Ia, yang Mati, dalam Pelukan Buku

 Ia, yang Mati, dalam Pelukan Buku

Sumber:A giraffe from Kitāb al-ḥayawān (Book of the Animals) by the 9th century naturalist Al-Jahiz.

Seorang yang hidupnya dihabiskan di bawah cahaya tinta, wafat di bawah bayangan pengetahuan yang ia kumpulkan sendiri.

Oleh Benny Arnas

Di Basrah abad ke-9, pagi selalu dimulai dengan hiruk pasar kertas. Bau tinta dan kulit domba kering berbaur dengan suara para penyalin yang sibuk menulis huruf-huruf Arab di atas kertas Samarkand. Di tengah riuh itu, ada seorang pemuda kurus berkulit gelap yang jarang membeli apa pun. Ia hanya membaca, lama sekali. Pemilik toko sudah mengenalnya, dan membiarkan saja, karena toh anak itu tak merusak, tak mencuri, hanya menatap buku seperti menatap hidupnya sendiri.

Namanya Amr ibn Bahr al-Kinani, kelak dijuluki Al-Jahiz, “si bermata menonjol.” Julukan yang konon lahir karena matanya yang besar, tapi orang-orang tahu: yang sesungguhnya menonjol darinya bukan mata, melainkan pikirannya. Ia membaca tanpa lelah, bukan karena tuntutan, tapi karena rasa haus yang tak pernah terpadamkan. Ia miskin, tapi pikirannya berlimpah. Ia tak punya guru tetap, tapi setiap buku adalah guru. Ia tak punya ruang belajar, tapi setiap halaman adalah ruang sunyi tempat ia berziarah pada pengetahuan.

Basrah pada masa itu adalah kota ilmu, tempat ulama, filsuf, dan penyair bersilang kata. Di antara mereka, Al-Jahiz tumbuh dengan rasa ingin tahu yang menggelegak. Ia menyaksikan orang-orang memperdebatkan makna Tuhan dan logika, membicarakan bentuk bumi, menulis ulang naskah Aristoteles, dan menafsirkan puisi Jahiliyah. Dunia pengetahuan baginya seperti pasar besar yang tak habis-habis dijelajahi. Dan di sanalah ia menemukan cara hidupnya: belajar tanpa menunggu izin siapa pun.

Ia tidak sekadar membaca untuk tahu, tapi membaca untuk hidup.

Dalam salah satu kisah yang ditulis muridnya, disebutkan bahwa Al-Jahiz sering lupa makan karena asyik membaca. Kadang ia membawa roti basi di sakunya, menggigitnya sambil terus menatap halaman. Di rumah, ia menyalin kalimat yang ia temukan di toko buku, menumpuknya jadi catatan-catatan. Sebagian menjadi bahan tulisannya kelak, sebagian lagi hilang, mungkin terbawa angin Basrah yang hangat.

Ia menulis tentang segalanya: bahasa, politik, zoologi, filsafat, agama, bahkan lelucon. Ia percaya ilmu tidak boleh kaku. Maka dalam Kitab al-Bukhala’ (Kitab tentang Orang Kikir), ia memotret manusia dengan gaya yang lucu sekaligus getir; dalam Kitab al-Hayawan (Kitab tentang Hewan), ia menggabungkan sains dan sastra, memperhatikan tingkah binatang dengan mata yang tajam dan hati yang penuh rasa ingin tahu. Ia menulis bahwa hewan memiliki naluri bertahan hidup yang bisa dipelajari manusia, sebuah gagasan yang kelak dianggap sebagai salah satu cikal bakal teori evolusi.

Namun kisah Al-Jahiz tidak berhenti di Basrah abad ke-9. Ia hidup dalam bentuk lain di zaman ini, dalam diri orang-orang yang masih membaca meski dunia tak lagi percaya pada kesabaran.

Jika Al-Jahiz lahir di masa sekarang, ia mungkin bukan di Basrah, tapi di Mogadishu, Kairo, atau Lagos, tempat internet lemah tapi semangat belajar tetap keras kepala. Mungkin ia akan duduk di sudut perpustakaan kecil, meminjam ponsel temannya untuk membaca PDF gratis, lalu menulis catatan panjang di aplikasi memo yang penuh iklan.

Dan memang, sosok-sosok seperti itu ada.

Di Somalia, setelah dua dekade perang saudara, sebuah gedung tua di Mogadishu dibersihkan dari debu dan sisa peluru. Di situlah Perpustakaan Umum Mogadishu, setelah 25 tahun, berdiri kembali. Setiap sore, anak-anak datang, duduk di antara rak yang belum sepenuhnya terisi. Salah satunya, Maryam Hassan. Gadis 17 tahun itu berkata kepada seorang jurnalis, “Di rumah kami tak punya buku. Tapi di sini aku bisa membaca, dan rasanya seperti melihat dunia yang lebih luas.”

Di Mesir, seorang gadis bernama Aya Khalil, cucu imigran, menulis buku anak-anak berjudul The Arabic Quilt, cerita tentang identitas dan bahasa yang ia cintai tapi orang lain ejek. Dalam wawancaranya, Aya berkata, “Aku menulis buku ini karena dulu aku tumbuh tanpa buku yang mencerminkan diriku.”

Di Nigeria, bayangan Al-Jahiz muncul dalam sosok Okada Books, platform digital yang dibuat untuk orang-orang miskin kota yang tak sanggup membeli buku cetak. Mereka membaca lewat ponsel bekas, di tengah kebisingan jalanan Lagos. Para pendirinya percaya bahwa “buku bukan untuk elit, tapi untuk siapa saja yang butuh jendela.”

Dan di Indonesia, di antara gang-gang padat kota, ada taman bacaan masyarakat yang diisi oleh relawan muda yang datang dengan sepeda motor, membawa dus-dus buku bekas untuk anak-anak yang belum tahu cara mengeja namanya sendiri. Salah seorang relawan Benny Institute yang kini mengabdi di Muratara, daerah tertinggal di Sumatra Selatan, berkata, “Kami tidak mengajar membaca, kami mengembalikan rasa ingin tahu.”

Jika kita menyebut mereka “Al-Jahiz masa kini,” warisan yang mereka teruskan bukanlah sekadar buku atau teori, melainkan sikap terhadap pengetahuan: bahwa ilmu bukan milik siapa pun.

Bahwa membaca adalah tindakan melawan batas, baik batas ekonomi, politik, maupun nasib.

Al-Jahiz tidak pernah kaya. Bahkan ketika sudah terkenal, ia tetap hidup sederhana, menghabiskan waktunya untuk menulis dan berdiskusi di tepi sungai Shatt al-Arab. Ia pernah ditawari jabatan di istana Abbasiyah, tapi menolak. Ia lebih memilih kebebasan berpikir. “Aku menulis bukan untuk dipuja,” katanya, “tapi agar pikiranku tidak membusuk di dalam kepalaku.”

Kata-kata itu, seribu tahun kemudian, masih terasa segar. Di dunia yang mudah jenuh, membaca—apalagi menulis—sering dianggap tidak praktis. Tapi bagi Al-Jahiz, justru di sanalah letak martabat manusia: kemampuan untuk berpikir, memeriksa, mempertanyakan. Membaca adalah cara melatih akal, seperti berdoa adalah cara menenangkan hati.

Di akhir hidupnya, penglihatan Al-Jahiz mulai melemah. Ia tak lagi bisa membaca dalam waktu lama. Tapi ia meminta muridnya membacakan buku-buku di hadapannya. Ia mendengarkan, menutup mata, dan sesekali menyela: “Ulangi kalimat itu. Di situ ada makna yang belum selesai.” Ia terus belajar bahkan ketika tubuhnya tak lagi mampu. Dan mungkin itulah yang membuat kematiannya terasa bukan akhir, melainkan kelanjutan dari apa yang sudah ia lakukan seumur hidup: mencari makna di antara huruf.

Kini, setiap kali seseorang membaca dalam keterbatasan: membuka buku di bawah cahaya redup, membaca dengan layar ponsel yang retak sana-sini, atau membaca dalam bahasa yang belum sepenuhnya dikuasai, nama Al-Jahiz seakan hidup kembali. Ia tidak lagi hanya milik Basrah atau dunia Islam, tapi milik semua orang yang menolak menyerah pada kebodohan.

Maka ketika ia akhirnya meninggal dunia, ditimpa rak buku di rumahnya sendiri, banyak orang melihatnya bukan sebagai tragedi, melainkan penutup yang puitis. Seorang yang hidupnya dihabiskan di bawah cahaya tinta, wafat di bawah bayangan pengetahuan yang ia kumpulkan sendiri.

Ya, lelaki bermata besar dari Basrah itu, telah mengajarkan satu hal yang sederhana tapi abadi:

bahwa pengetahuan bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk ditinggali.(*)

Lubuklinggau, 11–12 November 2025

Daftar Pustaka

Bloom, J. M. (2001). Paper before print: The history and impact of paper in the Islamic world. Yale University Press.

Brown, R. (2019, August 19). Somalia’s first public library in 20 years opens in Mogadishu. BBC News Africa. https://www.bbc.com/news/world-africa-33908363

Dajani, R. (2021). Five lessons from the We Love Reading movement. Nature, 595(7868), 459. https://doi.org/10.1038/d41586-021-01904-0

Ibn al-Nadim. (1970). The Fihrist of al-Nadim: A tenth-century survey of Muslim culture (B. Dodge, Trans.). Columbia University Press.

Khalil, A. (2020). The Arabic quilt: An immigrant story. Tilbury House Publishers.

Makdisi, G. (1981). The rise of humanism in classical Islam and the Christian West: With special reference to scholasticism. Edinburgh University Press.

Ofili, O. (2019, July 23). Nigeria’s OkadaBooks offers a digital platform for African authors. Reuters. https://www.reuters.com/article/us-nigeria-books-idUSKCN1UI1Z5

Pellat, C. (1969). The life and works of al-Jahiz: Translations and studies. Routledge & Kegan Paul.

Reuters. (2015, August 23). Somalia opens first public library in 25 years. https://www.reuters.com/article/us-somalia-library-idUSKCN0QS0CD20150823

Zirkle, C. (1941). Natural selection before the “Origin of Species.” Proceedings of the American Philosophical Society, 84(1), 71–123.


Catatan Tambahan

  • Kutipan “Aku menulis bukan untuk dipuja…” adalah parafrase dari gagasan Al-Jahiz dalam Risalah fi al-Qudra wa al-Ma‘dira, ed. ʿAbd al-Salam Harun (Cairo, 1964).
  • Informasi tentang Perpustakaan Umum Mogadishu bersumber dari BBC (2015) dan Reuters (2015), keduanya dapat diverifikasi melalui arsip daring.
  • Data tentang OkadaBooks dan Aya Khalil diambil dari laporan Reuters dan wawancara NPR.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Pernah ada yang bertanya, “Kalau kamu mati, memilih mati di mana?”

    Jelas aku tidak mau mati di tempat tidur. Aku ingin mati saat traveling di sebuah negara, di makamkan entah di mana.

    Tapi mungkin, agar istri-anak-cucu-cicit bisa menziarahi, bolehlah aku mati di perpustakaan rumah. Aku juga ingin dimakamkaydi rumah dimana di setiap ruangannya ada rak dengan ribuan buku. Itu sebab aku namai “Museum Literasi Gol A Gong”. Aku sedang menyusunnya pelan-pelan. Itulah nanti yang aku tinggalkan untuk masa depan.

    Aku sebetulnya sudah memulai ini setelah tangan kiriku diamputasi, Ben. Membaca buku agar aku lupa memiliki kekurangan.

    Kemudian aku, istri, dibantu sahabat dan relawan membangun “Rumah Dunia” bukan dimaksudkan untuk sekedar membaca. Tapi aku sedang memindahkan dunia ke rumah lewat jurnalistik, sastra, dan film. Buku harus membuat orang-orang berdaya.

    Kematian Al Jahiz – lelaki bermata besar dari Basrah karena tertimpa rak buku, itu sangat puitis, mengandung simbol yang tak akan bisa diwujudkan dalam bentuk apapun. Itulah kematian yang indah. Tuhan langsung turun tangan. Sangat ikonik. Walaupun terkesan ironi, saya jadi teringat kematian John Lennon di tangan fans beratnya….

    • Wah.
      Terima kasih sharing-nya, Kang.
      Nama Al-Jahiz ini selalu ingin kukisahkan.
      Tapi selalu saja bingung menulis ringkasnya.
      Baru sekarang bisa nemu polanya.
      Makasih dah mampir dan berbagi, Kang.

Leave a Reply to Benny Arnas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *