Kondektur Mengaji, Penjual Teh Membaca, dan Seorang Gadis dalam Tremco
Pasar Attaba, Kairo
Dimuat Batam Pos, 13 Desember 2025
… membaca bisa hidup di atas tram yang berderak, di tengah pasar yang riuh, di tepi laut yang basah angin, atau di sela pekerjaan yang melelahkan.
Oleh Benny Arnas
Di kota yang katanya terlalu bising untuk merenung, aku justru menemukan kebiasaan paling sunyi: orang-orang membaca di saat yang tidak masuk akal. Di tengah teriakan kondektur, klakson tremco, dan debu yang beterbangan, seseorang membuka mushaf atau buku seolah seluruh hiruk itu hanyalah suara latar. Pengalaman pertama itu membuatku lebih waspada terhadap detail kecil; seakan-akan Mesir ingin menunjukkan sesuatu tentang membaca yang lama tidak kupahami.
Di Mesir, teks seperti hidup di udara. Ia menempel di kendaraan, di kios teh mint, di saku kondektur, di bibir para pemancing yang menunggu kail mereka bergerak. Selama residensiku, aku merasa kota-kota ini tidak pernah memisahkan membaca dari hidup sehari-hari. Ia bergerak bersama suara klakson, debu jalanan, azan yang memantul dari dinding bangunan tua, dan langkah orang-orang yang bekerja keras sejak pagi.
Di Alexandria, aku naik tram dari Mustofa Zayyn menuju Ibrahimiyyah. Getaran besi yang berpadu dengan ritme laut membuat mushaf kecil di tangan kondekturnya tampak seperti bagian alami dari pekerjaannya. Ia menagih ongkos, merobek karcis, memanggil penumpang, lalu mencuri waktu sejenak untuk membaca dua baris ayat. Gerakannya cepat dan sederhana, tetapi di dalamnya ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Saat mengamati itu, aku teringat pada gagasan Brian Street bahwa literasi bukan aktivitas mewah yang terpisah dari hidup; ia berjalan bersama manusia yang sedang bekerja. Di tram pagi itu, teori itu seperti menemukan tubuh nyata.
Perjalanan lain membawaku duduk di samping seorang gadis berjubah hitam dengan renda lusuh di dada, naik dari Darosah menuju Attaba. Ia membuka lembaran murojaah yang sudah dipenuhi bekas lipatan. Di tengah guncang bus, ia melantunkan hafalannya nyaris tanpa suara. Tidak ada ruang sunyi, tetapi ia memeliharanya sendiri di dalam gerak bibirnya. Ketika ia turun, jubah hitamnya berkibar sebentar lalu hilang di keramaian. Aku merasa baru saja melihat seseorang yang membawa rumahnya di dalam ayat.
Di persimpangan dekat Darb al-Ahmar, seorang penjual teh mint dan faransawi membaca Quran dari ponselnya. Ketika kutanya harga teh, ia tidak langsung menjawab. Ia hanya memberi isyarat agar aku menunggu sebentar. Setelah satu ayat selesai, ia menutup ponsel, tersenyum, lalu berkata dengan nada jenaka yang kurang lebih berarti, “ayo, bilang apa yang kau mau.” Aku mengulang pertanyaanku dan ia menjawabnya sambil mulai menyiapkan teh. Momen sederhana itu membuatku sadar bahwa di sini, Tuhan boleh mendahului transaksi dan tidak seorang pun merasa repot karenanya.
Riset Dale Eickelman tentang Afrika Utara pernah menyebutkan bahwa membaca di wilayah ini jarang berdiri sebagai aktivitas elitis; ia melekat pada hidup sehari-hari. Teorinya terasa nyata ketika melihat sopir tremco menempelkan kening ke setir untuk mendengar murotal beberapa detik atau tukang roti yang membaca satu ayat di sela membolak-balik loyang panas. Kota-kota seperti Baghdad masa Abbasiyah dan Fez pada abad-abad awal juga hidup oleh tradisi serupa, ketika membaca berjalan bersama hiruk pasar dan pekerjaan kecil. Mesir hari ini tampak seperti pewaris prinsip lama itu, bahwa teks harus berjalan, bukan disimpan.

Pada pagi-pagi di Alexandria, aku berlari di tepi laut Mediterania yang birunya seperti garis tak berujung. Barisan pemancing berdiri di bibir beton, sebagian membaca ayat pendek sebelum memeriksa kail, seolah menautkan harapan kepada sesuatu yang lebih besar daripada ikan. Aku memperlambat langkah setiap kali melewati mereka, bukan untuk menguping, tetapi untuk merasakan ritme kota yang memulai harinya dengan doa kecil dari halaman-halaman yang terlipat.
Sebelum ke Mesir, aku menyiapkan banyak ebook dan daftar siniar literasi untuk kudengar sambil berlari, berjalan ke tempat tremco mangkal, atau mencari ful hangat. Tetapi lama-lama daftar itu seperti kehilangan magnetnya. Yang menyerapku bukan bahan bacaan yang kubawa, melainkan cara orang-orang di sini membaca sambil hidup. Kota ini mengubah fokusku tanpa kusadari, dari apa yang kubaca menjadi bagaimana orang lain membaca.
Mungkin aku akan pulang dari residensi dengan pandangan baru tentang literasi, bahwa membaca tidak memerlukan ruangan rapi, konsentrasi sempurna, atau waktu khusus. Ia bisa hidup di atas tram yang berderak, di tengah pasar yang riuh, di tepi laut yang basah angin, atau di sela pekerjaan yang melelahkan.
Dan barangkali inilah pelajaran yang paling bertahan lama: membaca bukan sekadar cara memahami dunia, tetapi cara mempertahankan keutuhan diri di tengah dunia yang terus bergerak. Di negeri ini, setiap baris yang dibaca, meski hanya beberapa detik, adalah cara manusia mengingat siapa dirinya sebelum kembali menyelam ke riuh kehidupan.(*)
Aleksandria, 4 Desember 2025
_____
Daftar Pustaka
Eickelman, D. F., 1985. Knowledge and Power in Morocco: The Education of a Twentieth‑Century Notable. Princeton, N.J.: Princeton University Press.
Street, B. V., 1984. Literacy in Theory and Practice. Cambridge: Cambridge University Press.
Street, B. V., 1995. Social Literacies: Critical Approaches to Literacy in Development, Ethnography and Education. London: Longman.