Apakah Kita Membaca dengan Adil?

 Apakah Kita Membaca dengan Adil?

Membaca menuntut keadilan, bukan hanya kecerdasan.

Oleh Benny Arnas

_______

Saya tidak lagi percaya bahwa ujian membaca terletak pada seberapa rumit teks yang kita hadapi. Justru yang paling menguji bukanlah buku yang sulit, melainkan buku yang tidak kita setujui. Di sanalah membaca berhenti menjadi aktivitas teknis dan berubah menjadi pertarungan batin. Banyak orang sanggup membaca ribuan halaman yang menguatkan keyakinannya, tetapi gelisah, bahkan defensif, saat berhadapan dengan satu paragraf yang mengguncangnya.

Pengalaman itu saya rasakan ketika suatu hari membaca sebuah esai yang bertentangan dengan pandangan yang telah lama saya pegang. Secara teknis, tulisan itu rapi. Argumennya tersusun, rujukannya jelas. Namun alih-alih menimbangnya, saya justru sibuk mencari celah untuk menolaknya. Saya membaca bukan untuk memahami, melainkan untuk membantah. Saat itu saya sadar bahwa kemampuan literasi tidak otomatis melahirkan keadilan intelektual.

Psikologi kognitif memberi penjelasan yang tidak nyaman atas pengalaman tersebut. Confirmation bias membuat manusia cenderung menerima informasi yang sejalan dengan keyakinannya dan mencurigai yang berlawanan. Bias ini bukan kesalahan moral, melainkan mekanisme mental yang bekerja demi rasa aman. Daniel Kahneman menjelaskan bahwa otak lebih menyukai koherensi daripada kebenaran. Ketika sebuah teks mengganggu kerangka berpikir yang telah mapan, sistem pertahanan bekerja lebih cepat daripada nalar.

Masalahnya, bias ini sering menyamar sebagai sikap kritis. Kita merasa sedang berpikir tajam, padahal sebenarnya sedang melindungi keyakinan lama. Kita menguji argumen lawan dengan standar yang jauh lebih ketat, sementara menerima argumen yang sejalan tanpa prosedur serupa. Di titik ini, membaca kritis kehilangan keadilannya. Ia berubah menjadi alat seleksi yang timpang.

Saya menyadari bahwa selama ini membaca kritis kerap saya pahami secara keliru. Saya rajin meragukan teks yang tidak saya sukai, tetapi jarang menginterogasi teks yang saya setujui. Padahal, tantangan sesungguhnya justru terletak di sana. John Stuart Mill pernah mengingatkan bahwa pendapat yang tidak pernah diuji berisiko membatu. Tanpa perjumpaan dengan sanggahan, keyakinan berubah menjadi dogma, bahkan ketika ia benar.

Dalam dunia akademik, prinsip ini dijaga melalui kritik sejawat. Sebuah gagasan tidak dianggap kuat karena disukai banyak orang, melainkan karena sanggup bertahan dari bantahan. Namun dalam praktik membaca sehari-hari, mekanisme ini sering absen. Pembaca lebih suka tinggal di wilayah yang akrab. Algoritma media digital bahkan mempersempitnya dengan menyajikan bacaan yang sejalan dengan preferensi kita sebelumnya. Membaca pun bergerak dalam lingkaran yang semakin sempit.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri, apa gunanya membaca luas jika pikiran tetap sempit. Di titik itu, membaca teks yang berseberangan saya perlakukan sebagai latihan, bukan ancaman. Saya memaksa diri untuk menunda penilaian, membaca hingga tuntas, dan merumuskan ulang argumen penulis dengan adil sebelum mengkritiknya. Latihan ini mengingatkan saya pada prinsip yang dikemukakan filsuf Daniel Dennett, tentang kewajiban memahami argumen lawan dalam bentuk terbaiknya sebelum menolaknya. Tanpa itu, kritik hanya menjadi reaksi emosional yang disamarkan.

Tidak mudah menjalani latihan semacam ini. Ada rasa tidak nyaman ketika keyakinan dipertanyakan. Ada ketakutan bahwa membuka diri berarti melemahkan posisi sendiri. Namun justru di sanalah membaca kritis menemukan maknanya. Ia bukan tentang memenangkan perdebatan, melainkan tentang menguji daya tahan pikiran sendiri. Keyakinan yang kuat tidak runtuh oleh pertanyaan; ia justru menguat karenanya.

Saya juga belajar membedakan antara ketidaksepakatan dan kekeliruan. Tidak semua yang berbeda harus dibantah, dan tidak semua yang kita setujui benar. Dalam banyak isu sosial dan politik, perbedaan pandangan sering lahir dari pengalaman yang berbeda, bukan dari niat buruk. Membaca kritis menuntut kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan sudut pandang sendiri.

Di sinilah membaca menjadi kerja etis. Ia menuntut keadilan, bukan hanya kecerdasan. Keadilan untuk memperlakukan argumen secara setara, tanpa memihak sebelum mendengar. Keadilan untuk menguji gagasan yang kita cintai dengan ketelitian yang sama seperti gagasan yang kita curigai. Tanpa keadilan ini, membaca hanya akan mempertebal tembok keyakinan, bukan memperluas pemahaman.

Saya semakin yakin bahwa membaca kritis bukan soal teknik anotasi, kecepatan baca, atau jumlah referensi. Ia adalah sikap batin. Ia bekerja saat kita berhadapan dengan teks yang membuat kita ingin berhenti, menutup buku, atau mencari pembenaran instan. Di momen itulah pembaca diuji, bukan oleh teks, melainkan oleh dirinya sendiri.

Membaca, dalam pengertian ini, bukan jalan pintas menuju kebenaran, melainkan ruang latihan untuk bersikap jujur pada pikiran sendiri. Kejujuran itu sering kali pahit, karena menuntut kita mengakui bahwa sebagian keyakinan kita rapuh, atau setidaknya belum selesai diuji. Namun tanpa keberanian itu, membaca akan selalu berhenti pada permukaan.

Maka membaca kritis menuntut satu hal yang jarang dibicarakan, kesediaan untuk tidak segera benar. Dalam dunia yang gemar pada kepastian dan posisi tegas, sikap ini terasa asing. Namun justru di sanalah membaca menemukan daya pembebasnya, bukan dengan menambah suara yang kita setujui, tetapi dengan menantang keyakinan yang paling kita jaga.(*)

Lubuklinggau, 24 Desember 2025

_____

Daftar Pustaka

Carr, E.H. (1961) What Is History? London: Penguin Books.

Dennett, D.C. (2013) Intuition Pumps and Other Tools for Thinking. New York: W.W. Norton & Company.

Freire, P. (1970) Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.

Hasher, L., Goldstein, D. and Toppino, T. (1977) ‘Frequency and the conference of referential validity’, Journal of Verbal Learning and Verbal Behavior, 16(1), pp. 107–112.

Kahneman, D. (2011) Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Mill, J.S. (1859) On Liberty. London: John W. Parker and Son.

Orwell, G. (1946) ‘Politics and the English Language’, Horizon, April 1946.

Taleb, N.N. (2007) The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable. New York: Random House.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Bacaan ini tuh kayak refleksi kecil tentang kebiasaan kita nge-scroll komentar atau artikel 😣 aku suka banget nge-judge cepat-cepat. Waktu baca esai Bang Ben ini ngingetin kalau baca adil itu bukan cuma soal paham isi, tapi juga berani dengerin argumen yang beda dulu baru nge-judge. Serasa dikasih reminder buat baca bukan buat menang debat, tapi buat ngerti lebih dalam 😊👍🏻

Leave a Reply to Benny Arnas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *