Perpustakaan Patah Hati

 Perpustakaan Patah Hati

Sumber: Dok.pribadi (2019)

Siapa yang tak pernah terluka, takkan pernah belajar

Pepatah Arab

OLEH BENNY ARNAS

_____


Musim semi di Zagreb, 2019. Udara menggigit lembut di kulit, tapi matahari menetes hangat di antara genting tua yang memantulkan cahaya seperti kaca pecah. Di lereng bukit Gornji Grad, saya berhenti di depan sebuah bangunan putih mungil dengan papan bertuliskan Museum of Broken Relationships. Papan itu sederhana, tapi cukup membuat langkah saya ragu. Di kota yang indah ini, mengapa seseorang ingin berlibur ke tempat patah hati?

Saya masuk, dan dunia mendadak sunyi. Udara di dalam terasa seperti jeda: dingin, bersih, dan pelan-pelan memaksa saya untuk berhenti berbicara pada diri sendiri. 

Tak ada pemandu yang menjelaskan, tak ada narasi yang mendikte. Hanya benda-benda biasa—boneka kecil, sepatu, foto kabur, surat tangan yang warnanya telah pudar—semuanya disusun rapi di balik kaca, disertai cerita singkat yang menempel seperti fragmen.

Di ruang pertama, sebuah pemanggang roti berkarat diletakkan di atas meja kaca. Tulisan di bawahnya berbunyi: “Setiap pagi kami berebut siapa yang membuat roti paling gosong. Kini aku memakainya sendiri, dan tidak pernah gosong lagi.”

Saya tertawa kecil, lalu diam lama. Bagaimana mungkin sepotong roti gosong bisa begitu menyayat?

Museum ini didirikan oleh dua seniman asal Zagreb, Olinka Vištica dan Dražen Grubišić, melalui pameran keliling yang mengundang publik menyumbangkan benda-benda peninggalan dari hubungan yang telah berakhir. Mereka percaya setiap benda membawa sisa energi emosional pemiliknya, jejak yang tak bisa dibuang begitu saja.

Dari ide sederhana itu lahirlah lembaga yang kini menampung ratusan artefak emosional dari seluruh dunia: kunci kamar hotel, batu dari taman belakang, gaun pengantin, bahkan mainan anjing. Semua benda itu tak lagi milik siapa pun, tapi milik bersama: milik semua orang yang pernah kehilangan.

Salah satu hal paling menarik dari museum ini adalah bagaimana ia mengubah duka pribadi menjadi ruang publik untuk berbagi empati. Tidak ada hirarki antara pengunjung dan “narasumber.” Semua orang datang untuk membaca, bukan untuk menilai. Membaca, bukan dengan mata, tapi dengan hati yang bersedia bergetar pada cerita orang lain. Dan barangkali di situlah letak keindahannya: museum ini tak sedang menuturkan kisah cinta, melainkan memperlihatkan cara manusia bertahan setelah cinta berlalu.

Saya berjalan dari satu ruang ke ruang lain, seperti menelusuri halaman buku yang tak saya tulis. Di ruang kedua, tergantung sepasang sepatu dansa dari Buenos Aires, di bawah cahaya lampu kuning. Catatannya singkat: “Kami menari di setiap pesta. Sekarang aku hanya berjalan.”

Saya membayangkan bunyi tumit sepatu itu ketika masih menari—ritmenya, tawa yang menyertainya, dan kesunyian yang muncul setelah musik berhenti. Mungkin begitulah hidup: serangkaian langkah yang tak selalu diiringi lagu. Dan membaca museum ini rasanya seperti membaca puisi tanpa rima—penuh jeda, tapi kaya gema.

Dalam wawancara dengan The Guardian (2018), Olinka Vištica mengatakan bahwa museum ini “bukan tempat untuk meratapi cinta yang hilang, melainkan untuk merayakan kemampuan manusia melepaskan.” Kalimat itu menempel di kepala saya sepanjang kunjungan. Saya menyadari bahwa museum ini bukan monumen kesedihan, melainkan ritual pengampunan terhadap diri sendiri, terhadap masa lalu, terhadap cinta yang pernah gagal menjadi rumah.

Yang membuat tempat ini istimewa bukan hanya benda-benda yang dipamerkan, melainkan cara pengunjung menghadapinya. Beberapa berdiri lama, beberapa menulis di buku tamu, beberapa hanya menatap kosong lalu tersenyum tipis.

Saya melihat sepasang kekasih muda berdiri di depan “surat perpisahan tanpa nama.” Mereka saling menggenggam tangan, lalu tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi mungkin karena sadar bahwa suatu hari mereka pun bisa menjadi catatan di dinding ini.

Saya teringat bahwa membaca juga memiliki risiko yang sama: setiap kali kita membaca, kita membuka diri pada kemungkinan kehilangan: kehilangan tafsir, kehilangan keangkuhan, bahkan kehilangan diri yang lama.

Setiap teks adalah hubungan yang menuntut kejujuran; dan seperti cinta, ia hanya bertahan bila kita berani mengaku bahwa kita tak selalu benar. Mungkin itulah sebabnya membaca bisa menyembuhkan: karena ia menuntut kita untuk memaafkan, sebelum memahami.

Beberapa tahun terakhir, psikolog dan peneliti museum mulai mempelajari dampak pengalaman semacam ini. Dalam Journal of Museum Education (2021), para peneliti mencatat bahwa pameran berbasis kisah pribadi dapat meningkatkan empati dan kemampuan memaafkan diri. Mereka menamainya narrative catharsisproses penyembuhan melalui kisah yang terbuka. Museum ini, tanpa sadar, menjadi ruang terapi kolektif bagi para pengunjungnya: tempat di mana orang-orang asing berbagi luka tanpa perlu mengenal satu sama lain.

Di tengah ruang terakhir, saya menemukan sebuah instalasi sederhana: papan kecil di mana pengunjung menulis kalimat yang tak pernah mereka ucapkan. Saya membuka satu catatan. Tulisan di dalamnya berbunyi: “Aku baik-baik saja sekarang, tapi aku masih memimpikanmu sesekali.” Saya tidak tahu siapa yang menulisnya, tapi kalimat itu terasa seperti sapa yang dikirim dari masa lalu seseorang dan, entah bagaimana, juga masa lalu saya.

Zagreb sore itu cerah. Dari jendela museum, atap-atap merah tua memantulkan cahaya matahari yang menua. Saya duduk di bangku luar, menatap ke arah jalan batu yang menurun menuju pusat kota. Di depan saya, sepasang turis berdebat kecil soal arah pulang, lalu tertawa, lalu saling diam. Mereka tampak seperti fragmen dari pameran itu: hidup, sementara, indah, dan rapuh.

Saya serta-merta teringat pepatah Arab: “Man lam yadhar, lam yata‘allam.” Siapa yang tak pernah terluka, takkan pernah belajar. Kalimat itu terasa benar di tempat ini.

Museum ini tidak sedang merayakan patah hati; ia sedang mengajarkan cara membaca luka tanpa ingin menutupnya terlalu cepat. Seperti buku yang halamannya dibiarkan terbuka agar angin bisa lewat, agar kisah bisa terus bernapas.

Ketika saya meninggalkan museum itu, saya sadar bahwa tak satu pun benda di dalamnya benar-benar tentang kehilangan. Semuanya justru tentang keberlanjutan, tentang bagaimana manusia terus berusaha memberi makna pada yang hilang agar tidak sepenuhnya lenyap.

Di luar, bunga magnolia berguguran perlahan, menempel di batu jalan seperti serpihan surat yang berserakan di lantai perpustakaan. Ya, perpustakaan. Saya berhenti sejenak, menatap langit Zagreb yang terang.  Ternyata tadi saya bukan hanya mengunjungi museum, melainkan perpustakaan. Perpustakaan patah hati. Ah, ternyata membaca itu seperti berdamai dengan hati yang patah. Bukan soal menuntaskan, melainkan keberanian membuka lembaran, meskipun kita hafal: akhir ceritanya selalu luka. Sebab dalam luka, yang dipelajari bukan pengetahuan, melainkan rasa kemanusiaan.(*)

Lubuklinggau, 5 November 2025

Daftar Pustaka

Museum of Broken Relationships. (n.d.). About the museum. Retrieved November 2025, from https://brokenships.com/about

Vištica, O., & Grubišić, D. (2016). Broken Relationships: A Love Museum Catalogue. Zagreb: Brokenships Press.

The Guardian. (2018, February 14). Museum of Broken Relationships: Where love goes to die. Retrieved from https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2018/feb/14/museum-of-broken-relationships-zagreb-love

BBC Travel. (2016, February 11). Inside the Museum of Broken Relationships. Retrieved from https://www.bbc.com/travel/article/20160211-inside-the-museum-of-broken-relationships

National Geographic. (2017, May 12). A Museum Where Broken Hearts Go. Retrieved from https://www.nationalgeographic.com/travel/article/museum-of-broken-relationships-zagreb

Journal of Museum Education. (2021). Narrative Catharsis and the Role of Emotion in Visitor Experience. 46(3), 251–266. Taylor & Francis Online.

The Conversation. (2021, November 8). How the Museum of Broken Relationships Helps Us Heal. Retrieved from https://theconversation.com/how-the-museum-of-broken-relationships-helps-us-heal-169840

Pepatah Arab. (n.d.). “Man lam yadhar, lam yata‘allam” — Who has never been hurt, has never learned. (Peribahasa tradisional Arab, sumber lisan dalam khazanah hikmah Timur Tengah).

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

3 Comments

  • Crazy idea. Museum Ini bukan untuk meratapi tapi untuk melepaskan. Ide kreatif ini memenuhi unsur crazy idea, something new. Tapi bayar berapa masuknya? Tulisan ini juga hebat, bisa membawa saya , hanyut… Pingin banget ke sini.

  • Salah satu penyesalanku terhadal Zagreb, adalah melewatkan museum ini 🥲 tapi mungkin bisa jadi motivasi dan alasan untuk kembali.

  • keren bgt ini Bang Ben.. esai ini bukan hanya tentang museum, melainkan jg tentang bagaimana kita bisa menjadi pembaca yang lembut terhadap diri sendiri.. 🥹

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *