Kenapa Kita Harus Membaca Palestina
Lukisan “Handalan” karya Raghda Bilal Sheikh al-Eid (Palestina)
Tempat mereka yang bersikap netral di hadapan kejahatan adalah inferno: kerak neraka!
Dan Brown
Oleh Benny Arnas
Pada 15 Mei 2021, di tengah suara drone dan bau asap yang menempel di udara, sekelompok relawan di Gaza menurunkan tas-tas kain berisi buku dari lantai dua sebuah rumah yang separuh dindingnya telah runtuh. Di bawah reruntuhan itu dulunya berdiri Samir Mansour Bookshop, toko buku dan penerbit independen terbesar di Jalur Gaza.
Dua puluh tahun lamanya tempat itu menjadi ruang berkumpul mahasiswa, penulis muda, dan pembaca biasa yang haus akan kata. Dalam satu malam, semuanya jadi abu. Tapi keesokan paginya, pemiliknya, Samir Mansour, menulis di papan bekas etalase: “Kami akan membangun lagi. Buku tidak bisa dibungkam.”
Kabar itu menyebar. Dari Chicago sampai Kuala Lumpur, orang-orang menggalang donasi buku untuk Gaza. Hanya dalam dua bulan, 150.000 eksemplar buku dikirim dari seluruh dunia. Ketika toko itu berdiri kembali pada 2022, di pintu masuknya dipasang tulisan Arab sederhana: Al-qira’ah muqawamah. Membaca adalah perlawanan.
Tindakan sekecil membuka halaman buku pun bisa menjadi gerakan yang tak bisa disepelekan. Sebab itulah, di Gaza, kata-kata sering bertahan lebih lama daripada tubuh penulisnya.
***
Kita harus membaca Palestina karena ia adalah kisah terpanjang tentang rakyat yang tak berhenti melawan dengan pena, dengan ingatan, dan dengan keberanian sehari-hari.
Sejak 1948, ketika Nakba, bencana besar yang memaksa lebih dari 700.000 orang Palestina meninggalkan tanah mereka, seluruh generasi telah tumbuh tanpa rumah. Menurut catatan Institute for Middle East Understanding (IMEU), antara 750.000 hingga satu juta warga Palestina terusir dari tanah airnya antara 1947–1949. Dalam enam bulan pertama konflik itu saja, lebih dari 440.000 orang diusir dari 220 desa, dan sekitar 400 desa Palestina dihapus dari peta.
Hari ini, menurut Migration Policy Institute, lebih dari 5,9 juta pengungsi Palestina masih tersebar di berbagai wilayah Timur Tengah. Sebagian besar lahir di kamp yang sama sekali bukan tanah kelahiran orang tua mereka. Inilah salah satu krisis pengungsian terpanjang di dunia modern. Dan masih terus berlangsung.
Laporan Amnesty International tahun 2022 menegaskan bahwa sistem yang dijalankan Israel terhadap rakyat Palestina memenuhi definisi apartheid menurut hukum internasional. Penindasan struktural ini tampak di banyak bentuk: dari blokade total Gaza, hingga pembatasan gerak di Tepi Barat dengan ratusan pos pemeriksaan militer yang membuat kehidupan sehari-hari terpecah seperti peta yang diremukkan.
Namun justru di tengah represi itu, Palestina menunjukkan sesuatu yang menakjubkan: kemampuan untuk terus membaca, menulis, dan berpikir. Data Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS) menunjukkan bahwa angka buta huruf di Palestina hanya sekitar 2,1%, yang berarti tingkat literasi mencapai sekitar 97–98% alias salah satu yang tertinggi di kawasan Arab.
Setelah Gaza Central Library hancur pada 2009, sekelompok pemuda mengumpulkan sisa-sisa buku dari reruntuhan dan membangun kembali sebuah ruang baca kecil. Di papan kayu mereka tulis: Reading is our right.”
Di banyak tempat, membaca adalah hobi.
Di Palestina, membaca adalah cara bertahan hidup.
***
Palestina juga harus dibaca karena ia menunjukkan bagaimana keadilan internasional bisa lumpuh di depan politik kekuasaan.
Sejak 1948, puluhan resolusi PBB yang mengecam pelanggaran Israel diabaikan. Menurut catatan Al Jazeera, Amerika Serikat telah memveto sedikitnya lima puluh tiga resolusi Dewan Keamanan yang bersifat kritis terhadap Israel.
Blokade atas Gaza sendiri telah berlangsung hampir dua dekade sehingga menjadikannya, dalam kata-kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, “penjara terbuka terbesar di dunia.”
Sementara itu, wartawan seperti Shireen Abu Akleh, koresponden senior Al Jazeera, ditembak mati pada 2022 saat meliput penggerebekan di Jenin. Pelurunya menembus helm bertuliskan “PRESS”.
Namun bahkan kematian tidak membungkam kesaksian. Nama Shireen kini diabadikan pada sekolah-sekolah dan tenda pengungsi. Begitulah cara Palestina melawan: mengubah setiap kehilangan menjadi perlawanan baru!
***
Kita juga perlu membaca Palestina karena ia mengajarkan arti keberanian yang tidak selalu bersenjata.
Di kamp pengungsian Jenin, anak-anak menulis naskah teater untuk mengenang teman-teman mereka yang terbunuh. Dari situlah lahir film dokumenter Arna’s Children (2004), yang memperlihatkan bagaimana seni menjadi ruang untuk tetap waras.
Di Ramallah, festival sastra Palestine Writes mengundang penulis dari berbagai negara untuk berdialog, bukan tentang perang, tapi tentang kehidupan yang terus dipertahankan.
Bahkan di tengah blokade, universitas di Gaza masih menelurkan lulusan. Pada 2021, Islamic University of Gaza meluluskan 1.600 mahasiswa meski banyak gedungnya hancur. Di antara reruntuhan, seorang mahasiswa berkata dalam wawancara: “Mereka bisa meruntuhkan gedung kami, tapi tidak masa depan kami.”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti slogan, tapi ia adalah laporan kondisi sebenarnya. Karena di Gaza, bertahan berarti menolak tunduk.
***
Dan di sinilah kita, yang jauh dari ledakan dan sirene, diuji: apakah kita hanya akan menjadi penonton tragedi atau pembaca sejarah?
Dunia modern sering bersembunyi di balik kata “netralitas.” Tapi seperti kata Dan Brown dalam novelnya Inferno: “Tempat tergelap di neraka disediakan bagi mereka yang tetap netral di masa-masa krisis moral.”
Kalimat itu masih relevan hari ini. Netral di hadapan kejahatan bukanlah kebajikan; ia adalah pembiaran yang halus. Mereka yang menolak berpihak pada kebenaran, sesungguhnya sedang berdiri di sisi kebohongan.
Karena itu, membaca Palestina bukan sekadar simpati. Ia adalah keberpihakan terhadap kemanusiaan. Membaca laporan Amnesty, menonton kesaksian jurnalis lapangan, mengenal karya Mahmoud Darwish atau Ghassan Kanafani, semuanya adalah cara kecil menolak peredaran kebohongan.
***
Pada titik ini, membaca Palestina adalah membaca ulang (ke)manusia(an). Di sana, di antara puing-puing sekolah dan perpustakaan, masih ada yang menulis, masih ada yang belajar mengeja, masih ada yang menyebut nama tanah airnya dengan suara penuh harap.
Dan karena Palestina juga salah satunya, kita tak punya alasan untuk menutup halaman. Karena siapa pun yang menutup buku tentangnya hari ini, sedang ikut menulis bab baru dari kebisuan yang kelak akan kita sesali. Percayalah.
Percayalah.(*)
Lubuklinggau, 13 November 2025
Daftar Pustaka
Amnesty International. (2022). Israel’s Apartheid against Palestinians: Cruel System of Domination and Crime against Humanity. London: Amnesty International Ltd. Diakses dari https://www.amnesty.org/en/documents/mde15/5141/2022/en/
Al Jazeera. (2021, 19 Mei). A History of the US Blocking UN Resolutions Against Israel.
Diakses dari https://www.aljazeera.com/news/2021/5/19/a-history-of-the-us-blocking-un-resolutions-against-israel
Al Jazeera. (2017, 23 Mei). The Nakba Did Not Start or End in 1948.
Diakses dari https://www.aljazeera.com/features/2017/5/23/the-nakba-did-not-start-or-end-in-1948
Al Jazeera. (2022, February 24). Books across borders: Rebuilding Gaza’s destroyed bookshop. Diakses dari https://www.aljazeera.com/features/longform/2022/2/24/books-across-borders-rebuilding-gazas-destroyed-bookshop
Arab News (via Associated Press). (2022, February 17). Iconic Gaza bookstore reopens, months after Israeli strike. Diakses dari https://english.alarabiya.net/features/2022/02/17/Iconic-Gaza-bookstore-reopens-months-after-Israeli-strike
Dan Brown. (2013). Inferno. New York: Doubleday.
Institute for Middle East Understanding (IMEU). (2023). Quick Facts: The Palestinian Nakba (Catastrophe). Diakses dari https://imeu.org/resources/resources/quick-facts-the-palestinian-nakba-catastrophe/142
Migration Policy Institute. (2023). Generations of Palestinian Refugees Face a Protracted Crisis. Diakses dari https://www.migrationpolicy.org/article/palestinian-refugees-dispossession
Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS). (2023). Illiteracy Rate in Palestine 2023. Tersedia di: https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_Literacy2023E.pdf
The Times of Israel. (2022, February 17). Demolished during 2021 Israel-Hamas conflict, an iconic Gaza bookstore reopens. Diakses dari https://www.timesofisrael.com/demolished-during-2021-israel-hamas-conflict-an-iconic-gaza-bookstore-reopens/
United Nations Relief and Works Agency (UNRWA). (2022). Facts and Figures on Palestine Refugees. Diakses dari: https://www.unrwa.org/palestine-refugees
2 Comments
Tulisan yang bikin hati kejedot realitas… bikin sadar kalau baca Palestina itu bentuk perlawanan juga.. 🥹
Begitulah, Dias. Kita tak pernah punya alasan untuk menutup halaman.