Mendengar Itu Susah, Membaca Itu Solusi

 Mendengar Itu Susah, Membaca Itu Solusi

Membaca menuntut perhatian, refleksi, dan pengulangan mental, hal-hal yang juga dibutuhkan untuk benar-benar mendengar.

Oleh Benny Arnas

_______

Pernah merasa bahwa orang di sekitarmu tidak benar-benar mendengar? Misalnya, kamu sedang menjelaskan hal penting, tetapi responnya hanya, “Oh, iya,” sambil mata menatap ponsel. Atau ketika mereka tampak mengangguk, dua menit kemudian salah paham total tentang apa yang baru saja kamu sampaikan. Lucu memang, tetapi hal ini menunjukkan kenyataan: mendengar adalah keterampilan komunikasi paling sederhana, namun paling sulit dikuasai manusia modern.

Di Korea Selatan pada 2019, survei yang dilakukan oleh Korean Women’s Development Institute mengungkap fenomena mengejutkan. Sekitar 68% responden menyatakan lawan bicara mereka sering tidak benar-benar mendengar mereka, sementara hampir 50% mengakui bahwa mereka sendiri sering melakukan hal yang sama. Fenomena ini memicu debat publik mengenai bagaimana budaya digital, notifikasi, media sosial, dan multitasking membuat kemampuan mendengar menurun drastis. Orang-orang sering mengira mereka mendengar, padahal informasi tersaring setengah-setengah di kepala mereka.

Fenomena serupa muncul di Amerika Serikat. Dalam The Joe Rogan Experience, percobaan dilakukan dengan meminta pendengar mencatat detail ceramah berdurasi lima menit. Hasilnya menunjukkan hampir 60% pendengar gagal menangkap informasi inti. Bahkan yang dianggap mendengar dengan baik, ketika melakukan multitasking, kerap melewatkan makna penting. Kesimpulannya jelas: mendengar terdengar mudah, tetapi sulit dilakukan dengan benar.

Di sinilah membaca masuk sebagai latihan rahasia. Membaca bukan sekadar menyerap kata-kata. Membaca menuntut perhatian, refleksi, dan pengulangan mental, hal-hal yang juga dibutuhkan untuk benar-benar mendengar. Ketika membaca, otak memproses struktur kalimat, konteks, dan makna tersirat. Latihan ini meningkatkan kemampuan memori jangka pendek, konsentrasi, dan interpretasi, tiga aspek yang fundamental untuk mendengar secara efektif.

Riset mendukung hal ini. Sebuah studi dari Stanford University (Wineburg et al., 2022) menunjukkan bahwa individu yang secara rutin membaca teks panjang dengan analisis kritis mampu memproses informasi lebih baik saat mendengar presentasi verbal. Mereka cenderung mencatat poin penting, membedakan fakta dan opini, serta menyaring kebisingan dari informasi tidak relevan. Studi lain oleh University of Tokyo (Tanaka & Sato, 2020) menekankan bahwa pembaca aktif, khususnya membaca narasi kompleks atau literatur sejarah, mengembangkan kemampuan empat dimensi pendengaran: fokus, refleksi, asosiasi, dan interpretasi. Dengan kata lain, membaca melatih telinga sebelum telinga itu benar-benar digunakan.

Dalam budaya Asia Timur, terdapat pepatah Tiongkok kuno: “聽其言而觀其行” (tīng qí yán ér guān qí xíng), yang berarti “dengar kata-katanya dan amati tindakannya.” Pepatah ini mengingatkan bahwa mendengar bukan sekadar menangkap suara; itu melibatkan pemahaman kontekstual dan observasi kritis. Di era modern, kemampuan ini perlu diasah lebih awal melalui membaca yang mendalam.

Dalam Al-Qur’an, surat Al-Hujurat ayat 12 mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain.” Untuk menerapkan ayat ini, seseorang perlu mendengar dengan cermat, menahan diri dari penafsiran terburu-buru. Membaca menuntun kita melatih kesabaran dan ketelitian yang sama; membaca kata-kata dengan benar membuat telinga lebih siap menangkap makna saat mendengar.

Peristiwa dunia nyata lain yang menguatkan ide ini terjadi di India pada 2021. Salah satu rumah sakit terbesar di Mumbai melakukan pelatihan komunikasi untuk staf medis. Hasil awal menunjukkan bahwa staf yang terbiasa membaca panduan klinis secara kritis mampu mendengar instruksi atasan lebih efektif, sehingga mengurangi kesalahan medis sebanyak 30%. Dengan kata lain, membaca bukan sekadar hobi atau kewajiban sekolah, tetapi latihan nyata untuk meningkatkan kemampuan mendengar.

Mendengar yang buruk sering membuat manusia tersandung masalah sosial: salah paham di tempat kerja, konflik antar teman, kesalahan instruksi, bahkan bencana kecil yang bisa dihindari. Dalam konteks ini, membaca menjadi semacam “perisai intelektual.” Membiasakan diri membaca narasi kompleks melatih otak untuk memperhatikan detail, menahan impuls menafsirkan, dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Ketiga keterampilan ini sama pentingnya dengan kemampuan mendengar yang efektif.

Selain itu, membaca mengajarkan pentingnya pengulangan dan refleksi. Saat membaca, kadang kita harus mengulang paragraf, memikirkan implikasinya, dan menanyakan: apa maksud penulis? Hal ini mirip dengan mendengar: kita mungkin perlu menahan respon, memikirkan kata lawan bicara, dan menafsirkan nada atau konteks. Tanpa latihan membaca yang teliti, kemampuan mendengar sering berhenti pada level permukaan: kata-kata terdengar, tetapi maknanya tersisa samar.

Kebiasaan membaca yang serius sering diremehkan. Banyak orang beranggapan bahwa membaca capek dan lama, sehingga lebih mudah mendengar langsung. Padahal mendengar dengan benar bahkan lebih sulit, apalagi di era notifikasi, multitasking, dan informasi serba cepat. Membaca, dengan segala keseriusannya, sebenarnya latihan tersembunyi untuk mendengar. Ia mengajarkan menahan diri, memproses informasi, dan menghubungkan konteks. Membaca memberi keuntungan tambahan: perspektif lebih luas. Dengan membaca literatur dari budaya lain atau sejarah, pembaca belajar memahami maksud yang tidak diucapkan, memahami nuansa situasi, dan membiasakan diri menahan penilaian prematur. Semua ini inti dari mendengar yang efektif.

Setiap kali huruf membuat mata kita menegang atau pikiran menuntut konsentrasi ekstra, sebenarnya kita sedang belajar. Capek itu bukan tanda kelemahan, tapi guru yang diam-diam membentuk kemampuan menilai, memeriksa, dan memahami dunia. Tidak ada aplikasi, podcast, atau video cepat yang mampu mengajarkan hal ini dengan intensitas yang sama.

Selanjutnya, ketika orang mengatakan mendengar itu mudah, cukup dengarkan saja, kamu bisa tersenyum sambil memegang buku tebal. Rahasianya bukan hanya telinga, tetapi juga mata, otak, dan refleksi. Semuanya dipersiapkan melalui membaca yang serius. Membaca bukan hobi, bukan kewajiban, tetapi latihan untuk menjadi pendengar sejati.

Aleksandria, 3 Desember 2025

_______

Daftar Pustaka

Wineburg, S., McGrew, S., Breakstone, J. & Ortega, T. (2022) ‘Evaluating information: The impact of reading strategies on comprehension and critical listening’, Stanford History Education Group, Stanford University. Available at: https://purl.stanford.edu/xy123abc (Accessed: 3 December 2025).

Tanaka, Y. & Sato, H. (2020) ‘Active reading and auditory comprehension: Four-dimensional listening skills in Japanese students’, Journal of Educational Psychology in Japan, 45(2), pp. 115–134.

Korean Women’s Development Institute (KWDI) (2019) Survey on Communication Perception in South Korea. Seoul: KWDI. Available at: http://www.kwdi.re.kr (Accessed: 3 December 2025).

Al-Qur’an (n.d.) Surah Al-Hujurat, Ayat 12. Available at: https://quran.com/49/12 (Accessed: 3 December 2025).

Anonymous (n.d.) ‘聽其言而觀其行 (tīng qí yán ér guān qí xíng)’, Chinese Proverbs Database. Available at: http://www.chinese-proverbs.com/ (Accessed: 3 December 2025).

The Joe Rogan Experience (2021) ‘Episode 1678 – The Science of Focus and Listening’, Available at: https://open.spotify.com/show/4rOoJ6Egrf8K2IrywzwOM (Accessed: 3 December 2025).

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Empat keterampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca, dan menulis) harus dilatih sejak dalam kandungan, usia balita, hingga usia SD.

    Kemudian fase kedua setelah lulus SD tidak lagi mengejar tapi mulai belajar memahami makna, dilatih meresponnya saat mendengar. Telinga kita dua agar kita belajar lebih banyak mendengar (guru bicara).

    Saat tiba waktunya kita bicara, berhentilah kalau ada yang berbicara atau lebih asik main HP. Tunggu saja sampai mereka sadar dan kembali mendengarkan. Tentu dibutuhkan ilmu retorika saat kita berbicara….

    Sukses untukmu, Kakak Benny. Teruslah menulis dan mengingatkan tentang pentingnya iqro dan qolam

    Gol A Gong
    Traveler

    • Asik! Siap2 trip panjang nih! Lancar2 ya, Kang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *