Produktivitas, Kairo, dan Bahasa Indonesia
Screenshot
Dalam tempo yang terasa tak masuk akal, saya merampungkan 70 esai, 7 catatan perjalanan, 5 cerpen, dan sebuah outline novel.
Oleh Benny Arnas
Dalam sebuah tremco, di kursi belakang, tepat di samping saya, seorang gadis mengaji tanpa peduli bahwa van dengan muatan 8–12 penumpang itu sedang dikendarai secara barbar oleh pengemudinya. Di sudut lain, penjual teh membaca. Dan seorang gadis memeluk buku seperti memeluk rahasia. Pemandangan itu bukan alegori. Ia nyata. Ia sehari-hari. Ia Kairo. Kota yang membuat kata-kata terasa hidup, bukan pajangan.
____
Jawa Pos, 7 Maret 2026
____
Menghabiskan akhir tahun 2025 di sini, saya menyaksikan iqra bukan slogan. Ia kebiasaan. Ia napas. Orang-orang membaca di sela kerja. Menghafal di antara riuh lalu lintas. Kitab berpindah dari tangan ke tangan. Ingatan dilatih sejak dini. Teks dihormati, diulang, dijaga. Dalam kultur seperti itu, d(ar)i kampus Al Azhar hingga kawasan mahasiswa seperti Darosah, membaca bukan aktivitas sunyi yang terasing, melainkan arus yang mengalir di ruang publik.
Saya datang sebagai writer in residence. Saya pulang setiap hari dengan kepala penuh bunyi. Kairo seperti menyalakan sakelar tersembunyi. Tradisi menghafal yang kerap dianggap kuno justru memberi saya fondasi. Dari hafalan lahir ketekunan. Dari ketekunan lahir disiplin. Dari disiplin lahir produktivitas.
Tak berlebihan jika saya menyebut kota ini sebagai katalis. Dalam tempo yang terasa tak masuk akal, saya merampungkan 70 esai tentang membaca, 7 catatan perjalanan yang merekam jejak kaki dan percakapan, 5 cerpen yang tumbuh dari lorong-lorong kota, dan sebuah outline novel residensi yang mulai menemukan tulang punggungnya. Semua seperti mengalir. Seperti ada tenaga tambahan yang bekerja diam-diam.
Belakangan saya tahu. Itu bukan hanya atmosfer. Di balik layar, ada upaya panjang menjadikan Bahasa Indonesia lebih dari sekadar bahasa tamu. Bapak Abdul Muta’ali, selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, bekerja dengan kesabaran yang nyaris tak terlihat. Menjalin komunikasi. Menyusun rancangan. Meyakinkan otoritas akademik sehingga pada November 2025 Bahasa Indonesia resmi menjadi program studi di Universitas Al-Azhar.
Itu bukan pekerjaan sehari dua hari. Itu kerja maraton. Kerja yang memerlukan keyakinan bahwa bahasa adalah jembatan peradaban. Bahwa Indonesia layak hadir di ruang-ruang akademik tertua dan paling bergengsi di dunia Islam. Hasilnya mulai tampak. Bahasa Indonesia menemukan tempatnya.
Lebih jauh lagi, pada Agustus 2026, sastra Indonesia direncanakan diajarkan di seluruh SMA dan sederajat di Mesir. Sebuah langkah besar. Bayangkan: remaja-remaja Mesir membaca cerpen dan puisi dari Timur yang lain. Membayangkan hutan tropis, laut luas, dan pergulatan manusia Indonesia. Itu bukan sekadar ekspansi kurikulum. Itu perjumpaan imajinasi.
Dalam konteks itulah, saya ngeh, produktivitas saya tidak lahir dari ruang kosong. Ketika kota merayakan teks dan negara mengupayakan bahasa, dan kerja diplomasi budaya berjalan beriringan dengan gairah personal, saya seperti berdiri di simpul sejarah kecil. Menulis bukan lagi urusan privat. Ia menjadi bagian dari arus yang lebih besar.
Kairo memberi saya ritme. Bahasa Indonesia memberi saya rumah. Dan di antara keduanya, produktivitas menemukan alasan yang paling sederhana: membaca untuk hidup, dan menulis untuk membalasnya.(*)