Membaca Greenland, Membuka Samalas
Gambar: kompas.id
Selama manuskrip-manuskrip itu masih ada, sejarah Indonesia belum benar-benar selesai ditulis.
Oleh Benny Arnas
____
Ketika Greenland kembali disebut dalam berita dunia, perhatian publik tertuju pada peta kekuasaan. Amerika Serikat dikabarkan ingin menguasai pulau itu karena cadangan mineral yang terkunci di bawah es. Es yang selama ini dianggap beku dan mati tiba tiba berubah menjadi rebutan strategis.
Namun es tidak pernah benar benar bisu. Ia menyimpan ingatan. Ia menyimpan jejak dunia yang tak tercatat di buku sejarah sekolah.
Greenland, dengan lapisan esnya yang berumur ribuan tahun, sesungguhnya adalah arsip global. Di sanalah atmosfer masa lalu dibekukan, satu musim demi satu musim, seperti halaman yang ditumpuk tanpa suara.
Membaca Greenland berarti membaca masa lalu bumi. Dan pada satu titik yang tak terduga, bacaan itu membawa kita pulang ke Indonesia.
Ilmu pengetahuan modern pernah menghadapi sebuah teka teki besar. Bukan tentang siapa membangun piramida, bukan pula tentang kepunahan dinosaurus. Ini teka teki iklim. Sebuah gangguan global yang menyebabkan penderitaan massal, tetapi tanpa penyebab yang jelas.
Catatan sejarah Eropa abad ke 13 mencatat tahun tahun aneh. Matahari tampak redup. Musim panas gagal datang. Hujan turun tanpa jeda. Lumbung kosong. Kelaparan menyebar.
Orang orang mati bukan karena perang, tetapi karena cuaca yang berubah brutal. Namun tidak ada satu pun sumber Eropa yang tahu mengapa semua itu terjadi.
Berabad abad kemudian, para ilmuwan mencoba menjawabnya. Mereka tidak membaca kronik kerajaan. Mereka membaca es.
Dengan pengeboran yang sangat presisi, lapisan es di Greenland dan Antarktika dibuka. Setiap lapisan adalah waktu. Setiap partikel adalah petunjuk.
Pada lapisan pertengahan abad ke 13, muncul tanda yang tak bisa diabaikan. Kandungan belerang dan abu vulkanik melonjak tajam. Ini bukan fluktuasi biasa. Ini adalah tanda letusan raksasa.
Bumi pernah meledak.
Masalahnya, tidak ada gunung berapi terkenal yang tercatat meletus sedahsyat itu pada tahun tersebut. Tambora dan Krakatau jauh lebih muda. Gunung gunung lain tidak meninggalkan jejak kimia yang sama.
Sains modern tahu apa yang terjadi, tetapi tidak tahu di mana.
Di titik inilah cerita menjadi menarik. Jawaban tidak datang dari alat yang lebih canggih. Ia datang dari bacaan yang lebih tua.
Seorang peneliti memutuskan untuk membaca sumber yang jarang disentuh sains alam. Ia membuka manuskrip Nusantara. Ia membaca lontar.
Di Lombok, sebuah naskah kuno menyimpan cerita tentang kehancuran. Tentang gunung yang runtuh. Tentang kota yang hilang. Tentang gelap yang bertahan berhari hari.
Babad Lombok tidak ditulis untuk menjelaskan iklim global. Ia ditulis untuk mengingat sebuah tragedi lokal. Namun justru di situlah kekuatannya.
Manuskrip itu tidak berusaha menjadi teori. Ia adalah kesaksian.
Ketika kesaksian ini dipertemukan dengan data es Greenland, sesuatu yang luar biasa terjadi. Potongan potongan sejarah yang terpisah ribuan kilometer tiba tiba saling mengunci.
Endapan vulkanik di Lombok memiliki komposisi yang sama dengan partikel yang terjebak di es kutub. Gunung Samalas, yang kini tak lagi berdiri, adalah sumber bencana global itu.
Satu manuskrip membantu dunia memahami perubahan iklim abad pertengahan. Daun lontar menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab laboratorium selama puluhan tahun.
Di sinilah kita belajar apa arti membaca.
Membaca bukan sekadar mengonsumsi teks modern. Membaca adalah keberanian untuk menganggap sumber lama sebagai pengetahuan yang sah.
Manuskrip Nusantara bukan fosil budaya. Ia adalah arsip pengalaman manusia. Ditulis bukan untuk museum, tetapi untuk diwariskan.
Simbur Cahaya adalah salah satunya. Dalam manuskrip ini, Ratu Sinuhun menyusun undang-undang adat dengan ketelitian yang mengejutkan. Ia mengatur relasi sosial, pidana, dan perlindungan terhadap yang lemah. Ia menulis hukum sebagai pengetahuan, bukan sekadar perintah.
Tanpa membaca teks itu, Ratu Sinuhun mudah direduksi menjadi nama. Dengan membaca, ia hadir sebagai pemikir hukum Nusantara, seorang perempuan yang menulis sistem keadilan jauh sebelum istilah modern diperkenalkan.
Manuskrip bekerja seperti lapisan es. Ia menyimpan lapisan makna. Ia tidak berteriak. Ia menunggu pembacanya.
Negarakertagama, Hikayat Aceh, dan berbagai babad lain bukan sekadar sastra. Mereka adalah cara masyarakat Nusantara mencatat dunianya sendiri, dengan bahasa dan logika zamannya.
Anggapan bahwa masa lalu Nusantara hanya hidup dalam tradisi lisan runtuh ketika kita bersedia membaca naskah-naskah ini secara serius. Yang sering hilang bukan bukti, melainkan perhatian.
Di zaman yang serba cepat, membaca mendalam terasa seperti kemewahan. Kita terbiasa dengan ringkasan. Kita lupa bahwa pengetahuan membutuhkan kesabaran dan keheningan.
Greenland mengajarkan bahwa membaca jejak yang tipis dapat mengubah pemahaman dunia. Manuskrip Nusantara mengajarkan hal yang sama.
Keduanya meminta satu sikap yang sama. Perlambatan. Ketelitian. Kesediaan untuk tidak segera menyimpulkan.
Membaca manuskrip bukan nostalgia. Ia adalah kerja intelektual. Ia menuntut kepekaan bahasa dan kerendahan hati epistemik. Ia menolak anggapan bahwa yang tua selalu kalah oleh yang baru.
Ketika es kutub dan daun lontar bisa dibaca berdampingan, batas antara sains dan humaniora menjadi cair. Yang tersisa hanyalah usaha memahami dunia secara utuh.
Membaca, pada akhirnya, bukan sekadar kegiatan akademik. Ia adalah cara menentukan siapa yang diberi tempat dalam sejarah. Ketika kita membaca es Greenland, dunia bersedia mengakui kebenaran yang tersembunyi di dalamnya. Tetapi ketika kita enggan membaca manuskrip Nusantara, kita menyingkirkan ingatan kita sendiri.
Membaca Greenland membawa Indonesia kembali ke peta dunia, bukan lewat klaim politik atau perebutan wilayah, melainkan lewat pengetahuan. Melalui pembacaan yang teliti, kita tahu bahwa sebuah gunung di Lombok pernah mengubah iklim global, dan bahwa selembar daun lontar mampu menjelaskan apa yang gagal dijelaskan teknologi modern selama puluhan tahun.
Di situlah membaca menemukan maknanya yang paling sunyi sekaligus paling kuat. Ia tidak memaksa. Ia tidak berteriak. Ia membuka kemungkinan bahwa masa lalu kita bukan beban, melainkan sumber pengetahuan yang belum selesai dibaca.
Dan selama manuskrip-manuskrip itu masih ada, sejarah Indonesia belum benar-benar selesai ditulis.(*)
Lubuklinggau, 7–10 Januari 2026
_____
Daftar Pustaka
Gallop, A. T. (2014). The legacy of the Malay manuscript. London: British Library.
Lavigne, F., Degeai, J. P., Komorowski, J. C., Guillet, S., Robert, V., Lahitte, P., et al. (2013). Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani volcanic complex, Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences, 110(42), 16742–16747. https://doi.org/10.1073/pnas.1307520110
Ratu Sinuhun. (ca. 1630–1640). Simbur Cahaya. Manuskrip. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Robson, S. O. (1994). Principles of Indonesian philology. Leiden: KITLV Press.
Sigl, M., Winstrup, M., McConnell, J. R., Welten, K. C., Plunkett, G., Ludlow, F., et al. (2015). Timing and climate forcing of volcanic eruptions for the past 2,500 years. Nature, 523, 543–549. https://doi.org/10.1038/nature14565
2 Comments
Membaca artikel ini, melihat dunia 😁 It’s great!
Thank you, Rien!