleh Benny Arnas

_________________

Kita sering bertanya mengapa minat baca begitu sulit tumbuh. Berbagai kampanye sudah dilakukan, dari gerakan membaca 15 menit, perpustakaan keliling, pameran buku, hingga kelas-kelas literasi yang digelar hampir setiap minggu. Namun tetap saja banyak orang yang merasa membaca adalah kegiatan berat. Anak-anak mudah bosan, remaja lebih memilih layar, orang dewasa menganggap membaca butuh energi terlalu besar. Kita sibuk mencari strategi baru, padahal mungkin kita sedang mencari di tempat yang salah. Sebab akar dari minat baca nyatanya tidak terletak di sekolah, atau di buku itu sendiri, melainkan di tempat yang paling dekat dengan kita: rumah.

Rumah adalah ruang pertama di mana kita mengenal dunia. Di sanalah rasa ingin tahu mendapatkan makanan pertamanya, di sanalah kesabaran bertunas, dan di sanalah imajinasi menemukan tempat untuk tumbuh. Jika rumah tidak memberi ruang untuk ketiga hal itu, membaca akan terasa seperti aktivitas asing yang datang tiba-tiba tanpa dukungan atmosfer emosional yang memadai.

Banyak dari kita menganggap sekolah adalah penentu utama keberhasilan literasi. Kita berharap guru menjadi pemantik minat baca, atau kurikulum bisa memaksa siswa mencintai buku. Tapi sekolah hanya hadir beberapa jam sehari dengan aturan ketat yang membatasi kebebasan alami anak untuk memilih, bertanya, dan berimajinasi. Membaca, sebaliknya, tumbuh dalam suasana yang tenang, personal, dan bebas dari tekanan nilai. Karena itu, sekolah bisa mengajarkan keterampilan membaca, tetapi tidak bisa mengajarkan kegemaran membaca. Untuk itu, anak membutuhkan ruang yang memberi rasa aman, perhatian, keakraban, dan kebebasan. Itu, idealnya, hanya dimiliki oleh rumah.

Sering kali kita menemukan dua jenis rumah yang sangat kontras. Rumah pertama adalah rumah yang padat kegiatan: orang dewasa bekerja di depan layar, televisi menyala sepanjang hari, percakapan berlangsung terburu-buru, dan buku diletakkan di lemari kaca seolah hiasan yang tidak boleh disentuh. Rumah kedua mungkin jauh lebih sederhana, tetapi di meja tamu ada majalah yang terbuka, di rak kecil ada beberapa novel murahan yang sudah kusut, dan ada momen-momen kecil ketika orang tua duduk diam selama lima menit untuk membaca sesuatu. Pada rumah kedua, membaca tidak pernah diumumkan sebagai kegiatan penting; ia hadir dengan cara yang lebih lembut, sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

Anak belajar dari atmosfer rumah, bukan dari perintah.

Anak belajar dari atmosfer rumah, bukan dari perintah. Bila ia melihat orang dewasa memegang buku dengan santai, ia belajar bahwa membaca adalah kegiatan wajar. Bila ia mendengar cerita sebelum tidur, ia belajar bahwa cerita bisa menghibur dan menghangatkan hati. Bila ia melihat orang-orang di rumahnya mampu hening beberapa saat, ia belajar bahwa keheningan bukan ancaman. Sebaliknya, ketika rumah terlalu bising, terlalu terburu-buru, dan terlalu penuh layar, membaca akan terasa aneh dan sulit. Minat baca tidak akan tumbuh karena tanahnya keras.

Keteladanan adalah hal yang selalu bekerja dalam diam. Orangtua sering membeli buku anak yang penuh warna, tetapi anak tetap tidak menyentuhnya karena ia tidak pernah melihat buku sebagai bagian dari rutinitas keluarga. Anak tidak meniru nasihat; ia meniru kebiasaan. Tidak perlu orang tua membaca buku tebal untuk memberikan contoh; membuka koran sebentar saat sarapan, menandai resep di buku masak, atau membaca satu halaman sebelum tidur sudah cukup menjadi sinyal bahwa membaca itu menyenangkan. Bahkan ekspresi kecil seperti tersenyum pada paragraf lucu atau mengernyit saat menemukan ide menarik dapat memberi pesan emosional bahwa membaca adalah pengalaman hidup, bukan tugas.

Hal penting lainnya adalah waktu bersama. Literasi tidak hanya tumbuh dari buku, tetapi dari percakapan. Makan malam tanpa gawai, obrolan ringan menjelang tidur, atau mendengarkan anak bercerita tentang hal remeh yang ia temui hari itu adalah momen yang membangun kemampuan mendengar, berbicara, dan menarasikan pengalaman. Anak yang terbiasa bercerita lebih mudah jatuh cinta pada cerita dalam bentuk tulisan, anak yang terbiasa diajak berdiskusi akan lebih mudah menikmati buku nonfiksi, dan anak yang memiliki hubungan emosional hangat dengan orang tuanya akan lebih berani mencoba hal baru, termasuk membuka halaman pertama buku yang asing.

Rumah yang penuh dialog juga menciptakan kebiasaan berpikir. Anak yang diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, meski sederhana seperti memilih menu makan atau film yang ingin ditonton, akan tumbuh dengan rasa percaya diri. Ia memahami bahwa suaranya berarti sesuatu. Rasa dihargai inilah yang membuat anak mau membaca, sebab membaca membutuhkan keberanian untuk memasuki dunia baru serta memahami hal yang belum pernah ditemui. Ketika rumah hanya mengandalkan otoritas tanpa memberi ruang dialog, anak akan belajar patuh, tetapi tidak belajar ingin tahu.

Minat baca selalu bersandar pada dua pondasi besar: rasa aman dan rasa gembira.

Minat baca selalu bersandar pada dua pondasi besar: rasa aman dan rasa gembira. Anak yang hidup dalam tekanan tidak akan berlama-lama dengan buku, sementara anak yang hidup dalam kasih sayang akan mudah tenggelam dalam cerita. Rasa aman membuat seseorang berani mengeksplorasi, rasa gembira membuat seseorang ingin kembali lagi ke buku berikutnya. Tanpa keduanya, membaca hanya menjadi alat akademik, bukan pengalaman batin.

Di titik inilah kita mulai menengok diri sendiri. Ketika membaca terasa sulit, atau ketika kita iri melihat orang lain begitu mudah bersahabat dengan buku, mungkin jawabannya ada jauh di masa kecil kita. Apakah rumah kita dulu menyediakan ruang membaca? Apakah keluarga memberi makan keingintahuan kita, atau justru mematikannya? Apakah ada cerita-cerita kecil yang menjadi jembatan imajinasi kita? Jika tidak ada, wajar jika membaca tidak pernah menjadi kebiasaan alami. Tetapi kesadaran ini bukan akhir; ia justru awal dari perubahan.

Kita bisa memulai dari diri sendiri. Kita bisa menciptakan rumah yang menjadi tanah subur bagi imajinasi, meski itu hanya rumah kecil di tengah kesibukan. Kita bisa menyediakan buku di tempat-tempat paling sunyi, mematikan layar selama beberapa menit, mendengarkan anak bercerita tanpa menginterupsi, atau sekadar membaca satu halaman untuk diri kita sendiri. Kebiasaan kecil seperti itu akan menetes menjadi atmosfer, dan atmosfer itu akan menjadi kebiasaan baru.

Membaca dari rumah berarti mengakui bahwa minat baca tidak pernah tumbuh dari strategi besar atau kampanye masif. Ia tumbuh dari perhatian sehari-hari, dari ruang yang aman, dari contoh yang lembut, dan dari rasa ingin tahu yang diberi makan sejak dini. Ia bukan proyek instan, tetapi proses panjang yang dimulai dari meja makan, dari percakapan ringan, dari kebiasaan kecil yang terlihat sepele. Jika rumah telah menjadi taman bagi rasa ingin tahu, membaca akan tumbuh tanpa perlu dipaksa. Dan ketika itu terjadi, kita tahu bahwa rumah telah menjalankan perannya sebagai sekolah pertama yang tak pernah libur.(*)

Aleksandria, 2 Desember 2025

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

6 Comments

  • Isi buku bgus sklali.mdhan saya bisa memulai dan mengajaka anak saya utk suka membaca.karna dengan membaca kita bisa tahu

    • Alhamdulillah. Terima kasih sudah membaca.

  • Saya lupa nama penyairnya. Ada satu baris dari syair yang ditulis olehnya: ummi, ummi, ummi, madrosatul ula…

    Jadi memang semua bermula dari perempuan, yaitu ummi, ibu. Dialah Perpustakaan pertama si anak. Ibu harus berpendidikan – tidak selalu formal.

    Membaca tulisan Adinda Benny ini seolah membuka kenangan masa kecil saya. Tahun 1970-an, ada Perpustakaan kecil di rumahku itu mewah. Walaupun kemudian habis buku-bukunya karena dipinjam tapi tidak dikembalikan, apa yang dikatakan Emak?

    “Nanti Emak doain kamu yang bikin bukunya.”

    Jadi setiap saya jadi narasumber sebagai pegiat literasi atau Duta Baca Indonesia, selalu mengingatkan wajib hukumnya membangun “literasi kekuarga”

    Betul, Adinda, rumah harus aman, gembira, dan penuh imajinasi. Sebelum tidur, Emak yang bagaimana “rumah dongeng” selalu menutup hari dengan imajinasi. Saya kecil disuguhkan film bergerak dari story teller terbaik sepanjang masa – Emak. Malin Kundang, Timun Emas, Kisah 1001 Malam, Gadis Kecil penjual korek api, Red Riding Hood , Ugly Duck…. Kisah nabi….

    Thanks, buddy.
    Membacamu di setiap subuh, jadi makanan pembuka sebelum sarapan nasi uduk, bakwan…..

    Gol A Gong

  • Masya Allah. Selalu senang mendapat apresiasi darimu, Kangmas! Terima kasih banyak atas semangat dan apresiasimu.

  • Esai Bang Ben jadi ngingetin kita kalo minat baca sejati tak tumbuh dari aturan atau kampanye besar, melainkan dari suasana rumah yang penuh keteladanan, perhatian, dan rasa ingin tahu.. 📄🥹

Leave a Reply to dias Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *