Apa yang Dibutuhkan untuk Melihat Masa Depan?

 Apa yang Dibutuhkan untuk Melihat Masa Depan?

Di dunia yang bergerak cepat, masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling cepat bereaksi, tetapi oleh mereka yang paling mampu membayangkan kemungkinan ….

Oleh Benny Arnas

_______

Banyak orang rajin tetapi tidak kreatif. Banyak orang cerdas tetapi terjebak dalam pola lama. Banyak pula orang pintar, bahkan sangat pintar, namun tidak kunjung mampu berinovasi. Mereka bekerja keras, menguasai teori, mengoleksi sertifikat, dan mengikuti prosedur dengan disiplin tinggi. Namun ketika perubahan datang, mereka gagap. Ketika dunia bergeser, mereka tertinggal. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka kurang pengetahuan, melainkan mengapa pengetahuan itu tidak menjelma menjadi kemampuan melihat kemungkinan baru.

Jawabannya sederhana, sekaligus tidak nyaman: karena untuk berubah, pengetahuan saja tidak cukup.

Zaman kita memuja pengetahuan dalam bentuk yang terukur. Indeks, skor, gelar, dan sertifikasi menjadi penanda kecakapan. Informasi tersedia dalam limpahan nyaris tak terbatas, dari kursus daring hingga ringkasan cepat buku-buku penting. Namun kelimpahan ini tidak otomatis menghasilkan daya cipta. Banyak orang tahu apa yang sedang terjadi, tetapi gagal membayangkan apa yang mungkin terjadi setelahnya.

Fenomena ini tampak jelas sejak ledakan kecerdasan buatan generatif pada 2022 hingga sekarang. Model bahasa besar, sistem visual generatif, dan otomatisasi kognitif berkembang jauh lebih cepat daripada kesiapan institusi untuk memikirkan implikasinya. Di banyak tempat, respons awal justru bersifat reaktif: pelarangan, kecemasan moral, atau sekadar menempelkan teknologi baru ke cara kerja lama. Padahal, laporan McKinsey Global Institute 2023 menunjukkan bahwa AI generatif bukan hanya alat efisiensi, melainkan teknologi yang berpotensi mengubah struktur kerja intelektual dan relasi manusia dengan pengetahuan. Informasi tentang teknologinya tersedia luas, tetapi imajinasi institusional untuk membaca masa depannya tertinggal.

Di sinilah perbedaan antara mengetahui dan membayangkan menjadi penting. Pengetahuan menjelaskan dunia sebagaimana adanya. Imajinasi memungkinkan kita memikirkan dunia sebagaimana mungkin adanya. Untuk melihat masa depan, seseorang tidak cukup menambah data, tetapi perlu melatih kemampuan melihat banyak kemungkinan dari data yang sama.

Filsuf Hannah Arendt, dalam refleksinya tentang berpikir, menekankan pentingnya kemampuan mengambil jarak dari kebiasaan mental. Baginya, berpikir bukan sekadar mengolah informasi, melainkan menghentikan arus otomatis kebiasaan agar sesuatu yang baru bisa dipertimbangkan. Tanpa jarak ini, kecerdasan mudah berubah menjadi pengulangan yang rapi. Imajinasi bekerja justru di ruang jeda itu, di antara apa yang sudah diketahui dan apa yang belum terbentuk.

Namun imajinasi tidak muncul dari kekosongan. Ia membutuhkan latihan, dan latihan itu menuntut kesabaran. Salah satu medium terpentingnya adalah pergaulan dengan teks-teks yang tidak segera memberikan inti dan kesimpulan. Buku-buku yang tidak ramah terhadap pembaca tergesa. Teks-teks yang memaksa pembaca bertahan dalam ketidakjelasan, mengikuti argumen panjang, dan menerima bahwa pemahaman datang secara bertahap.

Riset tentang membaca mendalam menunjukkan mengapa hal ini penting. Maryanne Wolf menjelaskan bahwa membaca teks kompleks secara perlahan mengaktifkan jaringan saraf yang berkaitan dengan inferensi, empati, dan penalaran reflektif. Berbeda dengan konsumsi informasi cepat, membaca mendalam melatih otak untuk menunda kepastian dan mengelola ambiguitas. Dari sinilah kemampuan imajinatif bertumbuh. Seseorang belajar bahwa makna tidak selalu hadir sekaligus, dan bahwa ketidakpastian bukan sesuatu yang harus segera disingkirkan.

Sebaliknya, budaya ringkas membentuk kecerdasan yang efisien tetapi rapuh. Kita terbiasa memahami potongan informasi, tetapi jarang mengaitkannya dalam gambaran besar. Kita cepat menanggapi, tetapi jarang merenung. Akibatnya, banyak orang tampak pintar dalam sistem yang stabil, namun kehilangan arah ketika sistem itu terguncang.

Krisis rantai pasok global yang berlarut hingga 2024 menunjukkan hal ini dengan jelas. Banyak perusahaan memiliki data logistik canggih dan sistem perencanaan modern. Namun ketika konflik geopolitik, perang Ukraina, dan ketegangan di Laut Merah memperpanjang gangguan distribusi, hanya sedikit yang benar-benar siap. Perusahaan yang relatif tangguh adalah mereka yang sebelumnya berani membayangkan skenario ekstrem dan tidak sepenuhnya tunduk pada logika efisiensi maksimal. Yang bekerja bukan sekadar pengetahuan teknis, melainkan imajinasi strategis.

Imajinasi semacam ini tidak dibentuk oleh presentasi singkat atau buku panduan cepat. Ia tumbuh dari kebiasaan berpikir panjang. Dari kesediaan membaca teks-teks yang tidak langsung relevan secara praktis, tetapi memperluas cara melihat dunia. Sastra, sejarah panjang, filsafat, dan karya ilmiah klasik tidak memberi manfaat instan. Namun justru karena itulah ia melatih daya tahan intelektual.

Sejarawan Peter Burke pernah menekankan pentingnya kesadaran akan luasnya ketidaktahuan manusia dalam perkembangan pengetahuan. Kesadaran ini bukan melemahkan, melainkan membebaskan. Orang yang sadar bahwa ia tidak tahu segalanya lebih terbuka terhadap kemungkinan baru. Imajinasi tumbuh subur pada pikiran yang tidak merasa selesai.

Membaca buku-buku sulit melatih kesadaran semacam itu. Ia mengajarkan bahwa pemahaman adalah proses, bukan hasil cepat. Dan masa depan pun bekerja dengan logika yang sama. Ia tidak hadir sebagai kepastian tunggal, melainkan sebagai kumpulan kemungkinan yang saling bersaing.

World Economic Forum dalam laporan Future of Jobs 2024 bahkan menempatkan pemikiran analitis, kreativitas, dan literasi kompleks sebagai keterampilan kunci masa depan, sejajar dengan kecakapan teknologi. Ini pengakuan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh alat yang kita miliki, tetapi oleh cara kita membayangkan penggunaannya.

Maka, apa yang dibutuhkan untuk melihat masa depan? Bukan sekadar pengetahuan yang lebih banyak, melainkan hubungan yang lebih dalam dengan pengetahuan itu sendiri. Kita membutuhkan imajinasi yang terlatih, yang tumbuh dari kesabaran membaca, dari keberanian menghadapi teks sulit, dan dari kebiasaan berpikir melampaui pola lama.

Di dunia yang bergerak cepat, masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling cepat bereaksi, tetapi oleh mereka yang paling mampu membayangkan kemungkinan sebelum kemungkinan itu menjadi kenyataan.(*)

Lubuklinggau, 30 Desember 2025

______

Daftar Pustaka

Arendt, H. (1978). The Life of the Mind. New York: Harcourt Brace Jovanovich.

Burke, P. (2012). A Social History of Knowledge II: From the Encyclopaedia to Wikipedia. Cambridge: Polity Press.

McKinsey Global Institute. (2023). The Economic Potential of Generative AI: The Next Productivity Frontier. New York: McKinsey & Company.

Nussbaum, M. C. (2010). Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities. Princeton: Princeton University Press.

Sawyer, R. K. (2012). Explaining Creativity: The Science of Human Innovation (2nd ed.). Oxford: Oxford University Press.

Wolf, M. (2007). Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain. New York: HarperCollins.

Wolf, M. (2018). Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World. New York: HarperCollins.

World Economic Forum. (2024). The Future of Jobs Report 2024. Geneva: World Economic Forum.

World Economic Forum. (2023). Global Risks Report 2023. Geneva: World Economic Forum.

i

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

4 Comments

  • Keren tulisannya Bang Benn, ngena banget soal masa depan itu bukan cuma ditebak, tapi dibentuk dari cara kita mikir dan ngelihat kemungkinan hari ini 😆👌🏻

    • Makasih banyak, Dias, sudah (selalu) membaca …

  • Terimakasih bang ben, saya sekarang sedang mencoba membangun kebiasan untuk membaca dan menulis, dalam membaca sering kali yang saya kejar adalah kecepatan dengan menggunakan target tertentu, semisal 1 buku 200 halaman harus selesai dalam seminggu, target ini berhasil, namun isi bacaan sering kali terlupa bahkan secara keseluruhan, membaca tulisan saya mulai tersadar bahwa kecapatan bukan hal utama, dan membeca mendalam adalah solusi yang akan saya coba.

    • Semoga upayanya diberikan kemudahan dan kegembiraan, Mas

Leave a Reply to Benny Arnas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *