Apa yang Saya Pikirkan ketika Saya (akan) Bicara di Hadapan Banyak Orang
Pembicara dalam BImte Literasi di Natuna, Kepulauan Riau (2023)
“People don’t remember everything — they remember structure.”
Oleh Benny Arnas
Kalimat itu datang kepada saya belakangan, tapi saya tak pernah menyebutnya terlambat. Ia seperti kunci yang menjelaskan mengapa selama bertahun-tahun saya berbicara di depan banyak orang dengan hasil yang tidak pernah benar-benar konsisten.
***
Sebelum 2020, saya mengandalkan dua hal: kepercayaan diri dan penguasaan materi. Saya percaya diri karena saya terbiasa bicara. Saya menguasai materi karena saya memang hidup di dalamnya—mengajar menulis, membaca, dan berdiskusi adalah keseharian saya. Dengan dua modal itu, saya melangkah ke kelas-kelas menulis, pelatihan, seminar, dan berbagai forum lainnya dengan keyakinan: saya akan baik-baik saja.
Dan memang, sering kali saya baik-baik saja.
Sebagian kelas berjalan hidup. Peserta tertawa, bertanya, dan mencatat. Sebagian lagi terasa datar. Memang tidak buruk, tapi tidak membekas. Dan tentu saja ada juga yang gagal total: saya berbicara panjang, peserta diam, waktu terasa lambat, dan ketika selesai, tidak ada yang benar-benar terjadi.
Saat itu saya mengira masalahnya jelas; gagap bawaan yang belum sepenuhnya saya atasi, audiensnya tidak cocok, energi audiens yang sedang turun, mungkin karena giliran saya jatuh berdekatan dengan jam makan siang, dan lain sebagainya. Tapi, tanpa bermaksud menghibur diri, tampaknya saya keliru.
Lalu pandemi pun datang.
Segalanya berhenti. Panggung-panggung itu hilang. Ruang-ruang fisik berganti layar. Dan di tengah jeda itu, saya mulai melihat ulang diri saya dengan lebih jujur.
Saya menyadari sesuatu yang tidak nyaman: selama ini saya berbicara tanpa benar-benar tahu bagaimana cara menyusun apa yang saya katakan.
Saya tahu isi, tapi tidak tahu bentuk. Saya punya banyak hal untuk disampaikan, tapi tidak tahu bagaimana membuat orang mengikuti.
Maka saya mulai dari nol. Saya tidak lagi mendengar dan menyimak sebagai penikmat, tapi sebagai pengamat yang detail. Saya bertanya: mengapa saya bertahan mendengarkan mereka? Mengapa saya ingat apa yang mereka katakan, bahkan setelah lama berlalu? Jawabannya hampir selalu sama: bukan karena mereka mengatakan semuanya, tapi karena mereka menyusunnya.
Namun satu hal yang benar-benar mengubah cara saya berpikir justru datang dari keputusan yang sangat sederhana—bahkan nyaris teknis: saya mulai menuliskan apa yang akan saya katakan.
Awalnya terasa seperti mengikat angin. Saya takut kehilangan spontanitas. Tapi saya tetap melakukannya. Peserta kelas menulis daring saya—terutama mereka yang bersama saya sejak 2020 hingga 2023—tahu persis hal ini. Ketika mereka membaca salinan esai tentang sebuah materi, mereka sebenarnya sedang membaca transkrip dari sesuatu yang baru saja saya ucapkan di depan layar secara langsung. Bukan ringkasan. Bukan catatan tambahan. Tapi bentuk utuhnya. Saat itu, mungkin mereka bergumam atau tertawa, “Lho, ternyata semuanya tadi hafalan, bukan spontanitas. Pantes lancar!”
Saya tak peduli reaksi mereka setelah mengetahui “rahasia” presentasi itu. Saya hanya mau mengatakan bahwa: sebelum saya berbicara, isi kepala saya berubah. Ia tidak lagi berupa daftar isi, melainkan peta perjalanan. Dan peta itu, perlahan, memiliki beberapa titik yang selalu saya cek sebelum saya melangkah.
1. Saya memulai dari janji, bukan candaan
Dulu, saya membuka dengan sesuatu yang ringan—candaan kecil, komentar situasional, atau ice breaking yang terasa aman. Bahkan dalam banyak forum, saya melihat bagaimana waktu bisa habis 20 hingga 25 persen hanya untuk membuat orang tertawa, cair, atau sekadar “hangat”. Sekarang, saya tidak lagi memberi ruang untuk itu—atau setidaknya, hampir tidak sama sekali.
Bukan karena saya menolak kehangatan, tapi karena saya sadar: waktu selalu terbatas, dan perhatian lebih terbatas lagi. Terlalu sayang menghabiskan waktu hanya untuk sesuatu yang tidak akan dibawa pulang.
Maka sebelum berbicara, saya memikirkan satu hal yang lebih berisiko: janji.
Saya bertanya: apa yang akan mereka dapatkan di akhir?
Janji itu menggantung sejak awal. Ia menjadi kompas. Dan seluruh pembicaraan saya harus bergerak menuju ke sana.
2. Saya membantu mereka menyibak kabut dengan pengulangan (cycling)
Saya sering membayangkan audiens seperti berjalan di tengah kabut. Kata-kata saya bisa menjadi kabut itu sendiri—padat, berlapis, dan kadang membingungkan.
Di dalamnya ada sesuatu yang berharga. Tapi tidak semua orang bisa langsung melihatnya. Sebagaimana ketika saya berceramah panjang lebar tentang pentingnya inti cerita, dan saya mengulang-ulang pentingnya premis atau betapa karakterisai yang baik adalah sesuatu yang tak bisa ditawar dalam prosa atau setiap kreator harus punya argumentasi moral.
Maka sebelum berbicara, saya sudah tahu: di mana saya akan kembali ke ide yang sama.
Saya tidak hanya mengatakan sekali. Saya memutarnya. Agar mereka tahu kalau premis harus duduk dalam kepala atau plot harus mengaliri darah cerita. Saya mendatanginya lagi dari sisi yang berbeda.
Itulah cycling.
Seperti seseorang yang mengelilingi sesuatu hingga bentuknya menjadi jelas. Pengulangan bukan lagi kelemahan, tapi alat untuk membuka pemahaman.
3. Saya memberi tanda baca dalam suara (verbal punctuation)
Dulu, saya berbicara seperti aliran panjang tanpa jeda. Sekarang, saya menandai.
Saya tahu kapan harus berkata:
ini penting.
kita berhenti sebentar di sini.
pahami ini!
sekarang kita masuk bagian berikutnya.
Itulah tanda baca dalam suara.
Tanpa itu, audiens hanya mendengar. Dengan itu, mereka mulai mengikuti.
4. Saya membangun batas dan definisi
Dulu, saya ingin menjelaskan semuanya. Sekarang, saya justru membatasi.
Saya bertanya: apa yang termasuk dalam pembahasan ini, dan apa yang tidak?
Saya mendefinisikan. Saya memperjelas perbedaan.
Dengan begitu, audiens tidak hanya menerima informasi, tapi memahami posisi. Mereka tahu apa yang sedang mereka pelajari—dan apa yang tidak.
5. Saya memberi latihan sebelum pertanyaan
Dulu, saya menutup dengan tanya jawab. Sekarang, saya menunda itu.
Saya memberi latihan.
Karena saya sadar: pertanyaan sering muncul sebelum pemahaman matang. Tapi latihan memaksa mereka menguji.
Di situ, mereka tidak hanya mengerti—mereka membuktikan.
Dan setelah itu, pertanyaan menjadi lebih tajam, lebih relevan, lebih hidup.
***
Semua itu tidak terjadi saat saya berbicara.
Semua itu terjadi sebelum saya berbicara.
Semua cara di atas adalah bukanlah ilmu wicara publik ala saya. Bukan! Saya hanya mengamalkan apa yang Carmine Gallo tulis dalam Talk Like TED, Chip Heath & Dan Heath lewat Made to Stick atau Barbara Minto dalam The Pyramid Principle. Oh juga, ringkasan siniar The Tim Ferriss Show, How I Built This dari NPR dan The Knowledge Project dan … tentu saja kuliah legendarisnya Patrick Wilson “How to Speak”.
Sekarang, setiap kali saya akan berdiri di hadapan banyak orang, akan memikirkan:
apakah janji saya jelas,
apakah jalannya bisa diikuti,
apakah kabutnya bisa terbuka,
dan apakah mereka akan pulang dengan “keyakinan mengamalkan”–bukan sekadar pengetahuan.(*)
Lubuklinggau, 28 Maret 2026
4 Comments
Terkadang kelebihan kita datang setelah kita mengambil jalur yg sedikit memaksa untuk menjadi versi terbaik diri kita sendiri,
Berbicara didepan umum bukan hanya sekedar seni Mr.Venn
Trims Venn sdh mengingatkan dalam tulisan ini,
– GAGAP –
Aduh, membaca tulisan ini rasanya seperti melihat proses “menenun” sebuah gagasan. Ada kerendahan hati yang cantik saat mengakui bahwa kecemerlanganmu adalah hasil dari belajar dan menghargai karya-karya hebat seperti Talk Like TED atau Made to Stick.
Tulisan ini jujur sangatt relate, terutama soal bagaimana ketakutan sering datang dari pikiran sendiri. Namun, akan lebih kuat jika juga membahas bagaimana tekanan sosial dan ekspektasi audiens ikut membentuk rasa cemas tersebut 😖
Kerennn Bang Benn, bacanya jadii keinget diri sendiri ternyata musuh terbesar sebelum ngomong di depan orang itu ya overthinking sendiri 😭