Siapa Bilang Enak, Membaca Itu Capek, Tauk!

 Siapa Bilang Enak, Membaca Itu Capek, Tauk!

Ilustrasi: istockphoto.com

… kalau seseorang merasa lelah setelah membaca beberapa halaman, itu adalah tanda bahwa tubuh dan pikirannya bekerja dengan benar. 

Oleh Benny Arnas

________

Pada 2024, sebuah peristiwa kecil namun menggelitik terjadi di Perpustakaan Umum Dallas, Amerika Serikat. Seorang pengunjung menelepon staf perpustakaan sambil panik: ia mengira perpustakaan sudah tutup lebih awal karena “pengumuman resmi di pintu berbunyi begitu”. Setelah dicek, ternyata yang ia baca hanyalah jadwal acara konser anak di ruang belakang, bukan jam operasional perpustakaan. Staf perpustakaan sampai menuliskan klarifikasi di situs resminya karena banyak pengunjung lain yang juga hanya membaca sepintas lalu mengira jadwal acara itu adalah pengumuman penutupan gedung. Kesalahan yang kocak, tapi juga memperlihatkan kenyataan: banyak orang membaca hanya sekilas, dan akibatnya, hidup jadi lebih sulit dari seharusnya.

Peristiwa seperti ini, walaupun tampak ringan, membuka kenyataan yang lebih luas: membaca itu benar-benar kerja fisik dan mental. Kita sering merasa bahwa membaca hanyalah aktivitas duduk manis, membuka buku atau layar, lalu membiarkan otak bekerja perlahan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Membaca membuat mata bekerja keras, postur tubuh menyesuaikan diri, dan otak memutar roda dengan intensitas yang tidak kalah dari mengerjakan soal matematika. Enak? Kadang. Tapi capek? Sering.

Riset menunjukkan bahwa mata manusia tidak melakukan gerakan mulus ketika membaca. Mata melakukan ratusan gerakan cepat yang disebut saccade dan jeda-jeda kecil yang disebut fixation hanya untuk menyelesaikan satu halaman. Penelitian berjudul Eye movements in reading and information processing yang lama dipakai sebagai referensi dalam studi pembacaan menemukan bahwa gerakan-gerakan mikro ini adalah pekerjaan fisik yang terus berlangsung sepanjang aktivitas membaca. Hanya karena kita sudah terbiasa, kita lupa bahwa tubuh kita bekerja.

Belum lagi beban otak. Sebuah studi lain tahun 2023 yang memeriksa bagaimana orang membaca informasi benar dan informasi palsu menemukan hal menarik: otak bekerja lebih keras ketika suatu teks menuntut verifikasi. Dengan kata lain, membaca untuk memahami saja sudah melelahkan, apalagi membaca sambil mengecek apakah informasi tersebut bisa dipercaya. Beban mentalnya meningkat, dan kelelahan pun ikut naik.

Tak heran kalau membaca sering membuat tubuh seperti baru selesai olahraga ringan. Bahu menegang, leher pegal, jari terasa agak kaku karena menahan buku atau ponsel terlalu lama. Kalau membaca dilakukan sambil tiduran, pegalnya malah lebih besar. Banyak artikel kesehatan mengingatkan bahwa membaca dengan postur yang buruk bisa memicu ketegangan mata dan nyeri punggung. Namun semua rasa ini seakan tidak pernah dianggap sebagai bukti bahwa membaca itu benar-benar melibatkan tubuh. Kita hanya menyebutnya “lelah”. Padahal, ya itu: membaca memang melelahkan.

Kalau kita tengok budaya literasi Asia Timur, ada nasihat kuno yang dari dulu sudah memahami betapa membaca itu pekerjaan besar. Pepatah Tiongkok kuno mengatakan, “读书破万卷,下笔如有神,” membaca sepuluh ribu jilid membuat tulisan mengalir seakan mendapat ilham. Namun pepatah itu sesungguhnya menunjukkan bahwa membaca bukan kegiatan enteng. Untuk bisa membaca sepuluh ribu jilid, seseorang harus menyiapkan kesabaran, tenaga, dan ketekunan yang mustahil muncul tanpa kelelahan.

Dalam tradisi yang lebih luas, Al-Qur’an memberi isyarat serupa. Ayat yang sering dikutip adalah “Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Ta-Ha: 114). Di sana tersirat bahwa proses menambah ilmu bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis. Itu adalah permohonan yang menunjukkan perlunya upaya, energi, dan ketabahan. Kalau ilmu semudah menyerap udara, tidak perlu ada doa untuk memintanya. Dan kalau ilmu diperoleh melalui membaca, maka membaca tentu tidak dimaksudkan sebagai hal yang serba ringan.

Namun kita hidup di zaman yang kerap mengelabui. Kita sering melihat orang-orang membaca sambil mengunggah foto estetik di media sosial: kopi di sebelah kiri, bunga kering di sebelah kanan, dan buku terbuka di tengah. Tidak ada yang menunjukkan mata lelah, punggung pegal, atau konsentrasi yang terpecah ketika membaca halaman yang sulit. Kita mengagungkan gambar membaca, bukan kerja membaca itu sendiri. Tidak heran banyak orang mengira membaca seharusnya selalu nyaman. Padahal yang membuat nyaman adalah ilusi visual yang sampai ke publik, bukan prosesnya.

Ironisnya, justru karena membaca itu kerja fisik dan mental, banyak orang cepat menyerah. 

Mereka berpindah ke video ringkasan, menjelajah reel berdurasi tiga puluh detik, atau mencari versi singkat yang lebih mudah dicerna. Tidak ada yang salah dengan ringkasan, tapi tidak ada ringkasan yang bisa menumbuhkan kepekaan, kedalaman, dan ketelitian yang muncul dari pertemuan langsung dengan teks yang kompleks. Ringkasan mungkin menyelamatkan waktu, tapi ia sering mencuri kesempatan tubuh dan pikiran untuk benar-benar bekerja.

Ambil contoh kecil: ketika seseorang membaca kontrak kerja, banyak yang melewatkan poin-poin penting hanya karena membaca sekilas. Ketika seseorang membaca label obat, banyak yang salah tafsir karena malas membaca detail dosis. Ketika seseorang membaca berita, banyak yang langsung percaya karena tidak sempat menelusuri kredibilitas sumber. Kelelahan yang seharusnya datang dari membaca justru digantikan oleh kelelahan yang lebih besar: menanggung akibat salah paham.

Di dunia yang penuh informasi berseliweran, kemampuan membaca bukan hanya keterampilan akademik. Ia adalah alat bertahan hidup kecil yang bekerja terus-menerus. Membaca membuat kita memeriksa dunia, menunda reaksi, menimbang ulang, dan merangkai kesimpulan yang lebih matang. Semua hal ini tidak lahir dari kemalasan. Ia lahir dari tenaga.

Karena itu, kalau seseorang merasa lelah setelah membaca beberapa halaman, itu bukan tanda bahwa ia kurang pintar atau kurang fokus. Itu justru tanda bahwa tubuh dan pikirannya bekerja dengan benar. Seperti seorang pelari jarak jauh yang merasakan perih di betis karena otot sedang berkembang, pembaca pun mengalami denyut-denyut kecil yang menunjukkan bahwa proses sedang berlangsung.

Kalau membaca membuat tubuh lelah, biarlah. Karena capek yang ditimbulkan kalimat-kalimat itu jauh lebih aman daripada kelelahan akibat salah paham, salah ambil keputusan, atau salah percaya pada hal yang seharusnya kita periksa dulu. Mungkin justru rasa capek itulah yang perlahan membentuk kewaspadaan dan ketelitian, dua hal yang tak bisa dibeli dari video singkat berdurasi dua puluh detik.(*)

Aleksandria, 3 Desember 2025

________

Daftar Pustaka

Guess, A. M., Lerner, M., Lyons, B., Montgomery, J. M., Nyhan, B., Reifler, J., & Sircar, N. (2020). A digital media literacy intervention increases discernment between mainstream and false news in the United States and IndiaProceedings of the National Academy of Sciences, 117(27), 15536–15545. https://doi.org/10.1073/pnas.1920498117  

Rayner, K. (2009). Eye movements in reading and information processing: 20 years of research. Psychological Bulletin and Review, [review article] pattern overview.  

Raney, G. E., Campbell, S. J., & Bovee, J. C. (2014). Using eye movements to evaluate the cognitive processes involved in text comprehensionJournal of Visualized Experiments. https://doi.org/10.3791/50780  

Hyönä, J. & Kaakinen, J. K. (2019). Eye movements during reading. In C. Klein & U. Ettinger (Eds.), Eye Movement Research – An Introduction to Its Scientific Foundations and Applications (pp. 239–274). Cham: Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-030-20085-5_7  

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Mengingatkan saya akan buku Kisah Para Ulama Mengelola Waktu karya Abu Fattah Abu Ghuddah. Membaca tak cukup sekali, menulis tak pernah berhenti.

    Pertanyaan: Apakah Bang Benny punya kesadaran akan adanya “pembacaan pertama” terhadap suatu buku, lalu melakukan pembacaan (lanjutan) lainnya (beberapa cara pembacaan yang dimaksud ialah yang disebutkan dalam buku Metakritik karya Martin Suryajaya)? Atau punya alasan untuk membaca ulang atau tidak atau bahkan tidak menyelesaikan suatu buku?

    • Kunci membaca menurut saya adalah berubah. Ketika kita menemukan buku yang memberikan efek itu, ia sah untuk dibaca tak keruan kali. Contoh paling dekat adalah kitab suci. Pun dengan buku-buku lain. Kita bisa membaca atau bahkan menamatkannya berulangkali, sebagaimana kita diperkenankan untuk mengabaikannya ketika kita tiba di bagian yang mendorong kita untuk beraksi, mengambil langkah nyata untuk berubah. Saya menuangkannnya di esai di bawah ini, Rul

      . https://bennyarnas.com/jangan-khawatir-membaca-buku-tidak-sampai-tamat-itu-bukan-dosa-besar/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *