Buku, Simulator Kehidupan Paling Aman

 Buku, Simulator Kehidupan Paling Aman

Gambar:www.upworthy.com

Kita membaca agar tidak hanyut dalam kecepatan yang kita ciptakan sendiri.


Oleh Benny Arnas

Buka mata dan hati kita. Perhatikan tumbuhan dan hewan di sekitar kita. Mereka tumbuh, bergerak, dan berubah dengan ritme yang hampir tak terasa. Pohon mangga tidak gelisah menunggu buahnya. Burung gereja tidak sibuk menargetkan peningkatan performa terbangnya. Semua selaras dan indah karena memadukan kepasrahan dan keterukuran. Semua menerima hukum alam sebagai cara hidup, cara bertahan. Ya, memang sudah sunnatullah bahwa semua makhluk tidak diciptakan untuk hidup tergesa-gesa. Tak terkecuali manusia.

Homo sapiens, dengan atau tanpa sadar, mengingkarinya. Manusia, tanpa kepedulian sedikit pun, melanggarnya. Kita bergerak cepat. Kita berubah lebih cepat. Hidup kita penuh ambisi, revolusi, dan disrupsi yang tidak pernah puas. Kita menamai pelanggaran terhadap sunnatullah itu sebagai kemajuan. Padahal sering kali kemajuan itu justru menyiksa. Kita mengejar hal yang belum tentu hilang. Kita bersaing dalam hal yang tidak benar-benar perlu. Kita memburu yang sebenarnya tidak menunggu untuk diburu.

Tidak heran kalau dalam gerak kemajuan itu, Homo sapiens diam-diam selalu merindukan keadaan yang kembali ke sunnatullah. Tenang, diam, pelan. Kita menyebutnya liburan. Atau cuti. Atau healing. Itu pun kalau sempat. Itu pun sering tidak betul-betul memulihkan. Karena pikiran tetap dikejar tuntutan dan notifikasi.

Kadang kita bertanya, mungkin seperti manusia lain juga: mengapa Tuhan memberikan keinginan untuk maju pesat, padahal jiwa kita haus ketenangan. Apakah itu semacam hukuman. Atau justru peluang. Atau mungkin jalan agar manusia mencari cara pulang ke dirinya sendiri.

Di titik inilah kita, mau tak mau, percaya bahwa membaca buku adalah jalan pulang paling relevan, paling aman, dan paling dekat dengan sunnatullah yang kita abaikan. Buku seperti simulator kehidupan. Ia membiarkan kita mencoba sesuatu tanpa merusak apa pun. Ia mengizinkan kita belajar tanpa luka. Ia menuntun tanpa menjerit.

Para peneliti sudah lama menemukan hubungan ini. Sebuah riset oleh Dr. David Lewis dari University of Sussex (Mindlab International, 2009) menemukan bahwa membaca selama enam menit saja dapat menurunkan stres hingga 68 persen, lebih efektif daripada musik atau teh hangat. Riset lain dari Becca R. Levy, Martin D. Slade, dan Avni Bavishi dari Yale School of Public Health (2016, A Chapter a Day: Association of Book Reading With Longevity) menunjukkan bahwa orang yang membaca buku minimal tiga setengah jam per minggu hidup rata-rata dua tahun lebih lama dibanding yang tidak membaca sama sekali. Membaca bukan hanya aktivitas intelektual. Ia semacam penyambung umur. Penyambung kewarasan. Penyambung harapan.

Ketika hidup modern semakin cepat, buku mengingatkan bahwa yang pelan belum tentu kuno. Ketika dunia memaksa kita multitasking, buku mengajak fokus. Ketika internet menghabiskan perhatian kita satu per satu, buku menambalnya kembali. Tidak ada alat modern yang memberi manusia kendali seperti buku menghadiahkannya untuk kita. Tidak ada teknologi yang memberi keheningan seteduh halaman yang terbuka.

Sejak dulu para tokoh besar tahu hal ini. Malcom X menemukan kesadarannya di penjara. Dalam otobiografinya ia menulis bahwa membaca membuka dunia yang lebih luas daripada ruang kurungan yang sempit. Ia membaca dengan rakus sampai merasa seperti baru saja menemukan matanya sendiri. Satu tokoh lagi, Marie Curie, terbiasa menghabiskan malam dengan buku ketika penelitian menguras seluruh tenaga. Ia pernah berkata bahwa tidak ada pengalaman yang tidak dapat diperluas oleh bacaan yang tepat. Mereka menghadapi dunia yang keras, tetapi menemukan pelambatan dalam buku.

Kita melihat hal serupa dalam peristiwa besar. Gerakan Civil Rights di Amerika tidak hanya bertumpu pada orasi Martin Luther King Jr., tetapi juga pada tradisi membaca kitab suci dan teks filsafat yang menguatkan keyakinannya pada keadilan. Di Asia, Revolusi Meiji di Jepang tidak mungkin terjadi tanpa gelombang membaca besar-besaran yang membuat masyarakatnya beralih dari feodal ke modern. Negara bangkit karena membaca. Individu sembuh karena membaca. Masyarakat bergerak karena membaca.

Namun semodern apa pun dunia ini, membaca masih dianggap aktivitas berat. Mungkin karena kita terbiasa hidup cepat. Kita ingin hasil tanpa proses. Kita ingin jawaban tanpa bertanya. Kita ingin perkembangan tanpa jeda. Padahal membaca adalah jeda itu sendiri. Ia seperti rumah singgah antara ambisi dan kelelahan. Ia sederhana tetapi tidak dangkal. Ia tenang tetapi tidak mati. Ia diam tetapi diamnya bekerja.

Kutipan lama dari Franz Kafka kembali relevan. Ia berkata bahwa buku harus menjadi kapak bagi lautan beku di dalam diri kita. Mungkin terlalu puitis, tetapi rasanya tepat. Sebab setiap hari manusia modern “mengeras” sedikit demi sedikit. Terlalu lama menahan ambisi. Terlalu lama berpura-pura kuat. Terlalu lama bergerak tanpa berhenti.

Di tengah itu semua, buku mencairkan kita. Dengan aman. Dengan pelan. Dengan cara yang tidak dilakukan media lain. Film memberi pengalaman, tetapi tidak menghentikan gerak. Media sosial memberi distraksi, tetapi tidak memberi keheningan. Buku memaksa kita untuk tidak tergesa-gesa. Bahkan ketika kita ingin tergesa, bacaan menolak dikejar. Ia berjalan seturut ritme mata, pikiran, dan napas kita. Tidak lebih cepat.

Kalau benar manusia diciptakan untuk tidak terburu-buru, mungkin membaca adalah perpanjangan dari naluri purba itu. Kita mungkin tidak bisa kembali sepenuhnya seperti pohon atau burung, tetapi ketika membaca kita mencicipi sedikit cara hidup mereka. Kita berhenti sejenak dari ambisi. Kita berhenti menaklukkan. Kita berhenti dibandingkan. Kita berhenti dikejar.

Karena itu kampanye membaca bukan sekadar program budaya. Ini gerakan menyembuhkan diri. Gerakan mengembalikan manusia pada ritme yang lebih manusiawi. Membaca bukan sekadar kebiasaan intelektual, tetapi perawatan eksistensial. Kita membaca untuk membatasi laju dunia. Kita membaca untuk menata ulang isi kepala. Kita membaca agar tidak hanyut dalam kecepatan yang kita ciptakan sendiri.

Pernahkah kita berpikir, buku atau kitab atau sejenisnya adalah anugerah paling lembut yang pernah diberikan Tuhan kepada manusia yang keras kepala. Mungkin Tuhan tahu kita akan melanggar sunnatullah. Kita akan tergesa. Kita akan ambisius. Kita akan saling menyalip sampai lupa arah hidup. Karena itu Tuhan membiarkan manusia menemukan cara pulang yang paling senyap. Dengan kertas. Dengan tinta. Dengan cerita yang meredam kegaduhan.

Dalam setiap buku ada tempat berlindung. Ada ruang yang tidak menuntut kita menjadi apa pun. Ada dunia yang bekerja pelan. Ada pintu yang hanya terbuka ketika kita siap memperlahankan diri. Begitu halaman dibuka, kita tidak lagi dikejar. Di dalamnya, dunia kembali seperti yang seharusnya. Tenang. Diam. Pelan.

Dan mungkin, dengan setiap buku yang kita baca, kita sedang memulihkan sunnatullah sedikit demi sedikit. Kita sedang berlatih menjadi manusia yang utuh, bukan hanya mesin kemajuan. Kita sedang belajar bernapas ulang. Kita sedang mencoba hidup kembali dengan ritme yang lebih damai.

Buku adalah simulator kehidupan paling aman yang pernah diciptakan manusia. Buku adalah rumah tempat kita kembali menjadi manusia.(*)

Kairo, 5 Desember 2025

Daftar Pustaka

Lewis, D. (2009) Stress and Relaxation Study. Mindlab International, University of Sussex. Available at: https://www.mindlab.co.uk (Accessed: 5 December 2025).

Levy, B.R., Slade, M.D. and Bavishi, A. (2016) ‘A Chapter a Day: Association of Book Reading With Longevity’, Social Science & Medicine, 164, pp. 44–48. doi: 10.1016/j.socscimed.2016.04.002.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Buku memang bisa jadi tempat pelarian dari hiruk pikuk dunia, tempat di mana bisa menemukan ketenangan dan refleksi diri 😊”

Leave a Reply to Rian Sastranegara Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *