Berhentilah Membaca, Sungguh Ia Tidak Berguna Ketika …

 Berhentilah Membaca, Sungguh Ia Tidak Berguna Ketika …

Sumber: DepositPhotos.com

Ambil jarak dari buku. Menjauh sebentar dari ladang ilmu. Periksalah lapis-lapis pengetahuanmu.

Oleh Benny Arnas

Pada 19 Desember 2011, Institut d’Égypte di Kairo, bangunan bersejarah yang didirikan oleh Napoleon, terbakar hebat di tengah bentrokan antara demonstran pro-demokrasi dan pasukan keamanan.

Bangunan ini menyimpan puluhan ribu buku dan manuskrip langka, termasuk koleksi observasi ilmiah dari era Napoleon dan dokumen-dokumen antik yang menjadi bagian dari warisan intelektual Mesir.

Relawan mendobrak reruntuhan, menyelamatkan ribuan volume, membawanya ke Dar al-Kutub (Perpustakaan Nasional dan Arsip Mesir), di mana para konservator berjuang mengeringkan dan menyelamatkan halaman-halaman yang rusak.

Peristiwa ini menjadi simbol pahit: buku dan manuskrip yang selama berabad-abad dibaca, dipelajari, dan disimpan sebagai harta pengetahuan , kini terancam lenyap oleh kekerasan politik.

Ironisnya, semua bacaan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun tidak mampu menyelamatkan benda-benda berharga itu. Ini adalah bukti: tanpa aksi nyata, membaca menjadi nyaris tak berguna!

***

Katakan cukup pada membaca ketika teks memberitahumu bahwa warisan intelektual itu penting , tapi kau tak bergerak untuk melindungi warisan itu.

Kita bisa membaca buku filsafat, sejarah, pandangan moral, namun jika kita tak siap menyambut panggilan untuk menjaga, menerapkan, atau melawan kerusakan nyata di dunia, maka membaca semata menjadi kemewahan yang rapuh.

Bacaan sejati bukan hanya membuat kita memahami bahwa ketidakadilan itu menakutkan, tetapi menggerakkan kita untuk menghadapi ketidakadilan itu.

Dalam kasus Institut d’Égypte, bacaan para ilmuwan dan sarjana tidak mencegah manuskrip-manuskrip itu nyaris hilang dalam kobaran api. Bahkan setelah penyelamatan, butuh waktu puluhan tahun untuk restorasi.

Contoh nyata seperti ini mengingatkan bahwa membaca harus disertai empati dan keberanian: empati untuk menghargai warisan orang lain, keberanian untuk turun dari menara gagasan dan merawat dunia nyata.

Ada pula tokoh intelektual Mesir kurang “komersial” namun sangat penting dalam memadukan bacaan dan tindakan: misalnya Mansoura Ez-Eldin.

Penulis Mesir kontemporer–yang dalam karya-karyanya mengangkat cerita perempuan biasa, sejarah lokal, dan luka-luka identitas–itu tidak hanya membaca warisan budaya. Ia juga berbicara kepada generasi muda tentang bagaimana memikul tanggung jawab warisan itu dalam kehidupan nyata.

Lalu, kita bisa melihat figur seperti Nawal El Saadawi: meskipun cukup dikenal, kiprahnya lebih dari sekadar menulis. Ia membaca banyak teori feminis, teologi, sejarah; tetapi kemudian melakukan aktivisme nyata : mendirikan klinik kesehatan, menantang tabu, dan berbicara langsung dengan komunitas yang terpinggirkan.

Membaca Sadaawi memberi kita kerangka, tetapi tindakan sosialnya mencerminkan bagaimana membaca harus menggerakkan.

Contoh dari luar Mesir juga relevan: María Zambrano.

Filsuf pengasingan itu membaca filsafat dan puisi selama masa sulit dalam perang, lalu menciptakan gagasan-gagasan yang menuntun pada rekonsiliasi dan kegelisahan eksistensial. Bacaan itu membuatnya manusia yang terus berubah, bukan menjulang sebagai menara statis pengetahuan.

Kita perlu berhenti membaca ketika bacaan membuatmu merasa cukup. Ketika kita berpikir “cukup teori sudah”, tetapi tidak memikirkan bagaimana menerjemahkannya ke realita: ke dalam dialog, dalam empati, dalam tindakan.

Membaca sejatinya harus membuat kita bergerak, seperti relawan yang menyelamatkan buku dari gedung terbakar.

Membaca harus mengubah kita seperti intelektual yang dari keterasingan lahir gagasan rekonsiliasi.

Membaca harus menjadikan kita bijaksana memahami bahwa pengetahuan bukan hiasan, tetapi tanggung jawab.

Jika membaca tidak mendorong kita melakukan sesuatu, setidaknya untuk melindungi warisan, untuk berbicara, untuk menyelamatkan, maka berhentilah sejenak.

Ambil jarak dari buku. Menjauh sebentar dari ladang ilmu. Periksalah lapis-lapis pengetahuanmu.

Jangan-jangan, kita terlalu dekat. Jangan-jangan kita memanen terlalu banyak. Jangan-jangan, tebalnya wawasan telah menjadi dinding pemisah antara buku-buku dan suara-suara nyata di sekitar; antara engkau dan orang-orang yang kehilangan; atau antara kenyamanan dan luka mereka yang terpinggirkan.

Leburlah ke dalam (ke)manusia(an), bukan memahami (teks) semata.

Bagaimanapun, membaca bukan untuk menumpuk, melainkan sebagai alat untuk menyalakan tindakan, merawat sejarah, dan membangun masa depan yang adil.

Tutup buku ketika kata-kata itu hanya menjadi gema di kepalamu.

Karena sesungguhnya, membaca yang bernilai adalah membaca yang mendorong perbuatan.

Membaca yang bermakna adalah membaca yang mengubahmu menjadi pelaku, bukan penonton.(*)

Kairo, 20 November 2025


Daftar Pustaka

Browne, M. 2011. Cairo’s historic Institut d’Egypte burns during clashes. The Guardian, 18 December.
Available at: https://www.theguardian.com/world/2011/dec/18/cairo-institut-egypte-fire (Accessed: 20 November 2025).

Dar al-Kutub (National Library and Archives of Egypt). 2012. Annual Report on Manuscript Conservation Post–Institut d’Egypte Fire. Cairo: Ministry of Culture.

El-Ghobashy, T. 2011. Fire Damages Egypt Scientific Institute. The Wall Street Journal, 18 December.
Available at: https://www.wsj.com/articles/SB10001424052970203518404577096902840265554 (Accessed: 20 November 2025).

Ez-Eldin, M. 2009. Maryam’s Maze. Cairo: AUC Press.

Ez-Eldin, M. 2014. Shadow Specters. Cairo: Dar al-Shorouk.

Fahim, K. 2011. Egypt’s Treasure Burns in Protest Clashes. The New York Times, 17 December.
Available at: https://www.nytimes.com/2011/12/18/world/middleeast/fire-destroys-200-year-old-egyptian-research-institute.html (Accessed: 20 November 2025).

Golia, M. 2004. Cairo: City of Sand. Cairo: AUC Press.

Reid, D.M. 2002. Whose Pharaohs? Archaeology, Museums, and Egyptian National Identity from Napoleon to World War I. Berkeley: University of California Press.

Saadawi, N. El. 1980. The Hidden Face of Eve: Women in the Arab World. London: Zed Books.

Saadawi, N. El. 1999. A Daughter of Isis: The Autobiography of Nawal El Saadawi. London: Zed Books.

Zambrano, M. 1996. Notebooks of Exile. Albany: State University of New York Press.

Zambrano, M. 2012. Clearings: The Unwritten and the Unthought in María Zambrano. Madrid: Cátedra.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Mantep Bang Benn 👍🏻👍🏻 lagi lagii tulisan Bang Ben sangat menginspirasi! Semoga semakin banyak pembaca yang tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga berani bergerak demi perubahan..

    • Makasihk Dias. Pintar tapi tak berguna. Alangkah malangnya.

Leave a Reply to Benny Arnas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *