Menangkap Angin

 Menangkap Angin

Ilustrasi oleh Benny Arnas | Instagram @bakatmasakecil

Oleh Benny Arnas

Majalah Elipsis, Edisi Februari-Maret 2024 dengan judul “Membunuh Angin”

Semua manusia sama saja. Aturan dan norma saja yang membuat mereka berbeda!

Angin

Aku pun menyerahkan diri di kantor polisi. Karena ketenanganku, ada yang mengira aku psikopat. Tentu aku tak peduli. Yang jelas, di hadapan petugas, dengan lancar kuceritakan segalanya dari awal.

1/

Kami bertemu di sebuah kajian. Pemuda 22 tahun itu (ya, aku dan Angin sama-sama fresh graduate!) memang menyala.

Angin tampan, karismatik, bicara sedikit tapi bernas, dan mudah bergaul. Jadi, status pendatang baru sedikit pun tidak membuat pesonanya luntur.

Tak memerlukan waktu lama, Angin menjadi bagian keluarga kecil lingkaran kami.

Dari unggahan di akun media sosial Kak Ahmed, guru pengajian kami yang belum tiga puluh tapi sudah punya anak empat itu, aku tahu kalau Angin kerap menemaninya ke mana-mana.

Aku sempat mengirim pesan whatsApp kepada Kak Ahmed tentang itu. “Kami juga siap sedia lho, Kak, untuk nyetir atau bawa kitab,” begitu salah satu isi pesanku.

Tapi, Kak Ahmed hanya membalasnya dengan emotikon senyum.

“Ngisi di mana, Kak, pekan ini?” tanyaku usai pengajian kami sore Kamis itu. “Aku kebetulan kosong. InsyaAllah siap perintah,” aku tertawa kecil.

Tapi, lagi dan lagi, Anginlah yang Kak Ahmed ajak.

Sampai kupikir, sudah saatnya aku menunjukkan sikap. Lebih tepatnya: cari perhatian. Aku absen ngaji dengan alasan sakit.

Kak Ahmed dan semua rekan pengajian, kecuali Angin, menyambangi kosanku. Mulanya aku merasa senang karena itu artinya mereka tidak dekat lagi. Atau, Kak Ahmed sudah tahu sisi buruk Angin? Memang latar belakangnya sebagai pembalap liar bukanlah aib. Tapi, siapa tahu ada kebusukan yang berhasil guru ngaji kami endus. Siapa tahu.

“Kau spesial sekali bagi guru kita,” seloroh Agung ketika meletakkan sekeranjang buah di mejaku yang hampir separuh permukaannya ditutupi buku-buku. “Ia sampai mendelegasikan Angin untuk mengisi kajian karena mau menjengukmu bersama-sama kami.”

Apa? Pemuda baru hijrah itu sudah dipercaya menggantikannya? Bagaimana bisa?

2/

Tapi, aku tak mau dilalap api emosi. Aku harus tenang. Aku memikirkan segalanya pelan-pelan. Dengan matang. Dan penuh pertimbangan.

Ya, kalau menyingkirkannya  adalah kemustahilan. Artinya aku harus mencuri darinya. Aku tahu, pasti ada rahasia yang membuat Kak Ahmed menyukainya.

Aku mulai kerap mengajaknya bicara. Aku beberapa kali menginap di kosnya. Aku jadi tahu kalau Angin selalu membeli makan malam di warung nasi ayam geprek di muka lorong kosnya. Aku juga  jadi tahu kalau ia kerap berjalan-jalan mengendap agar orang gila yang sering tidur di bawah pohon trembesi tak jauh dari kosnya tak terjaga. “Sudah hijrah, malah takut sama manusia tak berdaya, kau, Ngin!” ejekku—tapi ia hanya tertawa.

Ia juga bercerita tanpa diminta tentang perjalanan spiritualnya. Tentang keluarganya di luar pulau, dan hobi masa kecilnya. Selain yang selama ini kami tahu, aku baru ngeh kalau Angin sosok yang humoris.

Apakah ini daya tariknya?—tebakku. Sebentar: Apakah artinya Kak Ahmed yang kami kenal cool itu sebenarnya juga humoris, sehingga mereka cocok?

“Wah, aku juga kurang tahu,” katanya ketika aku membicarakan tentang selera humor Kak Ahmed yang jarang tereskpos.

“Lho bagaimana pas kamu melucu?” Aku penasaran.

“Aku tidak pernah melucu di depannya,” ia tertawa kecil. “Mana berani aku,” tegasnya lagi. “Mengawalnya ke mana-mana saja sudah alhamdulillah,” akunya. “Aku bicara kalau kalau diajak. Kan kamu tahu guru kita itu ngomongnya juga nggak banyak. Jadi, tidak ada celah aku buat melucu,” ia tertawa lagi.

Tapi aku termangu.

3/

Kebencian bisa tumbuh dari kegagalan. Juga dari keputusasaan. Juga dari ketakjelasan.

Kebencian bisa tumbuh dari kegagalan. Juga dari keputusasaan. Juga dari ketakjelasan.

Aku kini percaya bahwa kemacetan, apalagi ibukota, bisa membunuh para pengguna jalan. Baik lewat stres ataupun kesal berkepanjangan. Baik ambulans yang telat tiba di RS atau ketakpastian kapan tiba.

Aku pun begitu.

Ya, dugaan dan pendekatan yang “tak sesuai harapan” dan tak memberikan apa-apa, membuatku gelap mata.

O, tidak. Pendekatan dan dugaan sebenarnya sudah memberiku jawaban: Angin tidak melakukan manipulasi atau hal-hal yang membuat Kak Ahmed memberikan perhatian spesial kepadanya, titik

Namun, itu justru menerbitkan premis bahwa Angin “pemain” yang lihai. Ia adalah mastah. Ia bermain cantik sehingga segala triknya tak bisa diidentifikasi. Aku sungguh masih penasaran, apa motifnya “menyusup” di halaqah kami.

Orang-orang seperti ini seharusnya enyah. Aku muak.

Aku, sebagai yatim piatu, yang telantar dan beberapa kali mendapati orangtua angkat yang terlibat KDRT dan pembunuhan sebelum “diselamatkan” Kak Ahmed dalam aksi bunuh diriku di fly over, punya tesis lain.

Penjahat sebenarnya adalah mereka yang tidak tampil atau terendus sebagai penjahat, melainkan mereka yang sukses tampil bermoral, beradab, dan santun demi menyembunyikan rencana busuk yang telah ia ukur dengan sangat presisi.

Penjahat sebenarnya adalah mereka yang tidak tampil atau terendus sebagai penjahat, melainkan mereka yang sukses tampil bermoral, beradab, dan santun demi menyembunyikan rencana busuk yang telah ia ukur dengan sangat presisi.

Angin

4/

Telah kususun semua.

Aku bayangkan, aku menabraknya di jalan raya yang sepi. Memastikan ia benar-benar luka parah sebelum meninggalkannya.

Aku bayangkan aku meracuninya—belum kupikirkan dengan serbuk atau cairan apa—dan membiarkannya membusuk dalam kamar kosnya yang jauh dari permukiman.

Aku membayangkan …

5/

Angin tewas. Ia ditemukan terkapar dengan badan yang memar-memar seperti dipukuli benda tumpul berkali-kali pada suatu pagi.

Aku diam. Dan tersenyum.

Aku mengurung diri. Tentu saja kusiarkan kepada teman-teman bahwa itu semua sebagai bentuk ekspresi kehilangan yang mendalam … sebab dua bulan sebelumnya kami sempat dekat.

Tapi … aku tak tenang.

Aku benar-benar merasa bersalah.

Aku memutuskan menyerahkan diri.

6/

Polisi memproses laporanku. Karena aku mengaku pembunuh, sembari berkasku dinaikkan, aku ditahan dulu. 

Kabar tersiar dan tersebar.

Hari ketigaku di jeruji, teman-teman pengajian datang.

Kak Ahmed berjongkok sebagaimana aku yang terduduk memegang jeruji bagian bawah.

“Aku sudah mengaku, Kak,” aku menunduk, bermain peran sebagai orang yang menyesal. “Aku …”

“Dua hari ini Kakak dan teman-temanmu bekerja sama untuk menemukan CCTV,” potongnya tegas. “Orang gila di lorong kosnyalah, yang pada suatu malam, membabi-buta mengejarnya sampai ke kos dan menghajarnya sampai tewas di sana. Kakak juga tak habis pikir kenapa, mungkin kamu mulanya mendatanginya untuk sebuah keperluan satu jam kemudian, sebelum kemudian kau mengganti barang bukti di kamarnya dengan balok kayu lain–yang tentu saja mengandung sidik jarimu.”

Aku diam.

“Kau bukan menghajar Angin. Kau menghajar mayatnya!”

Sadar kalau sudah terendus, kuceritakan segalanya. Baik, skenario pembunuhan dengan kebencian yang melatarbelakanginya, maupun kebetulan yang sangat kubenci. “Kak,” kataku tertahan, “tidakkah itu artinya aku sudah menganiaya Angin jauh sebelum dia dihajar orang gila itu? Bahkan,” dalihku lagi, “jangan-jangan orang gila itu adalah manifestasi atas keinginanku yang menggebu-gebu untuk menyingkirkannya?”

Kak Ahmed menghela napas dan beristighfar lirih. “Bertobatlah,” katanya  kemudian sebelum bangkit.

7/

“Kau yang harus bertobat!” Aku juga bangkit.

“Kenapa kauabaikan yatim piatu yang mendambakan kasih sayang dari orang yang ia kagumi? Kenapa kau malah lebih memilih Angin untuk menjadi asistenmu atau menggantikan tugasmu, bukan aku yang sudah lama belajar dalam lingkaran? Kenapa kau membiarkan korban keganasan hidup dan kehilangan pegangan sepertiku dalam kesendirian dan ketakmengertia? Angin punya orangtua di seberang pulau. Aku punya apa? Kaulah,” bahuku turun-naik, “yang seharusnya bertobat!”

Ingin sekali kuteriakkan, bahwa guru ngajiku itu adalah penjahat sebenarnya, namun punggungnya hilang di telan lorong.

Ya, Kak Ahmed adalah akar yang membesarkan harapan, lalu menjelma getah yang kering sehingga daun-daun kebaikanku terlepas dari batangnya. Semua manusia sama saja. Aturan dan norma saja yang membuat mereka berbeda!(*)

Bandar Udara Internasional Hang Nadim Batam, 9 Maret 2024

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

1 Comment

  • Ketidakpedulian (kurangnya penghargaan) ternyata juga menyakitkan, sama spt aturan dan pengekangan yg dilakukan sebagai bentuk kasih sayang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *