Kemahiran dan Penjenamaan
Penjenamaan adalah cangkang. Umang-umang atau kerang merasa bahwa rumahnya adalah rumah terbaik di alam semesta sehingga ia merasa perlu membawanya ke mana-mana, mirip dengan berudu yang menetas dalam tempurung. Ia tumbuh dan melompat sebagai katak dalam rumah paling luas dalam pandangannya, namun dunia luas nan indah dan penuh tantangan terhampar luas di luar sana.
Oleh Benny Arnas
Pada gerbang Duha, 6 Februari 2023, kurator salah satu residensi mewawancarai saya tentang proyek yang saya tawarkan: menulis tentang kegeniusan sederhana. Wawancara itu, mungkin karena berlangsung asyik, menjelma jadi percakapan yang membahas banyak topik. Salah satu percakapan nontopik utama yang kami bahas cukup seru adalah tentang kemungkinan manusia hidup tanpa jenama. Kami saling mengoreksi dan mendebat pandangan. Dan pandangan saya, agar mudah saya lacak nanti-nanti, sebagiannya saya tuang di sini.
Branding atawa Penjenamaan menjadi kosakata yang laris manis akhir-akhir ini. Kita akan mendengarnya diucapkan berkali-kali oleh mereka yang sedang fokus menggarap konten-konten media sosial, mereka yang sedang merintis usaha, mereka yang sedang fokus mengembangkan kegemaran, mereka yang sedang pindah ke pekerjaan yang (katanya) menjanjikan, dan lain-lain, dan lain sebagainya.
Benarkah penjenamaan perlu atau bahkan penting?
Hmm, kata anak sekarang, tanpa citra apalah kita. Tanpa penjenamaan, kita hanyalah daging hidup.
Kapan ia harus atau perlu dilakukan?
Dalam Outliers (2008), Malcolm Gladwell menyarankan kepada siapa pun yang ingin terampil mengerjakan sesuatu, apa pun itu, untuk melakukan spesialisasi sedini mungkin. Caranya? Tentu kita semua akrab dengan angka ini: 10.000. Lebih tepatnya 10.000 jam.
Artinya, apabila Anda ingin cakap menulis pada usia muda, Anda harus bisa meniru Tiger Woods yang sudah memegang tongkat golf dengan benar pada usia dua tahun. Sejak itu pula, ia terus memegang tongkat golf, memukulkannya ke bola di rumput, dan melepaskannya sedekat mungkin, atau bahkan langsung, ke lubang. Pada tahun 1997, Woods menjuarai Turnamen Masters termuda (21 tahun 3 bulan) dan menjadi juara termuda dalam sejarah.
Bagi yang “telat” menyadari konsep Berlatih 10.000 jam ini (tentu saja karena Penguin baru menerbitkan Outliers lima belas tahun yang lalu), tidak ada cara lain selain berlatih ekstra. Kata Gladwell, tidak susah. Umpamakan saja Anda seorang Roger Federer yang baru fokus di tenis ketika remaja.
Hmm, padahal tidak sesederhana itu. Pemberian Tuhan lewat tanggal dan tahun lahir, dan previlese yang merupa keluarga dan lingkungan yang literat dan suportif adalah faktor-faktor krusial yang melahirkan para mastah.
Benarkah pandangan Gladwell adalah cara terbaik untuk beroleh kemahiran?
Tahun 2019, Range karya David Epstein mengguncang Amerika (untuk kemudian dunia!). Bukan semata karena New York Times menobatkannya sebagai buku terlaris tahun itu. Itu hanya efek, bonus, atau konsekuensi atas yang apa yang diusungnya secara prosaik dalam buku debut tersebut.
Bagai ingin menunjukkan ketajaman analisis seorang reporter investigasi di ProPublica, media tempatnya bekerja, Epstein justru melihat—untuk kemudian menyarankan—menjadi generalis. Baginya, adalah penting untuk tidak menekuni sebuah bidang sejak dini, sejak kecil. Jangan gegabah. Jangan buru-buru. Nikmatilah masa kecil untuk mencoba banyak hal, masa muda untuk menjelajah dan menguji kecocokan diri pada kegemaran, perjalanan, atau bidanh keahlian. Pada saatnya, insting akan memberi tahu kepada apa dan kapan suatu hal harus diseriusi, harus dispesialisasi.
Dalam hal ini, seperempat abad kegemilangan Federer (kemungkinan akan masih bertambah karena ia masih aktif bermain tenis hingga saat ini) adalah hasil dari dasar-dasar kemahiran atletisnya. Kemahirannya memadukan kontrol tangan dan mata, menurut pengakuannya, adalah hasil kegemarannya menggeluti banyak bidang olahraga sebelum menekuni tenis ketika remaja.
Menjadi generalis juga rentan dihadapkan pada kegagalan berulang. Tapi menurut Epstein, itu sebenarnya juga dialami oleh spesialis atau bahkan seorang anosognosius, penderita kelainan neurologi langka yang diteliti oleh David Dunning, psikolog di Cornell University, dan Justin Kruger, rekannya, untuk menyebut mereka yang tidak tahu tapi tidak menyadari ketidaktahuan itu.
Realitas kehidupan (biasanya disebabkan oleh kurang literat dan kurang pekanya keluarga dan tidak kondusifnya lingkungan) lebih sering menjadikan penduduk bumi sebagai generalis-tanpa-pilihan. Hipotesis Epstein adalah kabar gembira bagi generalis-tanpa-pilihan. Apalagi, contoh-contoh mereka yang ‘telat memulai tapi menjadi’ seperti Robert Noyce menemukan Intel pada saat dia berusia 42 tahun atau, contoh paling sering kita dengar, Harland Sanders yang sukses dengan KFC pada saat dia berusia 65 tahun, berserakan di mana-mana, atau bahkan ada dan sangat dekat dengan kehidupan tanpa sekat di era Internet ini.
***
Bagaimanapun jalan kreatif seseorang hingga akhirnya ‘menjadi’, spesialis ataupun generalis, di era modern ini, penjenamaan adalah urusan berikutnya yang mau tidak mau harus dijalankan manusia untuk, mengutip neurosurgeon Ryu Hasan (2021) tentang kecerdasan, bertahan hidup selama mungkin.
Ya, kesalahkaprahan (waktu) penjenamaan, kerap senasib dengan kekeliruan menggunakan istilah lain yang familiar belakangan: butuh waktu (healing) padahal sok sibuk, mengeluh (mental breakdown) padahal kurang bersyukur, belum menemukan (passion) padahal malas berusaha.
Penjenamaan adalah pengemasan, bungkus, pemaketan, dan sejenisnya. Apa yang dijenamai? Bukan, bukan orang atau barang/jasa. Yang dijenamai adalah kemahiran atau kualitas.
Sampai di sini, kita harusnya mafhum bahwa kerja penjenamaan tak boleh berkarib dengan keterburu-buruan. Mengutip Martin Komberger dalam Brand Society: How Brands Transform Management and Lifestyle (2010), jenama adalah sesuatu yang terlalu sering dieksploitasi, tetapi terlalu jarang untuk dieksplorasi.
Penjenamaan dilakukan ketika seseorang atau barang atau jasa sudah teruji secara kemahiran dan kualitas. Bayangkan, betapa banyak pekerja (karyawan ataupun kreatif) yang buru-buru mempromosikan diri sebagai motivator hebat padahal setiap kali diundang selalu kelabakan merombak simpanan salindia dalam laptop; atau menjenamai diri sebagai pakar keorangtuaan tapi harus tidur hingga dini hari demi memastikan anak-anak selalu santun di sekolah atau tidak mengunggah gambar atau video yang mengganggu kredibilitasnya, bukan sebagai orangtua, tapi sebagai pembicara!
Kalau belum mahir, atau bahkan ‘belum selesai’ dengan diri sendiri, penjenamaan adalah bola panas yang siap memantul: membakar diri. Membunuh diri.
Tapi, sejatinya, penjenamaan bukan sekadar mensyaratkan kemahiran. Lebih dari itu, penjenamaan, agar tidak menjadi kerja sia-sia, harus menjawab sebuah pertanyaan penting:
Sejauh mana kemahiran sudah mampu menghidupi?
Lho, bukannya penjenamaan dilakukan agar pelakunya bisa ‘hidup’?
Hidup dan menghidupi adalah dua hal yang berbeda. Yang satu lebih biologis. Satu lagi lebih menyeluruh.
Oleh karena itu, sangat wajar ketika salah satu pakar kreativitas hari ini, Austin Kleon, dalam Keep Going (2019), berulang kali mengingatkan untuk berhati-hati dengan penjenamaan. Dalam beberapa bagian tulisan di buku kaya ilustrasi tersebut, Kleon bahkan menyarankan pembacanya untuk menghindari penjenamaan.
Penjenamaan adalah cangkang. Umang-umang atau kerang merasa bahwa rumahnya adalah rumah terbaik di alam semesta sehingga ia merasa perlu membawanya ke mana-mana, mirip dengan berudu yang menetas dalam tempurung. Ia tumbuh dan melompat sebagai katak dalam rumah paling luas dalam pandangannya, namun dunia luas nan indah dan penuh tantangan terhampar luas di luar sana.
Sekali Anda melakukan penjenamaan, jalan Anda akan sempit, Kleon mengingatkan. Begitu Anda menjenamai diri sebagai penyanyi, dan suatu hari ingin menjenamai diri sebagai pembaca tarot profesional karena belakangan menyadari kemampuan menebak masa depan dengan membaca gambar-gambar di kartu itu, urusannya tidak mudah. Bahkan sangat susah. Pindah dari cangkang yang kadung bikin nyaman ke cangkang baru mengharuskan seseorang melewati dan tinggal (walaupun sementara) di lanskap asing yang luas dan tanpa batas sehingga terasa ganas dan mengancam.
Idealnya, penjenamaan dilakukan ketika kemahiran telah mampu menghidupi pelakunya. Tak mengindahkan itu, akan membuat anda sibuk atau bahkan mati oleh gengsi. Sibuk berkarya agar “ada”, padahal makan saja susah. Sibuk mengatur keindahan unggahan Instagram, padahal itu malah menjauhkan dari klien, yang sebagian besarnya, berselera rendahan.
Mengutip Socrates, dalam ulasan Eric Weiner dalam Geography of Genius (2016), dua urusan yang seharusnya tak boleh dipisahkan: kegeniusan dan kebijaksanaan.
Ah, siapa yang tidak curiga pada pelaku pencitraan? Memang susah dicari, barang seperti Pepsodent, yang meskipun sudah jarang beriklan, masih dikenal sebagai pasta gigi yang tak perlu diragukan mutunya.
Penjenamaan yang kenyataannya mendorong seseorang/karyanya menyala di satu (ya, satu!) bidang saja, selain seperti mengabaikan kehadiran Leonardo da Vinci (seniman, penemu dan ahli anatomi), Johann Wolfgang von Goethe (penulis hebat yang juga mempelajari botani, fisika dan mineralogi), dan Florence Nightingale (penggagas keperawatan modern, ahli statistik dan teolog ulung), dan Al Biruni (matematikawan, astronom, fisikawan, penulis, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli geografi, dan ahli farmasi), juga memunggungi petuah Socrates yang terdengar utopis bagi kehidupan modern, serta menutup telinga atas anjuran Ali bin Abi Thalib untuk tidak perlu repot-repot menjelaskan keunggulan diri kepada siapa pun.
Wallahu’alam bishawab.(*)
Dalam perjalanan kereta Palembang—Lubuklinggau, 9 Februari 2023