Membaca, Betapa Ia Menambatkan Hati

 Membaca, Betapa Ia Menambatkan Hati

Foto: kunjungan terakhir saya ke Leiden (April 2025)

Membaca, ketika sudah menjadi bagian hidup, ternyata bukan hanya mengisi kepala, tapi juga menambatkan hati

Oleh Benny Arnas

Ada sebuah rumah tua di Leiden, tiga lantai, berdiri tenang di antara deretan bangunan yang seakan sudah hafal ritme abad di Witte Risentstraat. Di lantai pertama, tinggal seorang perempuan yang tidak pernah menyebut umurnya, hanya berkata dengan suaranya yang halus dan serak, “Saya sudah cukup tua untuk tahu bahwa membaca itu menyelamatkan.”

Dialah Hedy Hinzler, profesor emeritus, Belanda keturunan Jerman, yang selalu berbicara dalam bahasa Indonesia, meskipun darah Belanda dan Jerman mengalir di sekujur tubuhnya. “Supaya kamu merasa dekat,” katanya ketika saya mengungkapkan ketakjuban saya dengan bahasa Indonesianya pada pertemuan pertama kami di gerbang musim semi tahun lalu.

Setiap pagi, rumah itu selalu memiliki semacam bayangan yang bergerak samar, namun akhirnya bisa saya tandai. Dari balkon lantai tiga, tempat saya mengawali pagi dengan menyeruput kopi ditemani stroopwafel, saya sering mendengar bunyi air ketika perempuan itu menyiram bunga bakung di halaman belakang. Gerakannya pelan, seolah ia memberi waktu bagi setiap kelopak untuk menerima sentuhan. Ia juga membuang daun-daun yang layu atau ranting kecil yang berserakan. Setelah itu, ia akan menghilang. Dan saya tahu ke mana ia menuju.

Ia akan membuka koran berbahasa Belanda di ruang tamu yang menyatu dengan perpustakaannya. Karena dinding depan rumah itu terbuat dari kaca, siapa pun dapat dengan mudah melihat aktivitas paginya di ruangan yang tidak menampilkan kesan Belanda sedikit pun: aneka topeng, kain batik, penampi beras, tokoh-tokoh wayang yang menggantung di dinding; atau kain tenun dari Indonesia Timur yang dijadikan sprei dan aksesori penutup sofa tuanya. Dari sana, ia bukan hanya membiarkan cahaya pagi mengurapinya, tapi juga menyilakan siapa pun yang lewat untuk langsung tahu bahwa ia sangat mencintai Indonesia.

Ditemani secangkir kopi Bali (entah bagaimana, aromanya malah menyatukan Leiden yang dingin dengan sesuatu yang hangat dan jauh), ia mulai menerjemahkan tumpukan manuskrip beraksara Bali: huruf-huruf tua yang menuntut mata yang tekun dan hati yang telaten, sebab ada masa lalu yang harus ia baca dan kabarkan. Hedy melakukannya setiap hari, tanpa jeda, seperti seseorang yang telah berjanji kepada masa lalu bahwa ia tidak akan membiarkannya menjadi diam.

Ketika jam bergeser sedikit lebih siang, Hedy mengayuh sepeda tuanya menuju Leiden Library. Ia melakukannya seperti seseorang yang pulang, bukan pergi. Perpustakaan baginya bukan tempat kerja, melainkan tempat bernapas; tempat halaman-halaman dunia terbuka seperti jendela, satu per satu.

Pertemuan pertama kami terjadi di tengah jet-lag dan kebingungan saya sebagai peneliti amatir di hari pertama saya di Kota Puisi itu. Ketika saya membuka pintu kamar pada suatu pagi yang menggigil, perempuan bungkuk itu sudah ada di luar. Ia seperti ingin menyambut tamu jauhnya. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa saya tidak perlu pagi di musim semi. Dan dengan kalimat yang terasa seperti undangan untuk masuk ke ruang yang lebih dari sekadar rumah, ia berkata dalam bahasa Indonesia yang fasih, “Ayo turun.”

Saya melongo.

“Kita minum kopi bali di bawah.”

Benar. Di ruangannya, ia membuatkan saya kopi Bali. “Kamu pasti suka,” katanya seraya menyodorkan sebuah mug. Kopi di dalamnya mengeluarkan uap yang naik perlahan, seperti mengantar obrolan kami menuju arah yang tidak direncanakan tetapi pasti. Lalu kami membicarakan apa saja sebagai pengantar sebelum ia menunjukkan ketertarikan pada riset yang saya lakukan.

Ia mendengarkan saya seolah setiap isu, bahkan dari peneliti debutan sekalipun, adalah bentuk kecil dari kehidupan manusia yang harus dihargai. Ia menunjukkan koran yang ia baca pagi itu, membicarakan artikel-artikel dengan semangat yang nyaris tidak terlihat pada orang seusianya.

Kemudian ia mengambil beberapa buku anak berbahasa Belanda. “Ini bagus sekali untuk kamu. Kalau koper kamu tidak penuh, bawa saja ketika pulang nanti.” Ada rasa yang sedikit menyesakkan karena tawaran itu terpaksa saya tolak; tiga bulan kemudian, saya malah memberi tempat kepada cokelat dan keju pesanan anak-anak. Dan entah mengapa, penyesalan kecil itu menempel lebih lama dari logikanya.

Setelah kopi hari itu, ia mengajak saya berkeliling kampus Leiden.

Langkahnya pelan, tetapi pandangannya luas. Ia menunjuk gedung-gedung dengan cerita, bukan sekadar nama. Ia membawakan saya ke perpustakaan, menyentuh rak-rak kayu tua, menatap kaca jendela yang pernah dilewati ribuan mahasiswa yang sudah tidak mengingat dunia ini lagi.

“Peneliti harus bisa masuk ke semua ruang pengetahuan,” katanya pelan. Lalu, tanpa banyak basa-basi, ia membuatkan kartu perpustakaan dengan uangnya sendiri. Empat puluh euro. Tujugh ratus lima puluh ribu rupiah. “Anggap hadiah pembuka perjalananmu,” katanya santai.

Pada momen itu, seseorang bisa saja merasa seperti cucu yang dituntun oleh neneknya. Namun sebenarnya, Hedy tidak sedang menuntun satu orang yang baru belajar seperti saya. Ia sedang menunjukkan sebuah kebiasaan untuk tidak takut pada pengetahuan yang luas. “Semua orang membaca dari halaman pertama,” katanya. “Begitu pun pencarianmu di sini.”

Di akhir tur, ia menyodorkan salah satu dari dua kartu masuk Kebun Raya Leiden miliknya. “Kamu harus baca buku di sini saat akhir musim semi. Semua hijau. Ada angin dari kanal. Itu waktu terbaik untuk membaca.” Kalimat itu bukan sekadar ajakan, tapi tempat perlindungan bagi siapa pun yang ingin bersandar pada halaman-halaman buku.

Semakin lama saya melihat rutinitasnya, semakin jelas hubungan antara membaca dan wataknya. Ada kelembutan yang lahir dari apa yang ia baca setiap hari: dari naskah-naskah kuno yang mengajarinya kesabaran, dari berita-berita yang memperluas pandangannya, dari buku-buku anak yang mengingatkannya pada kepolosan, dan dari terjemahan yang memaksanya menjembatani budaya.

Ilmu psikologi sebenarnya telah lama membahas hal ini. Keith Oatley menulis bahwa membaca naratif meningkatkan empati naratif—kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dari dalam. Sementara Raymond Mar menunjukkan bahwa pembaca yang intens cenderung lebih mampu menerima perspektif yang berbeda dari miliknya.

Hedy adalah bukti paling sunyi dari itu semua.

Kebaikan hatinya tidak bising. Ia membiayai banyak anak Bali, bahkan hingga kuliah di luar negeri. “Karena dari Bali saya dapat banyak cerita,” katanya. “Dan saya percaya cerita harus dibalas dengan kebaikan.” Ia mengatakan itu seperti seseorang yang sedang mengatakan sesuatu yang sangat sederhana, padahal sebenarnya itu kalimat yang sulit ditemukan pada zaman ini.

Membaca telah membuatnya peka, tetapi bukan rapuh; lembut, tetapi tidak lemah; penuh empati, tetapi tetap jernih.

Ketika saya akhirnya harus pulang ke Tanah Air saat Leiden hendak menyambut musim panas, ia melepas saya dengan nada yang sama tenangnya seperti pagi-pagi ketika ia menyiram bakung, “Kalau kamu butuh tempat lain kali, tinggal bilang. Kamu hanya bayar saja uang kebersihan sebab seminggu sekali Ricky akan datang.” Belakangan saya tahu Ricky adalah anak muda yang sering membantunya membersihkan rumah, mengecek kunci dan gerendel jendela, atau memastikan kompor dan wastafel masih bisa digunakan.

Ah, ada kehangatan yang tidak meminta balasan. Kebaikan yang terasa berasal dari tempat yang sangat dalam. Mungkin dari puluhan tahun membaca dan memahami cerita-cerita manusia.

Dari Hedy, terasa bahwa membaca bukan hanya aktivitas intelektual. Ia adalah cara merawat jiwa. Cara membuka ruang baru untuk orang lain. Cara menjadikan hidup tidak hanya ditanggung, tetapi dibagi.

Mungkin itu sebabnya, membaca membuat manusia lebih lembut: karena ia memberi kita cara baru untuk melihat, tanpa harus memiliki dunia itu terlebih dahulu.

Dengan Hedy, pelajaran itu tidak disampaikan melalui ceramah, tetapi melalui cara ia menyiram bunga, membuka koran, menerjemahkan naskah Bali, menawari kopi, dan memberi kartu perpustakaan serta akses masuk kebun raya kepada seseorang yang baru ia temui.

Ah, membaca, ketika sudah menjadi bagian hidup, ternyata bukan hanya mengisi kepala, tapi juga menambatkan hati.(*)

Ah, membaca, ketika sudah menjadi bagian hidup, ternyata bukan hanya mengisi kepala, tapi juga menambatkan hati.(*)

Bengkulu, 18 November 2025

Daftar Pustaka

Mar, R. A., Oatley, K., Hirsh, J., dela Paz, J., & Peterson, J. B. (2006). Bookworms versus nerds: Exposure to fiction versus non-fiction, divergent associations with social ability, and the simulation of fictional social worlds. Journal of Research in Personality, 40(5), 694–712.

Mar, R. A., & Oatley, K. (2008). The function of fiction is the abstraction and simulation of social experience.Perspectives on Psychological Science, 3(3), 173–192.

Oatley, K. (2016). Fiction: Simulation of social worlds. Trends in Cognitive Sciences, 20(8), 618–628.

Oatley, K. (2011). Such Stuff as Dreams: The Psychology of Fiction. Wiley-Blackwell.

Mar, R. A. (2018). Stories and the promotion of social cognition. Current Directions in Psychological Science, 27(4), 257–262

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Indonesianis.
    Menjadi Indonesia.
    Kadang kita sendiri yang Indonesia belum menjadi Indonesia.
    Kita abai dengan sekeliling.
    Hampir kebanyakan orang membaca bukan untuk menjadikan dirinya memahami hidup tapi lebih pada keinginan lebih pintar dari yang lain.

    Di hari tua, saya memimpikan duduk di bawah pohon di satu sudut Rumah Dunia, membaca buku dan menulis dengan pena di buku tulis. Jika ada anak muda yang datang ingin mendengarkan saya bercerita, saya akan memulainya dengan:

    Pada akhirnya bukan seberapa banyak buku yang kita baca…

    • Saya sambungin ya ….

      Pada akhirnya bukan seberapa banyak buku yang kita baca, tapi sesignifikan apa kita berubah lebih baik karenanya ….

      Makasih, Kang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *