Menebus Dosa Literasi
Membaca di usia dewasa bukanlah upaya mengejar ketertinggalan, melainkan upaya berdamai dengan diri sendiri.
Hampir semua kelas menulis saya pesertanya adalah orang dewasa. Hal yang menarik, dan agak getir, kerap terjadi pada pertemuan pertama. Belum apa-apa, saya sudah merasa perlu memastikan: apakah mereka pembaca atau bukan.
Saya tidak pernah menanyakan hal itu secara langsung, tentu saja. Cukup dengan meminta mereka menceritakan buku-buku yang mereka baca. Dari sana, akan terlihat siapa yang datang dengan bekal masa lalu yang akrab dengan buku, dan siapa yang baru ingin berkenalan dengannya sekarang, di usia yang tak lagi muda, seakan-akan kelas akan menyihir mereka menjadi penulis dalam 1-3 hari tanpa perlu membaca–ach!
Di antara wajah-wajah yang antusias, selalu ada sepasang mata yang tiba-tiba menunduk, mencari alasan, atau cengengesan untuk diri sendiri: “Saya baru mulai suka membaca, Bang.” Kalimat yang tulus tapi mengenaskan itu, bagi saya, adalah semacam pengakuan dosa. Dosa literasi.
Saya percaya, membaca punya masa keemasan. Ia datang di antara masa kita belajar mengenal huruf dan masa sebelum kita benar-benar tenggelam dalam urusan dunia orang dewasa. Waktu itu, otak masih lentur, waktu masih lapang, dan rasa ingin tahu belum dirampas oleh tagihan listrik atau target pekerjaan. Setelah masa itu berlalu, membaca tak lagi sekadar membuka halaman, melainkan membuka kembali ruang yang sudah lama tertutup rapat dengan celah kunci yang berkarat.
Saya beruntung karena masa keemasan itu datang di saat lingkungan masa kecil saya penuh buku, atau setidaknya, aroma buku. Sepulang sekolah, saya sering melewati kios penyewaan komik dan novel silat. Dari sinilah kebiasaan membaca tumbuh tanpa saya sadari. Ketika kuliah, waktu lebih longgar. Ada hari-hari ketika saya memilih membaca ketimbang masuk kelas, dan dosen pun tampaknya memahami bahwa mahasiswa lebih banyak belajar di luar ruang kuliah. Tapi itu masa lalu. Setelah itu, hidup membesar dan waktu mengecil.
Seorang teman pernah berkata, “Setelah menikah, lain urusannya.” Ia benar. Setelah bekerja, menikah, atau menanggung beban keluarga, membaca menjadi kemewahan. Bahkan mereka yang tidak menikah pun tetap disergap urusan lain yang tak kalah menyita tenaga. Seseorang yang harus mengurus orang tua atau menanggung biaya hidup adik-adiknya, misalnya, akan tetap merasa waktu terbagi. Bacaan, kalau pun sempat, hanya sepotong-sepotong.
Itulah mengapa, dalam kelas menulis, saya sering melihat jurang antara mereka yang pernah membaca banyak di masa muda dan mereka yang baru mulai membaca di usia dewasa. Jurang itu bukan sekadar soal jumlah buku yang dibaca, tapi tentang kelenturan dan kemampuan otak dan jiwa mereka merekonstruksi semesta lewat bahasa.
Sebuah studi yang dilakukan tim Sophie Collard dari The Reading Agency di Inggris pada 2024 menemukan bahwa hanya separuh orang dewasa yang masih rutin membaca. Bukan karena mereka kehabisan waktu, melainkan kehilangan daya tahan untuk fokus lebih dari beberapa menit. Hampir sepertiga responden mengaku tak lagi sanggup menikmati bacaan panjang. Dunia yang serba cepat tampaknya telah mengikis otot kesabaran kita untuk tinggal lama di satu paragraf.
Beberapa tahun sebelumnya, lewat publikasi di Frontiers in Psychology (2018), Maja Djikic dan timnya menunjukkan sesuatu yang lebih jauh: orang dewasa yang terbiasa membaca sejak muda memiliki daya ingat dan kemampuan bahasa yang tetap tajam di usia lanjut. Namun, mereka yang baru mulai membaca di usia tua nyaris tak mengalami perubahan berarti. Membaca di masa muda, rupanya, bukan sekadar kebiasaan—melainkan semacam investasi kognitif, tabungan diam-diam yang bunga intelektualnya baru terasa ketika rambut mulai memutih.
Saya membayangkan, menulis tanpa membaca adalah seperti berlari tanpa pernah belajar berjalan. Malcolm Gladwell, dalam Outliers, mengatakan bahwa keahlian lahir dari sepuluh ribu jam latihan. Maka, jika menulis adalah sari dari aktivitas membaca, berapa ratus jam membaca yang harus ditebus oleh mereka yang dulu memilih absen dari dunia buku?
Saya pernah bertemu seorang peserta kelas yang berkata, “Saya ingin menulis karena katanya menulis itu terapi.” Saya tersenyum, tapi di dalam hati saya tahu bahwa terapi itu akan sulit berhasil tanpa kebiasaan membaca. Menulis, dalam banyak kasus, memang dapat menyembuhkan, tetapi membaca adalah napas yang membuat tulisan hidup.
Di dunia Arab, jurnalis Turki Al-Dakhil pernah menulis bahwa “tidak mungkin sebuah masyarakat berkembang jika membaca bukan bagian dari kehidupannya.” Ia menambahkan, satu buku karya penulis Arab biasanya hanya dicetak lima ribu eksemplar untuk ratusan juta penduduk. Angka yang menakjubkan sekaligus menyedihkan. Tapi bukankah situasi di negeri kita tak jauh berbeda? Toko buku sepi, sementara antrean konser musik merayap panjang sampai jalan raya.
Kini, ketika beban hidup menumpuk dan waktu seperti terus digerus, kebanyakan dari kita membaca hanya apa yang dibutuhkan. Penulis membaca teori menulis, pebisnis membaca buku pemasaran, dan petani membaca Trubus. Bacaan menjadi fungsional, bukan lagi pengalaman estetik. Padahal, dalam kebiasaan membaca yang bebas dan tidak utilitarian itulah daya khayal tumbuh, dan menulis menemukan sumber tenaganya.
Saya tak hendak menghakimi mereka yang baru membaca ketika dewasa. Hidup tak selalu memberi kesempatan yang sama. Tidak semua orang tumbuh di rumah yang punya rak buku. Tidak semua sekolah menanamkan budaya membaca. Tapi satu hal yang saya tahu: menebus dosa literasi tidak bisa dilakukan dalam semalam. Membaca di usia dewasa bukanlah upaya mengejar ketertinggalan, melainkan upaya berdamai dengan diri sendiri.
Kita membaca karena ingin hidup sedikit lebih dalam, bukan lebih cepat. Dan barangkali, di situlah keajaiban kecil literasi bekerja. Seperti orang yang baru belajar berenang di usia empat puluh, ia mungkin tak akan menjadi atlet renang, tapi setiap kali air menyentuh kulitnya, ia akan merasakan sesuatu yang menyerupai kebebasan.
Mungkin, begitu pula dengan membaca. Tak usah tergesa mengejar ribuan halaman. Cukup satu buku yang dibaca tuntas, satu paragraf yang menggugah, satu kalimat yang membuat kita berpikir lebih lama dari biasanya. Sebab di situlah, dosa literasi yang dulu kita abaikan mulai perlahan ditebus—bukan dengan jumlah buku, tapi dengan kesungguhan hati untuk membuka satu halaman lagi.(*)
Lubuklinggau, 2 November 2025
3 Comments
Di Rumah Dunia, rata-rata orang kampung, ya g tidak punya akses ke buku. Kemudian mereka membaca untuk mengejar ketertinggalan….
meskipun mulai terlambat, bukan berarti terlambat untuk merasakan kebebasan yang buku tawarkan, keren bang ben 👍🏻👍🏻👍🏻
Supaya yang dewasa tidak punya dosa literasi itu tergantung lingkungan yang membentuknya sejak kecil, tidak semua rumah punya perpustakaan mini dan sosok di rumah yang menjadi patron untuk menumbuhkan minat membaca akhirnya kesadaran membaca datang seiring berjalannya waktu. Ada yang di sekolah itupun kalau sekolah punya perpustakaan dan dibudayakan membaca buku, saya waktu sekolah memang sering rengking kelas di SMP dan SMA saat itu tapi bacaan saya sebatas pada buku yang sesuai dengan mata pelajaran, barulah saat kuliah itupun saat bergabung organisasi mahasiswa yang didalamnya berkumpul mahasiswa dengan dari berbagai latar ilmu dan sering mendengar mereka diskusi diawalnya barulah saya merasa ada yang kurang bahkan sangat kurang pengetahuan saya secara umum sehingga kebanyakan diam dan mendengar saja, disitulah niat saya membaca lebih banyak referensi itu muncul meski kadang masih kurang disiplin untuk lebih mendalami bacaan.
Dari pengalaman pribadi ini menurut saya memang sangat penting di rumah itu punya perpustakaan mini dan jam membaca bagi keluarga terutama anak sekolah tentunya sesuai dengan tingkat pendidikannya biar niat ingin tahu atau semacam reading habit bisa tumbuh sejak dini minimal di sekolah dasar karena saya yakin dengan itu niat untuk mencari bacaan untuk melengkapi semua pergumulan atau pertanyaan yang didapat dari bacaan2 sebelumnya itu akan dengan sendirinya menjadi api yang menggerakkan untuk berselancar dalam dunia pengetahuan dengan harapan ketika memasuki sekolah menengah kemampuan menulis mulai bisa diasah selain dimentori guru juga bisa keluarga di rumah.
Saya yakin dengan itu ketika di SMA sudah bisa menulis artikel opini sederhana dan saat masuk kuliah sudah pasti tidak akan terjadi seperti yang saya alami karena saya dengar cerita Wamen Stella Christy saat memulai kuliah di Oxford beberapa bulan pertama itu harus mengikuti kelas wajib yakni MENULIS yang tentunya sebelum tiba disini seseorang sudah lebih dulu menjadi pembaca yang agar dapat menulis dengan baik. Saya rasa budaya di Oxford ini lahir karena keyakinan bahwa menulis itu memadatkan logika dan sistematika pikiran yang sangat penting bagi Akademisi… Trimakasih dan maaf jika sharingnya sedikit kepanjangan ya bung dan btw tulisan-tulisannya sangat menginspirasi 🤝😊