Membaca: Kelas Paling Privat yang Menguji Adab

 Membaca: Kelas Paling Privat yang Menguji Adab

Gambar: Karya Tang Yau Hoong (Detik News)

Bayangkan sebuah ruangan kecil dengan cahaya lampu meja yang lembut, hujan mengetuk jendela seperti ingin ikut membaca, dan aroma kertas yang pelan-pelan mengisi udara. Dalam suasana itu, waktu seperti berhenti hanya untuk satu tujuan: memberi kesempatan pada sebuah buku untuk berbicara lebih pelan daripada suara hati kita sendiri.

Ada sebuah pemahaman sederhana namun dalam: setiap buku adalah guru, dan setiap pembaca adalah murid. Jika kita memandang buku sebagai guru, maka aktivitas membaca bukan sekadar hobi atau pengisi waktu luang, tetapi sebuah proses belajar yang paling privat, kelas yang paling sunyi, sekaligus paling jujur. Di kelas inilah kita tidak hanya bertemu pengetahuan yang terhimpun dalam kata, tetapi juga bertemu diri sendiri: dengan segala kebiasaan, kelemahan, dan pembelaan diri yang sering kita bangun untuk menutupi ketidaksungguhan kita sebagai murid.

Kelebihan dari “kelas membaca” ini tidak bisa disangkal. Kita dapat memilih waktu terbaik, tempat terbaik, dan mood terbaik. Kita bisa mulai tanpa bel, berhenti tanpa izin, mengulang halaman tanpa membuat siapa pun jengkel, bahkan “menginterupsi” guru kapan saja. Dalam kelas ini, kita bebas menentukan ritme belajar yang sesuai dengan hidup kita. Bila kelas formal memaksa kita mengikuti jadwal lembaga atau guru, membaca memberi kita hak penuh untuk menyusun jadwal bagi diri sendiri: sebuah kemewahan yang sering dirindukan oleh banyak orang dewasa yang sibuk.

Namun kebebasan itu justru menyingkap sebuah persoalan yang lebih halus namun serius: bagaimana kita memperlakukan diri sendiri.

Kita sering mengeluh bahwa pembelajaran di kelas formal terasa monoton, menekan, dan tidak sesuai dengan ritme hidup kita. Kita menyalahkan sistem, lembaga, atau guru yang dianggap tidak memahami kebutuhan kita. Tapi ketika diberi kebebasan penuh, apakah kita benar-benar memanfaatkannya? Atau justru kita jatuh pada pola lama: mencari-cari alasan, menunda, atau memilih kenyamanan jangka pendek?

Di sinilah ironi itu muncul. Kita sendiri yang membuat “jadwal belajar” versi kita, kitalah pula yang paling sering melanggarnya. Kita bolos ketika jam membaca tiba. Kita menaruh buku di meja, namun jari kita lebih gesit membuka gawai.

Kita mengatakan, “Aku ingin membaca lebih banyak tahun ini,” tapi aplikasi media sosial mencatat jam penggunaan yang jauh lebih tinggi daripada jam kita bersama buku. Ketika guru di kelas formal menegur, kita merasa dipaksa.

Ketika guru berupa buku menunggu dalam diam, kita justru mengabaikannya tanpa rasa bersalah.

Pada titik ini, kita telah melakukan yang bisa disebut sebagai “dosa literasi”: menjadi murid yang tidak menghormati guru. Bukan dalam bentuk penghinaan verbal atau tindakan kasar, tetapi dalam bentuk yang lebih subtil: mengabaikan, menunda, dan meremehkan.

Padahal buku telah disusun dengan kerja keras, waktu, dan pemikiran dalam; penulisnya telah membuka lanskap pengetahuan dan imajinasi yang bisa memperkaya hidup kita. Namun kita justru memperlakukan guru itu seperti hiasan ruang tamu, bukan sumber kebijaksanaan.

Kita sering takut mengakui kenyataan ini. Maka kita menciptakan alasan-alasan cerdik untuk menyamarkan ketidakdisiplinan kita. “Aku sibuk,” “Aku tidak mood,” “Aku tidak bisa konsentrasi,” “Bukunya berat,” “Nanti saja kalau senggang”. Semua terdengar logis, tetapi pada akhirnya hanya berdiri sebagai tembok yang kita bangun untuk menghindar dari cermin diri. Ini mengingatkan pada kata-kata penulis dan seniman Mary Anne Radmacher:

“Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day saying, ‘I will try again tomorrow.’”
—Mary Anne Radmacher, Courage Doesn’t Always Roar (2007)

Membaca memerlukan keberanian yang semacam itu. Keberanian yang tidak dramatis, tidak heroik, tetapi sederhana: menagih komitmen pada diri sendiri. Keberanian membuka halaman pertama ketika perhatian kita terbiasa dihancurkan notifikasi. Keberanian meluangkan lima belas menit ketika lima belas detik pun sering terasa lama di dunia yang serbacepat. Keberanian duduk bersama diri sendiri tanpa distraksi.

Mari kita lihat sebuah contoh kecil, yang mungkin Anda atau saya pernah alami. Seorang mahasiswa bertekad membaca satu bab buku teori dalam seminggu. Ia membuat jadwal: setiap malam sebelum tidur, 20 menit untuk membaca. Hari pertama lewat, ia sibuk. Hari kedua, ia mengantuk. Hari ketiga, ponselnya terasa lebih menarik. Hari keempat dan kelima, ia merasa bersalah, lalu menunda lagi. Minggu berlalu, dan bab itu tetap utuh. Ia kemudian berkata, “Aku tidak punya waktu.” Padahal yang sebenarnya ia tidak miliki adalah ketegasan untuk menghargai jadwal yang ia buat sendiri.

Contoh lain datang dari seorang pekerja kantoran yang membeli banyak buku. Setiap bulan ada yang baru—namun setiap tahun jumlah bukunya yang “belum dibaca” semakin menumpuk. Ia bukan anti-pengetahuan; ia justru penggemar belanja buku. Tetapi membaca menuntut lebih dari rasa suka: ia menuntut adab. Dan adab adalah hal yang tidak bisa dibeli.

Mengapa membaca begitu identik dengan adab? Karena membaca adalah latihan kesabaran, keteraturan, dan kerendahan hati. Saat membaca, kita mengakui bahwa ada hal-hal yang kita belum tahu. Kita memberikan waktu untuk memahami gagasan orang lain. Kita membiarkan diri kita dibimbing, sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan tanpa kerendahan hati. Aktivis dan cendekiawan Amerika, Frederick Douglass, pernah menulis:

“Once you learn to read, you will be forever free.”
—Frederick Douglass, Narrative of the Life of Frederick Douglass (1845)

Kebebasan yang dimaksud Douglass bukan hanya kebebasan intelektual, tetapi juga kebebasan batin: kebebasan dari kedangkalan, dari manipulasi, dari kebiasaan buruk yang membuat kita menjadi peniru tanpa kendali.

Mereka yang membaca dengan khidmat tidak hanya menjadi “berpengetahuan.” Mereka tumbuh, berubah, dan menjadi manusia yang beradab. Mereka belajar memelihara komitmen kecil, menghormati waktu, mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan mengenal dunia lebih luas daripada lingkaran sosialnya. Mereka tidak merasa paling tahu; justru mereka sadar bahwa lautan pengetahuan terlalu luas untuk disombongkan.

Sebaliknya, ketika kita tidak mampu memenuhi janji pada diri sendiri untuk membaca, padahal kita sendiri yang menentukan waktu, tempat, dan ritmenya.

Mungkin masalahnya bukan pada kesibukan atau mood. Mungkin kita hanya belum cukup menghargai diri sendiri. Dan jika demikian, seperti yang Anda tanyakan: sudahkah kita mengarang alasan lain untuk lari dari kenyataan bahwa kitalah yang memberi ruang bagi kebodohan dan kesombongan untuk tinggal dalam diri?

Membaca adalah perjalanan menguji adab. Guru kita adalah buku; kelasnya adalah keheningan; dan evaluasinya adalah bagaimana kita menjalani hidup setelah menutup halaman terakhir.(*)

Kairo, 26 November 2025


Daftar Pustaka

Douglass, Frederick. Narrative of the Life of Frederick Douglass, an American Slave. Boston: Anti-Slavery Office, 1845.

Radmacher, Mary Anne. Courage Doesn’t Always Roar: Ordinary Women with Extraordinary Courage. Kansas City: Simple Truths, 2007.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

1 Comment

  • izin nanya. apakah kata “namun” boleh digunakan di pertengahan kalimat seperti pada paragraf kedua?

Leave a Reply to seumu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *