Keliru Membaca, Zagreb Belok ke Kairo
Darosah, Kairo (Dokumentasi pribadi, November 2025)
Kabar baik hanya untuk orang yang baik.
Oleh Benny Arnas
Setiap orang merasa dirinya cukup peka membaca sinyal kehidupan. Kita percaya mampu membedakan mana peluang, mana peringatan, mana anugerah, mana jebakan. Kita merasa terbiasa menafsirkan arah, seakan hidup selalu memberi tanda yang mudah diikuti. Namun, sering kali, manusia berdiri tepat di depan papan petunjuk besar hanya untuk membaca arahnya terbalik.
Itulah yang saya rasakan ketika rencana residensi sastra saya di Zagreb runtuh seketika setelah visa Schengen saya ditolak Konsuler Kroasia.
Badan Bahasa telah menyiapkan anggaran, jadwal, program, dan masa tinggal. Saya tinggal berangkat. Tapi satu dokumen penolakan cukup menggugurkan seluruh rangkaian itu.
Dari Paris, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, yang mulanya diharapkan memberi jalan ke Kroasia via Prancis, justru berkata dengan tegas: “Berisiko. Kalau mau anggarannya terserap, lupakan Eropa.”
Saat itu, saya mengira saya sedang ditutup jalannya. Namun belakangan, saya menyadari:
saya sedang disuruh berhenti membaca hidup secara keliru.
Hambatan yang mengubah arah
Setelah penolakan itu, saya mencari negara alternatif yang bisa menerima saya lebih cepat. Undangan dari mahasiswa Azerbaijan datang dengan sangat mudah, mungkin karena saya pernah mengajar di KBRI Baku. Namun hati saya justru ragu. Ada bisikan kecil: “Apakah kau benar-benar memilih tempat ini untuk berkarya, atau hanya untuk menyelamatkan anggaran negara?”
Dalam keresahan, saya menengok kembali proyek sastra saya. Dua kota muncul: Zagreb dan Kairo. Zagreb sudah mustahil. Tinggal Kairo. Dan entah bagaimana, Kairo terasa seperti panggilan yang telah lama menunggu.
Namun Kairo berarti berhadapan lagi dengan proses visa. Dan setelah penolakan Kroasia, saya cukup trauma.
Belakangan, ketika saya sudah lebih tenang, saya sadar: pengalaman seperti ini bukan dialami saya seorang. Banyak tokoh dunia justru mencapai puncaknya setelah diseret keluar dari rencana awal.
Van Gogh gagal menjadi misionaris sebelum kembali ke kanvas. Stephen King berkali-kali ditolak sebelum istrinya—yang lebih jernih membaca sinyal hidupnya—mengambil naskahnya dari tong sampah.
Kehidupan manusia memang sering memulai perubahan besar lewat hambatan kecil.
Mungkin di titik itu saya perlu mengakui: penolakan bukan akhir; sering ia adalah koreksi arah.
Ketika ambisi membutakan hal-hal kecil
Saya menghubungi KBRI Kairo untuk meminta dukungan. Awalnya tidak dibalas. Lalu birokrasi kembali jadi labirin: agen visa meminta dokumen baru, konsuler meminta surat tambahan, Badan Bahasa harus bersurat ulang, saya membuat draf surat, lalu direvisi lagi.
Pada masa itu, saya sadar sesuatu yang lebih dalam: ambisi yang terlalu keras bisa menghitamkan sisi-sisi kecil kehidupan yang seharusnya saya jaga. Saya ingat bagaimana Jane Goodall pernah menyesali tahun-tahunnya di hutan Afrika karena terlalu tenggelam dalam penelitian sampai ia lupa keseharian ibunya di Inggris.
Saya sepertinya sedang berada dalam situasi seperti itu: mengejar sesuatu terlalu jauh, lalu lupa siapa saja yang terkena efek sampingnya.
Saya sendiri telah beberapa minggu melewatkan kelas-kelas di Benny Institute. Mengurangi kunjungan ke rumah ibu. Menyita waktu malam istri dan anak-anak. Saya merasa sedang mempersiapkan diri demi negara, padahal tanpa saya sadari, saya sedang menekan hak-hak kecil orang-orang dekat.
Ketika Istri berkata, “Jangan-jangan banyak hal yang kau zalimi tanpa sadar,” saya tak bisa membantah. Kata-katanya seperti menohok dada yang sebelumnya hanya diisi ambisi.
Dan di momen itu saya mulai paham: kegagalan saya membaca sinyal ternyata tidak datang dari Kroasia atau Mesir, tetapi dari ruang rumah sendiri, yang belakangan saya lalui tanpa benar-benar hadir.
Kairo dan sinyal yang berkali-kali saya abaikan
Ketika akhirnya Mas Fauzan dari KBRI Kairo membalas pesan saya—di tengah kesibukan mereka mengajar kuliah perdana Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar, saya merasa sedikit lega. Undangan dibuat, dokumen dikirim, proses berjalan lagi.
Tapi setelah itu, permintaan konsuler berubah lagi: surat harus diterjemahkan, redaksi harus diperbaiki, dan KBRI Kairo harus bersurat resmi ke Konsuler Mesir di Jakarta. Alamak!
Dalam banyak hal, birokrasi itu tampak seperti kekacauan. Tapi saya justru mulai merasakan makna lain: mungkin saya memang sedang disuruh berhenti. Mungkin saya sedang ditahan untuk menata kembali apa yang sebelumnya saya abaikan.
Pada situsai itu, sastrawati Sinta Yudisia mengirim pesan: “Baca Al-Baqarah. Sampai ayat terakhir. Baca terus sampai Allah kasih jawaban.”
Saya menurut, meski tidak dalam sekali duduk. Saya membacanya di sela aktivitas: setelah salat, sebelum menulis, di jeda mengajar. Setiap kali berhenti membaca, saya seperti mendapatkan jarak baru untuk melihat kekusutan hidup yang sebelumnya saya biarkan berantakan.
Dan saya sadar: saya telah lama membaca buku, tetapi tidak membaca kehidupan.
Kierkegaard pernah menulis, manusia modern berlari terlalu cepat sehingga ketika napasnya habis, barulah ia sadar sedang menuju tempat yang salah. Saya merasa sedang dipelankan secara paksa agar bisa melihat arah hidup saya sendiri.
Kabar baik datang setelah kita siap
Pada satu malam ketika saya mulai pasrah, Atdikbud KBRI Kairo, Bapak Muta’ali, mengirimkan saya surat pendukung, meski ternyata itu bukan yang diminta konsuler. Saya membuat draf baru, ia merevisi, Mas Fauzan memperbaiki redaksi, dan akhirnya surat yang konsuler perlukan pun selesai.
Saya mengirimkan surat itu ke agen, dan juga kepada Badan Bahasa. Saya merasa perlu menjelaskan kepada mereka bahwa saya tidak bermaksud mendahului pekerjaan siapa pun. Semata-mata saya ingin memanfaatkan momentum ketika KBRI Kairo sedang membuka pintu komunikasi.
Lalu hari-hari berlalu tanpa kabar. Dan justru pada masa itu, ketika saya kembali mengajar, kembali menulis, kembali menjalani ritme normal tanpa memaksa apa pun, kabar itu datang.
Tanggal 18 November 2025, saat saya sedang mengampu kelas menulis di Bengkulu, pesan datang dari Badan Bahasa: visa saya sudah keluar.
Allah.
Saya harus berangkat lusa. Saya meminta penundaan satu hari agar bisa menuntaskan kelas dan bersiap, tetapi karena batas anggaran negara, permintaan itu tak bisa dikabulkan. Maka saya langsung kembali ke Lubuklinggau, membereskan urusan, menyerahkan kelas kepada fasilitator, dan berkemas.
Tengah malam lewat beberapa menit, pesawat membawa saya terbang menuju Kairo via Dubai.
Dalam penerbangan itu, saya memikirkan seluruh perjalanan saya: penolakan Kroasia, kemudahan Azerbaijan yang saya ragukan, labirin birokrasi Mesir yang melelahkan, hingga akhirnya keberangkatan yang datang di detik terakhir.
Di balik semuanya, saya melihat satu benang merah: saya belajar membaca hidup dengan cara yang sebelumnya tak pernah saya lakukan.
Saya belajar bahwa bersyukur tidak boleh menunggu kabar baik datang; syukur harus hadir sebelum perjalanan dimulai. Saya belajar bahwa kewajiban kecil—mengajar, menemani keluarga, menjaga hubungan dengan Ibu—tidak boleh dikorbankan demi pencapaian besar.
Saya belajar bahwa membaca buku sebanyak apa pun menjadi sia-sia jika saya buta pada sinyal-sinyal kecil dari kehidupan sendiri.
Kisah saya sebenarnya drama yang biasa. Namun, pelajaran yang diberikannya membuat saya percaya bahwa perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan cara membaca kehidupan.
Zagreb tertutup. Kairo terbuka. Namun keduanya, dengan cara yang berbeda, menunjuk pada hal yang sama: kabar baik bukan hanya diupayakan, tapi ia hanya datang kepada yang pantas menerimanya.
Kabar baik hanya untuk orang yang baik.(*)
Kairo, 21 November 2025
_________
Daftar Pustaka
Gayford, M. (2006) The Yellow House: Van Gogh, Gauguin, and Nine Turbulent Weeks in Arles. New York: Little, Brown.
Goodall, J. (2000) In the Shadow of Man. Boston: Mariner Books.
Goodall, J. (2000) Reason for Hope: A Spiritual Journey. New York: Grand Central Publishing.
Kierkegaard, S. (1987) Either/Or. Princeton: Princeton University Press.
Kierkegaard, S. (2004) The Sickness Unto Death. London: Penguin.
King, S. (2000) On Writing: A Memoir of the Craft. New York: Scribner.
Mandela, N. (1994) Long Walk to Freedom. New York: Little, Brown.
Murakami, H. (2009) What I Talk About When I Talk About Running. New York: Vintage.
Rowling, J.K. (2015) Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination. London: Little, Brown.
Winehouse, M. (2012) Amy, My Daughter. New York: HarperCollins.
4 Comments
Saya tidak setuju. Tesis: kabar baik hanya untuk orang baik.
Antitesa: kabar baik juga bisa untuk orang yang tidak baik.
Hipotesa: isi sendiri
Hahaha. Siap, Kangmas. Terima kasih banyak.
Baca tulisan ini kayak ngerasain perasaan yang sama seperti saat dulu baca tulisan sutradara Hanung Bramantyo saat menuliskan pengalaman syuting film Ayat-ayat Cinta yang berliku, jatuh bangun tetapi pada akhirnya menjadi satu karya yang fenomenal. Paling suka baca tulisan kayak gini. Semoga lancar semua kegiatan di Mesirnya, bang.
Makasih banyak atas doanyo, Yan. Semoga esai-esaimu bermanfaat.