Orang Biasa Mengalahkan Genius

 Orang Biasa Mengalahkan Genius

Foto: Agung Dhariant

Oleh Benny Arnas

Apakah Anda memiliki IQ di atas 150?

Apakah Anda bisa memahami kuliah sembari bermain mobile legend sehingga, tanpa harus mengulang pelajaran, Anda selalu mendapat nilai A saat ujian?

Apakah Anda bisa menghitung hasil 19807 dibagi 23 tanpa menggunakan kalkulator kurang dari 10 detik?

Apakah ketika kecil, orangtua Anda baru akan memberi Anda malam malam kalau Anda sudah membaca 5 buku sehari dan Anda bergembira karenanya?

Kalau keempat pertanyaannya di atas jawabannya “Tidak”, saya dan Anda senasib.

Kita sama-sama tidak terlahir genius.

***

Eric Weiner dalam Geography of Genius menulis bahwa, sebagian besar perubahan di dunia ini dilakukan oleh para kreatif?

Siapa itu para kreatif?

Para kreatif adalah orang-orang berani menentang kebiasaan normatif dalam lingkungan dan atau tempatnya hidup demi sebuah positivisme yang belum dipahami publik.

Kreatif, kata Austin Kleon dalam Steal Like an Artist, bukan bakat. Ia adalah cara kerja.

Oleh karenanya, kreatif tidak dilahirkan oleh gen, melainkan kebiasaan.

Lalu apa hubungan kreatif dengan kegeniusan.

***

Menurut Weiner ada tiga jenis genius di dunia ini:

Genius Potensial

Anggaplah Anda punya IQ tinggi. Anda bisa mengerjakan soal matematika, serumit apa pun, dalam waktu sangat cepat; bisa memahami isi buku setebal 500 halaman hanya dalam sekali pembacaan; mampu mengingat warna baju 53 orang yang lalu-lalang di hadapan Anda di tengah pasar yang riuh.

Tapi, selama Anda tidak menghasilkan sesuatu yang baru, mengejutkan, dan berguna, kegeniusan Anda tidak berguna.

Anda hanyalah orang biasa.

Jacob Leebs adalah contohnya. Ketika sekolahnya menjadi objek pengujian metode menghitung IQ untuk siswa di Amerika pada 1988, ia mendapatkan nilai 156.

Ia populer, diundang ke sana-sini karena kemampuan berhitung dan mengingatnya di atas rata-rata. Namun setelah tamat kuliah, ia mendapatkan kritikan karena kemampuan bersosialisasinya yang rendah dan kelas-kelas kreatif yang ia ampu tidak membuat muridnya nyaman. Ia sering datang terlambat dan tidak bisa membuat pembelajaran yang terstruktur.

Pada usia 34 ia bekerja sebagai pelayan cadangan (catat: hanya cadangan!) di restoran cepat saji.

Jenis ini, kata Weiner, genius paling banyak. Kehausan di hadapan sungai yang jernih. Pintar tapi jauh dari berguna. Cerdas tapi jadi medioker.

Pribadi seperti Leebs alangkah sialnya. Ia menciptakan margin yang begitu besar karena amalannya jauh lebih sedikit daripada potensi yang ia miliki.

Genius Fashionista

Genius ini dilahirkan oleh kesadaran publik yang terlambat terhadap keberadaan orang-orang dengan karya besar, tak peduli berapa pun IQ mereka.

Semasa hidupnya, Vincent van Gogh hanya bisa menjual satu dari 900 lukisan yang ia buat.

Lukisannya sering dikritik karena dinilai terlalu gelap dan kurang berenergi. Van Gogh juga harus berjuang dengan penyakit mental hingga akhirnya ia meninggal pada usia 37.

Setelah kematiannya pada tahun 1890, saudara iparnya berusaha melestarikan karya Van Gogh agar bisa dihargai.

Hasilnya, banyak lukisan Van Gogh yang masuk dalam daftar lukisan termahal dan sangat berpengaruh dalam dunia seni di kemudian hari.

Seratus tahun kemudian, lukisannya Portrait of Dr. Gachet laku $82,5 juta atau Rp1,157 triliun (dengan inflasi saat ini, harga tersebut melonjak jadi sekitar $148,6 juta atau Rp2,08 triliun) pada 1990, dan menjadi yang termahal ke-6 di dunia.

Genius Kreatif

Buat apa punya IQ tinggi apabila Anda tidak memberdayakannya? Buat apa punya kemampuan tapi tidak bergerak? Buat apa berada di atas sepeda tapi Anda selalu terjatuh karena tidak tahan mengayuh lama?

Genius kreatif tak peduli IQ Anda berapa, daya ingat Anda sehebat apa, dan kemampuan genius potensial lainnya seperti apa. Tidak peduli.

Selama Anda tidak mengerjakan sesuatu yang baru, mengejutkan, dan berguna, Anda hanya orang biasa.

Adam Khoo adalah adalah anak yang bodoh, malas, dan agak terbelakang. Siapa pun yang melihat profil dan riwayat belajarnya ketika SD, langsung tahu bahwa masa depan Khoon begitu suram.

Kelas 3 SD dia dikeluarkan dari sekolah. Di SMP, ia ditolak enam sekolah yang ia datangi.

Di sekolah buangan, ia memperpanjang rekor buruknya: menjadi yang terbodoh dari 160 murid.

Entah bagaimana, Khoo kemudian dikirimkan ke Super-teen Program yang diampu oleh Ernest Wong. Di kelas, Wong menggunakan Accelerated Learning Neuro Linguistic Programming (NLP) dan Whole Brain Learning untuk memberi mereka determinasi yang kuat bahwa setiap orang berhak jadi genius. “Satu-satunya hal yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan yang salah,” tegas Wong.

Kata-kata sang guru mempengaruhi Khoo.

Setiap hari ia mendapatkan energi positif, baik dari sang mentor maupun para preserta lain.

Ia mulai membuka diri, baik kepada guru, teman, bahkan orang lain. Berpikir positif dan keyakinan yang kuat dalam lingkungan men jadikan Khoo terlahir sebagai Khoo yang baru.

Hasilnya?

Hanya dalam waktu tiga bulan, rata-rata nilai Khoo naik menjadi 70.

Dalam satu tahun, ia mulai melampaui dirinya. Meraih peringkat ke-18.

Ia kemudian lulus SMP dengan nilai tertinggi: enam mata pelajaran mendapat nilai sempurna.

Di perguruan tinggi, ia kembali jadi juara dan terpilih mengikuti Talent Development Program, sebuah program peggodokan kapasitas calon pemimpin. Kelas ini diberikan khusus kepada hanya satu persen mahaisswa yang dianggap genius.

Pada umur 26 tahun, Khoo menjalankan bisnisnya, bukan satu, tapi empat, dengan omzet US$ 20 juta!

***

Apa hubungan kisah Jacob Leebs si genius potensial yang malang, Van Gogh yang melegenda; dan Adam Khoo si Goblok yang meledak, dengan (kemungkinan) orang biasa mengalahkan genius?

Kecuali, Libs yang malang, Gogh tak pernah dihitung IQ-nya, sementara Adam Khoo sudah bisa kita tebak hasilnya.

Tapi, ternyata kisah mereka memiliki irisan yang bernama Kebiasaan.

Van Gogh tidak bisa melukis dengan baik kalau ia terjaga Ketika matahari sudah bersinar terang. “Saya harus terjaga lebih awal dari matahari agar bisa menghasilkan warna-warna yang menggetarkan,” tuturnya sebagaimana ditulis Steven Naifeh dan Gregory White Smith dalam The Life, biogfrafi penulis beraliran post-impresionis itu.

Hal ini juga menjadi topik utama dalam salah satu buku Best Seller Dunia, The 5 AM Club yang ditulis Robin Sharma. Penelitian Sharma mengungkapkan bahwa bangun pagi merupakan rutinitas orang besar, tak peduli berapa IQ mereka.  

CEO PepsiCo Indra Nooyi, Xerox Ursula Burns, Founder Virgin Group Richard Branson, Martha Stewart, General Motors Mary Barra, investor Shark Tank Kevin O’Leary, co-host Project Runway Tim Gunn adalah orang-orang sukses yang menjadikan bangun pagi pukul 5 sebagai rutinitas.

Sementara Ibu Negara Amerika Serikat Michelle Obama, CEO Disney Bob Iger, CEO Virgin America David Cush, Tim Armstrong, dan CEO Starbucks Howard Schultz, bahkan memulai hari mereka pada pukul empat!

Dalam The 5 AM Club, Steve Jobs menulis, menyia-nyiakan waktu (baca: bangun pagi, pen.) sama dengan melihat lebih awal nasibmu seharian: buruk dan tidak ada yang baru.

Adam Khoo mengaku, ia tidak akan menjadi kupu-kupu yang terbang dan menakjubkan apabila ia tidak bertemu dengan Ernest Wong dan orang-orang dekat yang selalu bilang bahwa, genius itu dibentuk, bukan dilahirkan.

Dengan orang yang pintar kadang kala tidak seperti harapan. Dekatlah dengan orang-orang yang membuat kita sadar bahwa banyak sekali orang-orang yang sama dengan kita: punya mimpi, tak pernah menganggpnya terlalu besar, dan percaya bahwa tak ada yang tak mungkin.

***

Bangun pagi pukul 5 atau lebih awal dari itu tidak mesti diartikan secara harfiah.

Ia adalah manifestasi atas kedisiplinan.

Untuk menjadi kreatif, kita diminta menghargai waktu. Durasi belajar akan membuat kita sadar bahwa kreativitas itu lahir dari rutinitas, bukan lamunan dan imajinasi semata.

Dan orang-orang besar, tak peduli berapa pun IQ mereka, menjadikan bangun lebih awal sebagai rutinitas yang tak bisa ditawar. Sebab dengannya, mereka tahu bahwa hari mereka akan lebih baik. Kalau Anda adalah seorang insomnia atau kreatif yang produktif ketika hari sudah gelap, Anda bisa membuat “pagi yang lain”. Selama ia adalah representasi atas kedisiplinan dan rutinitas untuk produktif, matahari “boleh terbit” rutin pukul berapa pun.

Memang benar bahwa, “Jangan takut bermimpi, sebab Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu,” kata Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi.

Tapi, kalau Anda tidak bergerak dan membenci rutinitas genius kreatif, termasuk bangun pagi atau “bekerja” dengan rajin dan tepat waktu, Anda yang sudah jelas hanya orang biasa dengan masa depan yang terbaca: peramai populasi semata.

***

Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki energi positif.

Itu adalah moral penting yang bis akita peajari dari kisah Adam Khoo.

Pakar kreativitas, Austin Kleon dalam Show Your Work bilang, hari ini adalah eranya skenius, bukan genius.

Skenius adalah kumpulan orang-orang yang punya mimpi, tak peduli berapa pun IQ mereka, tak peduli dari mana mereka berada. Makin sering berkumpul, makin sering mereka melakukan hal-hal yang berguna, makin dekat mereka dengan mimpi mereka.

Ingat, kemampuan nomor satu yang harus dimiliki oleh generasi hari ini, bukan menguasai aneka aplikasi baru di komputer, bukan membuat robot, melainkan:

Berkolaborasi,

bekerjasama,

berdekatan dengan mereka yang satu frekuensi.

Apabila Khoo tidak dikelilingi orang-orang dengan energi positif seperti Wong dan rekan-rekannya dikelas … dan ia tak membuka diri dengan itu, laki-laki Singapura itu mungkin masih akan menjadi orang goblok yang paling goblok di kelasnya.

Tulisan ini ditutup dengan jawaban Jacob Leebs, si genius potensial yang malang, dalam sebuah mewawancainya di sela-sela jam istirahat di sebuah restoran cepat saji.

“Apa yang membuat Anda terpuruk?” tanya si jurnalis

Dengan mata yang berkaca-kaca, Leebs berkata, “saya selalu marah ketika Ibu membangunkan saya setiap pagi dan saya selalu benci bekerja sama.” ***

Catatan: Esai ini dibacakan Benny Arnas dalam Orasi Literasi Orang Biasa Mengalahkan Genius (Lobi Benny Institute, 11 November 2023).

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

1 Comment

  • Mantaps Benny…Genius adalah aset.. yang bisa dimanfaat
    kan atau tidak.. bukan sesuatu yang otomatis bisa terpakai..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *