Hidup Puitik ala Leiden

 Hidup Puitik ala Leiden

Dinding Puisi Chairil Anwar di Leiden (doc. pribadi)

Selama dua bulan di Leiden, saya menyadari bahwa kota ini menikmati hidup dengan cara membaca.

Oleh Benny Arnas


Saya tiba di Belanda pada 17 April 2024 sore dengan tubuh lelah dan kepala penuh waspada. Di Bandara Schiphol, suara petugas imigrasi meninggi, bukan kepada saya, melainkan kepada seorang warga negara lain yang kemudian dibawa petugas keamanan. Giliran saya datang dengan pertanyaan yang tak kalah tegang. Saya menyerahkan undangan resmi dari Leiden dan berkas sponsor yang menjamin keberadaan saya selama dua bulan. Pemeriksaan selesai. Saya lolos. Alhamdulillah.

Musim semi di Belanda tidak seromantis kartu pos. Angin masih kencang, hujan datang sesuka hati. Data Koninklijk Nederlands Meteorologisch Instituut mencatat April sebagai bulan transisi yang basah dan berangin. Cuaca seperti ini menuntut orang untuk berjalan lebih pelan, menyesuaikan langkah, menerima bahwa hari tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.

Dua puluh menit menumpangi kereta dari Schiphol, saya tiba di Leiden Centraal. Koper berat membuat saya memilih bus menuju Witte Singel. Kota ini menyambut tanpa hiruk pikuk. Tidak ada kesan tergesa. Tidak ada dorongan untuk segera tiba. Leiden seperti kota yang sengaja menurunkan volume dunia.

Keesokan harinya, setelah membuat kartu anggota perpustakaan, saya mulai berjalan. Di Leiden, berjalan kaki terasa seperti kegiatan utama, bukan selingan. Kanal mengalir tenang. Sepeda melintas tanpa bunyi marah. Penelitian tentang budaya berjalan di kota-kota kecil Eropa menunjukkan bahwa ritme ruang publik yang ramah pejalan kaki berkontribusi pada pengalaman hidup yang lebih reflektif dan tidak terburu-buru.

Di dekat perpustakaan, sebuah puisi dalam aksara lontara tercetak di dinding bangunan KITLV, menghadap langsung ke kanal. Saya berhenti lama. Puisi itu bukan hiasan. Ia hadir seperti penanda bahwa kata-kata punya tempat di luar buku.

Menurut Marleen van der Weij dalam Dicht op de muur 2. Gedichten in Leiden, puisi ini berasal dari tradisi elong dan diambil dari epos I La Galigo. Epos ini diakui UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World karena nilainya bagi sejarah dan kebudayaan manusia. Puisi itu dipasang pada 2001, bukan sebagai monumen, melainkan sebagai bagian dari keseharian kota.

Seorang mahasiswa Belanda yang berdiri tak jauh dari saya mengira tulisan itu grafiti. Ia lewat hampir setiap hari. Ia tidak pernah membaca. Jawaban itu membuat saya sadar bahwa di Leiden, puisi tidak meminta perhatian. Ia menunggu.

Saya melanjutkan perjalanan ke kawasan timur Witte Singel. Lingkungannya tenang. Tidak sepi, tidak ramai. Orang berjalan, bersepeda, berhenti sebentar, lalu lanjut lagi. Seorang periset independen menyebut Leiden bukan sekadar kota pelajar, melainkan kota perpustakaan. Kota yang menghidupi kebiasaan membaca.

Di Haverstraat, saya menemukan Serat Kalatidha karya Raden Ngabhi Ranggawarsita tertulis dalam aksara Hanacaraka. Puisi ini diusulkan oleh Instituut Indonesische Cursussen dan disetujui Yayasan Tegen-Beeld pada 1997. Isinya tentang zaman edan, tentang kewarasan di tengah kekacauan. Tema yang terasa lintas zaman, lintas benua.

Proyek puisi dinding Leiden dimulai sejak 1992. Hingga kini lebih dari 110 puisi dilukis di dinding bangunan publik. Penyairnya datang dari berbagai bahasa dan tradisi. Dari Du Fu hingga Shakespeare. Dari Langston Hughes hingga Pablo Neruda. Menurut Van der Weij dalam Dicht op de muur. Gedichten in Leiden, proyek ini bukan hanya sastra, tetapi juga seni rupa. Setiap puisi diperlakukan sebagai objek visual yang menyatu dengan kota.

Riset tentang seni publik menunjukkan bahwa teks sastra di ruang terbuka mengubah cara orang berinteraksi dengan kota. Membaca menjadi peristiwa kebetulan, bukan kewajiban. Puisi hadir tanpa jam buka, tanpa tiket masuk, tanpa kurikulum.

Menjelang sore, matahari masih tinggi. Di Leiden, matahari baru tenggelam sekitar pukul setengah sepuluh malam. Waktu terasa panjang. Seorang warga lokal menyebut puisi India di belakang halte. Ia menyebutnya sambil lalu, seperti menunjuk toko roti atau jalur sepeda. Puisi adalah bagian dari orientasi ruang.

Saya mendapati ironi kecil. Beberapa mahasiswa Indonesia di Leiden tidak tahu letak puisi Chairil Anwar atau Ranggawarsita. Rutinitas membuat mereka lewat tanpa menengok. Padahal puisi Chairil berdiri megah di Rijndijkbuurt, di dinding rumah warga.

Saya kembali ke sana. Puisi itu tidak berada di jalur utama. Ia tidak memanggil. Tetapi ketika ditemukan, getarnya kuat. Bukan karena nasionalitasnya, melainkan karena keberaniannya berdiri di ruang publik, setara dengan suara dunia lain.

Selama dua bulan di Leiden, saya menyadari bahwa kota ini menikmati hidup dengan cara membaca. Membaca dinding. Membaca kanal. Membaca jeda. Puisi-puisi yang tersebar tidak membuat kota menjadi romantis secara berlebihan, tetapi membuatnya sadar akan tempo.

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari Leiden, itu adalah bahwa membaca tidak selalu membutuhkan buku dan meja. Di kota ini, membaca adalah perjumpaan tak terduga antara tubuh yang berjalan dan kata-kata yang menetap. Puisi di dinding-dinding publik mengajarkan bahwa sastra bisa menjadi lanskap, dan lanskap bisa dibaca. Dari situlah ketenangan Leiden tumbuh, dari kebiasaan warganya yang tidak tergesa, yang bersedia memberi ruang bagi kata, bagi diam, dan bagi makna yang tidak harus segera selesai dipahami.(*)

Leiden, Juni 2024

________

Daftar Pustaka

Koninklijk Nederlands Meteorologisch Instituut (KNMI). Climate Data and Monthly Weather Overview: April in the Netherlands. De Bilt: KNMI, berbagai tahun.
https://www.knmi.nl

Van der Weij, Marleen. Dicht op de muur: Gedichten in Leiden. Leiden: Stichting Tegen-Beeld, 1996.

Van der Weij, Marleen. Dicht op de muur 2: Gedichten in Leiden. Leiden: Stichting Tegen-Beeld, 2003.

UNESCO. Memory of the World Register: La Galigo. Paris: UNESCO, 2011.
https://www.unesco.org/en/memory-world

Stichting Tegen-Beeld. Muurgedichten Leiden: Project Overview. Leiden, sejak 1992.
https://muurgedichten.nl

Whyte, William H. The Social Life of Small Urban Spaces. Washington, D.C.: The Conservation Foundation, 1980.

Gehl, Jan. Life Between Buildings: Using Public Space. Washington, D.C.: Island Press, 2011.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Wah menarik. Kayak berburu mural di dinding-dinding bangunan yang ada di Penang, tapi yang di Leiden malah puisi. Aku akan ingat ini jika satu saat berkesempatan ke Leiden.

Leave a Reply to Benny Arnas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *