Yang Tabah di Antara Lesatan Peluru

 Yang Tabah di Antara Lesatan Peluru

Sumber: npr.org

Karena kalau kami berhenti membaca, berarti kami sudah benar-benar kalah.

Ahmad al-Rashid

Oleh Benny Arnas

Langit Gaza pagi itu, biru dengan awan gemawan, baru saja pecah. Tapi bukan oleh gerimis, melainkan oleh ledakan bom dan lesatan peluru!

Lima ratus meter ke utara, seorang anak laki-laki berlari di antara reruntuhan sambil memeluk buku bergambar yang hangus bagian tepinya. Serpihan semen beterbangan, tapi matanya menatap lurus, seolah yakin bahwa lembar-lembar pengetahuan di tangannya, akan menyelamatkan masa depan.

Dari foto itu lahir gerakan yang disebut We Love Reading, dimulai di Yordania dan meluas ke kamp-kamp pengungsian di Palestina. Gerakan ini sederhana, nyaris gila dalam konteks perang: mengajak anak-anak membaca dengan suara keras di ruang-ruang kecil yang tersisa, kadang di bawah tenda, kadang di ruang bawah tanah.

Pendiri gerakan itu, Dr. Rana Dajani, seorang ilmuwan asal Yordania, pernah berkata, “Bahkan di bawah kepungan, kami membaca. Karena membaca adalah tindakan pertama untuk membangun kembali kehidupan.”

Bayangkan: di tempat di mana suara paling sering berarti ledakan, seseorang memilih untuk membacakan cerita.

Di antara puing-puing Gaza, anak-anak duduk melingkar, memegang buku sumbangan yang ujung halamannya gosong. Mereka mendengar kisah tentang burung yang berani terbang meski sayapnya terluka. Seorang relawan menulis di dinding bata: al-qira’ah hiya al-hayah alias membaca adalah hidup.

Ah, saya teringat kisah dari abad ke-13. Ketika tentara Mongol membakar Baghdad, tinta buku-buku menghitamkan air Sungai Tigris selama berhari-hari. Tapi di saat dunia tampak berakhir, seorang tabib muda di Kairo, Ibn al-Nafis, menulis dengan tenang. Ia menyusun Al-Shamil fi al-Tibb, ensiklopedia kedokteran terbesar pada zamannya.

Di luar, dunia bergejolak. Di dalam kamarnya yang sempit, ia menulis tentang sirkulasi darah di paru-paru, penemuan yang baru akan dikenal Barat empat abad kemudian.

Bayangkan keberaniannya: menulis dan membaca naskah medis di masa ketika setiap malam bisa berarti serangan berikutnya.

Ia tahu satu hal sederhana: bahwa ilmu tidak lahir dari ketenangan, melainkan dari tekad dan berikhtiar meski dunia hampir berakhir sekalipun.

Berabad-abad kemudian, di Sarajevo, Bosnia, cerita yang sama berulang. Tahun 1992, saat kota itu dikepung dan hujan artileri mengguyur, sebuah perpustakaan megah bernama Vijećnica terbakar. Ribuan manuskrip abad pertengahan berubah menjadi abu. Namun seorang pustakawan tua, Enver Imamović, menyelinap malam-malam ke reruntuhan untuk menyelamatkan naskah yang tersisa.

Ia menulis dalam catatan hariannya, “Ketika buku-buku terbakar, manusia kehilangan ingatan. Aku tak sanggup menjadi saksi tanpa bertindak.” Ia tak berperang dengan senjata, tapi dengan kantong plastik yang ia isi manuskrip, lalu ia selamatkan ke ruang bawah tanah museum.

Di Aleppo, Suriah, tahun 2016, seorang pemuda bernama Ahmad al-Rashid mendirikan perpustakaan darurat di ruang bawah tanah. Di atasnya, kota hancur. Di bawah, buku-buku berserakan di atas meja kayu seadanya. Anak-anak datang membaca. Sebagian membawa senter.

Ketika ditanya kenapa mereka mau repot, Ahmad hanya menjawab, “Karena kalau kami berhenti membaca, berarti kami sudah benar-benar kalah.”

Dan mungkin, kisah paling menggugah berasal dari Somalia tahun 2012. Di Mogadishu, kota yang lama diguncang perang saudara, seorang guru muda bernama Abdirahman M. Osman mendirikan Peace Library. Ia menjual telepon genggamnya untuk membeli buku bekas, lalu membuka ruang baca gratis bagi anak-anak di wilayah yang dipenuhi senjata.

“Aku ingin membuat suara halaman lebih nyaring daripada suara peluru,” kata Osman. Kini, belasan cabang kecil perpustakaannya tumbuh di berbagai distrik. “Meski sebagian besar berdinding seng, tapi isi dari harapan!” katanya dengan mata yang bercahaya.

Sejarah Islam dan dunia sekitarnya penuh dengan sosok-sosok yang yang membaca di tengah “reruntuhan”. Imam Malik menulis al-Muwatta’ ketika Madinah diguncang fitnah politik. Imam Ahmad bin Hanbal menghafal hadis di penjara. Ibnu Taimiyah menulis risalah-risalah pentingnya di balik jeruji. Sementara di Andalusia, Ibnu Rushd tetap menelaah filsafat di masa pengusiran.

Buku-buku mereka lahir bukan dari kenyamanan, tapi dari keberanian melanjutkan perjalanan di tengah badai.

Dan bila kita tarik ke masa kini, semangat yang sama hidup dalam gerakan We Love Reading yang kini menjangkau Suriah, Yaman, Sudan, dan bahkan kamp-kamp pengungsi di Eropa. Anak-anak yang kehilangan rumah, keluarga, dan sekolah menemukan “tempat aman” di antara halaman buku. Karena dalam perang, suara manusia sering tenggelam oleh ledakan, mereka pun membaca keras-keras supaya bisa mendengar suara mereka sendiri. 

Sementara Rana Dajani, sang pendiri, mengatakan sesuatu yang sederhana tapi dalam: “Membaca dengan suara lantang, di hadapan kehancuran, adalah bentuk perlawanan terhadap lenyapnya makna manusia.”

Barangkali, itulah sebabnya bangsa-bangsa yang bertahan selalu punya kisah tentang pembaca yang tangguh. Mereka membaca bukan untuk kesenangan semata, tapi untuk menjadi utuh sebagai manusia, sebagai diri sendiri.

Bagaimanapun, sejarah tidak selalu ditulis oleh pemenang. Kadang ia diselamatkan oleh seorang anak yang menyembunyikan buku di tas kain, oleh guru yang tetap membuka kelas di bawah tenda, oleh seorang ibu di Gaza yang membaca dongeng kepada anaknya sementara di luar suara bom menggema.

Dan dari situ peradaban perlahan bangkit lagi. Dari serpihan, dari puing, dari halaman yang tersisa.

Kita membaca cerita-cerita itu hari ini dari layar yang bersih dan terang. Kita mengeluh kalau kuota menipis, kalau kafe langganan tutup, kalau lampu di kamar redup. Kita menunda membaca karena “sinyal jelek”, atau karena “belum sempat.”

Tapi di Gaza, Sarajevo, Baghdad, Mogadishu, orang-orang membaca di bawah reruntuhan langit. Mereka melafal harapan di tengah bau mesiu. Mereka memeluk buku seperti memeluk hidup itu sendiri.

Lalu kita, yang hanya berurusan dengan notifikasi dan kafe penuh, masih layakkah mengeluh tentang betapa sulitnya membaca?

Ach. Dunia barangkali sedang menunggu kita berhenti mencari-cari alasan.

Begitu.

Lubuklinggau, 10 November 2025

Daftar Pustaka

Dajani, R. (n.d.). We Love Reading: Story and Philosophy. We Love Reading. Diakses dari https://welovereading.org/about/story/

The National News. (2023, April 24). The Jordanian reading initiative shaping young minds around the world. Diakses dari https://www.thenationalnews.com/arts-culture/books/2023/04/24/the-jordanian-reading-initiative-shaping-young-minds-around-the-world/

United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Jordan. (2020, September 21). Jordanian scientist wins UNHCR Nansen Middle East and North Africa Award. Diakses dari https://www.unhcr.org/jo/news/jordanian-scientist-wins-unhcr-nansen-middle-east-and-north-africa-award

Vijećnica. (n.d.). War Destruction. Diakses dari https://www.vijecnica.ba/en/war-destruction

Riedlmayer, A. (2001). Erasing the Past: The Destruction of Libraries and Archives in Bosnia-Herzegovina.Dalam J. Rose (Ed.), The Holocaust and the Book: Destruction and Preservation (hlm. 281–297). Amherst: University of Massachusetts Press.

BBC News. (2016, November 16). The underground library in war-torn Aleppo. Diakses dari https://www.bbc.com/news/world-middle-east-37996579

Mohamed, H. (2019, September 4). Somalia’s peace libraries give children hope amid chaos. Al Jazeera. Diakses dari https://www.aljazeera.com/features/2019/9/4/somalias-peace-libraries-give-children-hope-amid-chaos

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

5 Comments

  • bener ngingetin kita.. tidak hanya untuk membaca, tetapi juga untuk merenungi alasan-alasan kita: Kenapa kita tidak membaca? Sinyal jelek? Malas? Tunda dulu? Di hadapan kisah di sana, alasan-alasan tersebut menjadi begitu rapuh.. 🥹

    • Makasih banyak, Dias, atas pembacannya

  • Sementara siswa Indonesia kalau disuruh baca, bikin PR menulis ulasan, ambil jalan pintas ambil mesin pencari >.<

  • Iqra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *