Sinai dan Gunung-gunung Kecil yang Menyelinap Itu
Saya dan Alif ngeteh di puncak Sinai …
Dimuat Cagak.id, 15 Desember 2025
… (dari) Sinai, saya membawa pulang sesuatu yang tidak selesai di puncak: cara baru melihat hari-hari biasa, seolah setiap perjalanan kecil pun punya gunung-gunungnya sendiri.
Oleh Benny Arnas
______
Saya pertama kali mendaki Bukit Sulap di Lubuklinggau ketika berusia empat belas tahun. Bukit itu mungil namun berhasil menjadi penanda keberadaan kota. Pengalaman mendakinya, meski hampir tiga dekade berlalu, meninggalkan bekas dalam memori tubuh saya: pelan-pelan membentuk kesadaran tentang napas, pijakan, dan kesabaran yang saya bawa hingga kini.
Setelah 28 Tahun: ke Sinai
Hampir sebulan ini saya berada di Kairo, sebuah kota yang menjelma jadi labirin dari suara, aroma, dan waktu yang tumpang-tindih. Jalan-jalan yang padat dipenuhi pedagang yang menata rempah dan roti pipih, kendaraan yang melintas pelan tapi berirama, anak-anak yang berlari dan bermain sepakbola di gang sempit, dan aroma kopi yang bercampur debu gurun masuk ke celah-celah bangunan tua.
Dari apartemen saya yang berpindah-pindah—Hay Sadis, Downtown, hingga Kawasan Dokki, saya menyerap semua itu, membiarkan kota menempeli kesadaran dengan ritme yang kacau tapi teratur, keras tapi penuh cerita.
Residensi ini membuat saya menghadapi kontradiksi Kairo: masa lalu dan masa kini bercampur di setiap sudut. Saya membaca catatan penelitian dan salinan digital manuskrip Santa Katarina, beberapa berasal dari abad ke-12, berisi deskripsi jalur dan refleksi spiritual para peziarah. Manuskrip-manuskrip itu menuliskan langkah, napas, dan doa sebagai satu kesatuan perjalanan, tidak hanya fisik, tetapi juga batin.
Pernah, pada suatu pagi yang masih berkabut di Kawasan Dokki, sebuah kesadaran muncul tiba-tiba ketika saya berjalan melintasi jembatan dan jalan yang bersisian dengan Sungai Nil. Bagaimana bisa kota, manuskrip, seniman, dan kehidupan sehari-hari menjadi peta mental, latihan reflektif yang mengajarkan ritme, ketekunan, dan kesabaran?
“Bang, bagaimana kalau kita ke Sinai?” kata Alif, pendamping residensi saya, pada pekan kedua residensi.

Dimulai dari Biara Santa Katarina
Perjalanan ke Sinai dimulai dari Santa Katarina, kompleks yang berdiri sejak abad keenam. Bangunan batu ini menyimpan perpustakaan manuskrip tertua kedua di dunia setelah Vatikan. Ada naskah Yunani, Arab, Suryani, dan Armenia, yang sebagian memuat catatan perjalanan Nabi Musa dan jalur-jalur peziarah. Saya berdiri di pelatarannya, menghirup udara dingin pegunungan dan membiarkan kesunyian menyapa.
Dalam wilayah selatan Sinai, hubungan antara manusia dan lanskap benar-benar nyata: tesis akademik Jebel | Wadi | Sahra (2020) mencatat bagaimana jalur pendakian (Sinai Trail) yang baru dibuka menyoroti interaksi kompleks antara komunitas Badui, wisatawan, dan lingkungan—menguatkan gagasan bahwa lanskap ini bukan hanya batu dan pasir, tetapi narasi hidup yang terus diperbarui oleh setiap langkah pejalan dan penggembala di padang.
Di luar jalur resmi, proyek-proyek besar juga sedang berjalan: dalam dekade terakhir, Dana Pembangunan Saudi mendanai pembangunan ribuan rumah dan fasilitas pelayanan komunitas bagi Badui di Sinai, serta kompleks pertanian yang mencakup jutaan meter persegi lahan, bagian dari program pembangunan luas senilai miliaran dolar untuk meningkatkan akses air bersih, irigasi, dan peluang ekonomi yang lebih stabil.

Saya membayangkan para rahib yang membangun dinding-dinding biara dari granit Sinai, tangan mereka menorehkan huruf demi huruf di manuskrip, pelan-pelan menjaga sejarah agar tetap hidup. Saya juga membayangkan peziarah abad keempat yang menulis pengalaman mereka, jejak langkah dan doa mereka meninggalkan bekas halus di batu dan debu. Semua hadir dalam kesunyian pagi yang dingin.
Menapaki jalur pendakian, saya berhenti tiap beberapa menit untuk memandang jauh. Meski hanya berhadapan dengan kegelapan malam dan cahaya samar di kejauhan, saya bisa membayangkan lanskap batu nan luas, lapang, dan keras.
Kadang, bentuk batu yang tak sengaja terpapar sinar senter Alif yang selama pendakian berada selangkah di depan, mengingatkan saya pada relief-relief kuno yang pernah saya lihat dalam manuskrip Santa Katarina. Ada lekuk yang tampak seperti gelombang yang membeku, ada pula bongkahan yang menyerupai punggung kafilah yang pernah menyeberangi rute perdagangan kuno antara Levant dan Mesir. Burung-burung kecil beterbangan pelan, tersesat, lalu lenyap di balik tebing seperti fragmen kecil dari kisah peziarah abad pertengahan yang tersapu angin gurun.
Di titik-titik itu, saya disadarkan bahwa Sinai bukan hanya bentang alam, tetapi pertemuan antara kebesaran geologi dan sejarah manusia. Saya dan para peziarah lintas ras dan negara hanyalah pengunjung singkat, menjejak tempat yang sudah dilewati ribuan kaki sejak ribuan tahun lalu, dengan dua pilihan: menikmati atau menghayati.

Di setiap pos kecil, saya mengambil napas, menyesap air, mengamati jejak kaki peziarah lain. Beberapa tulisan sederhana dari abad ke-19 meninggalkan pesan pelan: Here I rest to breathe, to remember, to be small. Saya tersenyum. Rasa kecil itu bukan hina, tetapi mengajar. Alam dan sejarah menuntut keberanian fisik sekaligus kesadaran mental.
Setiap langkah membuat saya mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di jalur yang sama, bukan pengalaman pribadi. Saya terbayang bagaimana pada abad ke-6, para mandor mengangkut batu-batu ke lereng ini untuk membangun benteng dan biara yang kini dikenal sebagai Santa Katarina. Beberapa blok besar harus ditarik dengan sistem katrol sederhana karena unta dan keledai tidak sanggup melewati bagian sempit.
Di abad ke-19, para kartografer yang ikut Ekspedisi Napoleon melintasi kawasan ini untuk memetakan jalur militer Mesir-Suriah. Edward Robinson menuliskan pada 1838 bahwa beberapa segmen jalur tampak lebih seperti “tanggul runtuh” daripada “jalan”.
Mengingat peristiwa-peristiwa itu membuat langkah saya terasa sebagai bagian kecil dari rangkaian perjalanan panjang yang telah dimulai berabad-abad lalu. Saya tidak membandingkan diri dengan siapa pun, tetapi mencoba memahami bagaimana gunung ini menjadi saksi dialog antara manusia dan zamannya—entah itu rahib, ilmuwan, kartografer, prajurit, maupun peziarah. Sejarah mereka membantu saya melihat perjalanan saya bukan sekadar pendakian, tetapi kesempatan memasuki rentang waktu yang lebih luas daripada hidup saya sendiri.
Masjid, Tempat Rehat para Rahib
Tanjakan terakhir menuju puncak menegangkan. Batu granit tersusun seperti tangga alami. Saya berjalan pelan-pelan, berhati-hati, sambil mengatur napas.
Jejak sejarah terasa di setiap batu: jalur ini dikenal sebagai Steps of Repentance, dibuat oleh rahib abad keenam untuk peziarah. Manuskrip Santa Katarina mencatat beberapa rute Nabi Musa, termasuk lembah-lembah yang sering luput dari perhatian. Peziarah dari abad keempat hingga abad kesembilan belas menulis pengalaman serupa: berjalan pelan, berhenti, menghirup udara gurun, merasakan ketenangan sekaligus tantangan.

Ketika mencapai puncak, kami memasuki masjid kecil. Gelap, tanpa jendela. Ukurannya hanya empat kali empat meter. Lantai batu dingin, dinding memantulkan cahaya senter pelan, sajadah yang memenuhi lantai menjadi penghangat di ketinggian bersuhu 1°C. Ruang sunyi memberi waktu untuk duduk, bernapas, dan merenungkan jalur yang baru saja ditempuh. Setelah mengamati kain-kain kaligrafi di dinding bagian atas dan secarik kain hijau di langit-langit, kami memutuskan merebahkan kaki, merehatkan tubuh. Namun, keriuhan di luar mengganggu. Saya bangkit dan keluar, hanya mendapati para perempuan Tionghoa, yang tadi kami salip, sedang memesan teh dengan satu-satunya kedai di puncak milik seorang laki-laki Badui. Selain itu, tak ada pemandangan, tidak ada horizon, hanya kesunyian yang pekat dan sejarah yang menempel pada batu-batu.
Satu jam kemudian, salat Subuh berjemaah dengan pendaki lain digelar di tempat yang pernah digunakan rahib abad ke-7 untuk beristirahat. Tradisi internal biara menyebut bahwa beberapa dari mereka membawa lampu minyak kecil, dan angin puncak sering memaksa mereka mencari perlindungan di bangunan-bangunan batu yang tersebar di jalur atas. Manuskrip Arab abad pertengahan juga menyebut puncak Sinai dalam perjalanan para peziarah Muslim dari kawasan Syam, termasuk tradisi membawa potongan kapas yang dibasahi air zamzam sebagai hadiah untuk rahib biara—pertukaran kecil, namun mencerminkan penghormatan lintas tradisi.
Matahari Terbit: Masjid dan Gereja yang Berdampingan
Satu jam lepas Subuh, horizon merah perlahan muncul, menyapu tebing dengan cahaya hangat, membuat granit bersinar keemasan. Peziarah dari berbagai negara tampak: beberapa mengangkat kamera, beberapa berdiri diam, beberapa berjalan pelan. Semua merayakan momen ini dengan cara sendiri, namun terhubung oleh pengalaman fisik dan spiritual yang sama.


Kami ingin menikmatinya lebih sederhana: memesan teh mint dalam cangkir kaleng yang Alif bawa dari Indonesia. “Lebih indah mana dari Karakoram?” tanya Alif. Catatan perjalanan saya di jalan raya paling berbahaya di dunia ternyata menancap kuat dalam memorinya.
Saya tertawa tanpa suara. “Sama-sama membuat saya sadar bahwa kebesaran alangkah luasnya, diri ini alangkah debunya,” batin saya, memandang masjid di depan dan menoleh ke gereja di belakang yang berdiam khidmat.
Dalam Al-Qur’an dan Taurat, Musa menjadi teladan dalam menata kerukunan di tengah perbedaan: setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab, dan ketertiban sosial bergantung pada kesadaran bersama, bukan dominasi satu pihak. Hal itu tampak hidup di Sinai: peziarah dari berbagai latar—Kristen, Muslim, Yahudi, maupun pengelana sekuler—mengikuti jalur yang sama, menapak langkah yang sama, tanpa kehilangan identitas masing-masing. Studi terbaru tentang pilgrimage dynamics in Sinai (Yahya & Abdelrahman, 2021) mencatat bahwa interaksi antarpeziarah dari latar berbeda meningkatkan toleransi dan pengertian, karena setiap orang belajar membaca aturan alam dan manusia yang sama. Keberagaman di puncak ini menjadi medium untuk memahami kerukunan sebagai praktik aktif: saling menghormati ritme, kebutuhan, dan sejarah masing-masing.
***
Ternyata, menuruni gunung lebih menantang daripada yang saya kira. Batu granit licin dan retak memaksa memilih pijakan dengan hati-hati. Urat kaki kanan terasa tertarik setiap langkah, tetapi rasa sakit itu mengingatkan bahwa tubuh adalah bagian dari perjalanan, bukan sekadar pengamat.
Setelah seratus meter, kami bertemu onta dan tuannya yang menawari jasa menuruni gunung. Kami menggeleng, tetapi meminta izin berfoto dengan onta yang tak henti mengunyah.
Geologi Sinai menakjubkan. Granit tua berlapis-lapis, retakan tektonik, perubahan warna menandakan usia ratusan juta tahun. Flora gurun tumbuh pelan-pelan di celah batu: semak, lumut, bunga kecil yang rapuh tapi bertahan di lingkungan keras.
Sepanjang turunan, saya mengamati kota-kota kecil di kaki gunung. Penduduk mulai beraktivitas: makan, bekerja, berjalan, tidur. Kehidupan berlangsung pelan, kontras dengan ritme mendaki yang intens. Catatan peziarah abad keempat menyebut bahwa pendaki yang menapaki jalur ini kembali ke kehidupan sehari-hari dengan pemahaman baru tentang waktu, ruang, dan kesabaran.
Saat melewati pelataran Santa Katarina, saya duduk sebentar. Tubuh lelah, kaki nyeri, tetapi pikiran lebih terang. Sinai bukan sekadar puncak; ia adalah gabungan sejarah manusia, manuskrip kuno, peziarah dari berbagai abad, fenomena alam, burung pipit, flora yang bertahan, dan perjalanan fisik.

Saya menatap batu, langit, dan biara, dan termangu cukup lama menyadari bahwa Sinai tidak memberi pesan-pesan besar. Dengusan onta di pagi hari, suara pasir terserak angin, napas pendaki lain yang bergerak serempak, justru yang menetap paling lama. Dari semua itu, saya membawa pulang sesuatu yang tidak selesai di puncak: cara baru melihat hari-hari biasa, seolah setiap perjalanan kecil pun punya gunung-gunungnya sendiri.(*)
Kairo, 15 Desember 2025