Membaca Sastra Indonesia d(ar)i Kairo
Kuliah Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Al Azhar (Kairo, 30-11-2025)
Dan mungkin, ya mungkin saja, sejarah akan mencatat bahwa kebangkitan itu dimulai dari sebuah ruang kelas kecil di Kairo …
Pada siang yang masih muda nan cerah di Hay Sadis itu, saya memasuki ruang kelas dengan bayangan sederhana: kelas perdana Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Al-Azhar mungkin akan berjalan sebagaimana kelas bahasa Indonesia di bangku sekolah dulu: lambat, monoton, bikin ngantuk, dan tentu saja jauh dari keseruan.
Tetapi ... saya keliru.
Begitu memasuki kelas, para mahasiswa dari berbagai negara–bukan hanya Mesir–yang duduk di bangku depan bangkit dan berebutan mengulurkan tangan. “Apa kabar?” kata mereka dalam logat Mesir, terdengar janggal namun berhasil menerbitkan bangga di dada saya.
Begitu saya selesai memperkenalkan diri dan bercerita sedikit tentang sastra Indonesia, sebagian dari tiga ratus mahasiswa itu mengacungkan tangan. Antusiasme mereka meluber lebih cepat daripada ketergopoh-gopohan di hadapan kejutan kelas perdana.
Pertanyaan muncul tidak berurutan, tidak tunggu giliran, dan tidak ada yang remeh: “Mengapa Indonesia begitu mencintai Mesir?”, “Apa yang membuat Indonesia spesial?”, “Bagaimana kebudayaan Indonesia bisa begitu beragam tetapi tetap satu?”, “Sastra apa yang paling mencerminkan jiwa Indonesia?”, bahkan ada yang bertanya, “Bagaimana Islam masuk ke Nusantara dan adakah hubungannya dengan kami (Mesir)?”
Saya menghabiskan lebih banyak waktu menjawab daripada memberi pengantar. Saya gembira sampai saya sendiri yang memaksa menutup sesi tanya jawab karena tiap kali sebuah jawaban saya berikan, keingintahuan mereka menjelma amuba: pertanyaan-pertanyaan baru membelah diri tak terkendali.
Oh, ada sesuatu yang bergerak di dada saya. Perasaan berbunga yang muncul ketika berada di negeri lain: melihat Indonesia menyala terang dalam rasa ingin tahu orang lain atau antusiasme mereka yang baru berkenalan.
Selama kelas berlangsung saya membayangkan satu hal: Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Al-Azhar ini bisa menjadi proksi baru bagi siapa pun, khususnya mahasiswa asing, untuk mengenal Indonesia bukan sebatas data di Wikipedia.
Mereka bisa menyentuh denyut sastra Indonesia, memahami kompleksitasnya, melihat bagaimana karya-karya Indonesia berbicara tentang hal-hal yang relevan bagi dunia: tragedi 1965, kolonialisme, relasi agama dan negara, pertarungan kebudayaan dan modernitas, juga pertemuan Timur dan Barat yang tak pernah selesai.
Dan jika pintu itu dibuka dari Timur, mengapa kita harus terus menunggu sorotan Barat?
***
Pada 6 November 2025, sebuah peristiwa kecil tetapi bergaung besar berlangsung di Kairo: Universitas Al-Azhar meresmikan Program Studi Bahasa Indonesia . Di atas kertas, mungkin itu sekadar keputusan administratif. Tetapi bagi dunia sastra Indonesia, ini bisa menjadi jalur baru yang selama ini luput kita lihat. Bahasa Indonesia, yang tumbuh dari sejarah panjang pertukaran budaya maritim Nusantara, kini diajarkan secara formal di pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia.
Hubungan Indonesia–Mesir sesungguhnya telah lama terjalin. Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pada 1947; para pelajar Nusantara belajar di Al-Azhar, membawa pulang gagasan pembaruan yang membentuk wajah intelektual Indonesia abad ke-20. Kini hubungan itu bergerak dari diplomasi dan wacana keagamaan menuju bahasa dan sastra: wilayah yang jauh lebih intim, lebih manusiawi.
Dalam ruang inilah saya melihat kemungkinan besar yang tak kita duga: kebangkitan sastra Indonesia dari Timur.
***
Sastra adalah jendela paling jujur sebuah bangsa. Ia menyimpan duka dan harapan, kritik dan humor, kerumitan dan keindahan yang tak selalu terlihat dalam politik atau berita. Namun internasionalisasi sastra Indonesia selama ini berjalan dengan jalan berputar: Frankfurt, London, New York. Kita seakan menunggu legitimasi dari Barat untuk bisa disebut “sastra dunia”. Hanya segelintir nama–Pramoedya dan Eka Kurniawan misalnya–yang menembus batas itu, dan bahkan mereka pun lebih sering dibaca melalui terjemahan yang beredar di festival-festival Eropa.
Padahal, di Timur, sebuah gerbang besar baru saja terbuka.
Ratusan mahasiswa Al-Azhar kini akan belajar bahasa Indonesia setiap tahun. Dalam lima hingga sepuluh tahun, bukan tidak mungkin akan lahir generasi yang mampu menerjemahkan karya kita ke bahasa Arab.
Pasar pembacanya?
Lebih dari 300 juta orang di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dan yang paling penting: mereka memiliki pengalaman budaya, politik, religius, dan historis yang lebih dekat dengan kompleksitas Indonesia daripada pembaca Barat.
Jika mereka membaca sastra kita, mereka tidak membacanya sebagai eksotisme, tetapi sebagai cermin.
***
Sebenarnya, hubungan sastra Indonesia dengan Timur Tengah bukan hal baru. Hamka dibentuk oleh tradisi sastra Arab; novel-novel Indonesia awal abad ke-20 menggemakan etika, estetika, dan kosmologi Timur Tengah. Banyak penulis Indonesia belajar di Kairo, dan membawa pulang kebiasaan membaca Mahfouz, Taha Hussein, Adonis, atau Darwish.
Perbedaannya adalah: dulu, hubungan itu berjalan satu arah. Kini ia menjadi resiprokal, bersahut-sahutan dengan hangat.
Bayangkan: kajian sastra Indonesia kontemporer–dari Taufiq Ismail hingga Helvy Tiana Rosa misalnya–dibahas di ruang kuliah Kairo sebagaimana karya Mahfouz dibaca di Jakarta. Bayangkan jurnal sastra Arab mempublikasikan makalah tentang novel Indonesia yang bahkan belum diterjemahkan ke bahasa Inggris. Bayangkan penerbit Mesir meminta terjemahan novel Indonesia secara rutin, bukan sebagai proyek eksotisme Asia Tenggara, tetapi sebagai bagian kebutuhan kurikulum, tradisi membaca, dan minat publik.
Sejarah sastra dunia berkali-kali membuktikan bahwa revolusi besar sering dimulai dari ruang kelas kecil di universitas.
Jepang memasuki pasar Eropa melalui jurusan bahasa Jepang di Heidelberg. Sastra Arab modern memasuki India melalui pusat studi Persia pada 1960-an. Sastra Afrika Timur memasuki Skandinavia melalui jurusan Bahasa Swahili di Oslo.
Maka bukan tidak mungkin bahwa kelas kecil di Al-Azhar, kelas yang pagi itu riuh oleh pertanyaan para mahasiswa, kelak menjadi tempat lahirnya arus baru sastra Indonesia.
***
Lebih jauh, internasionalisasi sastra dari Timur dapat menawarkan sesuatu yang tidak diberikan pasar Barat: kedekatan emosional. Timur Tengah memahami pergulatan moral masyarakat religius; memahami tarik-menarik antara tradisi dan modernitas; memahami luka kolonialisme; memahami negosiasi antara kekuasaan, agama, dan suara rakyat. Tema-tema itu hidup dalam karya-karya Indonesia: dari sejarah kelam 1965 hingga persoalan agraria; dari konflik identitas hingga perjumpaan suku, agama, dan modernitas kota.
Singkatnya, sastra Indonesia tidak asing bagi pembaca Timur Tengah. Ia keluarga.
Di tanah yang melahirkan Mahfouz dan Darwish, karya Indonesia bisa menemukan resonansi bukan sebagai tamu, tetapi sebagai saudara yang lama tak pulang.
***
Maka dari itu, kebangkitan sastra Indonesia dari Timur bukanlah utopia. Langkah pertamanya sudah terjadi: peresmian Prodi Bahasa Indonesia di Al-Azhar, antusiasme mahasiswa, dan ruang akademik yang mulai menyiapkan kemungkinan besar itu.
Yang perlu kita lakukan tinggal satu: berani melangkah masuk ke pintu yang telah terbuka.
Dari kelas pertama yang saya hadiri siang itu, saya belajar satu hal: minat terhadap Indonesia ada, sangat besar bahkan, hanya menunggu dihidupkan. Jika kita merawatnya, jika kita mengirim penulis, penerjemah, dosen, dan karya, arus sastra Indonesia tidak harus berjalan dari Barat. Ia bisa mulai tumbuh dari Timur, menjulang ke dunia, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan sastra global.
Dan mungkin, ya mungkin saja, sejarah akan mencatat bahwa kebangkitan itu dimulai dari sebuah ruang kelas kecil di Kairo, ketika sekelompok mahasiswa Al-Azhar bertanya dengan mata berbinar tentang Indonesia.
Semoga segala harapan ini tidak berlebihan, apalagi dipandang sebagai utopia yang mengawang. Sebab dalam perjalanan gagasan, langkah pertama, pertemuan pertama, dan segala pertama yang mengesankan, kelak kuasa mengubah arah.
Tatapan para mahasiswa di kelas perdana itu–yang penuh dengan cahaya ingin tahu–terasa bagi saya seperti desir pertama angin sebelum musim berganti. Dan mungkin, dalam dunia sastra, keyakinan adalah sejenis doa yang kita rapal diam-diam. Bekerja pelan, tetapi pasti, menuntun langkah ke hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan.
Bila nanti sastra Indonesia benar-benar tumbuh melalui jalur yang tak pernah kita bayangkan, saya percaya sebagian akarnya akan berasal dari Timur. Dari orang-orang yang mencintai Indonesia bukan karena sejarah, bukan karena kewajiban, tetapi karena mereka mendengar sesuatu bergetar ketika membaca kita.
Insya Allah.(*)
Aleksandria, 30 November 2025
12 Comments
Saya merasa terhormat bertemu dengan Anda, Tuan Narator dan Penulis, dan saya juga sangat gembira dan merasa terhormat berbicara dengan Anda dan mengajukan pertanyaan kepada Anda, dan Anda menjawab saya dengan kerendahan hati. Ini adalah hari bersejarah, terutama bagi saya. Dan aku juga senang ketika aku mendapatkan tanda tanganmu di bukuku InsyaAllah kita akan menjadi pendongeng seperti Anda, dan Anda akan menjadi teladan bagi saya. Terima kasih, Tuan Narator dan Penulis
Masya Allah. Salam kenal, Abdulrahman. Semoga Allah permudah jalan kita mencari ilmu.
inspiratif banget Bang Ben.. 🥹
sastra kita bisa dikenal dan dihargai secara global, bukan hanya lewat Barat..
thank you, Dias
Masyaallah…akupun berdesir membaca ini, Ben. Betul sekali. Kenapa kita harus menunggu legitimasi Barat dan lupa dengan arus Timur yang jauh lebih dahsyat? Semoga kelak festival buku internasional tidak hanya bergaung di London, New York, Frankfurt. Tapi di Kairo, Madinah, Istanbul dan mungkin saja Gaza.
Ah, ternyata ini rahasia Allah membelokkan arah perjalanannmu dari Kroasia menuju Mesir.
Alhamdulillah. Ya, Mbak. Sekali lagi. Makasih banyak atas Al Baqarah-nya ya.
Dari fotonya udah kelihatan kalau yang hadir bukan hanya mahasiswa asal Indonesia. Keren banget, begitu antuasiasnya mereka menyerap dan dapat transferan ilmu dari Bang Benny. Dan ya semoga sekian tahun lagi, nama-nama mahasiswa tersebut gaung di dunia sastra dunia.
Betul, Yan. Antusias nian mereka. Pembelajaran bahasa dan sastra, baru kutahu sekarang, auto menjadi kelas kebudayaan 😍
“Sastra adalah jendela paling jujur sebuah bangsa”. Sastra memang dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan budaya dan pengalaman orang lain.
😍
Setuju banget Bang Bennn, membaca bukan soal seberapa tebal bukunya, tapi tentang seberapa dalam kita ingin memahami. Membaca itu tidak harus mewah, cukup cermat 👍🏻
Ini sepertinya komen di esai yang “salah”, Dias 🤣