Membaca Kairo, Menghafal Hidup

 Membaca Kairo, Menghafal Hidup

Kadang pengetahuan justru melekat di suara yang diulang setiap hari, di ingatan yang dijaga bersama, dan di cara masyarakat merawat teks-teks.

Oleh Benny Arnas

_______

Subuh di Downtown Kairo membawa denyut yang tidak kuprediksi. Suara azan belum selesai ketika di gang sempit di luar apartemen kudengar gumaman ayat. Seorang lelaki lewat dengan tas plastik, menggumam pelan sambil mengikat sandal jepitnya. Tidak lama, seorang laki-laki dengan senampan raksasa roti ish lewat dengan sepeda bututnya, beberapa pengemis menjerit menawarkan tisu lima pound, dan penjual ful khidmat menggoreng thom'iah sambil muroja'ah di gerobaknya yang menyempil di antara kedai-kedai yang menawarkan stroberi seharga 30 pound per kilonya. Tanpa buku terbuka, tanpa meja baca. Ingatan menjadi medium membaca sehari hari, sebuah tradisi yang melekat kuat di kota yang selalu sibuk dan riuh oleh klakson, teriakan, dan tentu saja doa-doa.

Aku datang sebagai writer in residence tengah november, membawa ransel berisi beberapa buku fisik, ebook, dan niat sederhana: mengamati hubungan antara buku, teks, ingatan, dan kehidupan negeri tua ini. Tetapi di Kairo aku segera sadar bahwa definisi membaca lebih luas daripada membuka halaman buku. Membaca bisa berarti menghafal, mengulangi, menjaga ingatan.

***

Pada minggu pertama, aku sering terbangun lebih pagi dari alarm hanya karena keramaian jalan. Downtown adalah ruang yang susah tidur. Di bawah apartemenku, suara mobil tua, teriakan pedagang roti ish, denting gelas teh, dan percakapan keras yang belakangan baru kusadari bukanlah ekspresi kemarahan, menjadi orkestra pagi. 

Ketika aku turun membeli sarapan, penjual ful memberikan senyum sebelum kembali melantunkan ayat pendek yang ia ulang dua atau tiga kali, seakan ia sedang mengikat sekali lagi teks yang sudah puluhan tahun ia ingat. Aku berdiri di sana dengan buku kecil di tangan, menunggu sarapan dihidangkan, dan untuk pertama kalinya merasa bahwa di negara ini buku terlihat seperti tamu. Dimuliakan. Dikenali. Disambut terus-menerus.

Naik tremco atau bus pun tidak berbeda. Suatu pagi, seorang sopir berusia sekitar lima puluh tahun melafalkan surah pendek berulang-ulang sambil mengemudi. Sementara itu, seorang anak laki-laki duduk di dekat jendela dan menggerakkan bibirnya pelan, seperti menirukan hafalan yang ia dengar dari pengeras suara kecil yang menempel di dashboard. Kota ini seperti ruang belajar raksasa yang bergerak, tempat hafalan menjadi bahasa siapa saja.

***

Di kampus Al Azhar, tradisi hafalan itu terstruktur. Ribuan mahasiswa mendaftar, namun ruang kuliahnya kebanyakan penuh sesak atau bahkan tidak cukup untuk semuanya. Kehadiran fisik dalam kelas bukan keharusan. Selama hafal materi dan hadir ujian, mahasiswa bisa lulus layak. 

Banyak dari mereka, menurut teman teman lokal, yang tidur lagi setelah subuh, bukan karena malas, tetapi karena malamnya, salah satunya, habis mengulang pelajaran. Di lingkungan seperti itu hafalan bukan jalan pintas. Ia jalan raya.

Namun hafalan di Al Azhar tidak berhenti pada teks yang hanya dipelajari sendiri. Ada halaqah malam, majelis ilmu nonformal, kelompok diskusi mahasiswa, pertemuan kitab bersama di kafe atau masjid. Semua memakai metode hafalan, talaqqimurojaah. Buku fisik atau mushaf mungkin dibuka sekali, kemudian ayat diulang berkali kali supaya melekat di ingatan tubuh. 

Aku sering melihat mahasiswa berdiskusi sambil menyeruput teh dan faransawi, sambil asap shishamengepul di ruang sempit kafe. Mereka berbicara keras, tertawa, menyodorkan mushaf, lalu mengatakan hafal dulu, pahami nanti. Ach.

Kadang, di sela-sela pembicaraan itu, ada cerita tentang teman mereka yang sedang uzlah untuk menghadapi ujian. “Dia tidak akan menjawab pesan dalam sepuluh hari,” kata seorang mahasiswa, seolah itu hal lumrah dilakukan. Dan memang lumrah. Menghafal di sini bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi ritus pembuktian kedewasaan intelektual.

***

Keluar dari kampus, suasana kota seperti mendukung pola belajar itu. Pagi hari, pedagang fulmenyiapkan sarapan. Kedai teh dan faransawi dibuka, laki laki berkumpul, mengisap shisha sambil membaca alamat surat pendek atau mengulang doa. Pedagang buah menumpuk jeruk manis, penjual roti ish menyusuri gang, dan suara baca berkali kali terdengar dari mikrofon informal atau bahkan dari mulut tukang sayur. Di Kairo, hafalan tidak lagi sekadar ritual religius. Ia menjadi cara hidup, cara mengikat ingatan sehari-hari.

Pada beberapa pagi aku berlari menuju Tahrir, melewati kafe-kafe yang baru buka. Para pelayan menyapu lantai sambil bersenandung ayat. Para lelaki tua yang merokok shisha di depan pintu juga melantunkan sedikit hafalan. Seolah kota menjaga ritmenya sendiri.

***

Kadang kucoba membuka halaman buku-buku bawaanku ketika duduk sendirian di kafe, berharap bisa menyerap udara literasi modern. Namun, di kota ini, suasana alangkah mudahnya berubah. Klakson mobil, teriakan penjual, suara bacaan dari sudut jalan, membuat pikiranku terusik. Rasanya seperti membaca buku fisik di tengah kebisingan yang tak pernah memberi jeda. 

Seiring waktu, aku mulai berpikir bahwa buku fisik, ebook, dan aneka tautan siniar yang kubawa dari Indonesia bukan satu satunya jalan. Di negara ini, hafalan, komunitas, dan ingatan kolektiflah yang membentuk literasi publik.

Keyakinanku diperkuat oleh The Effect of Memorizing the Quran on Cognitive Functions, sebuah studi di Istanbul berjudul  yang dikerjakan Şirin Sümeyye, Barış Metin, dan Nevzat Tarhan (2021). Riset itu menunjukkan bahwa siswa yang menjalani program tahfidz mengalami peningkatan signifikan dalam memori verbal, memori visual, kecepatan perhatian, serta kelancaran verbal dan semantik. Studi itu menyodorkan data bahwa hafalan adalah latihan mental yang intensif. Ia bukan sekadar pengulangan pasif. Ia adalah stimulasi kognitif yang konkret.

Penelitian lain oleh Mulia dan Huda (2020) terhadap siswa tahfidz di Indonesia juga menunjukkan hasil serupa: kemampuan konsentrasi, daya ingat, bahkan disiplin waktu lebih berkembang dibandingkan siswa yang tidak menjalani latihan hafalan intensif. Dua penelitian itu membuatku lebih berhati-hati sebelum menganggap hafalan sebagai metode yang ketinggalan zaman.

***

Selama beberapa minggu aku menyusuri trotoar, masuk ke kedai teh di gang kecil dan mendengar bisik ayat, aku mulai merasakan bahwa literasi di Mesir bukan monopoli buku. Ia adalah jaringan ingatan kolektif.

Di negara ini, membaca dan menghafal adalah bagian dari spektrum yang sama. Keduanya merekam, menjaga, dan memindahkan pengetahuan. Bahkan di tempat yang tampaknya tidak terkait dengan belajar sekalipun seperti terminal, pasar, kedai kopi, suara hafalan tetap terdengar. Pengetahuan menjadi sesuatu yang bergerak bersama manusia, bukan yang menunggu ditemui di rak-rak perpustakaan.

***

Saat waktu residensiku berjalan separuhnya, aku mulai melihat hafalan sebagai metode yang mampu menjawab tantangan: bagaimana mempertahankan literasi dalam kehidupan urban yang padat, tanpa ruang sunyi, tanpa perpustakaan modern, tanpa ketenangan sempurna.

Ya, Kairo seperti hendak memberi tahu bahwa bacaan bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk diserap, dirawat di dalam diri, lalu dikeluarkan sebagai cara hidup.

Pula, literasi bukan hanya milik mereka yang punya waktu untuk membuka buku. Literasi bisa milik siapa saja yang bersedia mengulang, menghafal, dan menjalin ingatan terhadap pengetahuan. Di negara yang menghafal, aku belajar bahwa setiap ayat yang dibisikkan di tengah keramaian adalah upaya menjaga warisan, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk generasi selanjutnya.

Pelan-pelan, kesadaran baru merayapiku. Bahwa metode membaca setiap tempat berbeda. Namun hakikatnya sama, yaitu mempertahankan percakapan antara manusia dan ilmu. Di Kairo yang keras tetapi penuh gema Qur’an, aku belajar bahwa pengetahuan tidak selalu menunggu dibaca di halaman buku. Kadang ia justru melekat di suara yang diulang setiap hari, di ingatan yang dijaga bersama, dan di cara masyarakat merawat teks-teks kauniah.

Dan, mungkin, ketika pesawat nanti membawaku meninggalkan Kairo, mungkin justru gumaman ayat dari pedagang ful di pagi pertama residensiku itulah yang paling lama tinggal di kepala. Sebab di negara yang menghafal, pengetahuan tidak hanya datang dari buku-buku. Ia datang dari kehidupan yang terus mengulang dirinya sendiri. Begitu. (*)

Aleksandria-Kairo, 4 Desember 2025

______

Daftar Pustaka

Mulia, R. & Huda, M. (2020). Pengaruh Program Tahfidz terhadap Kemampuan Kognitif dan Disiplin Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 5(2), pp. 145–160. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Şirin, S., Metin, B. & Tarhan, N. (2021). The Effect of Memorizing the Quran on Cognitive Functions. Journal of Neurobehavioral Sciences, 8(1), pp. 22–27. Üsküdar University, Institute of Health Sciences. doi:10.4103/jnbs.jnbs_42_20.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *