Sungguh, Jatuh Cintalah Ia, Sejatuh-jatuhnya, kepada Buku
Jika suatu saat aku harus meninggalkan kota ini, perpustakaanlah yang ingin kubawa pulang.”
Aḥmad Bābā al-Timbuktī
Oleh Benny Arnas
Dan di sudut Timbuktu yang diurapi cahaya pengetahuan, berdirilah seorang lelaki kurus, berjanggut rapi, dengan mata yang terlalu berkilat untuk seseorang yang hidup di tengah padang pasir. Syaikh al-Islam dari Afrika Barat. Begitu Aḥmad Bābā al-Timbuktī, pembaca paling setia pada zamannya itu digelari.
Namun baginya, gelar tak pernah sepenting tumpukan manuskrip di rak-rak rumahnya. Ia membaca, mengajar, mengumpulkan, dan membaca lagi. Ia membelai ilmu pengetahuan sebagaimana seorang ibu menyusui bayi-bayi mereka.
Bābā pernah menulis lebih dari seratus karya tentang hukum, sastra, biografi ulama, linguistik. Namun, warisan terbesarnya bukanlah tulisan-tulisannya, melainkan keyakinan radikalnya pada buku sebagai darah yang mengalir di sekujur tubuh.
Keyakinan itu tak lahir dari kefanatikan intelektual, melainkan dari pengalaman hidup. Ayah dan kakeknya adalah ulama besar, dan perpustakaan keluarga mereka adalah taman pertumbuhan: sebuah dunia tempat Aḥmad kecil bermain sambil mencium bau kulit, tinta, dan kertas.
Buku-buku itu bukan koleksi. Mereka adalah peta silsilah spiritual keluarganya. Ada dedikasi, catatan pinggir, dan tanda-tanda kecil di margin: warisan tiga generasi pemikir.
Jadi ketika suatu hari seseorang bertanya di masa dewasanya: “Apa yang paling berat kau hilangkan selama hidupmu?”
Jawaban Bābā tidak pernah berubah: “Buku. Kehilangannya lebih menyakitkan daripada kehilangan keluarga.”
Dan orang-orang selalu terkejut.
Tapi Bābā tidak mengucapkannya sebagai metafora. Ia mengatakannya sebagai pengalaman yang kelak akan ia alami secara telanjang, brutal, dan tanpa ampun.
***
Di masa muda Bābā, Timbuktu bukan kota kecil terpencil yang sekarang sering kita bayangkan. Ia adalah pusat peradaban, rumah bagi tiga perpustakaan besar dan lebih dari tujuh puluh institusi belajar.
Para pedagang datang membawa garam, emas, dan kain; para sarjana datang membawa ketajaman ide dan gulungan naskah. Ada majelis-majelis diskusi yang berlangsung berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.
Kadang-kadang, di bawah langit malam yang tenang, Bābā berjalan sendirian di antara bangunan gurun berwarna keemasan, merasakan bahwa setiap dinding menyimpan gema pemikiran orang-orang yang pernah lewat.
Ia percaya bahwa buku adalah bentuk kehidupan yang paling panjang umurnya.
Kota bisa tenggelam, istana bisa runtuh, kerajaan bisa berganti, tetapi satu manuskrip kecil dari abad lalu bisa tetap bernapas. “Membaca,” katanya dalam salah satu catatannya, “adalah berbicara dengan orang mati yang masih hidup.”
Dan ia berbicara dengan banyak orang mati: ulama Andalusia, penyair Persia, dokter-dokter Arab, filsuf Afrika Utara, ahli astronomi dari Fez dan Kairo. Ia menelaah semua itu seperti seorang pengembara yang selalu haus setiap kali bertemu mata air.
Koleksi pribadinya tumbuh sedemikian besar sehingga para murid sering berdesakan di ruang belajarnya hanya untuk menyentuh sampul kulit yang ditulis empat abad sebelum mereka lahir.
Bābā selalu membiarkan mereka menyentuh. Buku, baginya, bukan benda suci yang layak diasingkan. Buku adalah makhluk hidup. Dan makhluk hidup tidak boleh dipenjara.
Hanya beberapa tahun sebelum tragedi besar menghampiri Timbuktu, Bābā sempat menulis: "Jika suatu saat aku harus meninggalkan kota ini, perpustakaanlah yang ingin kubawa pulang.”
Ia menulis itu tanpa tahu betapa pedih kenyataan akan menjawab keinginannya dengan cara yang tidak pernah ia inginkan.
***
Tahun 1591 datang sebagai badai tanpa suara. Pasukan Maroko, dipimpin oleh sultan yang memandang Songhay sebagai emas yang bisa dipanen, menyerbu dengan ribuan tentara bersenjata mesiu. Gema meriam tak dikenal sebelumnya di tanah itu. Asap memenuhi langit. Pasar-pasar hancur. Madrasah bubar. Dan Timbuktu, yang selama berabad-abad memegang pena sebagai kebijaksanaan, dipaksa tunduk kepada tebasan pedang.
Bābā menolak tunduk: Sebagai balasannya, ia ditangkap dan dibawa ke Marrakesh, diasingkan jauh dari rumahnya.
Dalam perjalanan itu, kuda-kuda pasukan Maroko menginjak-injak banyak manuskrip yang dijarah dari rumah-rumah sang sarjana. Beberapa naskah dibakar di jalan, entah untuk menyalakan api memasak atau sekadar sebagai bentuk penghinaan. Yang lain dijual sebagai barang jarahan, terpisah dari pasangan dan turunan intelektualnya.
Ketika tiba di Marrakesh, Aḥmad Bābā diperlihatkan tumpukan barang yang dirampas dari rumahnya. Ada beberapa naskah tua yang ia warisi dari kakeknya: catatan pribadi yang tidak pernah dipublikasikan; manuskrip yang ia tulis sendiri; biografi ringkas gurunya; bahkan catatan-catatan kecil yang hanya ia yang tahu maknanya.
Dan di tengah kekacauan itu, seorang pejabat penjaga bertanya dengan polosnya entah: “Apakah semua ini milikmu?”
Bābā memandang manuskrip-manuskrip itu dengan tatapan kosong. Lalu ia berkata pelan: "Di antara semua yang kalian ambil, yang paling kalian hancurkan bukan rumahku, bukan hartaku, tapi diriku.”
***
Bagi sebagian orang, kata-kata Bābā dianggap berlebihan. “Mana mungkin,” kata mereka, “kehilangan buku lebih menyakitkan daripada kehilangan keluarga?”
Tetapi bagi seseorang yang sejak kecil dibesarkan oleh cerita, kertas, tinta, ia pun tak tahu kenapa ilmu tidak bisa dipisahkan dari tubuh.
Di pengasingan, Aḥmad Bābā dipaksa hidup seperti pohon yang dipindahkan dari tanahnya. Ia tetap mengajar, ia tetap menulis, tetapi hatinya tetap tertinggal di Timbuktu: di antara rak kayu, di antara manuskrip-manuskrip yang kini berpindah tangan.
Ia pernah berkata kepada salah satu murid yang menemuinya di Marrakesh: “Keluarga adalah darah kita. Tetapi buku adalah darah jiwa kita. Dan luka di jiwa lebih sulit disembuhkan.”
Darah tubuh bisa berhenti mengalir. Luka fisik bisa tertutup. Tetapi bagaimana menyembuhkan luka ketika yang tercerabut adalah hubunganmu dengan semua pemikiran yang membentuk dirimu.
***
Yang mengerikan dari kisah ini adalah: bahkan setelah Bābā mati, naskah-naskah Timbuktu kembali menghadapi nasib yang sama. Ketika ekstremis modern membakar Institut Ahmed Baba pada 2012, sejumlah besar manuskrip musnah, seperti mengulangi mimpi buruk lama.
Yang tersisa diselamatkan oleh para pustakawan lokal yang menyelundupkannya lewat jalan-jalan gelap, menyamar sebagai pedagang beras, atau menyeberangkannya dengan perahu malam hari.
Mereka menanggung risiko ditangkap atau dibunuh. Namun mereka tetap membawa manuskrip-manuskrip itu karena mereka meyakini satu hal: “Buku-buku ini bukan milik kami. Mereka adalah kita.”
Kalimat itu, bila dipikirkan pelan-pelan, seperti gema dari kata-kata Aḥmad Bābā sendiri.
***
Mungkin kita heran: bagaimana seseorang bisa merasa kehilangan buku lebih dalam daripada kehilangan keluarga? Sementara bagi kita hari ini, buku kadang hanya barang yang diletakkan di rak, atau sesuatu yang kita baca sambil menunggu kopi dingin.
Tapi bagi Bābā, dan bagi banyak masyarakat Timbuktu, buku tidak pernah diperlakukan sebagai objek. Buku adalah continuum kehidupan. Membacanya adalah cara seseorang bertahan hidup di luar tubuh.
Bila keluarga adalah garis keturunan darah, buku adalah garis keturunan gagasan.
Jika keluarga hilang, seorang manusia bisa menangis dan memulai hidup baru.
Jika buku hilang, yang hilang bukan satu orang, tetapi seluruh masa lalu.
Dan bagaimana sebuah masyarakat bisa melangkah ke masa depan jika masa lalunya hilang?
Bābā memahami ini bahkan sebelum kota itu jatuh. Ia tahu bahwa buku-buku itu adalah satu-satunya cara bagi Timbuktu untuk tetap hidup walaupun penakluk datang atau kekaisaran runtuh.
Itu sebabnya, ketika rumahnya dijarah, ia merasa bahwa hidupnya dipotong menjadi dua. Bukan karena ia terlalu mencintai benda mati. Tetapi karena ia mencintai kehidupan yang hanya bisa raih dengan membaca ilmu.
***
Aḥmad Bābā akhirnya kembali ke Timbuktu setelah bertahun-tahun diasingkan. Tetapi ia kembali bukan sebagai orang yang sama.
Ia kembali sebagai penyintas.
Begitu pisau kematian mendekat, begitu rapuhnya naskah-naskah itu berada dalam genggaman tangan yang salah, ia menyadari sesuatu yang akan menjadi pesan terakhirnya kepada dunia:
bahwa membaca buku sama dengan menjaga manusia.
Dan pada akhirnya, itu terbukti benar.
Timbuktu runtuh. Kerajaan Songhay hilang. Bangsa-bangsa datang dan pergi.
Tetapi manuskrip-manuskrip itu tetap hidup, kadang tersembunyi, kadang terancam, tetapi tidak pernah menyerah. Ya, pengetahuan, sepertinya, selalu menemukan cara untuk pulang.
Dan di bawah semua itu, bayangan Bābā tetap berdiri. Bahwa kehilangan buku memang lebih menyakitkan daripada kehilangan keluarga. Karena keluarga lahir dari tubuh manusia. Tetapi buku? Buku lahir dari jiwa manusia.
Dan jiwa, ketika terluka, membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh.
Sungguh.(*)
Kairo, 23 November 2025
________
Daftar Pustaka
Al-Furqan Islamic Heritage Foundation (1995–2005) Handlist of Manuscripts in the Centre de Documentation et de Recherches Historiques Ahmed Baba, Timbuktu. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation.
Cleaveland, T. (2015) ‘Aḥmad Bābā al-Tinbuktī and his Islamic critique of racial slavery in the Maghrib’, The Journal of North African Studies, 20(1), pp. 42–64.
Encyclopaedia Britannica (n.d.) Aḥmad Bābā. Available at: https://www.britannica.com/biography/Ahmad-Baba (Accessed: 23 November 2025).
Google Arts & Culture (n.d.) ‘Timbuktu’s Written Heritage’. Available at: https://artsandculture.google.com/story/mQWRqt8Tw-vmWg (Accessed: 23 November 2025).
Hunwick, J. O. (1964) ‘A new source for the biography of Aḥmad Bābā al-Tinbuktī (1556–1627)’, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, 27(3), pp. 568–593.
Hunwick, J. O. (1999) Timbuktu and the Songhay Empire: Al-Saʿdī’s Taʾrīkh al-Sūdān down to 1613 and other contemporary documents. Leiden: Brill.
Norris, H. T. (1967) ‘Ṣanhājah scholars of Timbuctoo’, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, 30(3), pp. 634–640.
Novo, M. G. (2024) ‘Writing the history of Islamic law in West Africa: Sahelian scholars in Aḥmad Bābā al-Tinbuktī’s biographical works’, Die Welt des Islams, 64(2–3), pp. 132–167.
Deutsche Welle (2018) ‘Ahmed Baba: Timbuktu’s famous scholar’. Available at: https://www.dw.com/en/ahmed-baba-timbuktus-famous-scholar/a-43193451 (Accessed: 23 November 2025).
2 Comments
MasyaAllah Baba, sebegitu cintanya pada buku, dalam keadaan apapun. Membuat saya berkaca, sungguh jauh dari benda mati yang tak pernah mati, darah jiwa manusia.
Makasih, Sept. Dah mampir.