Perpustakaan Empati

 Perpustakaan Empati

Sumber gambar: threhumanlibrary.org

“Kebijaksanaan itu seperti pohon baobab, tak ada satu orang pun yang mampu memeluknya sendirian.”

Pepatah Ghana

Oleh Benny Arnas

Di dunia yang semakin berisik oleh pendapat, kadang yang paling kita rindukan bukan argumen baru, melainkan telinga yang mau mendengarkan. Namun, manusia modern sering kali kehilangan kemampuan itu. Kita lebih suka berbicara daripada memahami, menilai sebelum mengenal, menghakimi sebelum menyapa. Barangkali karena itu, sebuah ide sederhana dari Denmark dua puluh lima tahun lalu terasa seperti oase: The Human Library.

Perpustakaan Mendengar: Membaca Sebagai Empati

Di dunia yang semakin berisik oleh pendapat, kadang yang paling kita rindukan bukan argumen baru, melainkan telinga yang mau mendengarkan. Namun manusia modern sering kali kehilangan kemampuan itu. Kita lebih suka berbicara daripada memahami, menilai sebelum mengenal, menghakimi sebelum menyapa. Barangkali karena itu, sebuah ide sederhana dari Denmark dua puluh lima tahun lalu terasa seperti oase: The Human Library.

Tahun 2000, di tengah riuh festival musik Roskilde, empat anak muda Denmark—Ronni Abergel, Dany Abergel, Asma Mouna, dan Christoffer Erichsen—mendirikan sesuatu yang tak lazim. Mereka tidak membuka toko, tidak menggelar panggung, melainkan menata sebuah ruang kecil bertuliskan: Human Library – Borrow a Person, Not a Book.Gagasannya terdengar aneh, tapi justru di situlah keindahannya: alih-alih membaca kertas, pengunjung bisa “meminjam” manusia selama tiga puluh menit dan mendengar kisah hidupnya secara langsung.

Setiap manusia di ruang itu diberi label seperti judul buku. Ada yang bertajuk PengungsiPengidap HIVMantan NarapidanaPerempuan Berhijab, hingga Pecandu dalam Pemulihan. Pengunjung boleh “meminjam” mereka untuk berbincang—bukan untuk diadili, tetapi untuk dipahami. “Kita memang tidak seharusnya menilai buku dari sampulnya,” kata Ronni Abergel dalam wawancara dengan World Economic Forum (2021), “tetapi kenyataannya, kita semua melakukannya. The Human Library adalah tempat untuk meluruhkan kebiasaan itu.”

Di sinilah konsep membaca mendapat makna baru. Membaca bukan lagi kegiatan sunyi di antara halaman-halaman kertas, tapi perjumpaan antarmanusia. Mereka yang datang untuk membaca sering pulang dengan mata yang basah. Seorang lelaki Denmark yang mengaku takut pada imigran akhirnya memeluk “bukunya” sambil berbisik, “Aku sama sekali tak menyangka.” Seorang gadis dari keluarga kaya menulis di catatan pengunjung: “Dalam tiga puluh menit, aku membaca sebuah kehidupan—dan baru sadar betapa kecilnya duniaku selama ini.”

Tidak ada teori literasi yang mampu menandingi kekuatan pengalaman semacam itu. Dalam satu percakapan jujur, prasangka menahun bisa luluh. Dan mungkin memang di sanalah letak hakikat membaca: bukan hanya memahami isi teks, tetapi menemukan kembali kemanusiaan di antara kata-kata.

Dari Roskilde, ide ini menyebar ke berbagai kota dunia: Amsterdam, Toronto, Nairobi, Seoul, hingga Jakarta. Kini The Human Library hadir di lebih dari delapan puluh negara, tetap berpusat di Kopenhagen. Setiap cabang bekerja dengan semangat yang sama: menciptakan ruang aman untuk berdialog. Di sana, membaca menjadi tindakan sosial—membaca cerita yang tak tertulis, membaca luka yang tak disuarakan.

Saya membayangkan, jika gerakan ini lahir di dunia Arab atau Afrika, mungkin ia akan disambut seperti pepatah lama: Man lam yasma‘ lam ya‘lam — siapa yang tak mau mendengar, takkan pernah tahu. Pepatah itu mengingatkan bahwa literasi sejati bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan kesediaan membuka hati. Sebab pada dasarnya, setiap bentuk membaca adalah usaha untuk menembus batas diri—baik ketika kita membaca buku, maupun ketika kita membaca manusia.

Dalam wawancara bersama The Guardian (2019), Abergel mengaku tak pernah menyangka proyek kecil di festival musik itu akan menjadi gerakan global. Namun ia percaya satu hal: manusia, betapapun keras hatinya, selalu rindu dimengerti. “Kita hanya butuh tempat untuk bertemu, tanpa rasa takut,” ujarnya, “tempat untuk bertanya hal-hal bodoh, dan tetap dicintai.”

Kalimat itu seperti teguran bagi dunia literasi yang sering terjebak dalam kesombongan intelektual. Kita rajin membaca, tapi jarang mendengar. Kita menulis untuk mengoreksi orang lain, tapi lupa memahami diri sendiri. Padahal, seperti kata pepatah Ghana, “Kebijaksanaan itu seperti pohon baobab, tak ada satu orang pun yang mampu memeluknya sendirian.” Mungkin hal itu juga berlaku dalam membaca: kita terlalu ingin segera menguasai isi buku, hingga lupa bahwa pengetahuan yang sejati, selain tumbuh dari kesabaran, juga dari keterbukaan terhadap pengalaman orang lain.

Saya pernah membayangkan, bagaimana jika di sekolah-sekolah kita juga ada perpustakaan seperti itu? Tempat di mana “buku-buku manusia” bukan hanya tokoh inspiratif, tapi teman sebangku sendiri—yang mungkin penyendiri, yang sering absen, yang tak pernah ditanya kabarnya. Mungkin di sana, siswa belajar bahwa membaca tak selalu soal teks; ia juga soal empati, sabar, dan keberanian memahami yang tak kita mengerti.

Menariknya, beberapa penelitian telah membuktikan efek tersebut. Sebuah studi yang diterbitkan di School Libraries Worldwide (Brown, 2016) menunjukkan bahwa konsep Human Library efektif membangun empati di kalangan pelajar karena menggantikan buku fisik dengan pengalaman hidup nyata. Hal serupa disampaikan dalam penelitian Practical Tips for Using a Human Library Approach oleh Malhi dan timnya (2023), yang mencatat peningkatan signifikan dalam sikap toleran dan pengetahuan lintas budaya pada peserta.

Bahkan, The Human Library Organisation sendiri kini bekerja sama dengan sejumlah universitas untuk meneliti sisi ilmiahnya. Dalam laporan “The Science Behind the Human Library’s Methodology” (2025), disebutkan bahwa pengalaman mendengar kisah pribadi seseorang mengaktifkan area otak yang sama dengan ketika seseorang membaca karya fiksi emosional—menunjukkan bahwa “membaca manusia” secara harfiah dapat memperkuat kapasitas empati.

Kita sering mengira bahwa membaca berarti menumpuk pengetahuan, padahal membaca yang sejati justru meluruhkan kesombongan. Ia membuat kita sadar bahwa dunia lebih luas dari sudut pandang kita sendiri. Seperti doa tua dari Afrika Barat yang berbunyi: “Semoga lidahku belajar diam sampai hatiku belajar mendengar.”

Mungkin itulah inti dari literasi yang paling purba: kesediaan membaca dengan hati terbuka. Dalam keheningan semacam itu, The Human Library bukan sekadar proyek sosial, tapi cara belajar baru—belajar menjadi manusia. Di dalamnya, setiap kisah adalah cermin; setiap luka adalah guru; setiap pertemuan adalah halaman baru dari buku dengan halaman tak terbatas.

Dan ketika kita akhirnya menutup “buku manusia” itu, kita sadar, seperti yang diucapkan oleh seorang pengunjung di Kopenhagen setelah sesi pertamanya, “Aku datang sebagai orang asing, dan tak ingin pulang—karena telah menemukan kehangatan di tengah pengetahuan.”

Lubuklinggau, 5 November 2025

Daftar Pustaka

Abergel, R. (n.d.). About The Human Library. The Human Library Organisation. Retrieved from https://humanlibrary.org/about

Brown, D. (2016). School Libraries as Power-Houses of Empathy: People for Loan in The Human Library. School Libraries Worldwide, IASL Conference Proceedings. Retrieved from https://journals.library.ualberta.ca/slw/index.php/iasl/article/view/7197

Fox, K. (2019, May 12). ‘I read a life in 30 minutes’: How the Human Library is breaking down prejudice one conversation at a time. The Guardian. Retrieved from https://www.theguardian.com/world/2019/may/12/the-human-library

Malhi, R., et al. (2023). Practical Tips for Using a Human Library Approach in Healthcare Education. BMC Medical Education. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10873544/

Tackling Diversity and Inclusion with a “Human Library”. (2021, December 3). World Economic Forum. Retrieved from https://www.weforum.org/stories/2021/12/diversity-inclusion-human-library

The Science Behind the Human Library’s Methodology: The Case of the University of Glasgow. (2025, June 6). The Human Library Organisation. Retrieved from https://humanlibrary.org/science-behind-methodology

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

3 Comments

  • Ya ampun, 25 tahun berselang, aku baru ngeh tentang ini. Langsung membayangkan jadi “buku” kalau berkesempatan hadir di The Human Library ini.

  • Semoga ide ini bisa menyebar luas, hingga sekolah-sekolah di indonesia dan memiliki “buku manusia” yang bisa dibaca, didengar, dan dipahami 🥹👍🏻

  • Nah iya bang, kdng intelektual suka jadi angkuh, hrs ditegur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *