Membaca di Tengah Blackout

 Membaca di Tengah Blackout

Kegelapan fisik sering kali membuka terang batin. Tanpa distraksi, pikiran menemukan ritmenya sendiri. 

Oleh Benny Arnas

_________

Lampu-lampu kota padam serentak pada suatu malam yang panas, layar ponsel menghitam, router berhenti berkedip, dan suara genset menjadi satu-satunya detak yang tersisa. Di beberapa tempat, antrean air mengular. Di tempat lain, orang berdiri mematung di depan mesin yang tak lagi patuh. Peristiwa blackout bukan lagi dongeng distopia. Ia pernah terjadi, berulang, dan selalu menyisakan pertanyaan yang sama: ketika listrik dan internet lumpuh sehingga dunia gelap dan segala yang berbau digital dan komputerisasi tidak ada guna, apa yang tersisa?

Kepanikan sering kali tidak lahir dari lapar atau haus. Ia lahir dari putusnya suplai kebiasaan. Mereka yang hidupnya disusun oleh notifikasi dan otomasi mendadak kehilangan pijakan. Ketergantungan pada Internet of Things (IoT) menjelma gejala putus zat. Tantrum muncul, bukan karena perut kosong, melainkan karena ritme hidup yang biasanya ditopang mesin tiba-tiba runtuh. Mesin yang biasa menjawab lebih cepat daripada pikiran kini diam. Waktu menjadi berat, keheningan terasa menakutkan, dan manusia dipaksa berhadapan kembali dengan dirinya sendiri tanpa perantara teknologi.

Dalam kondisi semacam itu, terlihat jelas bahwa persoalan utamanya bukan sekadar ketiadaan listrik, melainkan rapuhnya daya tahan mental. Banyak orang tidak pernah dilatih untuk tinggal bersama pikirannya sendiri. Kekosongan terasa mengancam karena selama ini diisi oleh layar. Saat alat-alat berhenti bekerja, barulah tampak jurang antara manusia yang memiliki cadangan batin dan manusia yang seluruh hidupnya bergantung pada sistem eksternal.

Di titik inilah perbedaan mulai mengeras. Orang-orang yang tidak membaca, dalam arti luas mereka yang sepenuhnya bergantung pada IoT dan otomasi, bisa mati bukan karena tidak makan dan minum. Mereka sekarat karena kecanduan yang tidak diberi makan. Sebaliknya, orang-orang yang mengamalkan membaca membawa bekal yang tidak ikut padam. Bukan hanya pengetahuan, tetapi cara berpikir yang tidak tergesa-gesa dan imajinasi yang terlatih untuk menyusun kemungkinan.

Buku tidak membutuhkan listrik untuk menyalakan makna. Membaca melatih kesabaran, kemampuan menghubungkan sebab dan akibat, serta keberanian untuk tinggal lebih lama dalam satu persoalan. Imajinasi yang tumbuh dari membaca bukan pelarian, melainkan laboratorium batin. Ketika peta digital hilang, pembaca masih bisa menggambar ulang dunia di kepalanya dan mencari jalan keluar.

Blackout hari ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan ketegangan geopolitik yang semakin rapuh. Timur Tengah kembali menjadi sumbu panas, rivalitas Amerika Serikat dengan Rusia dan China mengeras, dan perang proksi menjalar lintas wilayah. Dalam konfigurasi semacam ini, infrastruktur energi dan data berubah menjadi target strategis. Listrik, satelit, dan pusat data adalah urat nadi peradaban modern.

Dalam skenario perang dunia ketiga, serangan tidak selalu datang dalam bentuk bom. Ia bisa hadir sebagai gangguan listrik massal, lumpuhnya jaringan komunikasi, atau kekacauan sistem logistik. Dunia bisa gelap tanpa dentuman. Ketika sistem otomatis gagal, keputusan kembali ke tangan manusia. Pada saat itulah kualitas berpikir menjadi penentu, bukan kecepatan jaringan.

Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memperumit situasi ini. Secara fungsional dan teknikal, AI telah masuk ke hampir setiap segi kehidupan manusia. Ia mengatur lalu lintas, menyaring informasi, menulis ringkasan, bahkan memprediksi perilaku. Kemudahan ini membuat manusia semakin jarang berlatih berpikir panjang. Ketika algoritma menjadi penopang utama, humanisme mulai diragukan oleh manusia itu sendiri.

Masalahnya bukan pada AI sebagai alat, melainkan pada penyerahan fungsi-fungsi kognitif tanpa cadangan. Saat listrik padam, AI menjadi bisu. Saat data rusak, prediksi meleset. Manusia yang terlalu lama bergantung akan limbung. Membaca, dalam konteks ini, adalah latihan kemandirian intelektual. Ia memastikan bahwa nalar tidak sepenuhnya disubkontrakkan.

Al-Jahiz, intelektual Arab abad ke-9, menulis dengan kekaguman pada buku sebagai teman paling setia. Baginya, buku adalah teman duduk yang tidak menyanjungmu, sahabat yang tidak menjerumuskanmu, dan kawan yang tidak membuatmu bosan. Di tengah kegelapan, buku tidak membius, tetapi membangunkan akal.

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menekankan pentingnya keteraturan berpikir dan pembiasaan akal. Ilmu, baginya, bukan hafalan cepat, melainkan struktur yang dibangun perlahan. Masyarakat yang kehilangan struktur berpikir akan mudah runtuh saat krisis. Membaca yang serius membentuk struktur itu jauh sebelum bencana datang.

Sejumlah riset modern menunjukkan bahwa membaca mendalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah kompleks dan empati kognitif. Pembaca terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut, memahami manusia di balik angka, dan menahan diri dari kesimpulan instan. Dalam situasi krisis energi atau konflik global, empati semacam ini mencegah keputusan yang membabi buta.

Blackout juga menguji etika dan batas teknologi. Ketika sistem mati, nilai apa yang memandu tindakan manusia? Efisiensi tidak lagi relevan tanpa listrik. Yang tersisa adalah penilaian moral, ingatan historis, dan kemampuan menimbang risiko. Membaca memperkaya ketiganya. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, memberi konteks pada kepanikan.

Di tengah ketegangan global, propaganda bergerak cepat melalui kanal digital. Saat jaringan lumpuh, arus informasi terputus, tetapi rumor tetap hidup dari mulut ke mulut. Literasi membaca menjadi penyangga. Pembaca terlatih mengenali pola manipulasi, mengingat preseden sejarah, dan tidak mudah digiring oleh ketakutan kolektif.

Kegelapan fisik sering kali membuka terang batin. Tanpa distraksi, pikiran menemukan ritmenya sendiri. Membaca menyiapkan ritme itu jauh hari. Ia mengajarkan bahwa keheningan tidak selalu kosong dan bahwa makna tidak selalu instan. Dalam dunia yang memuja kecepatan, kebiasaan lambat justru menjadi cadangan energi.

Pertanyaan awal kembali mengetuk dengan nada lebih tajam. Apa yang tersisa ketika listrik dan internet lumpuh? Yang tersisa adalah manusia dengan akalnya, ingatannya, dan nilai yang dipegangnya. Membaca menanamkan ketiganya. Ia tidak menjanjikan keselamatan mutlak, tetapi memberi peluang bertahan dengan martabat. Di tengah bayang-bayang perang dan kecerdasan buatan yang kian otonom, buku tetap menyala, kecil namun keras kepala, menolak ikut padam.(*)

Palembang, 21 Januari 2026

_____

Daftar Pustaka

Carr, N. (2010) The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W.W. Norton & Company.

Ibn Khaldun (1967) The Muqaddimah: An Introduction to History. Translated by F. Rosenthal. Princeton: Princeton University Press.

Al-Jahiz (1969) Kitab al-Hayawan. Edited by A.M. Harun. Cairo: Maktabat al-Khanji.

Mangen, A., Walgermo, B.R. and Brønnick, K. (2013) ‘Reading linear texts on paper versus computer screen: Effects on reading comprehension’, International Journal of Educational Research, 58, pp. 61–68.

Wolf, M. (2018) Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World. New York: Harper.

Zuboff, S. (2019) The Age of Surveillance Capitalism. New York: PublicAffairs.

Kissinger, H., Schmidt, E. and Huttenlocher, D. (2021) The Age of AI: And Our Human Future. New York: Little, Brown and Company.

International Energy Agency (2023) Cybersecurity and the Energy Sector. Paris: IEA.

Nye, J.S. (2020) Do Morals Matter? Presidents and Foreign Policy from FDR to Trump. Oxford: Oxford University Press.

Taleb, N.N. (2012) Antifragile: Things That Gain from Disorder. New York: Random House.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *