Kalau Kamu Mudah Tersinggung, Membacalah

 Kalau Kamu Mudah Tersinggung, Membacalah

dokumentasi pribadi

Jika seseorang atau sebuah lembaga merasa mudah tersinggung, mungkin yang dibutuhkan bukan argumen tambahan, melainkan latihan kejernihan.

Oleh Benny Arnas

______

Pada 19 Desember 2025, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya secara terbuka menanggapi kritik publik yang menyebut pemerintah lambat menangani bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Teddy menegaskan bahwa pemerintah telah bergerak sejak hari pertama dan meminta influencer “jangan menggiring opini seolah pemerintah tidak bekerja.” Nada pernyataannya terasa defensif, dengan penekanan pada pembelaan diri ketimbang refleksi atas keprihatinan warga yang terdampak. Respon semacam ini menunjukkan bagaimana emosi tersinggung dapat mendominasi cara komunikasi institusional—bahkan ketika tujuan utama seharusnya fokus pada aksi nyata dan empati publik.  

Salah satu keanehan dalam cara kerja otak manusia adalah kemampuannya untuk berpikir jernih sekaligus rapuh dalam waktu yang hampir bersamaan. Pikiran mampu menyusun argumen panjang, memahami konsep rumit, bahkan mengelola sistem besar seperti negara, tetapi dapat goyah hanya karena kritik yang dianggap meremehkan upaya sendiri. Komentar singkat, nada publik yang dinilai tidak tahu diri, atau perbandingan yang terasa tidak adil kerap cukup untuk membuat nalar kehilangan jarak. Pada momen seperti ini, kekuatan berpikir sering disalahpahami. Banyak orang mengiranya terletak pada kecerdasan teknokratis, padahal sering kali ditentukan oleh kestabilan emosi saat legitimasi dipertanyakan.

Daniel Goleman, melalui risetnya tentang kecerdasan emosional, menunjukkan bahwa keberhasilan individu maupun institusi tidak semata ditentukan oleh kapasitas intelektual. Dalam berbagai studi yang ia rangkum, kemampuan mengelola emosi berpengaruh besar terhadap kualitas pengambilan keputusan. Intinya sederhana tetapi mendasar. Otak yang kuat bukanlah otak yang paling cepat membela diri, melainkan otak yang mampu menunda reaksi ketika tekanan datang.

Zaman ini membuat ujian emosional hadir nyaris tanpa jeda. Media sosial mempercepat pertukaran gagasan sekaligus mempercepat gesekan. Kritik publik terhadap kebijakan negara kini hadir real time, disampaikan dengan bahasa warga, bukan bahasa birokrasi. Dalam situasi seperti ini, mudah tersinggung kerap dibungkus sebagai ketegasan. Padahal sensitivitas yang tidak disertai kesadaran justru melemahkan daya pikir. Pikiran bereaksi sebelum sempat memahami apa yang sesungguhnya sedang dipersoalkan.

Secara neurologis, hal ini dapat dijelaskan dengan cukup terang. Amigdala, pusat pengolahan emosi di otak, bereaksi jauh lebih cepat dibandingkan neokorteks yang bertugas berpikir rasional. Mekanisme ini penting dalam sejarah evolusi manusia, terutama untuk menghadapi ancaman fisik. Namun dalam kehidupan modern, mekanisme yang sama membuat kritik, perbedaan pendapat, atau pujian kepada pihak lain diperlakukan seolah ancaman personal. Alarm menyala, meski bahaya nyata tidak ada.

Emosi sendiri bukanlah musuh. Ia adalah sinyal biologis bahwa sesuatu perlu diperhatikan. Marah, tersinggung, kecewa, atau defensif merupakan bagian dari sistem peringatan tubuh. Masalah muncul ketika sinyal itu langsung dijadikan dasar keputusan. Orang yang matang secara emosional bukanlah mereka yang tidak pernah tersinggung, melainkan mereka yang mampu membaca alasan ketersinggungannya sebelum berbicara.

Contoh lain juga muncul di ruang publik luar pemerintahan. Anggota DPR RI Endipat Wijaya sempat disorot setelah komentar dalam rapat kerja yang dinilai menyindir gerakan bantuan masyarakat, khususnya penggalangan dana senilai sekitar Rp10 miliar oleh Ferry Irwandi dan relawannya untuk korban bencana. Endipat menyinggung narasi media sosial yang lebih memuji aksi relawan ketimbang upaya pemerintah—bahkan mengkritik agar narasi pemerintah “tidak kalah viral” dengan bantuan warga. Pernyataannya itu memantik perdebatan karena dinilai kurang menghargai solidaritas publik, sehingga menunjukkan bagaimana respons emosional terhadap pujian netizen bisa mempengaruhi cara wakil rakyat menilai kontribusi sosial.  

Bayangkan seseorang menerima kritik atau perbandingan di ruang terbuka. Reaksi awal hampir selalu defensif. Detak jantung meningkat, pikiran menyempit, dan dorongan untuk membalas muncul spontan. Namun ketika seseorang memberi jeda, meski singkat, ia memberi kesempatan pada bagian rasional otak untuk bekerja. Dalam jeda itulah muncul kemungkinan lain: kritik bisa jadi valid, bisa juga keliru, atau sekadar ekspresi frustrasi publik. Tanpa jeda, seluruh kemungkinan itu tertutup oleh luapan emosi.

Perbedaan antara otak yang rapuh dan otak yang tangguh sering terletak pada pembedaan sederhana antara reaksi dan respons. Reaksi bersifat impulsif dan bertujuan melindungi ego. Respons lahir dari kesadaran dan bertujuan memahami realitas. Dalam ruang publik, perbedaan ini menentukan apakah sebuah kritik akan melahirkan perbaikan atau justru konflik baru.

Kemampuan menunda reaksi bukan bakat bawaan. Ia dilatih melalui kesadaran diri. Seseorang tidak dapat mengelola sesuatu yang tidak ia kenali. Ketika individu atau institusi memahami pola emosinya sendiri—kapan ia mudah tersinggung dan apa pemicunya—ia mulai menciptakan jarak dari emosinya. Jarak inilah yang memungkinkan pikiran bekerja dengan lebih jernih.

Kesadaran diri sering muncul dari pengamatan atas hal-hal sepele. Nada suara yang meninggi, kalimat pembelaan yang terlalu cepat, atau kecenderungan menyebut kritik sebagai ketidakadilan. Dengan kesadaran ini, seseorang dapat memilih sikap: menunda pernyataan, mengubah sudut pandang, atau memindahkan fokus dari pembelaan diri ke penyelesaian masalah. Ini bukan bentuk kelemahan, melainkan kecerdasan emosional yang matang.

Emosi yang tidak dikelola bukan hanya menguasai perasaan, tetapi juga menipu logika. Dalam kondisi tersinggung, otak cenderung meyakinkan diri bahwa dirinya telah bekerja paling benar dan pihak lain tidak tahu apa-apa. Goleman menyebut keadaan ini sebagai amygdala hijack, saat sistem emosional mengambil alih kendali rasional. Banyak keputusan komunikasi publik yang buruk lahir dari kondisi semacam ini.

Di ruang kekuasaan, dampaknya menjadi berlipat. Ketika pejabat atau legislative bereaksi secara emosional, bahasa negara berubah menjadi bahasa personal. Kritik dipersempit menjadi serangan, dan kepercayaan publik tergerus bukan karena kebijakan semata, melainkan karena ketidakmampuan mengelola emosi di hadapan tekanan.

Budaya populer kerap memuja respons cepat. Diam dianggap kalah. Padahal banyak tradisi pemikiran justru memandang jeda sebagai bentuk kekuatan. Marcus Aurelius, kaisar Romawi yang menulis Meditations--catatan batin yang ia tujukan untuk dirinya sendiri–berulang kali menegaskan bahwa kuasa manusia yang paling nyata terletak pada pikirannya, bukan pada peristiwa di luar dirinya. Dalam fragmen-fragmen pendek yang ditulis di sela perang dan urusan kekaisaran, ia mengingatkan dirinya agar tidak bereaksi berlebihan terhadap serangan, hinaan, atau ketidakadilan. Barangkali karena itu, banyak pemimpin besar justru dikenang bukan karena kemarahan mereka, melainkan karena ketenangan yang tetap terjaga bahkan ketika diserang.

Ketenangan bukan tanda ketiadaan emosi, melainkan tanda emosi telah dipahami. Pikiran yang tenang bekerja lebih tajam. Perspektif meluas dan keputusan menjadi lebih proporsional. Itulah sebabnya dalam situasi krisis, publik sering lebih percaya pada mereka yang berbicara dengan tenang daripada mereka yang sibuk membela diri.

Tak ada manusia atau institusi yang sepenuhnya kebal dari rasa tersinggung. Perbedaannya terletak pada kecepatan pulih. Otak yang kuat bukan otak yang tak pernah terusik, melainkan otak yang mampu kembali jernih setelah terusik. Dalam psikologi modern, kemampuan ini dikenal sebagai resilience, daya lenting mental untuk bangkit dari tekanan.

Membaca, dalam pengertian yang lebih dalam, bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi melatih jeda dan kesabaran berpikir. Jika seseorang atau sebuah lembaga merasa mudah tersinggung, mungkin yang dibutuhkan bukan argumen tambahan, melainkan latihan kejernihan. Sebab berpikir jernih bukan soal seberapa kuat pembelaan diri, melainkan seberapa sadar seseorang mengenali dan mengelola emosinya sendiri.(*)

Lubuklinggau, 25 Desember 2025

_________

Daftar Pustaka

Akurat.co (2025) ‘Seskab Teddy minta influencer setop giring opini pemerintah tak kerja atasi bencana Sumatera’, Akurat.co, 19 Desember. Tersedia di: https://www.akurat.co/nasional/1306975313/seskab-teddy-minta-influencer-setop-giring-opini-pemerintah-tak-kerja-atasi-bencana-sumatera (Diakses: 25 Desember 2025).

Goleman, D. (1995) Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

Goleman, D. (2006) Social Intelligence: The New Science of Human Relationships. New York: Bantam Books.

Liputan6.com (2025) ‘Anggota DPR Endipat Wijaya telepon Ferry Irwandi, minta maaf sindir donasi Rp10 M’, Liputan6.com, Desember. Tersedia di: https://www.liputan6.com/news/read/6232523/anggota-dpr-endipat-wijaya-telepon-ferry-irwandi-minta-maaf-sindir-donasi-rp-10-m (Diakses: 25 Desember 2025).

Setkab.go.id (2025) ‘Seskab Teddy: pemerintah hadir sejak detik pertama tangani bencana di Sumatra’, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, 19 Desember. Tersedia di: https://setkab.go.id (Diakses: 25 Desember 2025).

SinarHarapan.co (2025) ‘DPR sindir Ferry Irwandi soal bantuan ke Aceh, pemerintah kalah viral’, Sinar Harapan, 9 Desember. Tersedia di: https://www.sinarharapan.co/politik/38516387692/dpr-sindir-ferry-irwandi-soal-bantuan-ke-aceh-pemerintah-kalah-viral (Diakses: 25 Desember 2025).

Marcus Aurelius. (2002) Meditations. Translated by Gregory Hays. New York: Modern Library.

Fronsdal, G. (2005) The Dhammapada: A New Translation of the Buddhist Classic with Annotations. Boston: Shambhala.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • Mantep banget Bang Benn, artikelnya kayak ngasih head’s up buat semua yang gampang baper 😌 sebelum langsung shoutout ke komentar sebelah, coba deh baiknyaaa tarik napas dulu, pikirin baik-baik. Kadang yang bikin kita ‘tersinggung’ justru bukan kritiknya, tapi ego kita sendiri yang kepancing duluan 😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *