Bagaimana Pustakawan Bekerja

 Bagaimana Pustakawan Bekerja

Sumber: Dokumentasi pribadi (Leiden Library, Juni 2024)

Aku selalu membayangkan surga akan seperti perpustakaan.

Jorge Luis Borges


Oleh BENNY ARNAS

“Kamu orang pertama yang mengakses ini sejak didonasikan ke Leiden tujuh puluh tahun lalu,” kata Marie, pustakawan paruh baya di Special Collection Reading Room Perpustakaan Leiden, sambil menyerahkan manuskrip dari tahun 1700-an.

Pekan pertama 2024, udara di luar lembap dan dingin, tapi di ruang koleksi khusus itu, waktu seperti berjalan lebih pelan. Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika tangan saya menyentuh bundelan rapuh itu. Seolah saya sedang berjabat tangan dengan masa lalu yang lama menunggu untuk didengar.

Dua jam kemudian, saya menemui Marie lagi.

“Ini kodenya CB, bukan KITLV atau Or?” tanya saya.

“Silakan lanjutkan bacaanmu dulu,” katanya sambil tersenyum. “Biar aku carikan di katalog.”

Ia kembali dua jam kemudian membawa buku berwarna hijau. “Ini Letters of Java,” katanya lembut. “Naskah ini dibawa dari Jawa ke Bali, atau sebaliknya. Tidak ada informasi lebih. Tapi, paling tidak, sekarang kita tahu sedikit lebih banyak.”

“Kita?” tanya saya.

Ia tersenyum. “Perpustakaan ini ibarat rimba dokumen. Kami bekerja berdasarkan permintaan peneliti seperti kamu. Tapi setiap kali sebuah naskah ‘keluar dari kandangnya’, kami juga ikut belajar sesuatu. Kamu tahu, naskah ini pasti merasa kesepian selama tujuh puluh tahun.”

Saya terdiam. Barangkali karena kalimat itu terdengar begitu puitis dan jujur.

Beberapa hari kemudian, Marie tidak bertugas. Tapi ketika saya datang, pustakawan lain menyerahkan setumpuk dokumen. “Titipan dari Marie,” katanya. “Dia khawatir kamu masih membutuhkannya.”

Di antara catatan tangannya, saya menemukan rujukan silang yang menjelaskan bahwa manuskrip Palembang itu memang terselip di katalog Jawa. Tak ada yang menyentuhnya selama tujuh dekade.

Saya menatap dokumen-dokumen itu dengan perasaan campur aduk: kagum, terharu, malu. Kagum pada ketelitian seorang pustakawan yang tidak hanya bekerja sesuai tugas, tapi mencintai temuannya. Terharu karena seseorang di belahan dunia lain menaruh perhatian begitu besar pada sesuatu yang bagi banyak orang tampak remeh. Dan malu karena saya, yang mengaku peneliti, bahkan sempat melupakannya.

***

Di dunia yang serba cepat ini, pekerjaan pustakawan tampak seperti sisa zaman lampau. Tapi justru di situlah keajaibannya: mereka adalah penjaga waktu.

Mereka bukan sekadar mengatur buku dan manuskrip, tapi menjaga percakapan antara masa lalu dan masa kini agar tak terputus.

Saya teringat kisah Khaled al-Asaad, kepala arkeolog di Palmyra, Suriah. Saat ISIS menyerbu situs warisan dunia itu pada 2015, ia menolak meninggalkan arsip dan artefak bersejarah. Ketika para milisi memaksanya mengungkap lokasi penyimpanan benda-benda kuno yang disembunyikan, ia memilih diam. Ia disiksa dan akhirnya dieksekusi di depan umum. Ia gugur, tetapi catatannya selamat. Dunia mengenalnya sebagai the Guardian of Palmyra, penjaga sejarah yang setia pada pengetahuan sampai akhir.

Saya juga teringat Abdel Kader Haidara, pustakawan dari Timbuktu, Mali. Pada 2012, saat kelompok ekstremis Ansar Dine membakar kota itu, ia memimpin penyelamatan lebih dari 350.000 manuskrip kuno. Naskah-naskah itu diselundupkan lewat Sungai Niger, disembunyikan dalam peti kayu dan perahu kecil. Ia tak bersenjata, hanya bersetia pada kalimat yang sering ia ucapkan: “Tanpa pengetahuan, tidak ada jiwa, tidak ada peradaban.”

Dari Eropa Timur, ada Aida Buturović, pustakawan Sarajevo. Pada 1992, ketika gedung National and University Library of Bosnia and Herzegovina terbakar akibat perang, ia tertembak mati saat berusaha menyelamatkan manuskrip dari kobaran api. Namanya kini diabadikan dalam memorial perpustakaan itu sebagai simbol keberanian di tengah kehancuran.

Dan di Kyiv, selama perang Rusia–Ukraina, para pustakawan Vernadsky National Library tetap bertugas di ruang bawah tanah ketika sirene berbunyi. Mereka memindahkan arsip nasional ke tempat aman, menjaga ingatan sebuah bangsa agar tidak ikut musnah oleh perang.

Mereka semua mungkin tidak disebut pahlawan di buku sejarah, tapi tanpa tangan mereka, dunia akan kehilangan sebagian ingatannya.

***

Ketika saya menutup dokumen terakhir di Perpustakaan Leiden hari itu, cahaya sore menembus kaca jendela ruang koleksi khusus, mengenai rak-rak kayu yang berumur ratusan tahun. Di antara bayangan buku dan kertas, saya mendengar gema pelan: suara dedikasi yang tak mencari tepuk tangan.

Marie dan para pustakawan lain bekerja seperti penjaga lilin di ruang besar: mereka memastikan api kecil pengetahuan itu tidak padam. Saya jadi ingat Jorge Luis Borges. Pustakawan Buenos Aires berkata, “Aku selalu membayangkan surga akan seperti perpustakaan.”

Barangkali benar. Sebab di tempat seperti inilah, manusia belajar mencintai sesuatu tanpa pamrih: buku, waktu, dan sesama pencari arti.

Malam itu, sebelum meninggalkan perpustakaan, saya menatap sekali lagi ruang koleksi khusus tempat manuskrip Palembang itu berdiam. Udara masih menyimpan aroma musim semi yang lembut. Entah kenapa, saya teringat wajah Marie, dan juga Khaled, Haidara, Aida—mereka yang menjaga dunia dari kelupaan.

Dan saya sadar: pustakawan bukan sekadar orang yang menata buku, melainkan mereka yang menjaga agar pengetahuan tak kehilangan maknanya agar masa depan tetap bisa membaca masa lalu.

Mungkin, itulah cara mereka bekerja: dengan kesabaran, cinta, dan keyakinan sunyi bahwa setiap naskah yang diselamatkan adalah sepotong cahaya untuk dunia.(*)

Leiden, 13 Juni 2024–Lubuklinggau, 6 November 2025

Daftar Pustaka

Borges, J. L. (1975). Seven Nights. New Directions.

Hammer, J. (2016). The Bad-Ass Librarians of Timbuktu: And Their Race to Save the World’s Most Precious Manuscripts. Simon & Schuster.

The Guardian. (2016, March 12). Meet the man who saved Timbuktu’s ancient manuscripts from destruction. Retrieved from https://www.theguardian.com/world/2016/mar/12/abdel-kader-haidara-timbuktu-manuscripts-mali

UNESCO. (2015, August 19). UNESCO condemns brutal murder of Khaled al-Asaad, archaeologist and caretaker of Palmyra. Retrieved from https://www.unesco.org/en/articles/unesco-condemns-brutal-murder-khaled-al-asaad-archaeologist-and-caretaker-palmyra

The Guardian. (2015, August 18). Palmyra archaeologist beheaded by ISIS after refusing to reveal location of valuable artefacts. Retrieved from https://www.theguardian.com/world/2015/aug/18/palmyra-isis-beheads-archaeologist-khaled-al-asaad

UNESCO. (1992). The burning of Sarajevo’s National Library. Retrieved from https://www.unesco.org/en/articles/sarajevo-national-library-bosnia

University of Sarajevo Library Archives. (2019). Memorial entry: Aida Buturović (1959–1992). Sarajevo.

UNESCO. (2022, April 11). Ukrainian cultural institutions under threat: Libraries and archives among those protecting heritage. Retrieved from https://www.unesco.org/en/articles/ukrainian-cultural-institutions-under-threat

The Washington Post. (2022, April 11). Ukraine’s librarians safeguard national memory amid war. Retrieved from https://www.washingtonpost.com/world/2022/04/11/ukraine-librarians-heritage-war/

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Mereka semua mungkin tidak disebut pahlawan di buku sejarah, tapi tanpa tangan mereka, dunia akan kehilangan sebagian ingatannya.

    ***

    Sebuah tulisan yang sangat menyentuh.
    Terimakasih atas tulisan yang luar biasa.

  • waktu baca ini jadi makin menghargai profesi pustakawan.. yang sering tersembunyi di balik buku-rak, sebagai pilar penting untuk pengetahuan dan peradaban. Salam hangat dari Bandung Bang Bennn 🤗🤗🤗

Leave a Reply to dias Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *