Yang Membaca, Tak Pernah Menelan Mentah
… yang berbahaya adalah mereka yang pura-pura lupa, lalu menyebutnya kedamaian
Oleh Benny Arnas
Setiap kali sejarah diumumkan ulang, bangsa ini seolah diuji: masihkah kita benar-benar membaca, atau sekadar mendengar apa yang dibacakan?
Pengumuman daftar pahlawan nasional yang baru menjadi ujian kecil bagi nalar publik. Sebagian orang bertepuk tangan; sebagian lagi menahan napas, sebagian berkerut lama dan termenung karena syok, sebagian lagi menimbang antara rasa hormat dan rasa tak setuju.
Di tengah riuh itulah terlihat siapa yang benar-benar membaca: mereka yang berani berpikir ketika orang lain memilih aman dalam kebisingan.
Karena membaca, salah satu esensinya, bukan perkara menambah pengetahuan, melainkan melatih keberanian menimbang di tengah tekanan. Di zaman yang memuliakan keseragaman, membaca berarti berani berjalan miring di tengah barisan yang ingin lurus. Itulah yang dilakukan Galileo Galilei ketika ia berkata, Eppur si muove alias “Namun, ia bergerak.”
Dunia gereja saat itu menuntut keseragaman tafsir: bumi harus diam, sebab demikian kata para teolog. Galileo membaca langit dan membaca ulang dogma, lalu memutuskan bahwa kebenaran tidak harus selalu berpihak pada yang berkuasa. Ia dihukum, tapi pikirannya tetap bergerak.
Berabad kemudian, sikap yang sama muncul di wajah Rosa Luxemburg, seorang perempuan yang menolak tunduk pada gelombang nasionalisme perang dunia. Ketika banyak intelektual Jerman bersatu mendukung perang atas nama “cinta tanah air”, ia menulis dari balik penjara: “Kebebasan selalu berarti kebebasan bagi mereka yang berpikir berbeda.”
Luxemburg tidak sedang berteriak; ia sedang membaca arah zaman, dan dengan tenang menolak ikut arus yang dianggap “aman”. Di tengah riuh patriotisme yang memabukkan, Luxemburg berdiri sendirian, dan itulah keberanian yang lahir dari pembacaan yang jernih.
Atau lihat Martin Luther King Jr. Di tahun-tahun paling gelap Amerika, ketika diskriminasi rasial masih dijaga oleh hukum dan tradisi, ia membaca konstitusi bangsanya sendiri dan menemukan ironi: negeri yang memuliakan kebebasan justru membungkam sebagian warganya.
Dari pembacaan itu, ia menulis “Letter from Birmingham Jail”, surat yang tenang tapi menggetarkan dunia. Ia menulis bukan dengan kemarahan, melainkan dengan pemahaman mendalam terhadap sejarah dan moralitas Kristen. Ia tahu, pembaca sejati tidak memisahkan nalar dari nurani.
Nama-nama di atas membaca dalam pengertian yang paling luas: membaca struktur kuasa, membaca retorika yang menutupi ketidakadilan, membaca bahasa yang digunakan untuk menidurkan kesadaran. Mereka membaca realitas sampai lapis-lapisnya, sehingga sampai pada simpulan: membaca bukan kegiatan intelektual semata, melainkan keputusan moral.
Dalam sejarah Indonesia sendiri, Gus Dur barangkali sosok yang paling dekat dengan semangat itu. Ia membaca masyarakatnya dengan jeli: bagaimana agama bisa jadi sumber perdamaian sekaligus alat kekerasan, bagaimana bangsa yang beragam sering ditakut-takuti oleh perbedaan yang sebenarnya memperkaya.
Ia menafsir ulang teks-teks sakral dengan humor, tapi di balik kelucuannya tersimpan keberanian untuk berpikir di luar pagar. Ia menolak membubarkan ingatan tentang yang “lain”, bahkan ketika langkah itu membuatnya kehilangan jabatan. Ia tahu, berpikir sendiri di tengah kebisingan bisa membuat seseorang tampak aneh, tapi justru di situlah letak keutamaan seorang pembaca.
Keberanian berpikir di tengah tekanan publik bukan sekadar kemampuan logika, melainkan hasil disiplin membaca realitas. Lihat Malala Yousafzai: di tengah Taliban yang melarang perempuan bersekolah, ia menulis di blog BBC tentang hak anak perempuan untuk belajar. Ia membaca ayat, tradisi, dan konteksnya; lalu menyimpulkan bahwa ketidakadilan atas nama agama adalah bentuk kebutaan paling berbahaya. Ia tidak mengangkat senjata, cukup pena dan pikiran jernih. Pelurunya datang, tapi pikirannya menjelma gema yang tak bisa dibungkam.
Begitu pula Václav Havel di Cekoslowakia. Sebagai penulis teater, ia membaca absurditas rezim komunis yang menuntut kesetiaan total. Dalam esainya The Power of the Powerless, ia menulis tentang penjaga toko yang menggantung poster “Buruh Sedunia Bersatulah!” bukan karena percaya, tapi karena takut. Dari pembacaan itu lahir gerakan Charter 77 yang perlahan menggoyang sistem. Havel menunjukkan bahwa membaca struktur ketakutan bisa melahirkan keberanian yang lebih efektif daripada amarah.
Kisah Galileo, Luxemburg, King, Gus Dur, Malala, Havel tidak sama konteksnya, tapi sejiwa: membaca dengan kesadaran bahwa setiap kata di dunia ini punya konsekuensi politik. Mereka menolak menelan mentah apa yang disebut “kebenaran resmi”. Mereka berpikir ketika orang lain memilih aman. Dan dari pikiran itulah dunia berubah sedikit demi sedikit.
Kita, hari ini, sedang dihadapkan pada kebisingan lain: ketika sejarah disusun ulang dengan tergesa, ketika nama-nama yang dulu menjadi bayang-bayang luka kini diserahkan kembali ke panggung kehormatan. Mungkin karena bangsa ini lebih suka menutup mata sambil menyebut itu sebagai bentuk maaf. Tapi membaca sejarah tidak selalu berarti mengutuk; ia hanya menolak lupa. Sebab lupa adalah bentuk persetujuan yang paling … sunyi. Ach.
Sebagian memilih berteriak, sebagian lagi memilih membaca. Sungguh, keduanya sah. Tapi yang berbahaya adalah mereka yang pura-pura lupa, lalu menyebutnya kedamaian. Di sanalah sejarah mulai kehilangan maknanya.
Mungkin di situlah peran pembaca hari ini: menjaga agar kata “pahlawan” tidak kehilangan bobotnya, agar penghormatan tidak berubah jadi penebusan simbolik atas keheningan masa lalu. Di zaman yang penuh seremonial kepahlawanan, membaca bisa jadi satu-satunya cara kita tetap waras.
Yang membaca, tak pernah menelan mentah. Ia tahu mana luka yang belum sembuh, mana narasi yang sengaja dimaniskan. Dan dalam ketenangan itu, ia menyelamatkan sesuatu yang lebih penting dari sejarah: kewarasan bangsa untuk terus belajar dari masa lalunya, tanpa harus berpura-pura bangga padanya.(*)
Lubuklinggau, 11 November 2025
Daftar Pustaka
- Galilei, Galileo. Dialogue Concerning the Two Chief World Systems. Translated by Stillman Drake. Berkeley: University of California Press, 1967.
- Luxemburg, Rosa. The Rosa Luxemburg Reader. Edited by Peter Hudis and Kevin B. Anderson. New York: Monthly Review Press, 2004.
- King Jr., Martin Luther. Letter from Birmingham Jail. April 16, 1963. In A Testament of Hope: The Essential Writings and Speeches of Martin Luther King, Jr., edited by James M. Washington, HarperCollins, 1991.
- Wahid, Abdurrahman. Pribumisasi Islam. Yogyakarta: LKiS, 1999.
- Wahid, Abdurrahman. “Islamku, Islam Anda, Islam Kita.” Jakarta: The Wahid Institute, 2006.
- Yousafzai, Malala, and Christina Lamb. I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban. London: Weidenfeld & Nicolson, 2013.
- Havel, Václav. The Power of the Powerless: Citizens Against the State in Central-Eastern Europe. Armonk, NY: M.E. Sharpe, 1985.
- Foucault, Michel. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977. Edited by Colin Gordon. New York: Pantheon Books, 1980.
- Ricoeur, Paul. Memory, History, Forgetting. Translated by Kathleen Blamey and David Pellauer. Chicago: University of Chicago Press, 2004.
- Todorov, Tzvetan. Hope and Memory: Lessons from the Twentieth Century. Princeton: Princeton University Press, 2003.
2 Comments
Tulisan yang kena banget dan relate. Baru banget pagi tadi nulis di IG, nyebut si anu sebagai penjahat besar dan udah ada yang protes dan nanya, “mana buktinya (kalau si anu penjahat)” baiklaaaaah.
Nah. Cak itulah, Yan. Ini be, pas kubagikan di FB jadi bola liar. Sebagian komen berdasarkan gambar, bukan baco sampe abes hahhahah