Reliure de Livre: Mencintai Buku seperti Anak Sendiri

 Reliure de Livre: Mencintai Buku seperti Anak Sendiri

Youssef menunjukkan stempel huruf-huruf Arab buatan tokonya

… mencintai buku bukan hanya membaca, tetapi juga menghormati tubuhnya.

Oleh Benny Arnas

_____

Bakda zuhur itu, entah bagaimana, Alif, pendamping residensi saya selama berada di Kairo, tiba-tiba mengajak saya berbelok ke sebuah toko berpintu kaca di salah satu sudut Darosah. Saya mengikutinya tanpa banyak bertanya karena ia memberi kode halus dengan matanya agar saya lekas membuka pintu itu. Begitu pintu bergerak, aroma kertas tua dan lem yang menguap perlahan menyambut saya. Ah, aroma yang membuat saya merasa sedang memasuki lorong waktu, bukan sekadar sebuah toko.

Di balik meja kayu berlapis kaca, seorang pemuda bangkit menyambut kami. Namanya Youssef Abdelzahers. Penampilannya khas pemuda Arab berkulit putih. Kumisnya berwarna cokelat kekuningan, serasi dengan rambut pendeknya yang rapi. Ia mengenakan hoodie hitam, dan satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah janggutnya yang cukup lebat untuk anak muda seusianya. Di bawah cahaya toko yang redup, ia tampan sekaligus santai dan penuh wibawa.

Youssef memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Modern University For Technology & Information (MTI). Usianya baru sembilan belas tahun, tetapi caranya berdiri dan menyapa membuat ruang itu terasa seperti rumah yang dihuni keluarga pecinta buku selama beberapa generasi.

Tanpa menunggu saya membuka percakapan, Youssef menunjuk tulisan kecil di atas pintu depan. “Reliure de livre,” katanya sambil tersenyum. “Penjilidan buku. Book Binding. Toko ini dikelola keluargaku turun-temurun sejak 1936.” Ketika saya bertanya generasi keberapakah ia, ia menjawab singkat, “Fourth.”

Percakapan kami pun mengalir ke dunia penjilidan. Saya awalnya mengira penjilidan hanyalah urusan menyatukan kertas kosong menjadi buku seperti yang sering dilakukan putri-putri saya untuk jurnal mereka. Ternyata saya keliru.

Youssef menjelaskan bahwa ada tiga puluh delapan tahap dalam penjilidan buku. Ia menggerakkan kedua tangannya seolah menggambar tahapan itu di udara. “Kami bahkan menjilid Description de l’Égypte, versi bahasa Arabnya,” katanya sambil menampilkan halaman-halaman digital dari ponselnya. Melihatnya, saya merasa seakan sedang menyentuh sejarah dengan ujung jari.

Ia bercerita bahwa ia tertarik pada pekerjaan tradisional ini sejak usia lima tahun. Bayangkan seorang anak kecil yang belum bisa membaca dengan lancar, tetapi sudah akrab dengan lem, jarum, benang, dan kertas. Ada keindahan yang sederhana namun dalam di situ. Seolah cinta pada buku tumbuh sebelum kemampuan membaca.

“Saya membaca banyak sekali di rentang usia tujuh sampai lima belas tahun,” akunya. Kalimat itu ia ucapkan dengan nada yang menandai betapa pentingnya masa tersebut dalam hidupnya.

Rentang usia itu memang masa emas dalam perkembangan membaca. Riset tentang home literacy environment menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dikelilingi buku akan memiliki perkembangan bahasa dan membaca yang jauh lebih stabil dan tahan lama. Kebiasaan orang tua membacakan cerita, percakapan seputar bacaan, dan keberadaan buku-buku yang mudah dijangkau menciptakan ruang aman bagi seorang anak untuk tumbuh sebagai pencinta ilmu. Penelitian longitudinal bahkan membuktikan bahwa paparan semacam itu memprediksi kemampuan akademik hingga remaja dan dewasa.

Di titik itu, Youssef bukan lagi sekadar penjilid buku. Ia adalah hasil dari rumah yang menghargai buku sebagai bagian dari kehidupan.

Saya juga teringat beberapa sosok underrated yang kisah masa kecilnya serupa. Pablo Neruda, misalnya, tumbuh di rumah kecil yang dipenuhi majalah dan buku warisan ibunya. Ia pernah menulis bahwa buku-buku itu membuat dunia terasa lebih luas daripada desa kecil tempat ia tinggal. Dalam konteks Indonesia, Ahmad Tohari mengalami hal serupa. Perpustakaan kecil ayahnya berisi kitab kuning dan cerita rakyat, dan Tohari kecil membaca apa pun yang bisa ia raih, termasuk buku-buku yang sebenarnya belum ia pahami. Dalam sebuah wawancara ia berkata, “Setiap halaman selalu mengajak saya berjalan lebih jauh.” Kalimat itu seperti ringkasan masa kecil seorang pembaca sejati.

Ketika saya bertanya tentang jabatannya di toko itu, Youssef tersenyum. “I do all stuffs!” katanya santai. Ia menikmati semua prosesnya. “Saya senang melakukan segalanya, merasakan prosesnya, bukan sekadar mengelolanya sebagai bisnis.”

Setelah itu ia mengajak saya ke ruangan sebelah. Ada rak-rak berisi kotak-kotak mungil. Di dalamnya tersimpan stempel huruf dari besi. Huruf-huruf Arab itu begitu kecil dan rumit. Ada stempel huruf tunggal, ada stempel gabungan seperti ‘ain dan mim dalam satu cetakan. “Aku butuh dua minggu untuk menghafal mana yang di mana,” katanya.

Sungguh. Ketelitian itu membuat saya terpesona.

Di ruangan itu, salah satu kalimat Jorge Luis Borges melintas begitu saja dalam pikiran saya. “I have always imagined that Paradise will be a kind of library.” Bagi Youssef, kalimat itu bukan metafora. Ia hidup di tengahnya.

Ada pula sebuah gagasan dari penulis Jepang, Zako Abe, yang rasanya relevan dengan suasana di toko kecil itu: “Books do not change the world, but they change the people who will change the world.” Dalam wajah Youssef, saya melihat kemungkinan dari gagasan tersebut.

Melihat semua itu, saya tiba-tiba teringat buku-buku saya sendiri. Sampul terkelupas. Lem jilid mengering. Halaman mudah lepas. Kertas menguning. Saya malu. Seolah saya selama ini hanya memanfaatkan buku, bukan merawatnya. Ach.

Rasa iri pun muncul. Iri pada toko kecil ini. Iri pada keluarga yang menjadikan buku sebagai sesuatu yang hidup. Iri pada perhatian yang mereka berikan kepada setiap halaman.

Saat saya hendak pamit, Youssef berkata pelan, “They are fragile, but they make us larger.” Ia menepuk sampul sebuah kitab kecil dengan gerakan lembut, seperti menepuk kepala bayi yang sedang tidur. “I see them as my babies,” katanya.

Ketika berjalan keluar bersama Alif, saya meminjam kalimat itu dan mengubahnya menjadi pertanyaan untuk diri saya sendiri. Telahkah saya mencintai pengetahuan seperti anak sendiri? Telahkah saya menyediakan waktu, ruang, dan perhatian untuk merawatnya, bukan hanya mengonsumsinya demi tujuan-tujuan jangka pendek?

Kota Kairo sore itu terasa berbeda. Cahaya lembut memantul dari bangunan-bangunan tua, dan aroma rempah naik dari jalanan. Saya melangkah perlahan, membawa satu pelajaran sederhana tetapi dalam: mencintai buku bukan hanya membaca, melainkan merawat. Tidak hanya memahami isinya, tetapi juga menghormati tubuhnya.(*)

Kairo, 15 Desember 2025

____

Daftar Pustaka

BIRCU Journal. (2023) The Impact of Home Literacy Environment on Reading Motivation in Middle Childhood.

Available at: https://bircu-journal.com/index.php/birci/article/view/7794 (Accessed: 15 December 2025).

Borges, J.L. (n.d.) I have always imagined that Paradise will be a kind of library.

(Peredaran kutipan ini luas dalam literatur populer; sumber primer tidak tersedia.)

Wikipedia. (2024) Description de l’Égypte.

Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Description_de_l%27%C3%89gypte (Accessed: 15 December 2025).

Wikipedia. (2024) Emergent literacies.

Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Emergent_literacies (Accessed: 15 December 2025).

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

4 Comments

  • Nah, tulisan seperti ini yang saya suka. Sebagai traveler harus menemukan “dunia kecil” ini; saling berinteraksi. Traveler (writer) bukan menulis review hotel atau kuliner, itu turis. Tapi traveler menuliskan di sebaliknya.

    Youssef tidak sekadar merawat buku secara phisik, tapi menghormati pikiran dan gagasan si penulis(buku)nya.

    Rencana saya traveling di 12 negara, 22 Des 2025 sd 12 Maret 2026 nanti juga akan mencari dan semoga menemukan “dunia kecil” yang membuat kita jadi besar karena seolah menggenggam dunia.

    Beruntunglah kamu, Bro!

    Gol A Gong

  • Wah! Komentar yang bikin merinding. Makasih banyak, Kang🙏

  • Sama kayak Mas Gong, aku suka banget baca tulisan kayak gini. Beberapa waktu lalu sempat liat video tentang usaha laundry rumahan di Mesir dan lumayan kaget dengan cara mereka menjalankan bisnisnya masih dengan cara tradisional (alih-alih pakai cairan pewangi dan menyemprotkan pakai semprotan di baju, eh mereka menyiram dengan mulut hwhw). Dan di tulisan ini jadi tahu tahapan menjilid bisa sampe 38, mantul!

    • Iyo, Yan. Sayang ketiga puluh delapan tahap itu belum sempat dipercakapakan detail. Semoga agek pacak balek lagi hee,

Leave a Reply to Omnduut Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *