Bunga Gurun di Halaman Buku

 Bunga Gurun di Halaman Buku

Ilustrasi Waris Dirie berjudul Desert Flower (Sumber: maryfilip-art.com)

Waris Dirie adalah bukti bahwa halaman yang dibuka bisa membuka hidup.

Oleh Benny Arnas

______

Tidak ada yang mengira bahwa seorang anak perempuan dari keluarga nomaden di Somalia, yang dibesarkan di gurun tandus tanpa sekolah, tanpa buku, tanpa huruf, kelak akan menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam isu kekerasan berbasis gender.

Di masa kecilnya, Waris Dirie bahkan tidak pernah membayangkan apa itu buku. Ia lahir pada 1965 sebagai satu dari dua belas anak di keluarga penggembala. Setiap hari ia membawa enam puluh kambing menjauh dari tenda keluarganya untuk mencari rumput, sementara matahari Somalia membakar kulit dan pasir mengikis tapak kakinya. Air adalah kemewahan, makanan adalah keberuntungan, dan hidup tidak pernah benar-benar lebih dari perkara bertahan.

Di usia lima tahun, sebuah tragedi mengubah tubuh dan hidupnya. Seorang perempuan tua datang ke kemah keluarga membawa sebilah silet yang sudah tumpul. Tanpa anestesi, tanpa alat steril, tanpa ruang untuk menolak, Waris dibius hanya oleh rasa takut dan sepotong akar yang ia gigit untuk menahan jeritan. Ibunya memegang kedua lengannya, bibinya menahan kakinya, lalu pemotongan itu dimulai. Genitalnya dipotong dan dijahit hampir rapat seluruhnya. Itu adalah bentuk female genital mutilation (FGM) paling ekstrem. Ia selamat, tetapi banyak kerabatnya tidak. Namun di gurun, tidak ada tempat untuk trauma. Semuanya dijelaskan sebagai tradisi. Sebagai kewajiban. Sebagai sesuatu yang harus diterima.

Pada usia tiga belas tahun, Waris kembali harus menanggung keputusan besar yang bukan pilihannya. Ayahnya mengumumkan bahwa ia akan menikahkannya dengan seorang pria berusia enam puluh tahun. Lima ekor unta menjadi mahar. Di tengah malam, ibunya membantunya kabur melewati hamparan gurun yang sama sekali tidak ramah. Ia berjalan sendirian menuju Mogadishu, lalu akhirnya ikut seorang paman yang menjadi diplomat Somalia ke London. Ini adalah pertama kalinya ia melihat jalan raya, lampu listrik, bangunan bertingkat, dan huruf latin yang dipasang di setiap papan nama seperti simbol-simbol dari dunia asing yang tidak bisa ia baca.

Ketika masa tugas pamannya berakhir, keluarganya kembali ke Somalia. Waris memilih tetap tinggal di London meski ilegal. Ia bekerja menyapu lantai McDonald’s dan menyewa kamar di Young Men’s Christian Association (YMCA). Usianya baru delapan belas tahun. Di sebuah kota yang tidak mengenal namanya, ia mulai belajar alfabet seperti anak kecil yang meniru bentuk huruf. Ia membaca dengan suara lirih, sering salah, tetapi selalu kembali mencoba. Dari sinilah hidupnya pelan-pelan berubah arah.

Pada satu sore yang biasa di restoran cepat saji itu, fotografer terkenal Terence Donovan melihatnya. Dalam hitungan bulan, Waris yang dulu tidak bisa membaca kini berjalan di panggung mode Paris, Milan, dan New York. Ia menjadi wajah Chanel, Levi’s, L’Oréal. Fotografinya tampil di sampul VogueElle, dan Glamour. Kariernya melesat cepat seperti meteor yang menemukan jalurnya sendiri di langit malam.

Namun hidup yang gemerlap itu tidak pernah sepenuhnya menghapus kenangan gurun. Ia membawa luka fisik yang menyakitkan setiap kali ia duduk terlalu lama, setiap kali ia menstruasi, setiap kali tubuhnya menuntut kedekatan. Ada beban emosional yang bahkan kamera tercanggih pun tidak mampu menangkapnya. Bertahun-tahun ia memilih diam. Diam karena takut. Diam karena tradisi. Diam karena merasa tidak punya alat untuk membicarakannya.

Sampai ia mulai membaca.

Di apartemen sederhana yang ia sewa, buku-buku menjadi teman yang setia. Ia membaca memoar perempuan migran, kisah penyintas kekerasan, autobiografi tokoh yang pernah dihancurkan lalu bangkit kembali. Setiap halaman seperti memutar balik waktu, mengajaknya bertemu dirinya yang dulu tidak punya suara. Di London yang dingin, buku-buku itu menjadi seperti api kecil yang menghangatkan ruang batin yang selama ini beku.

Riset Raymond Mar, Keith Oatley, dan Jordan Peterson dari York University pada 2009 menunjukkan bahwa membaca narasi tentang pengalaman manusia dapat meningkatkan empati dan kemampuan mengambil keputusan moral yang berani. Waris mungkin tidak mengetahui riset itu, tetapi ia menjalani efeknya secara langsung. Ia mulai melihat kisah hidupnya bukan sebagai aib yang harus disembunyikan, tetapi sebagai kebenaran yang layak diucapkan. Membaca membuatnya memahami bahwa rasa sakit bukan hanya miliknya dan bahwa setiap kisah memilukan yang ia baca memiliki satu pola yang sama. Keberanian tidak tumbuh begitu saja, melainkan dibangun oleh kata-kata yang membuat seseorang merasa tidak lagi sendirian.

Penelitian lain dari Johnson, Cushman, Borden, dan McCune pada 2013 menunjukkan bahwa membaca cerita naratif memperkuat kemampuan seseorang memahami motivasi manusia dan mengambil keputusan etis dalam situasi kompleks. Bagi Waris, membaca memperjelas apa yang selama ini kabur. Ketakutannya menjadi lebih mudah dikenali dan tidak lagi sedemikian menakutkan. Ia mulai memahami dirinya. Ia mulai memahami mengapa diam terasa menyakitkan. Ia mulai merasakan bahwa pilihan untuk berbicara adalah bagian dari pemulihan.

Keberanian yang tumbuh dari membaca ini bukan hal baru dalam sejarah manusia. Malala Yousafzai menentang Taliban setelah membaca The Diary of Anne Frank. Anne mengajarkan Malala bahwa suara seorang gadis muda bisa menggerakkan dunia. Nelson Mandela, yang membaca Shakespeare dan biografi Gandhi selama 27 tahun di penjara, menemukan bahwa kemarahan dapat dijinakkan oleh pemahaman mendalam tentang manusia. Membaca memperluas ruang batin mereka, sama seperti yang terjadi pada Waris di kamar kecilnya di London.

Pada 1997, ketika seorang jurnalis majalah Marie Claire ingin mewawancarainya tentang karier modeling, Waris melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun. Ia tidak ingin berbicara tentang glamor. Ia ingin menceritakan yang sebenarnya. Ia ingin menceritakan tubuhnya. Luka yang disembunyikan sejak kecil. Tradisi brutal yang merampas masa depan anak perempuan. Semua cerita itu ia sampaikan perlahan seperti seseorang yang akhirnya menemukan bahasa untuk mengungkapkan rasa sakit yang selama ini hanya mampu ia kenang dalam diam.

Wawancara itu membuat dunia terkejut. Untuk pertama kalinya, isu female genital mutilation yang kemudian kembali disebut sebagai FGM memiliki wajah dan nama. Majalah-majalah, stasiun TV, dan lembaga internasional mulai bergerak. Pada tahun yang sama, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjuk Waris sebagai Duta Khusus. Ia berkeliling dunia, berbicara di depan pemimpin negara, di panggung konferensi, di ruang-ruang yang selama ini hanya diisi diplomat dan akademisi. Suaranya menembus batas yang tidak pernah ia bayangkan ketika ia masih menyapu lantai McDonald’s atau ketika menghalau kambing di Somalia.

Tahun berikutnya, ia menulis autobiografinya yang terkenal, Desert Flower. Buku itu memadukan trauma dan harapan, kesunyian dan keberanian. Banyak orang mengira kekuatan Waris datang dari glamor yang mengelilinginya. Padahal kekuatan itu sebagian besar lahir dari halaman-halaman yang ia baca dalam kesepian.

Membaca membantunya memahami hidup. Membaca memberinya keberanian untuk menamai luka. Membaca memberinya keberanian membuka luka lama yang masih basah, busuk, dan menghantuinya kapan dan di mana saja.

Di usia lima puluhan, Waris masih berjuang. Ia tahu betul bahwa perubahan tidak pernah datang dalam semalam. Namun setiap anak perempuan yang diselamatkan dari FGM adalah kepingan kecil dari perubahan yang ia bayangkan. Dan semua itu bermula dari seorang perempuan yang akhirnya memilih untuk tidak lagi menutup mulutnya, seorang perempuan yang menemukan suaranya melalui buku.

Begitulah membaca bekerja. Tidak keras, tidak dramatis, tidak memaksa. Membaca bergerak pelan, tetapi pasti. Ia mengubah ketakutan menjadi keberanian. Ia mencairkan kebekuan trauma yang perih tak terkira. Ia mengubah bungkam menjadi teriakan yang membuat kenyamanan semu terjaga serta-merta. Dan ia … menjadikan seseorang yang dulu dianggap tidak penting menjadi tokoh yang mengguncang dunia. Waris Dirie adalah bukti bahwa halaman yang dibuka bisa membuka hidup. Buku yang dibaca bisa mengubah sejarah.

Dan seperti bunga gurun yang mekar di tengah lahan paling keras, keberanian itu tumbuh dari sesuatu yang tampaknya rapuh tetapi ternyata tak terpatahkan. Buku-buku itu menuntunnya keluar dari sunyi. Buku-buku itu memberinya bahasa. Buku-buku itu memberinya keberanian.(*)

Aleksandria, 3 Desember 2025

_______

Daftar Pustaka

Casson, L. 2001, Libraries in the Ancient World, Yale University Press, New Haven.

Empereur, J-Y. 2002, Alexandria Rediscovered, British Museum Press, London.

Fraser, P.M. 1972, Ptolemaic Alexandria, Clarendon Press, Oxford.

I-Tsing (Yijing) 1996, A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago (AD 671–695), trans. J. Takakusu, Dover Publications, Mineola, NY.

MacLeod, R. (ed.) 2001, The Library of Alexandria: Centre of Learning in the Ancient World, I.B. Tauris, London.

McKenzie, J. 2007, The Architecture of Alexandria and Egypt, c. 300 BC–AD 700, Yale University Press, New Haven.

Schottenhammer, A. (ed.) 2017, Early Global Interconnectivity across the Indian Ocean World, Volume I: Commercial Structures and Exchanges, Palgrave Macmillan, Cham.

Vickery, M. 1998, Society, Economics, and Politics in Pre-Angkor Cambodia: The 7th–8th Centuries, The Centre for East Asian Cultural Studies for UNESCO, Tokyo.

Vitale, M. 2015, ‘Funan Revisited: New Views of the “Mount Meru of the South”’, Journal of Southeast Asian Studies, vol. 46, no. 1, pp. 31–55.

Wright, N.T. 2009, ‘Alexandria under the Ptolemies’, Greece & Rome, vol. 56, no. 2, pp. 172–194.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Tulisannya keren banget Bang Ben 🤩 bikin mikir kalau hal hal kecil kayak keberanian dan baca buku bisa ngeubah hidup. Berasa kayak bunga yang tiba tiba mekar di tempat tandus 👍🏻👍🏻👍🏻

Leave a Reply to dias Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *