Dopamin Instan versus Sastra
Membaca: kemewahan dialog dengan penulisnya
Sastra melatih otak mencintai proses; ia adalah counter-attack paling elegan terhadap candu instan.
Oleh Benny Arnas
Ada masa ketika membaca buku bisa membuat waktu berhenti. Halaman demi halaman menelan kita ke dunia lain, dan suara jam di dinding seakan ikut diam. Kini, bahkan lima menit membaca terasa seperti hukuman. Kita menatap satu paragraf lalu tergoda membuka layar—mengecek pesan, menggulir media sosial. Kita kehilangan kemampuan paling manusiawi: bertahan dalam keheningan.
Kita sering menyalahkan diri karena tak disiplin, padahal bukan niat yang rusak—melainkan kimia di kepala. Otak modern sedang disabotase oleh kebiasaan yang tampak tak berbahaya: scroll tanpa henti, notifikasi yang berkilat tiap detik, video singkat yang menyalakan kesenangan instan. Semua itu memberi semburan dopamin—zat kecil yang memberi rasa senang cepat, sekaligus mencuri kemampuan menikmati proses panjang yang tenang.
Penelitian dari Stanford University menyebut: paparan stimulus cepat merusak sistem reward alami otak. Tak heran, kegiatan yang dulu menenangkan—membaca, menulis, belajar—kini terasa membosankan. Otak, yang terbiasa dengan hadiah cepat, kehilangan kesabaran terhadap hal-hal yang memerlukan waktu. Kita tidak sedang malas, hanya kehilangan kemampuan untuk menunggu.
Lihatlah sekeliling. Di ruang kelas, murid membuka buku lima menit lalu menunduk pada ponsel. Di kafe, seseorang mengetik esai dengan tab lain terbuka: video, musik, berita. Dunia kini penuh orang yang ingin jadi pintar, tapi pikirannya tak tahan diam. Niat besar, fokus pendek.
Padahal, bosan bukan musuh. Ia adalah pintu pertama menuju kedalaman. Saat kita bosan, otak sedang bekerja keras membentuk koneksi baru. Bosan adalah tanda otak sedang berjuang, bukan menyerah. Tapi manusia zaman ini takut pada diam; kita mencari jalan pintas—satu swipe, satu tawa cepat. Padahal, di balik kebosanan, tersembunyi dunia refleksi yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang mau menunggu.
Di kelas-kelas di Benny Institute, saya sering menemui siswa cepat-bosan. Mereka anak-anak cerdas, tapi tak bisa duduk lebih dari sepuluh menit. Saat membaca, tangan mereka refleks mencari ponsel. Maka setiap kali saya mengajar, ponsel dikumpulkan. Minggu pertama, mereka gelisah seperti burung di sangkar. Minggu ketiga, mereka mulai tenang. “Sir, ternyata kalau tahan sedikit lagi, rasanya enak juga,” kata salah satu dari mereka. Mereka tak sadar, yang sedang pulih bukan semangat, melainkan otak mereka. Dan mungkin, otak kita juga.
Dopamin bukan musuh. Ia hanya perlu diajari ulang. Otak manusia sejatinya diciptakan untuk menikmati dopamin yang datang perlahan—dari ketekunan, dari membaca sampai tuntas, dari memahami teori, dari menulis kalimat yang jernih setelah banyak gagal. Kepuasan yang lambat tapi dalam. Gantikan video pendek dengan dua halaman buku, dan perlahan otak kita akan belajar mengaitkan kebahagiaan dengan makna, bukan sensasi.
Rutinitas membantu menata ulang keseimbangan itu. Otak bukan mesin pencari kejutan. Ia tumbuh dalam pola. Belajarlah di jam yang sama, di ruang yang sama, dengan cahaya yang sama. Dua minggu cukup bagi otak untuk berhenti melawan. Fokus bukan lagi perjuangan, tapi kebiasaan. Keheningan menjadi ruang yang dinanti, bukan dihindari.
Namun ada satu latihan yang lebih purba dan lebih indah dari semuanya: membaca sastra. Di tengah dunia yang menuntut kecepatan, membaca karya naratif adalah perlawanan paling sunyi terhadap tirani dopamin instan. Sastra memaksa otak berjalan lambat. Ia tak memberi hadiah cepat. Tidak ada notifikasi, tidak ada “skip ad after 3 seconds.” Hanya kata-kata yang menuntut kita menafsir, berimajinasi, dan bersabar.
Membaca, termasuk sastra, adalah ruang dialog mewah dengan penulisnya. Saat menelusuri Laskar Pelangi, Andrea Hirata menemani kita di ruang belajar yang mengajarkan kesabaran menunggu kebahagiaan yang lahir dari perjuangan. Saat membaca My Name Is Red, Orhan Pamuk mengantar kita ke labirin pikiran manusia yang rumit—dan di situ, otak kita bekerja keras, menyalakan neuron yang lama tertidur. Setiap kalimat panjang yang kita baca adalah latihan menahan godaan dunia cepat. Sastra melatih otak mencintai proses; ia adalah counter-attack paling elegan terhadap candu instan.
Riset dalam bidang neuro-literasi menunjukkan: membaca narasi panjang—terutama karya fiksi—mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan empati dan kesabaran kognitif. Saat kita tenggelam dalam cerita, kita memperkuat daya tahan mental, kemampuan fokus, dan kepekaan terhadap makna. Otak kita belajar lagi untuk menikmati lambatnya waktu.
Cobalah latihan sederhana. Ambil satu cerita pendek. Bacalah perlahan. Rasakan ritme kalimatnya, jeda antar-paragrafnya. Jangan terburu-buru mengerti; biarkan maknanya menetes seperti kopi hitam yang diseduh perlahan. Otak kita mungkin akan memberontak—lapar pada sensasi cepat. Tapi bertahanlah. Dalam beberapa hari, kita akan mendengar sesuatu yang lama hilang: suara pikiran kita sendiri.
Multitasking akan terasa sia-sia setelah kita mengenal kenikmatan ini. Otak tak bisa melompat dari satu makna ke makna lain tanpa kehilangan kedalaman. Matikan notifikasi, letakkan ponsel, dan fokuslah pada satu dunia—entah buku, tulisan, atau percakapan batin kita sendiri. Di situ, kita akan menemukan keheningan yang dulu pernah kita miliki sebelum dunia menjadi bising.
Dan pada akhirnya, marilah kita belajar mencari makna dalam proses, bukan hasil. Dopamin instan mengajarkan kita mengejar hadiah cepat, sementara sastra dan kehidupan mengajarkan sebaliknya: kebahagiaan sejati lahir dari waktu yang kita habiskan bersama makna. Tanyakan pada diri kita, setelah membaca satu kisah: apa yang berubah dalam diri kita? Pertanyaan sederhana itu adalah pintu kecil menuju ketenangan.
Kita tidak kekurangan semangat, hanya kehilangan kesabaran. Otak yang terlalu lama hidup dari kejutan digital lupa menikmati diam. Tapi begitu kita berani duduk bersama keheningan, membuka buku, membaca kalimat demi kalimat tanpa tergesa—di situlah, sesungguhnya, kita sedang menyembuhkan diri sendiri.
Lubuklinggau, 21 Oktober 2025
2 Comments
Aku pun sering berada di situasi saat otak disabotase ini. Apalagi kl stuck di satu buku, untuk bisa kembali ke ritme kecepatan membaca normal rasanya sulit. Pada akhirnya emang harus memilih antara dipaksa atau menyerah dan coba beralih ke bacaan lain yang lebih ringan. Omong-omong soal My Name is Red, itu salah satu yang aku baru basa secuil trus nggak sanggup lanjut. >.< Entah kapan akan bisa dikencani lagi.
Aku membaca paragraf2 ini justru saat sakit. Tubuh & pikiranku lelah utk berkejaran dg medsos. Kita mmg butuh jeda. Butuh rehat. Membaca panjang termasuk membaca sastra ~dan tulisan ini~ buatku tarik napas sejenak. Mungkin, aku terlalu cepat berlari pdhal otakku ingin berhenti.